Sejak kejadian mencekam itu terjadi kehidupan keluarga Ndoro wiryo seketika berubah. Desas desus kematian seorang istri muda tuan semakin tersebar dari Mulut ke mulut. Tak ada yang tau pasti apakah itu kecelakaan atau kesengajaan. Jikalau pun itu di sengaja sungguh keji perilakunya. Jika ada yang sengaja membakarnya hidup hidup, Pelaku tidak hanya menghabisi nyai Imah namun juga dengan paksa membinasakan janin dalam rahimnya.
***********
"Lalu, apa maksutnya kalo aku udah di tandai Tan?" Tanyaku dengan suara yang serak karena masih tertegun mendengar cerita dari Tante Ningsih.
Kami masih terpaku di dalam mobil yang sudah memasuki pekarangan rumah. Setelah melewati pohon asem yang cukup besar Tante memarkirkan mobilnya di samping rumah.
"Tante harus jelasin sekarang juga" kataku mulai meninggi karena Tante tak menanggapi pertanyaanku sedari tadi.
"Kamu mau kita mati konyol disini! Ssssttttt diam!", Tante menjawab ku dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Besok kalo ada waktu Tante sambung ceritanya. Jangan sekalipun menyinggung apa yang Tante ceritain tadi, Mereka semua lihatin kita, Tante ngrasa kita nggak aman kalo ngobrol disini ", ucap Tante yang sekarang berubah jadi lembut dan diikuti anggukan pelan dariku.
Malam semakin larut kami bergegas masuk ke dalam rumah. Bergegas mandi dan menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Hari ini sangat panjang untukku. Sungguh hidup yang penuh kejutan.
"Ahh kalo di rumah pasti udah di marahin ayah karena pulang jam segini, hehehe". Kekehku mengingat keluarga bahagiaku.
Walaupun aku anak laki-laki tapi orang tuaku sangat peduli padaku. Bahkan kadang aku merasa mereka terlalu berlebihan dalam memberi kasih sayang padaku. Saking sayangnya ayah ibuku bahkan aku tidak pernah pulang lebih dari jam 9 malam apalagi sampai jam 11 malam seperti ini. Dan kebiasaan itu ternyata terbawa sampai aku memutuskan untuk kost karena kampus dan rumahku yang sangat jauh.
"Sungguh hari ini hari yang panjang." Anganku sembari menutup mata menunggu lelap datang menghampiri ku.
Lama aku menutup mata, lagi lagi kantuk tak jua menghampiriku. Gelisah karena tak bisa tidur membuatku hanya gelimpungan di atas ranjangku. Sesekali perutku berbunyi karena tadi saat di warung laparku tak terpuaskan. Namun mengingat kejadian beberapa waktu lalu membuatku urung mencari makanan di dapur apalagi menginjak waktu tengah malam seperti ini. Hingga tak sengaja wajah manis dari ayu melintas di pikiranku. Sungguh cewek yang pantas di jadikan primadona.
"Ayu apa dia udah tidur ya? Hmmm coba cek ah sosmednya", kataku bicara sendiri.
Segera ku raih ponsel yang tergeletak di nakas. Kucari cari nama ayu di salah satu medsos yang diam diam aku ikuti. Online! Ternyata Dia sedang live streaming di aplikasi. seperti biasa dengan jilbab dan piyama panjang bermotif Doraemon dia begitu lihai menyapa satu persatu orang yang mulai menontonnya. aku kadang tak faham dengan orang yang suka live streaming seperti ini. apakah ada manfaatnya seperti itu, bagiku itu hanya akan mengumbar kehidupan dan privasi kira sendiri.
Tap tap tap klik
Terlihat di layarku sekarang ayu sedang duduk manis. Sepertinya di ruang tamu. Terdengar dia beberapa kali menjawab pertanyaan iseng dari beberapa penontonnya. kadang juga dia bersenandung kecil, kurasa itu caranya menyingkirkan rasa canggung. Hingga, tiba-tiba muncul di layar satu raut wajah pria menyapanya. Nampaknya mereka sangat akrab. Berhati-hati aku mendengar percakapan mereka berdua yang sedang melakukan live gabungan bersama. Entah kenapa rasanya tak suka sekali melihat mereka berdua berbincang akrab dan nampak sangat dekat. mataku semakin terbelalak melihatnya.
Walaupun aku cuma lagi PDKT sama ayu entah kenapa rasanya gelisah melihat semua ini. Oh iya apa ini yang di namakan cemburu. Kenapa rasanya seperti memenuhi dadaku. Apa perasaan ini juga yang di rasakan Simbah Tari waktu di madu oleh Simbah Kakung. Apa yang kupikirkan, Bodoh.
Segera kututup ponselku. Kumatikan dan segera bergegas pergi menutup wajahku dengan bantal. Dengan begitu kurasa bisa sedikit membuatku ngantuk. Butuh waktu cukup lama buatku untuk Benar benar terjatuh ke alam mimpi. Entah kenapa dengan diriku ini.
Mentari pagi telah muncul perlahan menghangatkan bumi yang di selimuti di dinginnya malam. Sepertinya hari ini akan cerah sepanjang hari. Namun berbanding terbalik dengan hatiku, hati putra Mahesa yang sedang gundah gulana. Sedari bangun tidur rasanya aku tak punya semangat untuk bangkit atau sekedar mencuci muka. Sepertinya apa yang terjadi tadi malam membuatku seperti kehilangan harapan hidup. entah apa yang terjadi selanjutnya aku tak kuasa melanjutkan jadi kututup begitu saja Hpku.
"Dasar kebo. Udah siang gini belum bangun juga?!" Teriak Tante yang sudah berdiri di ambang pintu kamarku yang terbuka. Nampaknya aku lupa menguncinya tadi malam.
"Bangun gih cuci muka sana dasar kebo! Habis itu ke depan. Kamu di tungguin tuh sama calon istrimu", jawab Tante dengan menutup mulutnya menyembunyikan senyum meledekku.
"Ayu? Ngapain dia Dateng pagi pagi gini.", Tanyaku.
"Iya cepet temuin makanya. Nanti orangnya keburu pergi terus ntar kamu nyesel, hehe", ledek Tante
"Iya iya iya", jawabku masih agak bangkit dari tempat tidurku.
"Eitss mau kemana kamu?", Tante menahan lenganku.
"Ketemu ayu lah mau ngapain lagi", jawabku dengan ketus.
"Mandi dulu lah, minimal cuci muka kek. Ganti baju juga sana. Ayu udah rapi banget disana lah kamu malah kaya gembel begini." Ucap Tante sambil mencubit ujung bajuku.
aku hanya mengenakan baju tanpa lengan lusuh dengan jeans pendek dengan style sobek sobek. Tak memungkiri Aku pun mengiyakan kalau aku memang mirip gembel. Gembel ganteng tepatnya hehehe. Tak mau berdebat lagi aku langsung meluncur ke kamar mandi untuk mandi secepat mungkin. Nggak Enak juga kalo ayu nunggu lama-lama. Setelah mandi dengan cepat Bergegas aku berpakaian simple dengan kaos dan celana pendek yang kali ini lebih sopan.
Setelah yakin tampilanku sudah rapi dan wangi segera aku berjalan ke depan guna menemui ayu. Terlihat dari jauh dia sedang bercengkrama dengan Tante Ningsih. Mereka tampak cepat sekali akrab. Sesekali mereka bahkan tertawa kecil bersama. Aku hanya berdiri dari balik gorden melihat canda tawa mereka berdua.
"Eh..kamu sini ngapain bengong disitu. Sini put putra". Ayu yang melihatku berdiri mematung melambai padaku.
"Duduk sini" Tante Nengsih mempersilahkan.
"Karna udah ada cowoknya, Tante tinggal dulu berdua ya. Tante mau ke belakang dulu" ucap Tante sambil mengedipkan satu matanya.
"Kamu apa kabar?". Tanya ayu ramah padaku.
"Baik". Jawabku singkat
"Hmmm Kamu udah makan belom?" Tanyanya kembali.
"nggak ada hubungannya sama kamu?!" Aku menjawab dengan setengah tinggi. Meskipun setelahnya aku sedikit menyesal sudah membentaknya.
Ayu diam seketika.
"Emm keluar yuk kita ngobrol di luar." Ajak ayu setelah beberapa saat terdiam.
Aku tak menjawab. Hanya mengikuti langkahnya saja. Hingga sampai di halaman rumah yang penuh tanaman bunga, dia membuka suara.
"Kamu mau nemenin ayu nggak ke toko buku di desa sebelah. Nanti pake motor ayu aja. Mau kan?", Ajak ayu sembari meraih tanganku.
"Kenapa nggak kamu ajak aja tuh cowok yang semalem di live aplikasi kamu. kayaknya kamu Deket banget", ketusku bersungut-sungut.
Kulirik ayu di sebelahku seperti terhenyak kaget dengan kata kataku. Sedetik kemudian dia tertawa kecil membuatku semakin kesal dengannya. Tapi kan aku sama ayu belum apa-apa. Pacaran aja belum, ngapain juga aku marah-marah sama dia. Baru aja Deket sehari udah mau ngambek-ngambekan. Hahaha. Sejenak aku berpikir betapa konyolnya aku saat ini. Tapi biarlah aku tetap kesal dengan tingkah ayu yang akrab dengan cowok lain malam itu.
"Ohh gara-gara itu kamu cuek sama ayu." Jawab ayu dengan senyum kecil di bibirnya.
"Kamu kenapa kayaknya di tekuk banget gitu mukanya. Jangan marah lama-lama ya ntar gantengnya ilang lo", ayu geli sendiri melihat tingkahku. Jangankan ayu aku pun juga geli sebenarnya.
"Dia itu sepupu aku di Surabaya. Kami udah lama nggak ketemu." Lanjut ayu yang melihatku berpikir dalam diam.
"Ohh" jawabku sekenanya karena aku juga bingung mau jawab apalagi. sungguh memalukannya diriku.
"K-kamu cemburu sama ayu??" Sebuah kalimat yang mampu membuat wajahku merah padam.
"Jawab ayu Putra Mahesa," tekan ayu lagi padaku.
Terlihat sudut bibirnya merekah sebuah senyuman yang mampu membuatku bisu seketika.
Degggg degg degg
"Jawab ayu. Kamu cemburu sama ayu ya?", Serbuan ayu masih belum berhenti. Melihat aku hanya mematung dengan sesekali meliriknya.
"Nggak kok tapi...", jawabku mengalihkan perhatiannya. Terlihat wajahnya tak puas dengan jawabanku yang menggantung. Hehehe biarlah waktu yang menjawabnya ayu, batinku dalam hati.
"Tapi apa ??????" tanyanya penasaran. aku hanya diam membiarkannya berpetualang dalam imajinasinya.
Kami saling berpandangan satu sama lain. Jilbab yang di kenakannya sesekali tersapu angin. Membuatku semakin meleleh melihatnya. Oh Seandainya kau tau Febi Sekarayu bahwa saat ini aku sedang cemburu padamu.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
cemburu itu tanda cinta dan sayang.. jd wajarlah kl putra cemburu ayu dekat sama laki2 lain..
2022-05-31
1
Dewi Andarini
cerita nya ringan tapi mendebarkan
2022-05-15
1