Pagi hari pun tiba. Aku terbangun dari tidurku kulihat adikku sudah bangkit terlebih dahulu. Dimana aku, oh iya aku sedang berada di rumah nenek. Kulihat ibu dan ayah juga sudah mondar mandir di luar kamar. Ramai sekali di luar, pikirku.
Aku berjalan keluar kamar. Sekilas teringat akan kejadian semalam yang kualami. Masih merinding rasanya jika mengingat itu.
"Eh kamu udah bangun kak, sana mandi di belakang kak. Habis itu sarapan bareng bareng di depan." Sapa ibuku.
"Buk emang dimana kamar mandinya?" Tanyaku
"Tuh di belakang dapur belok kanan nyari pintu yg sebelah kanan warna biru kak, kalo yg lurus terus itu pintu keluar." Jelas ibu
Aku pun segera pergi mandi. Lengket juga rasanya dari kemarin hanya mandi pagi di rumah. Segera kuambil handuk yang sudah kupersiapkan dari rumah. Meluncur ke kamar mandi untuk membasuh diri. Tiba-tiba di tengah aku mandi,
Doko dokk dokk
"Ya siapa ya ?" Tanyaku pada seseorang yang ada di luar. Sepertinya ia kebelet atau memang iseng karena di dengar dari suara ketukannya yang keras sekali.
Tak ada jawaban dari luar. Mungkin sudah pergi pikirku.
Dokkk dokk dokk!!
Kali ini suara gedoran pintu semakin keras. Aku di buat geram olehnya. Nggak sabaran banget sih, emosiku meluap.
Dokk dokk dokk!!
Emang anj*Ng orang ini apa nggak bisa sabar apa gimana, gumamku heran bercampur jengkel. Tanpa pikir panjang setelah di gedor berkali kali, aku tarik handukku dan dengan emosi. Kulilitkan di tubuh menyerupai sarung. Dan kubuka pintu kamar mandi. Ku lihat keluar.
Kosong!
"Cepet banget ilangnya" pikirku
Kututup kembali pintu kamar mandi dengan niat melanjutkan aktivitasku. Segera setelah pintu ku tutup.
Dokk dokk dokk!
"Ini jelas bukan manusia?!" Pikirku mulai di gerayangi ketakutan. Keringat mulai membasahi dahiku.
Segera kulakukan mandi secepat kilat. Mandi seperti pelari maraton. Gedoran pintu masih sesekali terdengar. Bukan dari pintu yang lain karena suaranya seperti pintu seng yang di gedor gedor. Dan hanya kamar mandi ini yang pintunya dari seng yang di tempel pada rangka kayu.
Bergegas aku keluar sambil setengah membanting pintu. Aku berlari menuju kamar terengah-engah. Kenapa dengan diriku. Hanya aku atau yang lain juga merasakan hal yang sama. Segera aku ganti baju secepatnya dan segera menyusul yang lain di meja makan. Akan ku ceritakan ini pada ayah saat nanti sudah dirumah pikirku.
Sampai di meja makan kulihat mereka sudah melahap makanan di meja. Makanan yang terlihat sangat banyak dan menggiurkan. Ya aku belum makan sedari malam tadi, perutku sudah meronta ronta di buatnya.
"Sini duduk sini" kata pakde.
"Makanlah yang banyak, ambil yang kamu suka" lanjut pakde sambil tersenyum ramah. Kulihat ibu ayah dan Hendra sedang menikmati hidangan yang tersaji.
"Biar ku perkenalkan kamu sama yang lain" ujar pakde. Aku memperhatikan sembari mengambil nasi dan sepotong ikan goreng.
"Ini semua saudara ayahmu putra, itu ada paklik mu, Utomo dan istrinya itu ada bulikmu Tiwi dan Ningsih. Yang Bulik Tiwi sama suaminya, kalo yang Bulik Ningsih itu belum kawin " jelas pakde sambil menunjuk beberapa orang yang ada di seberang meja makan.
"Aku harap kalian semua saling kenal dan akur. Ingat silaturahmi. Kita ini suadara kandung. Jangan sampai terputus silaturahmi." Lanjut pakde. Beliau memang sosok yang berwibawa di hadapan yang lain. Aku jadi kagum melihatnya.
Kulihat mereka hanya melirikku dan tersenyum yang seakan di paksakan. Aku tak menggubris mereka. Sepertinya mereka juga tak suka pada keluargaku.
"Aku mau lihat simbok dulu" kata Bulik Ningsih.
"Aku juga mau nengok simbok juga" jawab ayah sambil bangkit dari tempat duduknya.
Aku yang sudah selesai dengan sepiring nasiku, ikut berdiri dan mengekor di belakang ayah.
"Kamu mau ikut juga?" Tanya ayah yang hanya kujawab anggukan saja.
Akhirnya kami bertiga berjalan dengan ayah di depan sementara aku dan Bulik Ningsih mengikuti agak jauh.
"Kamu ganteng juga dek, kalo bukan anak kang Budi udah tak embat kamu" bisik Bulik Ningsih sembari tersenyum.
"Hah ?" Ucapku setengah salah tingkah.
Aku yang kaget dengan kata kata itu hanya tersenyum. Bulik Ningsih sebenarnya belum terlalu tua. Wajahnya masih segar khas ibu ibu muda. Kulitnya hitam manis dengan wajah bulat dan badan yang kecil. Tingginya sebahuku. Ku taksir usianya mungkin lima tahun di atasku.
Akhirnya kami sampai di depan kamar Simbah. Kami bertiga masuk sambil mengucap salam.
Terlihat di ranjang sebuah tubuh tua renta yang hanya tinggal kulit dan tulang terbaring lemah. Matanya sesekali melirik siapa yang datang. Di tangannya menggenggam erat sebuah lonceng Kumal yang di gunakan untuk memanggil bi Sumi.
"Mbok ini aku Budi"kata ayah.
Simbah tak menjawab. Dia hanya tersenyum kulihat di sudut matanya mengembun air mata. Beliau seperti berbicara lewat tatapan mata. Aku seperti terbawa ke dalam kesedihan kan kesepiannya.
"Ini Ningsih sama ini anakku mbok, ini cucumu." Lanjut ayah. Simbah tetap diam namun matanya melihat ke arahku sambil mengisyaratkan aku untuk mendekat.
Aku dekati simbah tari. Tiba-tiba tangan keriputnya menarik dan memelukku erat. Mulutnya yang sedari tadi hanya diam berbisik lirik di telingaku.
"Gowo no rumatono, dadio Satrio sing duweni kinurmatan (bawalah dan peliharalah, maka jadilah kamu satria yang terhormat) .". Lirih Simbah. Perlahan beliau melepaskan pelukannya dan kembali tak berdaya.
Aku hanya bingung mendengar kata kata Simbah. Aku diam hanya sesekali membalas dengan anggukan.
Setelah beberapa saat kami bertiga keluar dari kamar Simbah. Di luar sudah ada pakde dan om Utomo kami bergantian masuk ke dalam.
"Simbok melek (bangun) di?" Tanya pakde pada ayahku.
"Iya kang" jawab ayah tersenyum.
Gedebugg
Kami terkejut mendengar suara seperti terjatuh dari dalam kamar. Segera kami semua merangsek masuk ke dalam untuk memastikan keadaan Simbah.
"Simbok!" Teriak pakde.
Melihat Simbah sudah tertelungkup di bawah ranjangnya. Kudengar lirih Simbah merintih kesakitan. Tubuh rentanya harus jatuh dari atas tempat tidur yang lumayan tinggi. Terlihat ada darah di pelipisnya.
"Ojo jikuk putuku! (jangan ambil cucuku!) ,". rintih simbok sambil meneteskan air mata saat di angkat oleh pakde dan ayah.
Sontak kami semua saling bertatapan heran tak mengerti.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
ko jdi inget film pengabdi setan yaaa...😬😬
2023-09-05
1
Yuli Eka Puji R
hayoo lohh gowo opo
2022-12-27
0
Lili Ana
Jangan-Jangan Mbahnya punya Pegangan, Mari lanjutkan hehe
2022-11-06
0