12. Mulai Menemukan Benang Merah

Siang mulai beranjak dari cakrawala berganti temaram senja. Namun mentari sepertinya masih enggan untuk tenggelam. Aku masih terduduk di teras memandangi beberapa orang yang pulang membawa rumput ada juga yang sambil membawa ternak mereka. Beberapa dari mereka bahkan bercengkrama dengan riangnya.

Sementara aku masih saja terus terbayang dengan penjelasan ayu saat di sungai kecil itu. Alasan dia ciut kala di dalam rumah megah dengan gaya joglo yang khas ini.

"Duh duh ada yanga lagi kasmaran nih" suara lembut centil yang khas mulai menggodaku. Tante Ningsih.

"Hehehehe" jawabku cengengesan masih duduk membelakangi suara yang datang.

"Tante lihat kamu bahagia banget nih dek. Sampai ngelamunnya lama banget gitu." Kekeh Tante genit ini.

"Kamu mau ikut Tante bentar?" Ajak Tante dengan suara yang tetap centil kali ini menempel di telingaku. geli rasanya.

Lantas aku menengok sebentar tanteku yang ada di belakang. Whatt! Dia sudah siap dengan style anak muda. Dengan baju merah maroon dan celana jeans yang pas di badan. Tante Kelihatan modis kali ini tak seperti saat berdaster. Bahkan tidak keliatan kalo dia udah hampir kepala tiga.

"Kemana emang?" Tanyaku yang masih heran dengan dandanan maksimal tanteku.

"Mau nyari makan di luar, bosen di dalem" jawabnya singkat.

Bahkan tanpa menunggu persetujuanku dia sudah menarikku ke mobilnya. Mobil city car mungil berwarna merah metalik. Setelah didalam segera ia meninggalkan halaman rumah dengan lincah.

Kami berdua berangkat melewati jalanan dengan pemandangan kanan kiri yang masih kebun dengan rumah yang cukup berjarak. jalanan Disini juga tak terlalu rata. Tak berselang lama Kami melewati gapura yang persis saat aku dan keluargaku datang pertama kali. Gapura dengan tulisan berlumut dan Sudah retak sana sini. 'Selamat datang di desa Tirto Boyo'.

"Kita mau kemana sih? " Gerutuku karena gaya menyetir Tante yang seperti asal asalan.

Memang karena cara mengemudi Tante yang menurutku masih kaku. Karena beberapa kali lubang di jalan di hajarnya dengan mantap. Membuatku perutku sedikit terguncang guncang. Sempat juga ia hampir menabrak bapak bapak yang sedang naik sepeda.

"Hati-hati dong bos, itu Tante hampir nabrak orang. Kalo dia ketabrak bisa panjang urusan kita." Cemasku.

"Ah santai, Tante ini udah jago. Udah punya SIM juga"

"Santai santai gundulmu, aku hampir mati tau" gumamku sambil menggenggam erat seat beltku. aku hampir mati tau" gumamku sambil menggenggam erat seat beltku.

CCiiiiiittttttttttt

Tiba-tiba Tante mengerem dengan kasar. Membuatku sedikit terantuk ke depan. Kita sudah sampai di sebuah warung sederhana dengan. Tante segera memarkirkan mobilnya di samping warung. Gelap mulai menyelimuti hari ini terdengar sayup suara adzan Maghrib berkumandang. Kami bergegas masuk ke dalam warung.

"Ayo masuk" katanya sambil menggandeng ku masuk. Aku mengangguk pelan.

Kami duduk di pojok dengan posisi berhadapan. Terlihat para pelayan warung sibuk meladeni pesanan yang bermacam-macam. Dengan senyum ramah tamah mereka yang tetap terlukis.

"Tante mau cerita sesuatu." Ucap Tante setelah pelayan resto pergi dengan meletakkan dua gelas jumbo es teh di hadapan kami.

"Soal apa Tante?" Tanyaku.

"Soal Simbah tari, Soal rumah itu dan semua kaitannya dengan keluarga kita." Jawab Tante Ningsih kali ini wajahnya berubah pias. Raut garis tegas kini menghiasi wajah bulatnya.

"Kamu sudah tau tentang Simbah Kakung, kakekmu?" Lanjutnya dengan senyum sinis. Aku hanya menggelengkan kepalaku Karena aku tak terlalu ingat juga bagaimana wajah kakekku dulu.

"Kamu harus jaga dirimu baik-baik dek, Tante nggak mau kehilangan kamu." Sambungnya masih dengan wajah Serius.

"A-aku gak paham maksut Tante." Tanyaku yang mulai bingung dengan arah pembicaraan kami.

"Maaf kak lama, ini pesanannya dan selamat menikmati" ucap pelayan warung mengagetkan kami.

"I-iya mas makasih" jawab Tante dengan raut muka yang seketika berubah menjadi manis lagi. Dia menunggu pelayan itu pergi, setelah agak jauh di mencondongkan tubuhnya mendekatiku berbisik lirih sekali namun terasa jelas di telingaku.

"Kamu itu sudah di tandai. Kamu di incar mau di jadikan tumbal balas dendam?!" Jelas Tante penuh penekanan.

"Apa?!" Tanyaku sembari bangkit dari duduk.

"Kamu tenang dulu, Tante nggak akan biarin kamu Kenapa-kenapa. Tante janji ponakan Tante sayang" kata Tante sambil memegang ujung kepalaku. Mengelus dengan lembut.

"Tante, apa Tante apa bisa jelasin secara jelas sama putra" kataku masih menahan emosi bercampur heran. Karena aku merasa tak mempunyai musuh ataupun melakukan kesalahan fatal.

Tante Ningsih yang melihatku sudah mulai duduk. Mulai menjelaskan. Matanya sesekali menatap langit-langit mengawang jauh ke masa lalu.

"Semua berawal dari kepergian Simbah Kakung. Semua petaka di rumah itu. Semua gara gara Perjanjian terkutuk itu." Air mata mulai mengalir pelan ke ceruk pipi dengan kulit sawo matang nya. Tergambar kesedihan dari cahaya matanya.

Semua gara-gara Nyai Dasimah!" Pekik Tante Ningsih seakan penuh kebencian.

"Dulu..." Belum sempat Tante melanjutkan ceritanya tiba tiba saja ponselku berdering

Kringgg kringgg

Kulihat layar ponselku dengan senyuman. Tertera nama ibu disana. Bahagianya ternyata mereka masih peduli padaku hehehe. Segera ku geser layar ponselku hanya untuk sekedar mendengarkan suara lembut ibu. Aku menatap Tante Ningsih untuk memberi isyarat mengangkat telfon. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Halo kak, kakak lagi apa sayang?" Tanya ibu di seberang telfon.

"Lagi makan di luar buk di ajak Tante Ningsih , ibu sama ayah kenapa sih ninggalin aku sendiri disini?" Jawabku.

"Ibu juga nggak setuju ninggalin kamu, tapi ayah juga ada urusan mendadak disini kak. Ibu harap kamu ngerti." Ibu menjelaskan

"Hmmmm" aku masih agak kesal dengan keputusan ayah yang meninggalkan aku di tempat ini hanya menjawab singkat.

"Kamu jaga kesehatan ya kak, eh ayah lupa mau ngomong sama kamu" lanjut ibu.

"Soal apa Bu?" Tanyaku.

"Soal kamu mau di jodohkan kak. Kamu nggak marah kan?" Jawab ibu.

"Hehehe nggak kok Bu"jawabku sambil membayangkan kalo aku mau di jodohkan sama ayu.

Langsung hilang Semua rasa jengkel ku berganti dengan kebahagiaan. Terlintas senyum dari bibir merah merekah ayu yang begitu candu buatku.

"Yaudah kak, sekali lagi ibu sama ayah minta maaf ya. Besok kalo urusan kantor ayah udah beres biar nanti kamu di jemput ayah, sekalian nanti biar di jelasin sama ayah aja soalnya ibu juga kurang paham." Lanjut ibu.

"Oh iya kamu harus secepatnya nyari kerja. Malu-maluin kalo nikah tapi kamu masih nganggur cuma bisa main game aja seharian. Hehehe" kekeh ibu menggodaku.

"Iya iya Bu, nanti kalo sudah pulang putra cari kerja" jawabku menanggapi godaan ibu.

Tak lama telfon kami pun terputus. Agak terobati rinduku dengan keluarga. Aku harus sabar menunggu hingga ayah datang kembali untuk menjemputku pulang ke kota lagi. Tapi gimana dengan perjodohan ini, ah pikir nanti saja gumamku dalam hati.

"Udah?" Tanya Tante yang melihatku bengong sendiri.

Aku hanya mengangguk pelan sembari menatap Tante yang daritadi sibuk makan sambil mendengarkanku berbincang melepas rindu dengan ibuku.

"Di sambung besok aja ya ceritanya, disini mulai rame. Tante nggak nyaman. Tapi habisin dulu tuh mie kamu, udah Tante bayarin tuh. Sayang kalo nggak di makan." Ucap Tante.

"I-iya" jawabku menyetujui karena memang tempat kami makan sudah mulai rame pengunjung.

Kami akhirnya pulang dengan cerita yang masih menggantung. Membuatku semakin penasaran dengan siapa sebenarnya Simbah Kakung dan nenek tari. Apalagi sekarang ada Nyai Dasimah. Apa hubungan mereka semua denganku yang ingin di jadikan korban balas dendam. Entahlah kurasa perjalanan panjang ini baru saja di mulai.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾

🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾

duh putra kamu penasaran ya dengan cerita tente centilmu yg menggantung kayak jemuran.. hehehe.. sama put, aku juga penasaran bgt nih.. yukz kita lanjut ke bab berikut nya aja, siapa tau di bab berikutnya authornya baik mau meneruskan cerita tante ningsih yg gantung..😂😂

2022-05-31

2

Ayiek

Ayiek

semangat up nya Thor...
penasaran

2022-04-02

2

lihat semua
Episodes
1 1. Dari yang Tak Terduga
2 2. Perjalanan pun dimulai...
3 3. Pertemuan Yang tak Diharapkan
4 4. Bi Sumi
5 5. Di Balik Tabir
6 6. Ningsih?
7 7. Surup
8 8. Gamelan itu?
9 9. Pingsan?
10 10. Tamu tak Terduga
11 11. Semakin Dekat
12 12. Mulai Menemukan Benang Merah
13 13. Mengungkap Kisah Kelam
14 14. Cemburu
15 15. Petaka Bermula
16 16. Rahasia Ayu
17 17. Sengkolo Blungkang Suji
18 18. Kamu Selanjutnya
19 19. Tunggu Aku Kembali !!
20 20. Bekal Dari Ayah
21 Teman Baru
22 Peka
23 Mustika Legendaris
24 Kematian Pakde
25 Hati-hati Dalam Menaruh Hati
26 Mempunyai Dua Kepribadian
27 Tamu
28 Nekat!!!
29 Ayu
30 Masa Lalu Budi Rahardjo
31 Orang Asing
32 Kerabat Baru
33 Bukan Paranormal
34 Mantan
35 Misi Rahasia Mahesa
36 Orang Yang Sama?
37 Terbawa
38 Alam sebelah
39 Simalakama
40 Algojo!
41 Mencari jejak
42 Pertemuan Kembali
43 Kost
44 Terlalu Nyaman
45 Potongan Puzzle
46 Rumah Jagal?
47 Foto Usang
48 Terbakar Menjadi Abu
49 Keturunan Darah Biru
50 Salah Paham
51 Polisi Baik
52 Misi Gagal!
53 Teluh?
54 Mulut Iblis
55 Ronde Kedua
56 Kejutan
57 Menuju Akhir
58 Lari!!!
59 Dua Harapan
60 Tolong
61 Sebuah Kebenaran
62 POV: Didik
63 Mencari Sebuah Kebenaran
64 Awal
65 Biang Keladi
66 Perlahan Namun Pasti
67 Luka
68 Kehilangan
69 Pesan
70 Menuju Pesta
71 Terjebak
72 Ujung Labirin
73 Bolo Kurowo
74 Kepingan Puzzle yang Hilang
75 Jangan Rusak Kejutannya
76 Rencana Ayah
77 Hari Bahagia
78 Tamu Istimewa
79 Malam Pertama
80 Sembunyi!
81 Tujuh Pusaka
82 Api Di Balas Api
83 Cabut Hingga Akar
84 Kebajikan akan Selalu Menang
85 Simphoni Maut
86 Pengorbanan
87 Apa Kau Tidak Menyadarinya!
88 PENGUMUMAN!
89 Pengumuman ralat..
90 PENGUMUMAN CHAPTER KE 3
91 Novel Baru!!
Episodes

Updated 91 Episodes

1
1. Dari yang Tak Terduga
2
2. Perjalanan pun dimulai...
3
3. Pertemuan Yang tak Diharapkan
4
4. Bi Sumi
5
5. Di Balik Tabir
6
6. Ningsih?
7
7. Surup
8
8. Gamelan itu?
9
9. Pingsan?
10
10. Tamu tak Terduga
11
11. Semakin Dekat
12
12. Mulai Menemukan Benang Merah
13
13. Mengungkap Kisah Kelam
14
14. Cemburu
15
15. Petaka Bermula
16
16. Rahasia Ayu
17
17. Sengkolo Blungkang Suji
18
18. Kamu Selanjutnya
19
19. Tunggu Aku Kembali !!
20
20. Bekal Dari Ayah
21
Teman Baru
22
Peka
23
Mustika Legendaris
24
Kematian Pakde
25
Hati-hati Dalam Menaruh Hati
26
Mempunyai Dua Kepribadian
27
Tamu
28
Nekat!!!
29
Ayu
30
Masa Lalu Budi Rahardjo
31
Orang Asing
32
Kerabat Baru
33
Bukan Paranormal
34
Mantan
35
Misi Rahasia Mahesa
36
Orang Yang Sama?
37
Terbawa
38
Alam sebelah
39
Simalakama
40
Algojo!
41
Mencari jejak
42
Pertemuan Kembali
43
Kost
44
Terlalu Nyaman
45
Potongan Puzzle
46
Rumah Jagal?
47
Foto Usang
48
Terbakar Menjadi Abu
49
Keturunan Darah Biru
50
Salah Paham
51
Polisi Baik
52
Misi Gagal!
53
Teluh?
54
Mulut Iblis
55
Ronde Kedua
56
Kejutan
57
Menuju Akhir
58
Lari!!!
59
Dua Harapan
60
Tolong
61
Sebuah Kebenaran
62
POV: Didik
63
Mencari Sebuah Kebenaran
64
Awal
65
Biang Keladi
66
Perlahan Namun Pasti
67
Luka
68
Kehilangan
69
Pesan
70
Menuju Pesta
71
Terjebak
72
Ujung Labirin
73
Bolo Kurowo
74
Kepingan Puzzle yang Hilang
75
Jangan Rusak Kejutannya
76
Rencana Ayah
77
Hari Bahagia
78
Tamu Istimewa
79
Malam Pertama
80
Sembunyi!
81
Tujuh Pusaka
82
Api Di Balas Api
83
Cabut Hingga Akar
84
Kebajikan akan Selalu Menang
85
Simphoni Maut
86
Pengorbanan
87
Apa Kau Tidak Menyadarinya!
88
PENGUMUMAN!
89
Pengumuman ralat..
90
PENGUMUMAN CHAPTER KE 3
91
Novel Baru!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!