16. Rahasia Ayu

Setelah hampir dua puluh menit mengendarai motor. Kami sampai juga di rumah ayu. Rumah berwarna kuning dengan bentuk sederhana namun terkesan rapi. Di samping teras ada beberapa pot besar berisi bunga warna-warni cukup menyejukkan mata. Di sisi lain rumah terdapat kolam kecil di hiasi air mancur mini dengan suara gemericik air yang mampu menenangkan pikiran.

"Ini rumah kamu yu?" Tanyaku sedikit kagum.

"Bukan, ini rumah ibuku" jawab ayu tersenyum. Walau, kulihat matanya masih sembab akibat menangis di sepanjang jalan tadi.

"Yaudah putra ayo masuk" ajak ayu.

"Assalamualaikum ibu. Ayu pulang." Salam ayu.

"Assalamualaikum Bu" sapaku mengikutinya sembari mengetuk pintu rumah ayu.

"Bu, ibu ayu pulang", teriak ayu yang juga masih menunggu bersamaku di ambang rumah. Tak berselang lama...

Kriiiiietttt

Akhirnya Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan tubuh sedikit gemuk dan rambut yang di kucir alakadarnya, ya ibu ayu yang masih memakai celemek dengan tangan yang masih memegang spatula. Sepertinya dia sedang memasak. Oh iya nanti malam kan dia mengundangku makan malam bersama keluarganya. Apakah dia sedang sibuk mempersiapkan semuanya.

"Waalaikumsalam, Eh ayu udah pulang, ada nak Mahesa juga toh" sapa ibu ayu ramah.

"Eh lho kamu kenapa yu kok keliatan baru nangis?" Tanya bi Tutik heran mengetahui mata putri semata wayangnya sembab.

"Ayu kenapa ini nak Mahesa?" Tanya bi Tutik beralih padaku karena tak mendapat jawaban dari putrinya.

Aku juga bingung mau jelasin gimana dan darimana. Aku hanya garuk garuk kepala karena bingung. Bi Tutik yang melihatku bingung hanya diam saja mencoba menerka apa yang sudah terjadi. Mungkin diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

"Ayu takut ke rumah Bu tari" ucap ayu dengan suara parau.

akhirnya ayu buka suara juga. Selamatlah aku kalau dia tidak segera bicara pasti aku di tuduh yang enggak-enggak sama bi Tutik karena membuat anak gadisnya menangis sampai sesenggukan seperti itu. Bisa-bisa di keroyok satu kampung aku.

"Yaudah lupain aja. Jangan nangis lagi nggak enak kalo ada tetangga lihat" ucap bi tutik menenangkan putrinya.

"Mm-mari masuk nak Mahesa" ibu Tutik mempersilakan.

"Matur nuwun Bu. Saya di sini saja." Ucapku merasa tak enak.

Aku akhirnya memilih duduk di bangku depan rumah ayu. Sementara ayu berganti pakaian dulu katanya. Aku memutuskan untuk main sebentar karena mengingat di rumah pasti tak ada orang. Di tambah bi Sumi yang sedang cuti karena saudaranya sedang ada hajat. Hiiii aku tak Sudi jika harus di rumah itu sendirian. Saat ramai orang saja rumah itu terasa mengerikan apalagi sama sekali nggak ada orang, batinku.

Sekian lama menunggu akhirnya ayu datang juga menemaniku. Dia hanya memakai celana kain hitam di padukan kaos panjang dengan jilbab hitam membuat kesan minimalis namun tetap cantik. Di hadapannya dia membawa nampan berisi dua gelas es sirup bewarna merah dengan setoples kue kering yang nampaknya cukup menggoda.

"Silahkan putra", ramah ayu menyajikan minuman padaku.

"Eh iya hehehe maaf, jadi ngrepotin", jawabku sedikit sungkan.

Cukup lama kami berdiam diri berkutat di pikiran masing-masing. Sebenarnya aku ingin mengajak dia ngobrol seperti di rumah tadi pagi namun kenapa sekarang jadi dingin lagi seperti ini. Ayo lah putra ajak dia ngomong apa kek. Bukan hanya berpandangan sekilas lalu melempar senyum. Ughh sungguh membuatku seperti membeku kamu Febi Sekarayu.

"Emmm kamu rencana mau balik ke kota kapan?", Tanya ayu memecah diam kami berdua.

"Eh ng-nggak tau ayah belum ngabarin gue lagi yu", jawabku Sedikit kaget.

"Kalo kamu kapan kembali ke kota?", Tanyaku balik padanya.

Terlihat wajah ayu seketika berubah sendu. Apa kata-kataku menyinggung perasaannya?.

"Emm aku nggak bakal kembali ke kota. Ini rumahku, rumah warisan bapakku. Ayu nggak mau ninggalin ibu sendirian lagi." Jawab ayu.

"Eh yu boleh nanya lagi?", Tanyaku mencoba mengalihkan kesedihannya.

"Apa putra Mahesa?", Jawabnya. Sungguh manis sekali suaranya.

"Kenapa kamu setuju di jodohkan sama aku? Apa kamu nggak keberatan? Kita kan nggak terlalu Deket?", Tanyaku seperti wartawan pencari gosip.

"Karena..." Jawabnya seperti menggantung tujuannya membuat aku penasaran.

"Karena apa?" Ucapku tak sabar.

"Rahasia!" Celetuknya dengan mencubit pipiku.

Sungguh kali ini aku seperti kehilangan semua tulang tulangku. Kalaupun aku bisa meloncat-loncat girang dan tak mempunyai malu pasti aku sudah melakukannya. Aku sungguh meleleh karenamu ayu. Sungguh senyummu suaramu tingkah manjamu membuatku candu padamu. Sejenak aku memejamkan mata menikmati detak jantungku yang memompa aliran darah lebih cepat.

"Kok diem aja sih" ucap ayu sambil menguncang bahuku. Kemudian dia mendekat.

"Putra kamu pingsan?" Kekeh ayu yang berdiri di sampingku.

"Apa kamu nggak suka ya mampir sebentar di rumah ayu?." tanya ayu dengan lirih.

"Eh bukan gitu yu," jawabku membuka mata.

"hehehe kirain kamu pingsan. baru aja mau telfon ambulan." ucap ayu sambil tertawa kecil.

"Hmmmm, Ayu tuh sebenernya udah dari kita di kampus dulu. Udah naksir sama kamu. Tapi karena beda jurusan jadi susah mau ketemu. Apalagi kamu lulus duluan dan aku masih ada satu semester lagi." Jelas ayu.

"Aku suka liatin kamu kalo pas lagi main futsal. Keliatan ganteng." Sambung ayu tersipu malu.

"Kamu pernah nggak nyangka kalo saumpama nikah sama ayu?" Tambah ayu.

Sungguh kata kata yang ini yang membuatku ingin pingsan. Namun nggak bisa. Aku hanya bisa bengong mendengar semua ungkapan kejujuran ayu. Bahkan kau menjawab sepatah katapun lidahku seperti kelu. Aku seperti melayang jauh ke angkasa. Ya Tuhan mimpi apa aku hari ini. Ataukah ini mimpi? Kucubit lagi tanganku, ternyata sakit. Oh ini bukan mimpi. Tapi apa yang di katakan ayu itu memang benar dari hatinya. Suami? Nikah? Harus ngomong apa nih. Aku seperti bisu di buatnya. Sedangkan ku lirik dia hanya senyum diiringi tawa kecil yang sungguh manja di telingaku.

Kemudian aku beranikan mengambil tangannya dan menggenggam dengan malu-malu. Terlihat sorot di matanya berbinar bibirnya terlukis sebuah senyuman indah. Sejenak kami bertukar pandangan. Saling berbicara dalam diam.

Tinggg tinggg

Sebuah notifikasi pesan HP ku berbunyi. Kulepaskan tanganku pelan dari genggaman yang membuatku nyaman. Ku raih ponselku yang tergeletak di meja depanku. Ah siapa sih ganggu suasana romantis aja, gumamku. Tertera sebuah notifikasi pesan dari....

'Pesan baru dari Tante Ningsih'

Tante Ningsih : "Dek Simbah Tari..."

Aku : "kenapa sama nenek Tari Tante?"

Tante Ningsih : "Meninggal Dunia!"

"Meninggal?", Pekikku terkejut.

"innalilahi wa innailaihi Raji'un" ucapku dan ayu berbarengan.

Terlihat ayu pun sama terkejutnya denganku. Karena kami berdekatan hingga ia juga bisa membaca pesan di ponselku. Ia memandangiku seakan tak percaya. Terlihat bulir air mengembun di sudut matanya.

"Huh...Sudah dimulai?" Ucap ayu.

Bersambung..

Terpopuler

Comments

Liani Purnapasary

Liani Purnapasary

msh misteri cerita nya, seruu thor.

2023-05-11

1

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

hidup udh banyak nyakitin hati orang udh matipun msh jahat aja km nyai dasimah

2022-12-28

0

🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾

🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾

innalilahi wainaillaihi rojiun.. selamat jalan mbah tari, semoga arwahmu tenang disisi Allah, aamiin.🤲🏼

2022-05-31

2

lihat semua
Episodes
1 1. Dari yang Tak Terduga
2 2. Perjalanan pun dimulai...
3 3. Pertemuan Yang tak Diharapkan
4 4. Bi Sumi
5 5. Di Balik Tabir
6 6. Ningsih?
7 7. Surup
8 8. Gamelan itu?
9 9. Pingsan?
10 10. Tamu tak Terduga
11 11. Semakin Dekat
12 12. Mulai Menemukan Benang Merah
13 13. Mengungkap Kisah Kelam
14 14. Cemburu
15 15. Petaka Bermula
16 16. Rahasia Ayu
17 17. Sengkolo Blungkang Suji
18 18. Kamu Selanjutnya
19 19. Tunggu Aku Kembali !!
20 20. Bekal Dari Ayah
21 Teman Baru
22 Peka
23 Mustika Legendaris
24 Kematian Pakde
25 Hati-hati Dalam Menaruh Hati
26 Mempunyai Dua Kepribadian
27 Tamu
28 Nekat!!!
29 Ayu
30 Masa Lalu Budi Rahardjo
31 Orang Asing
32 Kerabat Baru
33 Bukan Paranormal
34 Mantan
35 Misi Rahasia Mahesa
36 Orang Yang Sama?
37 Terbawa
38 Alam sebelah
39 Simalakama
40 Algojo!
41 Mencari jejak
42 Pertemuan Kembali
43 Kost
44 Terlalu Nyaman
45 Potongan Puzzle
46 Rumah Jagal?
47 Foto Usang
48 Terbakar Menjadi Abu
49 Keturunan Darah Biru
50 Salah Paham
51 Polisi Baik
52 Misi Gagal!
53 Teluh?
54 Mulut Iblis
55 Ronde Kedua
56 Kejutan
57 Menuju Akhir
58 Lari!!!
59 Dua Harapan
60 Tolong
61 Sebuah Kebenaran
62 POV: Didik
63 Mencari Sebuah Kebenaran
64 Awal
65 Biang Keladi
66 Perlahan Namun Pasti
67 Luka
68 Kehilangan
69 Pesan
70 Menuju Pesta
71 Terjebak
72 Ujung Labirin
73 Bolo Kurowo
74 Kepingan Puzzle yang Hilang
75 Jangan Rusak Kejutannya
76 Rencana Ayah
77 Hari Bahagia
78 Tamu Istimewa
79 Malam Pertama
80 Sembunyi!
81 Tujuh Pusaka
82 Api Di Balas Api
83 Cabut Hingga Akar
84 Kebajikan akan Selalu Menang
85 Simphoni Maut
86 Pengorbanan
87 Apa Kau Tidak Menyadarinya!
88 PENGUMUMAN!
89 Pengumuman ralat..
90 PENGUMUMAN CHAPTER KE 3
91 Novel Baru!!
Episodes

Updated 91 Episodes

1
1. Dari yang Tak Terduga
2
2. Perjalanan pun dimulai...
3
3. Pertemuan Yang tak Diharapkan
4
4. Bi Sumi
5
5. Di Balik Tabir
6
6. Ningsih?
7
7. Surup
8
8. Gamelan itu?
9
9. Pingsan?
10
10. Tamu tak Terduga
11
11. Semakin Dekat
12
12. Mulai Menemukan Benang Merah
13
13. Mengungkap Kisah Kelam
14
14. Cemburu
15
15. Petaka Bermula
16
16. Rahasia Ayu
17
17. Sengkolo Blungkang Suji
18
18. Kamu Selanjutnya
19
19. Tunggu Aku Kembali !!
20
20. Bekal Dari Ayah
21
Teman Baru
22
Peka
23
Mustika Legendaris
24
Kematian Pakde
25
Hati-hati Dalam Menaruh Hati
26
Mempunyai Dua Kepribadian
27
Tamu
28
Nekat!!!
29
Ayu
30
Masa Lalu Budi Rahardjo
31
Orang Asing
32
Kerabat Baru
33
Bukan Paranormal
34
Mantan
35
Misi Rahasia Mahesa
36
Orang Yang Sama?
37
Terbawa
38
Alam sebelah
39
Simalakama
40
Algojo!
41
Mencari jejak
42
Pertemuan Kembali
43
Kost
44
Terlalu Nyaman
45
Potongan Puzzle
46
Rumah Jagal?
47
Foto Usang
48
Terbakar Menjadi Abu
49
Keturunan Darah Biru
50
Salah Paham
51
Polisi Baik
52
Misi Gagal!
53
Teluh?
54
Mulut Iblis
55
Ronde Kedua
56
Kejutan
57
Menuju Akhir
58
Lari!!!
59
Dua Harapan
60
Tolong
61
Sebuah Kebenaran
62
POV: Didik
63
Mencari Sebuah Kebenaran
64
Awal
65
Biang Keladi
66
Perlahan Namun Pasti
67
Luka
68
Kehilangan
69
Pesan
70
Menuju Pesta
71
Terjebak
72
Ujung Labirin
73
Bolo Kurowo
74
Kepingan Puzzle yang Hilang
75
Jangan Rusak Kejutannya
76
Rencana Ayah
77
Hari Bahagia
78
Tamu Istimewa
79
Malam Pertama
80
Sembunyi!
81
Tujuh Pusaka
82
Api Di Balas Api
83
Cabut Hingga Akar
84
Kebajikan akan Selalu Menang
85
Simphoni Maut
86
Pengorbanan
87
Apa Kau Tidak Menyadarinya!
88
PENGUMUMAN!
89
Pengumuman ralat..
90
PENGUMUMAN CHAPTER KE 3
91
Novel Baru!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!