Dering alarm HP ku berbunyi dengan lantang. Kulihat sebelahku sudah rapi. Apa Tante sudah bangun pikirku. Segera ku matikan dan berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka. Sayup-sayup terdengar suara orang mengobrol di ruang makan. Kupasang Telinga dengan seksama.
"Silakan mbok, sudah lama nggak kesini. Gimana kabarnya?" Ujar pakdhe sepertinya antusias dengan tamunya itu. Aku terus berjalan ke arah depan tanpa menghiraukannya. Ingin rasanya aku mencari udara segar.
"Put putra sini kamu kedatangan temenmu" panggil pakdhe setengah berteriak.
"Temen? Temen yang mana. Perasaan gue nggak pernah ngasih sharelok ke siapapun." Gumamku. Mana mungkin temen-temenku kesini. Ke tempat antah berantah ini.
Aku berjalan menuju ke ruang makan. Disana terlihat seorang wanita paruh baya, kulitnya coklat namun bersih dan dia datang dengan wanita berkerudung coklat dengan baju yang rapi. Wanita itu kini menatapku sambil tersenyum.
Deg deg deg
"Ayu?!" Aku kaget sekaligus bingung melihatnya. Dan ku lihat dia juga sama kagetnya denganku.
Ayu adalah teman kampusku. Kami satu angkatan namun beda jurusan. Dia merupakan salah satu primadona impian untuk setiap laki-laki yang ada di kampus. Mulai dari mahasiswa, dosen, tukang cilok, tukang sempolan sampai satpam yang sudah sepuh pun mengidolakannya.
"K-kamu ngapain disini?" Tanyaku bingung.
"Lho kalian sudah saling kenal?" Tanya wanita paruh baya itu yang kupikir itu ibunya karena ada semburat garis wajah yang mirip.
"Iya bunda. Febi sudah kenal dia di kampus" ucap ayu sambil tersenyum ke arahku. Senyuman yang tak pernah di berikan dia waktu di kampus meskipun dia sering bertatapan denganku.
"Febi? Maksutnya ayu ? Kok Febi??" Tanyaku penuh selidik.
"Namanya Febi Sekarayu, temanmu dulu waktu disini" jelas pakdhe.
Seakan tak percaya ternyata idola kampus selama ini teman masa kecilku. Dulu Gadis imut lucu dengan pipi bulatnya sekarang ternyata berdiri di hadapanku. Tak ku sangka tak ku duga.
"Kalo ini namanya bi tutik. Kamu inget nggak?" Lanjut pakdhe. Aku hanya mengangguk dan menggeleng tak percaya. Ternyata dunia begitu sempit.
"Baguslah kalo sudah kenal jadi bisa cepet di nikahkan." Ucap bi tutik.
"Nikah?!" Sontak aku terkejut. Bagai petir di siang bolong baru lulus kemarin. Kerja aja belum sudah d suruh nikah. Sementara itu Febi atau ayu hanya senyum seolah sudah tau kalo dirinya bahkan di jodohkan.
Tokk
"Kamu jangan loncat gitu kagetnya pakdhe juga ikutan kaget." Kata pakdhe Sembari memukul kepala ponakannya itu dengan sendok.
"Biar pakdhe jelasin dulu" pakdhe mulai membuka cerita lembar demi lembar. Aku masih bingung di buatnya.
( FLASHBACK )
Semua berawal di awal bulan musim hujan di tahun 2005 tepat di umur Febi yang 7 tahun. Waktu itu bi tutik sudah bekerja disini. Waktu itu ada wabah penyakit yang belum diketahui obatnya. Penyakit ganas yang di namakan Demam Berdarah waktu itu obatnya belum di temukan. Saat itu almarhum bapak Febi dan Febi terkena penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut sempat membuat Febi kejang dan koma karena panasnya lebih dari 40 derajat!.
Bi tutik yang sedih tau suami dan putri semata wayangnya menderita. Sementara uang dan tabungannya jauh dari kata cukup untuk berobat mereka berdua. Sejatinya tabungannya itu akan di gunakan untuk masa depan anaknya. Akhirnya dengan berat hati bi Tutik Meminta bantuan pada Simbah Kakung atau suami nenek tari. Waktu itu Simbah Kakung adalah juragan kopi, tembakau dan juga jual beli tanah.
"Waktu itu pakdhe sudah seumuran kamu put cah bagus. Eh mungkin lebih tua " gelak pakdhe sambil mengingat keping memori masa lalunya. Kami bertiga menyimak dengan hikmat.
Bi Tutik meminjam dengan jaminan surat tanah rumahnya. Dengan berat hati ia menyerahkan harta satu satunya tersebut. Semua demi kesembuhan suami dan buah hati. Saat itu nenek dan kakek sangat baik sekali. Singkat cerita Setelah berjuang hampir satu bulan akhirnya Febi terbebas dari penyakitnya di susul ayahnya lima hari kemudian. Bi Tutik senang karena kedua orang yang dia sayangi sembuh sedia kala.
Namun di sisi lain dia juga kalut karena uang yang dia pinjam sangat besar dan entah bagaimana caranya agar dia dapat mengembalikan uang sebanyak itu. Hingga suatu pagi ni Tutik menemui Simbah Kakung yang sedang merokok di halaman depan sambil memandikan burung perkututnya. Niat bi Tutik adalah mencicil hutangnya yang amat besar tersebut dengan semua tabungan yang ada di rumahnya. Suaminya terlihat sudah mencabuti rumput di belakang Simbah.
"Bawa saja uangmu. Aku ikhlas membantumu. Bawa uang itu dan jadikan anak perempuanmu sukses." Kenang bi Tutik seraya menyapu air mata yang sedari tadi menggenang.
Simbah Kakung menganggap semua lunas. Bi Tutik yang tak kuasa menahan tangis bersimpuh di depan Simbah Kakung begitu juga suaminya yang terlihat tak percaya sebegitu baiknya Simbah Kakung pada keluarganya.
"Apa yang harus kami lakukan untuk membalas Budi pada njenengan Mbah Kakung" kata almarhum ayah Febi.
Simbah berpikir sejenak lalu berkata sambil menunjuk Febi yang sedang bermain. Ya Febi saat itu sedang bermain denganmu Mahesa Putra Dewa Rahardjo. Jodohkan saja putrimu dengan cucuku. Mereka terlihat dekat. Simbah Kakung tersenyum. Kami sempat ragu waktu itu tapi Saat Simbah meninggal, Kami jadi yakin untuk mewujudkan perjodohan kalian.
"Jadi seperti itu ceritanya" gumamku. Tak di pungkiri ada rasa bahagia juga kalo harus 'terpaksa' menikahi Febi. Bahkan Sekarang langsung ijab pun aku mau hihihi.
Krrrrrincingg krrrincing
Kami di kejutkan dengan suara lonceng dari kamar nenek. Segera kami berempat berlari menuju kamar nenek. Di susul bi Sumi yang terlihat tergopoh-gopoh berlari di belakang kami.
Cihh mengganggu suasana bahagia saja nenek tua ini, huhh.
Dengan kasar pakdhe membuka kamar nenek. Dan terkejut bukan kepalang. Kami berlima melihat nenek menyisir rambut kusutnya membelakangi kami. Sambil bersenandung Jawa. Aku mundur perlahan ke belakang kulihat ayu atau bisa kusebut Febi ini memegang tanganku. Membuat jantungku Berdegup kencang tak menentu.
"Mbah punapa jengengan sampun sehat?" (Mbah apa Simbah sudah sehat?) tanya pakdhe pelan.
seketika Simbah berhenti menyisir rambutnya. Lalu menengok ke arah kami memperlihatkan deretan giginya yang menghitam. Sepersekian detik beliau ambruk. Membuatku dan pakdhe reflek membopong nenek tari. Aneh, tubuh nenek tari hanya tinggal tulang berbalut kulit tapi mengapa aku dan pakdhe yang notabene dua lelaki yang masih kuat sangat merasa keberatan. Rasanya seperti mengangkat tiga orang.
"Kau tau sesuatu, Nenek sebenarnya sudah lumpuh semenjak 4 tahun yang lalu" bisik pakdhe padaku.
Semakin menelan ludah aku di buatnya. Kami segera bergegas meninggalkan nenek yang menurutku penuh aura mistis. Kembali ayu memegang lenganku sambil gemetar, kulihat bibir manisnya manyun menggemaskan.
Kami memang bisa di bilang nggak akrab. Jangankan gandengan. Ngobrol pun tak pernah. Jurusan yang berbeda terlebih dia idola kampus membuat kami nyaris tak pernah berpapasan. Aku hanya melihatnya sekilas itupun dari jarak jauh.
"Heh kalo sudah nikah aku nggak mau tinggal di rumah ini ya" ucap ayu memegang tanganku manja. Kata kata yang membuatku seperti meleleh berdesir aku mendengar kata nikah darinya. Aku meliriknya. Gila manisnya gak ada obat. Bisa diabetes stadium akhir kalo lihat terus. Ini seperti mimpi, gumamku.
"Siapa juga mau tinggal di rumah kuno kaya gini. Ini tu bukan rumah tapi museum. Hehehehe" ucapku sedikit bercanda. Kemudian mencubit perutku. Sakit tapi membahagiakan rasanya.
Ayu hanya senyum. Manis sekali senyumanya seperti candu bagi siapapun yang melihatnya. Eh bagaimana kalo teman-temanku tahu aku bisa menggaet primadona nomor satu di kampus dulu. Hahahaha pasti aku akan jadi artis dadakan di grup chat WhatsApp.
Sejenak kebahagiaanku sedikit melupakan hal mencekam yang baru saja terjadi di kamar nenekku, nenek tari.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
eka wati
haduu scene pengabdi setan.. mana kebayang lagi gimana adegannya 😭😭
2024-07-11
0
Mimik Pribadi
Lanjuuutt,,,,
2023-07-30
0
Yuli Eka Puji R
😂🤣🤣 kena dbd ga ada obatnya
2022-12-27
0