Setelah hampir dua puluh menit mengendarai motor. Kami sampai juga di rumah ayu. Rumah berwarna kuning dengan bentuk sederhana namun terkesan rapi. Di samping teras ada beberapa pot besar berisi bunga warna-warni cukup menyejukkan mata. Di sisi lain rumah terdapat kolam kecil di hiasi air mancur mini dengan suara gemericik air yang mampu menenangkan pikiran.
"Ini rumah kamu yu?" Tanyaku sedikit kagum.
"Bukan, ini rumah ibuku" jawab ayu tersenyum. Walau, kulihat matanya masih sembab akibat menangis di sepanjang jalan tadi.
"Yaudah putra ayo masuk" ajak ayu.
"Assalamualaikum ibu. Ayu pulang." Salam ayu.
"Assalamualaikum Bu" sapaku mengikutinya sembari mengetuk pintu rumah ayu.
"Bu, ibu ayu pulang", teriak ayu yang juga masih menunggu bersamaku di ambang rumah. Tak berselang lama...
Kriiiiietttt
Akhirnya Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan tubuh sedikit gemuk dan rambut yang di kucir alakadarnya, ya ibu ayu yang masih memakai celemek dengan tangan yang masih memegang spatula. Sepertinya dia sedang memasak. Oh iya nanti malam kan dia mengundangku makan malam bersama keluarganya. Apakah dia sedang sibuk mempersiapkan semuanya.
"Waalaikumsalam, Eh ayu udah pulang, ada nak Mahesa juga toh" sapa ibu ayu ramah.
"Eh lho kamu kenapa yu kok keliatan baru nangis?" Tanya bi Tutik heran mengetahui mata putri semata wayangnya sembab.
"Ayu kenapa ini nak Mahesa?" Tanya bi Tutik beralih padaku karena tak mendapat jawaban dari putrinya.
Aku juga bingung mau jelasin gimana dan darimana. Aku hanya garuk garuk kepala karena bingung. Bi Tutik yang melihatku bingung hanya diam saja mencoba menerka apa yang sudah terjadi. Mungkin diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
"Ayu takut ke rumah Bu tari" ucap ayu dengan suara parau.
akhirnya ayu buka suara juga. Selamatlah aku kalau dia tidak segera bicara pasti aku di tuduh yang enggak-enggak sama bi Tutik karena membuat anak gadisnya menangis sampai sesenggukan seperti itu. Bisa-bisa di keroyok satu kampung aku.
"Yaudah lupain aja. Jangan nangis lagi nggak enak kalo ada tetangga lihat" ucap bi tutik menenangkan putrinya.
"Mm-mari masuk nak Mahesa" ibu Tutik mempersilakan.
"Matur nuwun Bu. Saya di sini saja." Ucapku merasa tak enak.
Aku akhirnya memilih duduk di bangku depan rumah ayu. Sementara ayu berganti pakaian dulu katanya. Aku memutuskan untuk main sebentar karena mengingat di rumah pasti tak ada orang. Di tambah bi Sumi yang sedang cuti karena saudaranya sedang ada hajat. Hiiii aku tak Sudi jika harus di rumah itu sendirian. Saat ramai orang saja rumah itu terasa mengerikan apalagi sama sekali nggak ada orang, batinku.
Sekian lama menunggu akhirnya ayu datang juga menemaniku. Dia hanya memakai celana kain hitam di padukan kaos panjang dengan jilbab hitam membuat kesan minimalis namun tetap cantik. Di hadapannya dia membawa nampan berisi dua gelas es sirup bewarna merah dengan setoples kue kering yang nampaknya cukup menggoda.
"Silahkan putra", ramah ayu menyajikan minuman padaku.
"Eh iya hehehe maaf, jadi ngrepotin", jawabku sedikit sungkan.
Cukup lama kami berdiam diri berkutat di pikiran masing-masing. Sebenarnya aku ingin mengajak dia ngobrol seperti di rumah tadi pagi namun kenapa sekarang jadi dingin lagi seperti ini. Ayo lah putra ajak dia ngomong apa kek. Bukan hanya berpandangan sekilas lalu melempar senyum. Ughh sungguh membuatku seperti membeku kamu Febi Sekarayu.
"Emmm kamu rencana mau balik ke kota kapan?", Tanya ayu memecah diam kami berdua.
"Eh ng-nggak tau ayah belum ngabarin gue lagi yu", jawabku Sedikit kaget.
"Kalo kamu kapan kembali ke kota?", Tanyaku balik padanya.
Terlihat wajah ayu seketika berubah sendu. Apa kata-kataku menyinggung perasaannya?.
"Emm aku nggak bakal kembali ke kota. Ini rumahku, rumah warisan bapakku. Ayu nggak mau ninggalin ibu sendirian lagi." Jawab ayu.
"Eh yu boleh nanya lagi?", Tanyaku mencoba mengalihkan kesedihannya.
"Apa putra Mahesa?", Jawabnya. Sungguh manis sekali suaranya.
"Kenapa kamu setuju di jodohkan sama aku? Apa kamu nggak keberatan? Kita kan nggak terlalu Deket?", Tanyaku seperti wartawan pencari gosip.
"Karena..." Jawabnya seperti menggantung tujuannya membuat aku penasaran.
"Karena apa?" Ucapku tak sabar.
"Rahasia!" Celetuknya dengan mencubit pipiku.
Sungguh kali ini aku seperti kehilangan semua tulang tulangku. Kalaupun aku bisa meloncat-loncat girang dan tak mempunyai malu pasti aku sudah melakukannya. Aku sungguh meleleh karenamu ayu. Sungguh senyummu suaramu tingkah manjamu membuatku candu padamu. Sejenak aku memejamkan mata menikmati detak jantungku yang memompa aliran darah lebih cepat.
"Kok diem aja sih" ucap ayu sambil menguncang bahuku. Kemudian dia mendekat.
"Putra kamu pingsan?" Kekeh ayu yang berdiri di sampingku.
"Apa kamu nggak suka ya mampir sebentar di rumah ayu?." tanya ayu dengan lirih.
"Eh bukan gitu yu," jawabku membuka mata.
"hehehe kirain kamu pingsan. baru aja mau telfon ambulan." ucap ayu sambil tertawa kecil.
"Hmmmm, Ayu tuh sebenernya udah dari kita di kampus dulu. Udah naksir sama kamu. Tapi karena beda jurusan jadi susah mau ketemu. Apalagi kamu lulus duluan dan aku masih ada satu semester lagi." Jelas ayu.
"Aku suka liatin kamu kalo pas lagi main futsal. Keliatan ganteng." Sambung ayu tersipu malu.
"Kamu pernah nggak nyangka kalo saumpama nikah sama ayu?" Tambah ayu.
Sungguh kata kata yang ini yang membuatku ingin pingsan. Namun nggak bisa. Aku hanya bisa bengong mendengar semua ungkapan kejujuran ayu. Bahkan kau menjawab sepatah katapun lidahku seperti kelu. Aku seperti melayang jauh ke angkasa. Ya Tuhan mimpi apa aku hari ini. Ataukah ini mimpi? Kucubit lagi tanganku, ternyata sakit. Oh ini bukan mimpi. Tapi apa yang di katakan ayu itu memang benar dari hatinya. Suami? Nikah? Harus ngomong apa nih. Aku seperti bisu di buatnya. Sedangkan ku lirik dia hanya senyum diiringi tawa kecil yang sungguh manja di telingaku.
Kemudian aku beranikan mengambil tangannya dan menggenggam dengan malu-malu. Terlihat sorot di matanya berbinar bibirnya terlukis sebuah senyuman indah. Sejenak kami bertukar pandangan. Saling berbicara dalam diam.
Tinggg tinggg
Sebuah notifikasi pesan HP ku berbunyi. Kulepaskan tanganku pelan dari genggaman yang membuatku nyaman. Ku raih ponselku yang tergeletak di meja depanku. Ah siapa sih ganggu suasana romantis aja, gumamku. Tertera sebuah notifikasi pesan dari....
'Pesan baru dari Tante Ningsih'
Tante Ningsih : "Dek Simbah Tari..."
Aku : "kenapa sama nenek Tari Tante?"
Tante Ningsih : "Meninggal Dunia!"
"Meninggal?", Pekikku terkejut.
"innalilahi wa innailaihi Raji'un" ucapku dan ayu berbarengan.
Terlihat ayu pun sama terkejutnya denganku. Karena kami berdekatan hingga ia juga bisa membaca pesan di ponselku. Ia memandangiku seakan tak percaya. Terlihat bulir air mengembun di sudut matanya.
"Huh...Sudah dimulai?" Ucap ayu.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Liani Purnapasary
msh misteri cerita nya, seruu thor.
2023-05-11
1
Yuli Eka Puji R
hidup udh banyak nyakitin hati orang udh matipun msh jahat aja km nyai dasimah
2022-12-28
0
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
innalilahi wainaillaihi rojiun.. selamat jalan mbah tari, semoga arwahmu tenang disisi Allah, aamiin.🤲🏼
2022-05-31
2