Setelah kejadian pagi itu di kamar Simbah aku seakan di bayang-bayangi kata-kata Simbah. Memikirkan semua ini seakan memacu adrenalinku. Walaupun aku juga sedikit merasa paranoid berada di rumah ini sendiri.
"Kakak, ibu sama yang lainnya mau ke supermarket. Kakak mau ikut ?" Tanya ibu memecah lamunanku.
"Emang di tempat terpencil ini ada supermarket? Kalo ada supermarket hantu palingan. Hehehehe" gurauku.
"Hush kamu ini sembrono" jawab ibuk.
"Iya nggak disini tapi di desa sebelah perbatasan sama kota" lanjut ibu.
"Kita mau pergi dengan pakde, Lik Utomo sama Bulik Tiwi sekeluarga. Biar kita juga akrab sama mereka" bujuk ibu. Yang melihatku seperti tidak tertarik.
"Nggak ah buk, males. Panas di luar" jawabku.
"Aku mau disini aja buk istirahat" lanjutku sembari merebahkan badanku ke kasur.
"Yaudah nanti kalo ada apa-apa, ngabari ibu atau ayahmu." Ucap ibu.
"Berati kamu disini ya jaga Simbah sama jaga rumah" lanjut ibu tersenyum.
"Iya buk" jawabku sambil membuka Instagram. Melihat lihat foto dan video acak di berandaku.
Aku baru teringat kalo ada Simbah tari. Aku tak begitu memikirkannya. Paling nanti bi Sumi juga bentar lagi datang. Memang Bu Sumi tidak menginap di rumah ini. Toh rumahnya juga tak terlalu jauh dari sini, jadi setiap sore hari bi Sumi pulang kerumahnya.
Sayup-sayup terdengar mobil berderu beriringan meninggalkan halaman rumah. Aku hanya mendengarkan tanpa beranjak sama sekali dari kasurku.
Dokk dokkk dokk
Setelah sunyi tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamar. Aku menghentikan kegiatanku sejenak.
Khawatir akan 'di kerjai' lagi aku tak menghiraukan ketukan pintu itu. Hingga,
"Dek kamu tidur?" Suara yang tak asing bagi telingaku.
"Si-siapa ya?" Tanyaku ragu.
"Ini Bulik, bukain bentar" ternyata itu Bulik Ningsih yang merupakan tanteku. Dia tidak ikut pergi jalan jalan rupanya.
Aku berjalan menghampiri pintu lalu kubuka. Terlihat Bulik habis mandi dari wanginya dan rambut yang masih basah. Dia hanya memakai daster terusan selutut.
"Kamu lagi ngapain?" Bulik bertanya padaku sambil mendekatkan tubuhnya. Tercium aroma wangi dari sabun beraroma bunga yang cukup menyeruak ke seluruh kamar.
"Ini Bulik lagi main game" jawabku sekenanya.
"Bantuin Bulik yuk, bantuin geserin lemari di kamar Bulik" pintanya.
"I-iya Bulik" jawabku sambil mengikuti Bulik Ningsih yang melenggang pergi. Bibir mungilnya tak pernah lepas tersenyum.
"Ini dek, lemari yang ini" kata Bulik sambil menunjuk lemari kayu dengan tinggi se dadaku. lemari yang kurasakan cukup berat untuk lemari dengan ukuran segitu.
"Tolong geser kesana ya" kata Bulik menunjuk ke arah yang kanan dekat dengan jendela. Ku lirik Bulik duduk di atas ranjang nya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Disini Bulik"tanyaku pada Bulik Ningsih.
"Iya disitu aja dek, makasih ya" lanjutnya.
"Nggak masalah Bulik" jawabku yang lumayan ngos-ngosan. rupanya kegiatan ini lumayan menguras tenagaku. apalagi aku belum sarapan.
"Eng-kamu udah punya pacar dek?" Tanya Bulik tiba tiba-tiba.
"Belum Bulik, saya suka minder kalo mau deketin cewek. Hehehe" gurauku mencoba memecah kikuknya suasana. aku berniat berjalan menuju pintu keluar untuk bergegas kembali lagi ke kamarku karena kurasa tugasku sudah selesai.
"Kenapa?" Tiba-tiba Bulik berdiri mendekati aku lagi. belum sempat keluar malah Aku terpojok. Sekarang di depanku ada Bulik yang mendekatiku dan di belakangku ada lemari yang ku geser barusan. aku mundur perlahan karenanya. terlihat jantungku mau lepas rasanya.
"Awas aku mau ambil buka lemari dek, kamu jangan disitu" kata Bulik yang ternyata mau membuka lemarinya.
Aku salah tingkah karena sudah berpikiran yang aneh-aneh. Aku jadi merasa bersalah, bagaimanapun Bulik adalah adik ayahku kenapa aku jadi berpikiran jelek begini.
"Bu-bulik saya pamit mau balik ke kamar lagi ya" ucapku sedikit merasa bersalah.
"Tunggu dek, mau tak kasih upah kamu" ucap Bulik.
"Nggak usah Bulik, nggak usah ngasih u.."
Cuppp
Belum selesai aku dengan kalimatku tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipiku. Berdesir dadaku di buatnya. Bulik terus memegangi pipiku.
"Kamu kenapa merah gitu mukanya?" Tanya Bulik yang melihat wajahku merah padam.
"Dek, Bulik dulu juga sering nyium kamu kan? Kamu kan ponakan Bulik. Kamu kecil kan yang sering ngasuh juga Bulik. Jadi Bulik gapapa kan nyium kamu?" Bulik menjelaskan dengan senyuman khas nya.
"Kamu itu udah Bulik anggep anak Bulik sendiri" lanjut Bulik sembari mengecup pipiku lagi yang satunya. sudah dua kecupan mendarat di pipiku. kali ini ia memelukku sekilas, harum rambutnya yang terurai setengah basah memenuhi Indra penciumanku. malu bercampur canggung rasanya. bagaimanapun aku sudah menginjak dewasa. tak pantas rasanya di perlakukan seperti itu.
"udah sana balik ke kamar kamu, nggak enak nanti kalo tiba-tiba ada bi Sumi. bentar lagi dia kesini Lo." kata Bulik sembari berbalik badan meninggalkanku yang masih berdiri mematung.
aku segera berbalik badan juga dan lekas pergi. ada benarnya juga kata Bulik tadi. apa nanti yang di pikiran bi Sumi nanti kalo melihatku di kamar Bulikku yang masih muda dan belum menikah. bahkan kami hanya berdua saja di dalam kamar.
Aku kembali dengan perasaan campur aduk ada perasaan takut dan ada perasaan kikuk. Apa-apaan dia. Bagaimana kalau dia melakukan itu lagi, aku harus bagaimana? Apa ada maksud tertentu dari dia. Haruskah aku ceritakan ke ayah soal ini. Atau mungkin apa yang di katakan Bulik muda itu ada benarnya juga. Kalo dia sudah mengganggapku seperti anaknya sendiri.
Bahkan dia belum pernah menikah, mana tau rasanya punya anak. Imajinasi ku mengawang tinggi membawa segudang pernyataan berserta jawabannya. bahkan aku belum pernah punya pacar apalagi di cium seperti itu.
"Ahh sial tau gini aku ikut sama ibuk saja" sesalku dalam hati.
"itu bulikku sendiri Lo ahh" beberapa kali aku menggerutu senyum sendiri tak jelas seperti orang gila. mataku kali ini tak mampu lagi konsentrasi melihat ponselku. aku hanya membuka beranda, menutup nya , membuka lagi tak jelas apa yang kulakukan saat ini.
Kini tak menentu lagi aku serba bingung serba salah mau apa-apa. Bahkan aku takut kalau harus keluar kamar. Bukan takut ketemu hal-hal menyeramkan lagi tapi takut kalau harus bertemu dengan Bulik lagi. Apa yang harus kukatakan kalau bertemu dia lagi? Tanyaku dalam hati. rasa tak enak kini menyelimuti pikiranku.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Mda
gaes gue gax brani deh bc ceritanya. takut kebayang-bayang. hiiii
2023-08-01
0
Yuli Eka Puji R
itu kan dlu waktu kecil sekarang udh besar dan udh beda cerita tu putra kok diem aja di ciumin buleknya
2022-12-27
0
Yuli Eka Puji R
bukannya tdi udh sarapan ya lupa dia 😂🤣🤣
2022-12-27
0