11. Semakin Dekat

Siang itu terasa terik. Sesekali angin hangat menyapu wajah kami berdua. Kali ini Febi atau biasa ku panggil ayu mengajak aku berjalan jalan di kebun samping rumah nenekku. Rumah megah dengan sejuta misteri.

"Emmmm yu, kamu kapan datang kesini?" Tanyaku membuka obrolan.

"Baru tadi malem di telfon ibu suruh pulang. Padahal aku hari ini dapet panggilan interview di perusahaan xxxx" jawabnya sambil memandangi langit yang terik.

"Itu kan perusahaan besar, kalo masuk disitu seleksinya ketat banget Lo. apa kamu nggak sayang kalo kamu tinggalin gitu aja?" Sambungku.

"Nggak kok" jawab ayu singkat.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang belum tersentuh aspal. Terlihat dari jejaknya paling jalan ini di gunakan warga sekitar untuk mencari pakan ternak atau pekerja kebun yang mengabdi untuk Simbah tari. Matahari terus menyinari kami berdua. Terlihat pancaran sinarnya mengenai wajah ayu. Semburat merona terpancar dari senyumnya. Membuat jantungku berdesir tak berirama.

"Eh kamu inget nggak di bawah situ ada kali kan. Ayo kesana ?" Ucap ayu memecah lamunanku.

"Eh ayok" jawabku canggung karena sepertinya ketahuan mencuri curi pandang padanya.

Sebuah sungai kecil berada di bawah kebun kopi. Airnya jernih Dengan batuan besar alami menambah kesan menyejukkan mata. Apalagi di sampingku sekarang ada bidadari.

"Ayok turun" ayu menggandengku turun menapaki jalan tanah yang lumayan terjal dan becek karena semalam di guyur hujan.

"Airnya jernih sejuk ya" kataku sembari mencuci muka dan tangan.

Ayu tak bergeming dia sibuk bermain Air di atas bebatuan besar untuk berpijak. Terlihat di senyumnya di begitu ceria siang ini. Di tambah teduhnya beberapa pohon asam yang memayungi kami. Ah syahdunya. Andai teman-temanku melihat kami. Ingin sekali aku memamerkannya pada kalian kaum para jomblo. Hehehe Batinku girang sekali.

"Emm yu, kamu tadi kenapa kayaknya takut di dalem rumah nenekku?" Tanyaku penasaran.

Karena tadi terlihat di dalam rumah ayu tak sedikitpun terlihat senang. Beberapa kali ia menengok ke kanan kiri seperti takut sesuatu. Gelagatnya seperti orang ingin lari dari tempat duduknya. Berbeda saat ini dia begitu ceria nya bermain air di depanku.

"Aku nggak nyaman disana banyak yang jail, apalagi ada nenek yang pake kebaya merah dia yang paling nyeremin" ayu menjawab tanpa melihatku. Masih sibuk dengan tangannya yang memercik air dengan riang.

"Maksutnya yu ?" Tanyaku penasaran lagi.

"Huh" perlahan dia menghela nafas. Raut wajahnya yang ceria berangsur memudar.

"Sejak aku bangun dari koma dulu waktu kecil, aku mulai bisa lihat yang berwujud gaib yang nggak bisa di lihat manusia biasa, semacem Indra keenam gitulah ." Ayu menjelaskan. Kali ini tatapannya serius melihatku.

"Jadi kamu bisa lihat setan?" Mencoba menyakinkan.

"Hemm begitulah" jawabnya. Kembali tersenyum manis di depanku.

"Jadi kamu tadi lihat apa di rumah nenek?" Tanyaku penasaran sedikit agak takut.

"Hmmm yang paling bikin aku takut sih, wanita yang pake kebaya merah mukanya rusak baunya juga busuk banget. Kayaknya dia nggak suka liat aku Deket kamu." Jawabnya sembari merapikan jilbabnya.

"Kamu serius?" Mencoba kembali meyakinkan hatiku.

"Dari auranya di keliatan jahat banget" ayu menghela nafas lagi.

"Kamu juga kayaknya udah pernah ketemu dia deh" sambungnya.

"Kapan?" Tanyaku terkejut dengan jawaban dari ayu.

Ayu kali ini tak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala saja yang terlihat di depanku. Obrolan kali ini semakin membuatku ingin segera pergi dari tempat terkutuk yang di sebut rumah itu.

"Yok pulang, udah capekk aku" ucap ayu sambil menggenggam tanganku.

Tak lupa dia menunjukkan wajah imutnya. Ahh dia ini manusia apa bidadari sih. Bisa meledak jantungku lama-lama Deket dia.

"Eh ngomong-ngomong kamu dapet itu darimana?" Kali ini ayu yang bertanya penuh selidik.

"Apa? Dapet apa?" Aku balik bertanya karena tak paham.

"Itu Lo semacem jimat buat jaga diri. Aku lihat kamu bawa sesuatu deh. Apa kamu bawa jimat itu disini?" Cerca ayu.

"Apaan sih aku nggak paham begituan" kataku yang masih bingung.

Tanpa peringatan sebelumnya. Ayu meraba kantong bajuku. Aku tersentak kebelakang Saking terkejutnya. Dia berhenti setelah menemukan apa yang di carinya.

"Ini apa? Kamu dapet dari siapa?" Kata ayu sembari menghentikan langkahnya. Kini di tangannya ada secarik kertas pemberian pakdhe waktu senja kemarin. Aku pun menghentikan langkahku mengikutinya. Dia membaca sejenak.

"Ini jimat kan? Buat apa kamu bawa ini? Musyrik tau kan kamu?" Ucap ayu dengan nada sinis.

Aku hanya terdiam seperti orang bodoh kali ini. Memang sih aku bodoh tapi kali ini aku benar-benar tidak faham dengan situasi yang kuhadapi.

"Jangan pernah harap bisa Deket aku lagi kalo kamu masih nyimpen ginian. Aku nggak suka?!" Ayu benar benar terlihat murung kali ini. Dia melenggang pergi meninggalkanku yang masih terpaku di tempat.

"Kenapa ya ayu bisa sampai bilang kaya gitu ya" pikirku heran.

Tak mau di tinggal aku mencoba menyusul langkahnya. Disisi lain aku juga dilema. Apa aku kembalikan saja ya ke pakdhe tapi nggak enak juga. Kalo mau di simpan nggak mungkin juga, kesempatan bisa Deket sama bidadari kaya ayu itu cuma sekali seumur hidup. Bisa depresi terus bablas jadi gila aku kalo sampai nggak ngambil kesempatan emas ini. Dilema aku dengan situasi kali ini.

Setelah hampir 10 menit mengejar ayu. Kami sampai juga di depan pagar rumah tua ini. Pelatarannya terlihat lengang. Di teras terlihat ada pria dengan rambut putih sedang mengobrol dengan wanita yang sepertinya seusianya. Mereka menengokke arah kami yang baru datang. terlihat nafasku tersengal-sengal karena mengejar ayu.

"Nduk cah ayu, sini" ucap ibu ayu melambaikan tangan. Kami pun bergegas menghampiri.

"Gimana jalan-jalannya?" Tanya bi Tutik, ibu dari ayu.

"Seneng Bu," jawab ayu sambil melirikku.

"Yaudah mas Heri kami pulang dulu nggih, makasih tadi makan siangnya. Kami pamit dulu." Ucap bi Tutik sembari menunduk memberi hormat pada laki-laki di depannya.

"Nak Mahesa (panggilan masa kecilku) besok ibu undang gantian ya makan malam di rumah ibu, sama mas Heri juga. Sekalian silaturahmi. Sama biar tahu rumah calon istrimu" sambung bi Tutik sembari menepuk pundakku. Terlihat tertawa kecil di sudut bibirnya.

"Ibuuuuu" pekik ayu malu dengan ucapan ibunya. Jangankan ayu, aku pun malu juga sebenarnya.

Tak lama Terlihat mereka sudah pergi meninggalkan aku dan pakdheku berdua. Mengendarai sebuah motor matic mereka berlalu pergi. Sekilas kulihat punggung keduanya sambil mencubit tanganku. Apakah ini mimpi? Tidak tenyata aku merasakan ini bukan mimpi. Apa yang terjadi hari ini sungguh membuatku bahagia tak terkira.

******

"Ganteng juga ya nak Mahesa badannya juga gagah, pantes kamu yang tadinya menolak keras jadi mau di jodohkan." Lirih bi Tutik sambil tertawa kecil.

"Kamu udah suka ya sama nak Mahesa?" Sambung bi Tutik melihat anaknya dari kaca spion.

"Ah ibuuu udah ah jangan di bahas, ayu malu hehehe." Jawab ayu dengan senyum yang merona tersungging manis sepanjang jalan pulang. entah apa yang ada di hatinya kali ini dia pun tak pasti dengan perasaanya.

Bersambung..

Terpopuler

Comments

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

biarin aja put prempuan ga jelas bukannya ngasih nasehat kok malah marah ga jelas, blm jd bini aja udh ribet keluarga febby yg punya hutang kenapa km yg harus ribet put

2022-12-27

0

🍷

🍷

itu mantra apa sebenarnya yang di berikan oleh Pakde nya Putra 😶😶

2022-11-21

0

alena

alena

lanjut

2022-09-24

0

lihat semua
Episodes
1 1. Dari yang Tak Terduga
2 2. Perjalanan pun dimulai...
3 3. Pertemuan Yang tak Diharapkan
4 4. Bi Sumi
5 5. Di Balik Tabir
6 6. Ningsih?
7 7. Surup
8 8. Gamelan itu?
9 9. Pingsan?
10 10. Tamu tak Terduga
11 11. Semakin Dekat
12 12. Mulai Menemukan Benang Merah
13 13. Mengungkap Kisah Kelam
14 14. Cemburu
15 15. Petaka Bermula
16 16. Rahasia Ayu
17 17. Sengkolo Blungkang Suji
18 18. Kamu Selanjutnya
19 19. Tunggu Aku Kembali !!
20 20. Bekal Dari Ayah
21 Teman Baru
22 Peka
23 Mustika Legendaris
24 Kematian Pakde
25 Hati-hati Dalam Menaruh Hati
26 Mempunyai Dua Kepribadian
27 Tamu
28 Nekat!!!
29 Ayu
30 Masa Lalu Budi Rahardjo
31 Orang Asing
32 Kerabat Baru
33 Bukan Paranormal
34 Mantan
35 Misi Rahasia Mahesa
36 Orang Yang Sama?
37 Terbawa
38 Alam sebelah
39 Simalakama
40 Algojo!
41 Mencari jejak
42 Pertemuan Kembali
43 Kost
44 Terlalu Nyaman
45 Potongan Puzzle
46 Rumah Jagal?
47 Foto Usang
48 Terbakar Menjadi Abu
49 Keturunan Darah Biru
50 Salah Paham
51 Polisi Baik
52 Misi Gagal!
53 Teluh?
54 Mulut Iblis
55 Ronde Kedua
56 Kejutan
57 Menuju Akhir
58 Lari!!!
59 Dua Harapan
60 Tolong
61 Sebuah Kebenaran
62 POV: Didik
63 Mencari Sebuah Kebenaran
64 Awal
65 Biang Keladi
66 Perlahan Namun Pasti
67 Luka
68 Kehilangan
69 Pesan
70 Menuju Pesta
71 Terjebak
72 Ujung Labirin
73 Bolo Kurowo
74 Kepingan Puzzle yang Hilang
75 Jangan Rusak Kejutannya
76 Rencana Ayah
77 Hari Bahagia
78 Tamu Istimewa
79 Malam Pertama
80 Sembunyi!
81 Tujuh Pusaka
82 Api Di Balas Api
83 Cabut Hingga Akar
84 Kebajikan akan Selalu Menang
85 Simphoni Maut
86 Pengorbanan
87 Apa Kau Tidak Menyadarinya!
88 PENGUMUMAN!
89 Pengumuman ralat..
90 PENGUMUMAN CHAPTER KE 3
91 Novel Baru!!
Episodes

Updated 91 Episodes

1
1. Dari yang Tak Terduga
2
2. Perjalanan pun dimulai...
3
3. Pertemuan Yang tak Diharapkan
4
4. Bi Sumi
5
5. Di Balik Tabir
6
6. Ningsih?
7
7. Surup
8
8. Gamelan itu?
9
9. Pingsan?
10
10. Tamu tak Terduga
11
11. Semakin Dekat
12
12. Mulai Menemukan Benang Merah
13
13. Mengungkap Kisah Kelam
14
14. Cemburu
15
15. Petaka Bermula
16
16. Rahasia Ayu
17
17. Sengkolo Blungkang Suji
18
18. Kamu Selanjutnya
19
19. Tunggu Aku Kembali !!
20
20. Bekal Dari Ayah
21
Teman Baru
22
Peka
23
Mustika Legendaris
24
Kematian Pakde
25
Hati-hati Dalam Menaruh Hati
26
Mempunyai Dua Kepribadian
27
Tamu
28
Nekat!!!
29
Ayu
30
Masa Lalu Budi Rahardjo
31
Orang Asing
32
Kerabat Baru
33
Bukan Paranormal
34
Mantan
35
Misi Rahasia Mahesa
36
Orang Yang Sama?
37
Terbawa
38
Alam sebelah
39
Simalakama
40
Algojo!
41
Mencari jejak
42
Pertemuan Kembali
43
Kost
44
Terlalu Nyaman
45
Potongan Puzzle
46
Rumah Jagal?
47
Foto Usang
48
Terbakar Menjadi Abu
49
Keturunan Darah Biru
50
Salah Paham
51
Polisi Baik
52
Misi Gagal!
53
Teluh?
54
Mulut Iblis
55
Ronde Kedua
56
Kejutan
57
Menuju Akhir
58
Lari!!!
59
Dua Harapan
60
Tolong
61
Sebuah Kebenaran
62
POV: Didik
63
Mencari Sebuah Kebenaran
64
Awal
65
Biang Keladi
66
Perlahan Namun Pasti
67
Luka
68
Kehilangan
69
Pesan
70
Menuju Pesta
71
Terjebak
72
Ujung Labirin
73
Bolo Kurowo
74
Kepingan Puzzle yang Hilang
75
Jangan Rusak Kejutannya
76
Rencana Ayah
77
Hari Bahagia
78
Tamu Istimewa
79
Malam Pertama
80
Sembunyi!
81
Tujuh Pusaka
82
Api Di Balas Api
83
Cabut Hingga Akar
84
Kebajikan akan Selalu Menang
85
Simphoni Maut
86
Pengorbanan
87
Apa Kau Tidak Menyadarinya!
88
PENGUMUMAN!
89
Pengumuman ralat..
90
PENGUMUMAN CHAPTER KE 3
91
Novel Baru!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!