Siang mulai beranjak dari cakrawala berganti temaram senja. Namun mentari sepertinya masih enggan untuk tenggelam. Aku masih terduduk di teras memandangi beberapa orang yang pulang membawa rumput ada juga yang sambil membawa ternak mereka. Beberapa dari mereka bahkan bercengkrama dengan riangnya.
Sementara aku masih saja terus terbayang dengan penjelasan ayu saat di sungai kecil itu. Alasan dia ciut kala di dalam rumah megah dengan gaya joglo yang khas ini.
"Duh duh ada yanga lagi kasmaran nih" suara lembut centil yang khas mulai menggodaku. Tante Ningsih.
"Hehehehe" jawabku cengengesan masih duduk membelakangi suara yang datang.
"Tante lihat kamu bahagia banget nih dek. Sampai ngelamunnya lama banget gitu." Kekeh Tante genit ini.
"Kamu mau ikut Tante bentar?" Ajak Tante dengan suara yang tetap centil kali ini menempel di telingaku. geli rasanya.
Lantas aku menengok sebentar tanteku yang ada di belakang. Whatt! Dia sudah siap dengan style anak muda. Dengan baju merah maroon dan celana jeans yang pas di badan. Tante Kelihatan modis kali ini tak seperti saat berdaster. Bahkan tidak keliatan kalo dia udah hampir kepala tiga.
"Kemana emang?" Tanyaku yang masih heran dengan dandanan maksimal tanteku.
"Mau nyari makan di luar, bosen di dalem" jawabnya singkat.
Bahkan tanpa menunggu persetujuanku dia sudah menarikku ke mobilnya. Mobil city car mungil berwarna merah metalik. Setelah didalam segera ia meninggalkan halaman rumah dengan lincah.
Kami berdua berangkat melewati jalanan dengan pemandangan kanan kiri yang masih kebun dengan rumah yang cukup berjarak. jalanan Disini juga tak terlalu rata. Tak berselang lama Kami melewati gapura yang persis saat aku dan keluargaku datang pertama kali. Gapura dengan tulisan berlumut dan Sudah retak sana sini. 'Selamat datang di desa Tirto Boyo'.
"Kita mau kemana sih? " Gerutuku karena gaya menyetir Tante yang seperti asal asalan.
Memang karena cara mengemudi Tante yang menurutku masih kaku. Karena beberapa kali lubang di jalan di hajarnya dengan mantap. Membuatku perutku sedikit terguncang guncang. Sempat juga ia hampir menabrak bapak bapak yang sedang naik sepeda.
"Hati-hati dong bos, itu Tante hampir nabrak orang. Kalo dia ketabrak bisa panjang urusan kita." Cemasku.
"Ah santai, Tante ini udah jago. Udah punya SIM juga"
"Santai santai gundulmu, aku hampir mati tau" gumamku sambil menggenggam erat seat beltku. aku hampir mati tau" gumamku sambil menggenggam erat seat beltku.
CCiiiiiittttttttttt
Tiba-tiba Tante mengerem dengan kasar. Membuatku sedikit terantuk ke depan. Kita sudah sampai di sebuah warung sederhana dengan. Tante segera memarkirkan mobilnya di samping warung. Gelap mulai menyelimuti hari ini terdengar sayup suara adzan Maghrib berkumandang. Kami bergegas masuk ke dalam warung.
"Ayo masuk" katanya sambil menggandeng ku masuk. Aku mengangguk pelan.
Kami duduk di pojok dengan posisi berhadapan. Terlihat para pelayan warung sibuk meladeni pesanan yang bermacam-macam. Dengan senyum ramah tamah mereka yang tetap terlukis.
"Tante mau cerita sesuatu." Ucap Tante setelah pelayan resto pergi dengan meletakkan dua gelas jumbo es teh di hadapan kami.
"Soal apa Tante?" Tanyaku.
"Soal Simbah tari, Soal rumah itu dan semua kaitannya dengan keluarga kita." Jawab Tante Ningsih kali ini wajahnya berubah pias. Raut garis tegas kini menghiasi wajah bulatnya.
"Kamu sudah tau tentang Simbah Kakung, kakekmu?" Lanjutnya dengan senyum sinis. Aku hanya menggelengkan kepalaku Karena aku tak terlalu ingat juga bagaimana wajah kakekku dulu.
"Kamu harus jaga dirimu baik-baik dek, Tante nggak mau kehilangan kamu." Sambungnya masih dengan wajah Serius.
"A-aku gak paham maksut Tante." Tanyaku yang mulai bingung dengan arah pembicaraan kami.
"Maaf kak lama, ini pesanannya dan selamat menikmati" ucap pelayan warung mengagetkan kami.
"I-iya mas makasih" jawab Tante dengan raut muka yang seketika berubah menjadi manis lagi. Dia menunggu pelayan itu pergi, setelah agak jauh di mencondongkan tubuhnya mendekatiku berbisik lirih sekali namun terasa jelas di telingaku.
"Kamu itu sudah di tandai. Kamu di incar mau di jadikan tumbal balas dendam?!" Jelas Tante penuh penekanan.
"Apa?!" Tanyaku sembari bangkit dari duduk.
"Kamu tenang dulu, Tante nggak akan biarin kamu Kenapa-kenapa. Tante janji ponakan Tante sayang" kata Tante sambil memegang ujung kepalaku. Mengelus dengan lembut.
"Tante, apa Tante apa bisa jelasin secara jelas sama putra" kataku masih menahan emosi bercampur heran. Karena aku merasa tak mempunyai musuh ataupun melakukan kesalahan fatal.
Tante Ningsih yang melihatku sudah mulai duduk. Mulai menjelaskan. Matanya sesekali menatap langit-langit mengawang jauh ke masa lalu.
"Semua berawal dari kepergian Simbah Kakung. Semua petaka di rumah itu. Semua gara gara Perjanjian terkutuk itu." Air mata mulai mengalir pelan ke ceruk pipi dengan kulit sawo matang nya. Tergambar kesedihan dari cahaya matanya.
Semua gara-gara Nyai Dasimah!" Pekik Tante Ningsih seakan penuh kebencian.
"Dulu..." Belum sempat Tante melanjutkan ceritanya tiba tiba saja ponselku berdering
Kringgg kringgg
Kulihat layar ponselku dengan senyuman. Tertera nama ibu disana. Bahagianya ternyata mereka masih peduli padaku hehehe. Segera ku geser layar ponselku hanya untuk sekedar mendengarkan suara lembut ibu. Aku menatap Tante Ningsih untuk memberi isyarat mengangkat telfon. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Halo kak, kakak lagi apa sayang?" Tanya ibu di seberang telfon.
"Lagi makan di luar buk di ajak Tante Ningsih , ibu sama ayah kenapa sih ninggalin aku sendiri disini?" Jawabku.
"Ibu juga nggak setuju ninggalin kamu, tapi ayah juga ada urusan mendadak disini kak. Ibu harap kamu ngerti." Ibu menjelaskan
"Hmmmm" aku masih agak kesal dengan keputusan ayah yang meninggalkan aku di tempat ini hanya menjawab singkat.
"Kamu jaga kesehatan ya kak, eh ayah lupa mau ngomong sama kamu" lanjut ibu.
"Soal apa Bu?" Tanyaku.
"Soal kamu mau di jodohkan kak. Kamu nggak marah kan?" Jawab ibu.
"Hehehe nggak kok Bu"jawabku sambil membayangkan kalo aku mau di jodohkan sama ayu.
Langsung hilang Semua rasa jengkel ku berganti dengan kebahagiaan. Terlintas senyum dari bibir merah merekah ayu yang begitu candu buatku.
"Yaudah kak, sekali lagi ibu sama ayah minta maaf ya. Besok kalo urusan kantor ayah udah beres biar nanti kamu di jemput ayah, sekalian nanti biar di jelasin sama ayah aja soalnya ibu juga kurang paham." Lanjut ibu.
"Oh iya kamu harus secepatnya nyari kerja. Malu-maluin kalo nikah tapi kamu masih nganggur cuma bisa main game aja seharian. Hehehe" kekeh ibu menggodaku.
"Iya iya Bu, nanti kalo sudah pulang putra cari kerja" jawabku menanggapi godaan ibu.
Tak lama telfon kami pun terputus. Agak terobati rinduku dengan keluarga. Aku harus sabar menunggu hingga ayah datang kembali untuk menjemputku pulang ke kota lagi. Tapi gimana dengan perjodohan ini, ah pikir nanti saja gumamku dalam hati.
"Udah?" Tanya Tante yang melihatku bengong sendiri.
Aku hanya mengangguk pelan sembari menatap Tante yang daritadi sibuk makan sambil mendengarkanku berbincang melepas rindu dengan ibuku.
"Di sambung besok aja ya ceritanya, disini mulai rame. Tante nggak nyaman. Tapi habisin dulu tuh mie kamu, udah Tante bayarin tuh. Sayang kalo nggak di makan." Ucap Tante.
"I-iya" jawabku menyetujui karena memang tempat kami makan sudah mulai rame pengunjung.
Kami akhirnya pulang dengan cerita yang masih menggantung. Membuatku semakin penasaran dengan siapa sebenarnya Simbah Kakung dan nenek tari. Apalagi sekarang ada Nyai Dasimah. Apa hubungan mereka semua denganku yang ingin di jadikan korban balas dendam. Entahlah kurasa perjalanan panjang ini baru saja di mulai.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
duh putra kamu penasaran ya dengan cerita tente centilmu yg menggantung kayak jemuran.. hehehe.. sama put, aku juga penasaran bgt nih.. yukz kita lanjut ke bab berikut nya aja, siapa tau di bab berikutnya authornya baik mau meneruskan cerita tante ningsih yg gantung..😂😂
2022-05-31
2
Ayiek
semangat up nya Thor...
penasaran
2022-04-02
2