"Iiihhh jahat kamu." Ucap ayu sambil mencubitku lembut.
"Kok aku Yang jahat? Hehehe" jawabku.
"Jahat bikin ayu penasaran terus." Kata ayu sambil manyun. Duh imutnya.
"Kamu ngapain sih. Live streaming tengah malam kaya gitu. Jangan kaya gitu ah aku nggak suka." Ucapku to the point.
"Ya habis gimana ayu gabut, gabisa bobok sih." Balasnya.
Oh iya aku dan ayu kan belum punya kontak masing-masing. Kenapa nggak minta aja biar bisa makin Deket. Oh putra kenapa karena terpesona dengan ayu engkau jadi bodoh seperti ini.
"Yaudah kita tukeran Wa gimana, setuju? Aku juga kadang susah tidur disini ", Usulku dengan bahagia.
"Boleh boleh boleh" balas ayu dengan menirukan nada sebuah kartun animasi upim dan ipim.
Kami tertawa bersama. aku bahkan sudah lupa dengan masalah semalam. Kami sangat asik Berbincang tentang saat dulu berada di kampus, Keinginan ayu untuk berbisnis, satpam tua yang dulu selalu mengejar-ngejar dia, dosen killer yang ternyata sekarang sakit parah, sampai obrolan yang tak penting sama sekali. Kami berdua hanyut dalam suasana nyaman seperti ini.
Bruuggg
Tanpa beranjak dari tempat duduk, Sesaat kami serentak menengok ke belakang ke dalam rumah untuk memastikan apa yang menimbulkan suara jatuh yang cukup keras itu. Hingga suara tinggi memanggil namanya.
"Putra, bantuin pakde!" Teriak pakdhe.
"Cepet bantuin nenek!!,," Panggil pakdhe lagi kali ini suaranya lebih keras.
Segera aku menghampiri pakde yang memanggilku. Ku gandeng dengan lembut tangan mungil ayu. Tapi dia menahannya dengan cepat. Aku menengok sebentar kulihat wajahnya pias.
"Kamu aja yang masuk. Aku takut", kata ayu menahan langkahnya.
"Yaudah kamu tunggu disini aja ya", jawabku sambil mengelus punggung tangan ayu.
Dengan langkah besar aku bergegas menuju ke dalam rumah. Kemudian masuk ke dalam kamar nenek. Saat di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu Seketika udara berubah pengap. Aroma minyak gosok dan berbagai aroma wewangian merebak membuatku sedikit pusing menghirupnya. Mungkin kalo lama-lama disini bisa pingsan aku, gumamku.
Mataku tertuju pada seorang pria yang sedang berupaya menggendong nenek. Reflek segera aku membantu menolongnya. Astaga! Sebenarnya Kenapa nenek ini. Terlihat tubuhnya memerah seperti melepuh bahkan beberapa tempat kulitnya sebagian mengelupas! Mengeluarkan darah segar dari tubuh keriputnya. Mulutnya terdengar lirih mengaduh, suaranya menggambarkan kesakitan yang teramat sangat. Di seluruh tubuhnya Benar-benar Terlihat darah segar dimana-mana. Aku ngilu sendiri melihatnya.
"Su-su-dah di-mu-lai", lirih nenek di tengah erangannya.
"Di-Di-a Di-Si-Si-ni, aaaarggghhhh" teriak nenek terlihat kesakitan.
Matanya terus berputar seperti mencari sesuatu. tubuhnya yang merah melepuh terlihat menggigil. bau anyir mulai tercium saat kami meninggalkan kamarnya. membuatku sedikit mual. kami berencana berjalan melalui pintu samping rumah karena disana lebih dekat dengan garasi.
"Simbah diam dulu ya jangan banyak gerak. Biar Heri bawa ke polindes dulu", bujuk pakdhe. Matanya terlihat sayu.
Racauan dan erangan Terus mengalir dari bibir tua nenek, Tak jelas apa yang di katakannya memang. Semua yang keluar dari mulut nenek seperti hanya pekikan erangan kesakitan. Matanya terus mengeluarkan air mata membanjiri Setiap sudut pipi. Membuat siapapun yang mendengar dan melihatnya tak tega. pemandangan yang sungguh menyayat hati.
"Panggil om Tomo suruh nyiapin mobilnya. Kita bawa ke polindes dulu." Titah pakdhe cepat.
Aku segera bergegas menuju kamarnya. Teringat kondisi nenek yang sudah mengeluarkan banyak darah seperti itu membuatku sedikit panik.
"Mau kemana dek?" Tanya Tante Ningsih melihatku berlari menuju dua kamar setelah kamarnya.
"Om Tomo! Nenek! Gawat!" Kataku sambil terengah-engah.
"Nenek kenapa?" Tante terlihat terkejut kemudian berjalan cepat ke arah kamar nenek.
Kriiiiietttt
Pintu terbuka!
"Ngapain kamu kesini?" Om Tomo terlihat sudah berdiri di depanku.
Terlihat dia baru bangun tidur. Di sudut kamarnya juga terlihat tas besar. Sepertinya om Tomo sudah berencana untuk pulang saja menyusul istrinya yang sudah meninggalkan rumah ini lebih dulu, karena anak om Tomo yang masih balita rewel dan mengalami panas tinggi yang tak kunjung mereda.
"Om nenek! Nenek luka parah om di suruh pakdhe nyiapin mobil sekarang!" Kataku.
"Apa? Yaudah kamu bantu pakdhe ngangkat nenek. Om siapin mobil cepat!". Titah om Tomo, Aku mengiyakan.
Terlihat pakdhe dan Tante Ningsih berkerjasama membopong tubuh yang sudah tua renta tersebut. aku bergegas membantu mereka.
"Mas Heri, menurutmu apa ini semua ulah dia?" tanya Tante dengan mata berkaca-kaca.
"aku masih belum tau Ning, apapun itu ini sudah nggak bisa di maafkan." jawab pakdhe dengan nada bicara penuh penekanan.
"Cuma kamu yang bisa menghentikan semua ini," Ucap Tante Ningsih sembari menatapku tajam.
"Diamlah Ning! Dia belum tau apa-apa. bahkan dia belum siap sama sekali !" bentak pakdhe. Tante langsung terdiam di buatnya.
"Ada apa sebenarnya? kenapa harus aku pakdhe? memang aku harus apa?" tanyaku penuh tanda tanya.
"Cepat atau lambat kamu pasti tau nak" jawab pakdhe
dengan tatapan teduh khas nya.
"Pakdhe dan Ningsih mau pergi dulu. kamu jaga rumah ya. kalo mau pergi jangan lupa kunci rumah dan pulang sebelum waktu Maghrib tiba." lanjut pakdhe sambil masuk ke dalam mobil om Tomo.
"Oh ya. kalo kamu pergi kunci rumah di tinggal aja di bawah keset atau di bawah pot. yaudah pakdhe tinggal dulu", tambah pakde melambaikan tangan ke arahku.
Setelah membantu mengangkat nenek dan memasukkan ke dalam mobil aku segera masuk dan mengganti pakaianku. Semua orang ikut dalam mobil om Tomo termasuk Tante Ningsih. Darah dari nenek sungguh melumuri seluruh bajuku. Entah bagaimana bisa nenek itu mendapat luka yang serius seperti itu. Dan yang terpenting apa semua luka itu di sengaja oleh seseorang?
Setelah mengganti baju aku berniat segera menemui ayu di depan. Karena kepanikan tadi aku jadi sedikit terlupa dengan ayu. Segera aku melangkah ke depan untuk menemuinya. Terlihat dia sedang berdiri membelakangiku.
"Ayu" sapaku dari belakang ayu
"Putraaa", ayu menengok wajahnya sendu. Terlihat air mata mengalir deras dari netranya.
"Kenapa kamu yu?" Tanyaku yang langsung spontan memegang tangannya yang penuh keringat dingin.
"A-aku takut disini sendiri" rengek ayu air mata tak henti-hentinya mengalir.
"Anter pulang, huhuhu. Aku takut putraa " tangisnya semakin menjadi.
"Iya ayo pulang tak anterin" jawabku sembari meletakkan jariku di bibirnya. Mengisyaratkan untuk tidak menangis lagi.
Segera ku kunci pintu depan dan menaruh kuncinya di balik keset. Segera Kuraih kunci motor ayu untuk mengantarkan dia pulang.
"Ayo, let's go" ajakku padanya.
"Hiks hiks" ayu naik motor dengan sesekali masih sesekali terisak.
Segera kupacu motor matic tersebut untuk segera meninggalkan rumah penuh teka teki itu. Dengan ayu di belakangku. Terasa tangannya memegang pinggangku.
"Kamu kenapa tadi nangis ayu?," Tanyaku setelah kurasakan dia sudah tenang.
"Aku takut", jawabnya.
"Emang apa sih yu," ucapku.
"Nenek tari..." Ayu menjelaskan.
"Kamu harus secepatnya lari dari rumah tersebut putra.." pinta ayu. Tangannya semakin erat memegang pinggangku.
"Dasar Rumah terkutuk! " Tiba tiba saja ia kembali terisak. Menyandarkan kepalanya di punggungku.
"Hmmm"
"Ada sesuatu yang nggak beres di rumah itu, aku harus ungkap semuanya dengan tanganku sendiri?!" Jawabku bersemangat.
Sebenarnya aku pun sudah jengah tinggal di rumah yang tak nyaman seperti itu apalagi dengan kisah kelam di baliknya. Namun aku sudah terlanjur masuk terlalu dalam. Masih ada rahasia yang harus terungkap disini!!
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
vanilla althea smith
sungguh bikin penasaran huhuhu
2023-11-15
1
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
ayo putra, kamu pasti bisa menyelesaikan segala mistery di rumah mbah tari.. semangat..💪🏼💪🏼
2022-05-31
2
Dewi Andarini
kenapa mereka yang tau tentang misteri nya.. menyembunyijkan dari Putra?
2022-05-15
3