"Ini bocah makannya apa to Yo berat banget badannya" keluh om Tomo.
"Jelek-jelek begini anakku mo" ayahku membelaku. Mereka menggendongku bersama.
"Kok ya bisa malah tidur di tengah pintu kaya gitu Ki Lo. Anakmu pancen aneh mas Bud." Ledek om Utomo.
"Dia itu pingsan mas bukan molor" kata Bulik Tiwi membalas gurauan adiknya.
"Sudah-sudah, Apa kamu yakin mau pulang malam ini juga di? Anakmu gimana? Apa nggak nunggu besok pagi saja pulangnya" Tanya pakdhe Heri. Sembari mengusap minyak kayu putih di hidung dan perutku. Aku mulai sadar sedikit demi sedikit. Aku dengar mereka bicara tapi mataku dan bibirku masih enggan untuk kubuka.
"Mau gimana lagi kang, besok pagi-pagi sekali aku harus sudah siap ke kantor. Kalo telat bisa gagal promosi aku kang. Ini kesempatan yang nggak datang dua kali kang her." Jawab ayah kekeh untuk pulang malam ini.
"Yasudah kalo itu keputusanmu. Kamu hati-hatilah di jalan. Jangan lupa berdoa. Kalo kamu ngantuk capek istirahat dulu jangan di paksakan!" Nasehat pakdhe Heri pada adiknya.
"Biar anakmu aku yang urus" sahut pakdhe.
"Matur nuwun kang." Ucap ayah sembari mencium punggung tangan kakangnya itu di ikuti ibu dan Hendra mengikuti dari belakang.
"Aku mau istirahat dulu mas, Tiwi mau ngelonin Ahmad dulu kasian badannya agak anget daritadi minta gendong terus sama bapaknya." Bulek Tiwi ijin untuk pamit dulu.
"Aku juga mau mbalik ke kamar mas, kasian Siti nggak ada yang ngelonin." Ucap Utomo cengengesan.
"Istri kamu nggak usah kamu keloni juga bisa tidur sendiri" jawab Ningsih si adik bontot membuat mereka di ruangan itu tertawa renyah.
Kali ini tinggal aku pakde dan Ningsih serta ada bi Sumi sedangkan aku yang masih berat membuka mata dan mulutku tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kepalaku rasanya berputar putar sendiri kali ini.
Hoaaaaammmm
Terlihat beberapa kali pakdhe menguap tak teratur. Kepalanya juga sesekali terantuk. Bahkan rokok yang di pegangnya kadang jatuh sendiri. Membuatku sedikit risau kalau-kalau Putung rokok itu menyulut kain dan mungkin terjadi kebakaran.
"Mas Heri istirahat saja biar aku yang urus anak ini" Suara Ningsih memecah kantuk dari kakak tertuanya ini.
"Kamu yakin Ning bisa ngerawat ponakanmu ini?" Tanya pakdhe Heri meyakinkan. Sesekali dia menguap. Aku sebenarnya sudah benar-benar sadar namun aku hanya pura-pura tidur saja. Sesekali memicingkan mata melihat suasana sekitar.
"Bisa mas, mas istirahat saja di kamar. Kalo mas Heri capek keliatan makin keriput." Ledek Ningsih sembari tertawa kecil.
"Yaudah Ning. Tak serahkan ponakanmu ini. Di jaga dulu ya malam ini." Ucap pakdhe. Terlihat dia keluar kamarku dengan jalan terseok-seok. Sepertinya beliau sudah sangat mengantuk.
Kenapa harus Tante ini sih,batinku. Sepertinya aku lebih aman jika di jaga bi Sumi daripada dia. Perlahan dia berdiri di samping kasurku.
"Kenapa nggak bangun-bangun si" Tante Ningsih mengelus rambutku.
"Cihh sial" batinku dalam hati.
Walaupun kau cantik dan manis tapi kau tanteku. Lagipun usiamu lebih tua dariku. bagaimana reputasi seorang putra di teman tongkronganku kalo aku menyukai Tante-tante.
"Tante bobo sini ya" ucap Tante setengah berbisik sambil naik ke ranjang ku. Dia di sampingku kali ini. Sungguh aku tak tahan jika terus seperti ini.
Tante hanya menggunakan piyama pendek seperti ini. Sadarkah wanita ini kalo aku sudah beranjak dewasa. Kenapa dia bisa-bisanya tidur di sampingku. Bagaimana kalo pakdhe tahu. Bisa di laporkan ayah aku. Ah mati aku.
Ting tung dung tling tung
Sayup terdengar suara gamelan lagi! Bayangan akan gamelan yang bergoyang sendiri melintas kembali. Reflek aku memeluk sebelahku yaitu Tante Ningsih. Aku menyembunyikan kepalaku di lengan tanteku itu tanpa sadar.
"Sudah bangun ternyata hehehehe" ucap Tante sambil melihatku memeluknya erat.
Spontan aku meloncat dari ranjang. kakiku yang belum siap mendarat harus terpleset dan,
Duagbukk
Malu sudah pasti jangan di tanya lagi. Aku jatuh lagi. Tante melihat itu hanya tertawa dengan menutup mulutnya dengan tangan.
"Udah ah. Dek putra udah bangun. Tante mau tidur dulu. O ya ayah ibumu titip pesan. Mereka sudah pulang 1 jam-an yang lalu waktu kamu pingsan." Jelas tanteku. Aku hanya mengangguk karena tanpa di beritahu aku sudah tahu dulu.
Aku bangkit dengan rasa nyeri di bagian kaki. Gara-gara akrobat jadi terkilir kan, duh sial banget gue. Apalagi kalo inget suara tadi. Hiii merinding. Aku jadi ingat kalo malem ini pasti tidur sendiri karena aku sudah di tinggal pulang. Jujur aku masih takut apalagi kalo harus sendirian disini.
"Tan.." panggilku
"Tanteee... Temani aku disini..aku takut" rengekku seperti anak kecil meminta balon.
Kulihat dia berbalik menghampiriku. Dengan lembut memegang kepalaku.
"Kamu kan udah gede sayang, bobo sendiri ya. Tante capek mau istirahat." Ucap Tante.
Cupppp
Sebuah kecupan kembali tak membuatku kaget sama sekali. Aku kemudian menarik selimut mencoba memejamkan mata.
"Kamu mau di temenin sampe kamu bobo?" Tanya Tante.
Aku tak menjawab dan hanya pura-pura tertidur. Sebuah kecupan kembali dari tanteku. Kali ini bertubi-tubi. Sepertinya tanteku ini gemas sekali ingin menciumiku atau bahkan memakanku. Aku seakan kali ini tak mempersalahkannya. Mau di kata apa lagi rejeki nggak boleh di tolak.
Setelah 2 jam hanya berguling kesana kemari kantuk tak kunjung datang juga. Kulihat jam sudah hampir tengah malam. Ah semenjak disini tidurku tak teratur. Bahkan di kos yang sempit pun ketika kepalaku menyentuh bantal tak lama pasti aku terlelap. Ada hawa yang sedikit membuat aku kurang nyaman untuk tidur disini.
Kulihat ranjang di seberangku. Tante Ningsih sudah tertidur. Dia memutuskan untuk tidur di kamar ini karena dia sendiri pun juga merasa takut di kamarnya. Hahahaha
Setelah beberapa saat tiba-tiba angin Dingin masuk entah darimana. Segera ku rogoh celanaku mengambil sobekan kertas dari pakde tadi Maghrib. Ketika wangi melati mulai menyeruak. Aku mendengar lirih suara wanita.
"Aaa-akkkku Sss-suka sss-samma annakkk iiinnni hihihihi" sebuah tawa melengking membuat bulu kudukku berdiri. tak jelas terdengar tapi sanggup membuat Mataku terbuka seketika. Bau macam macam bunga menyeruak yang paling ketara bau melati paling dominan memenuhi ruangan ini. Sekelebat bayangan seperti melewati atas tubuhku. Membuatku tambah panik seakan ingin pingsan lagi saja. Hingga,
Teringat aku dengan kata-kata pakdeku tempo itu. Katanya kalo aku di ganggu di rumah ini aku harus apa ya. Dengan buru-buru aku mengingat petuah orang yang paling dekat denganku itu. Ah iya, dengan cepat ku raba semua kantongku mencari sesuatu. Akhirnya kutemukan secarik kertas yang sudah Kusut.
Segera ku baca tulisan berbahasa Jawa aneh tersebut.
Bugggg
Suara seperti benda jatuh sangat keras mengejutkanku. Dan semua yang terjadi, bau melati hingga suara perempuan seakan lenyap tak berbekas. Menginggalkan aku dengan keringat sebiji jagung. Aku baru ingat kalau pakde pernah cerita ini sebuah mantra Jawa dari Simbah katanya. Walaupun aku sendiri tak tahu artinya.
Sementara itu Tante yang terusik bangun karenanya menatapku heran. Tanpa basa-basi aku lari ke ranjangnya dan bersembunyi di balik selimut bunga-6unganya.
"Kamu dengar itu? Kamu hebat berani " ucap Tante. Tak kuduga ternyata dia Juga mendengarnya. Apa dia tau semua tentang apa yang terjadi di rumah ini.
"Tante gue takut banget," bibirku gemetar saking takutnya.
"Besok aku ceritakan sama kamu. Sekarang kamu tidur di sebelahku dulu" lanjut dia membetulkan piyama pendeknya.
"Udah bobo disini aja." Jawab Tante sambil menengok kanan kiri. Terlihat dia juga ketakutan sama sepertiku.
Tak lama aku pun terlelap di samping wanita berperilaku aneh ini.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
ngomong sm anak lulusan s1 masa kaya lg nhomonh sm anak tk 😂🤣
2022-12-27
0
Yuli Eka Puji R
bukan beranjak dewasa tp udh dewasa kali put
2022-12-27
0
ſᑎ🎐ᵇᵃˢᵉ
Putra di kelonin tante² jadinya..Nyali nya menciut juga yah setelah di ganggu oleh makhluk tak kasat mata..😂😂
2022-11-20
0