Siang itu terasa terik. Sesekali angin hangat menyapu wajah kami berdua. Kali ini Febi atau biasa ku panggil ayu mengajak aku berjalan jalan di kebun samping rumah nenekku. Rumah megah dengan sejuta misteri.
"Emmmm yu, kamu kapan datang kesini?" Tanyaku membuka obrolan.
"Baru tadi malem di telfon ibu suruh pulang. Padahal aku hari ini dapet panggilan interview di perusahaan xxxx" jawabnya sambil memandangi langit yang terik.
"Itu kan perusahaan besar, kalo masuk disitu seleksinya ketat banget Lo. apa kamu nggak sayang kalo kamu tinggalin gitu aja?" Sambungku.
"Nggak kok" jawab ayu singkat.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang belum tersentuh aspal. Terlihat dari jejaknya paling jalan ini di gunakan warga sekitar untuk mencari pakan ternak atau pekerja kebun yang mengabdi untuk Simbah tari. Matahari terus menyinari kami berdua. Terlihat pancaran sinarnya mengenai wajah ayu. Semburat merona terpancar dari senyumnya. Membuat jantungku berdesir tak berirama.
"Eh kamu inget nggak di bawah situ ada kali kan. Ayo kesana ?" Ucap ayu memecah lamunanku.
"Eh ayok" jawabku canggung karena sepertinya ketahuan mencuri curi pandang padanya.
Sebuah sungai kecil berada di bawah kebun kopi. Airnya jernih Dengan batuan besar alami menambah kesan menyejukkan mata. Apalagi di sampingku sekarang ada bidadari.
"Ayok turun" ayu menggandengku turun menapaki jalan tanah yang lumayan terjal dan becek karena semalam di guyur hujan.
"Airnya jernih sejuk ya" kataku sembari mencuci muka dan tangan.
Ayu tak bergeming dia sibuk bermain Air di atas bebatuan besar untuk berpijak. Terlihat di senyumnya di begitu ceria siang ini. Di tambah teduhnya beberapa pohon asam yang memayungi kami. Ah syahdunya. Andai teman-temanku melihat kami. Ingin sekali aku memamerkannya pada kalian kaum para jomblo. Hehehe Batinku girang sekali.
"Emm yu, kamu tadi kenapa kayaknya takut di dalem rumah nenekku?" Tanyaku penasaran.
Karena tadi terlihat di dalam rumah ayu tak sedikitpun terlihat senang. Beberapa kali ia menengok ke kanan kiri seperti takut sesuatu. Gelagatnya seperti orang ingin lari dari tempat duduknya. Berbeda saat ini dia begitu ceria nya bermain air di depanku.
"Aku nggak nyaman disana banyak yang jail, apalagi ada nenek yang pake kebaya merah dia yang paling nyeremin" ayu menjawab tanpa melihatku. Masih sibuk dengan tangannya yang memercik air dengan riang.
"Maksutnya yu ?" Tanyaku penasaran lagi.
"Huh" perlahan dia menghela nafas. Raut wajahnya yang ceria berangsur memudar.
"Sejak aku bangun dari koma dulu waktu kecil, aku mulai bisa lihat yang berwujud gaib yang nggak bisa di lihat manusia biasa, semacem Indra keenam gitulah ." Ayu menjelaskan. Kali ini tatapannya serius melihatku.
"Jadi kamu bisa lihat setan?" Mencoba menyakinkan.
"Hemm begitulah" jawabnya. Kembali tersenyum manis di depanku.
"Jadi kamu tadi lihat apa di rumah nenek?" Tanyaku penasaran sedikit agak takut.
"Hmmm yang paling bikin aku takut sih, wanita yang pake kebaya merah mukanya rusak baunya juga busuk banget. Kayaknya dia nggak suka liat aku Deket kamu." Jawabnya sembari merapikan jilbabnya.
"Kamu serius?" Mencoba kembali meyakinkan hatiku.
"Dari auranya di keliatan jahat banget" ayu menghela nafas lagi.
"Kamu juga kayaknya udah pernah ketemu dia deh" sambungnya.
"Kapan?" Tanyaku terkejut dengan jawaban dari ayu.
Ayu kali ini tak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala saja yang terlihat di depanku. Obrolan kali ini semakin membuatku ingin segera pergi dari tempat terkutuk yang di sebut rumah itu.
"Yok pulang, udah capekk aku" ucap ayu sambil menggenggam tanganku.
Tak lupa dia menunjukkan wajah imutnya. Ahh dia ini manusia apa bidadari sih. Bisa meledak jantungku lama-lama Deket dia.
"Eh ngomong-ngomong kamu dapet itu darimana?" Kali ini ayu yang bertanya penuh selidik.
"Apa? Dapet apa?" Aku balik bertanya karena tak paham.
"Itu Lo semacem jimat buat jaga diri. Aku lihat kamu bawa sesuatu deh. Apa kamu bawa jimat itu disini?" Cerca ayu.
"Apaan sih aku nggak paham begituan" kataku yang masih bingung.
Tanpa peringatan sebelumnya. Ayu meraba kantong bajuku. Aku tersentak kebelakang Saking terkejutnya. Dia berhenti setelah menemukan apa yang di carinya.
"Ini apa? Kamu dapet dari siapa?" Kata ayu sembari menghentikan langkahnya. Kini di tangannya ada secarik kertas pemberian pakdhe waktu senja kemarin. Aku pun menghentikan langkahku mengikutinya. Dia membaca sejenak.
"Ini jimat kan? Buat apa kamu bawa ini? Musyrik tau kan kamu?" Ucap ayu dengan nada sinis.
Aku hanya terdiam seperti orang bodoh kali ini. Memang sih aku bodoh tapi kali ini aku benar-benar tidak faham dengan situasi yang kuhadapi.
"Jangan pernah harap bisa Deket aku lagi kalo kamu masih nyimpen ginian. Aku nggak suka?!" Ayu benar benar terlihat murung kali ini. Dia melenggang pergi meninggalkanku yang masih terpaku di tempat.
"Kenapa ya ayu bisa sampai bilang kaya gitu ya" pikirku heran.
Tak mau di tinggal aku mencoba menyusul langkahnya. Disisi lain aku juga dilema. Apa aku kembalikan saja ya ke pakdhe tapi nggak enak juga. Kalo mau di simpan nggak mungkin juga, kesempatan bisa Deket sama bidadari kaya ayu itu cuma sekali seumur hidup. Bisa depresi terus bablas jadi gila aku kalo sampai nggak ngambil kesempatan emas ini. Dilema aku dengan situasi kali ini.
Setelah hampir 10 menit mengejar ayu. Kami sampai juga di depan pagar rumah tua ini. Pelatarannya terlihat lengang. Di teras terlihat ada pria dengan rambut putih sedang mengobrol dengan wanita yang sepertinya seusianya. Mereka menengokke arah kami yang baru datang. terlihat nafasku tersengal-sengal karena mengejar ayu.
"Nduk cah ayu, sini" ucap ibu ayu melambaikan tangan. Kami pun bergegas menghampiri.
"Gimana jalan-jalannya?" Tanya bi Tutik, ibu dari ayu.
"Seneng Bu," jawab ayu sambil melirikku.
"Yaudah mas Heri kami pulang dulu nggih, makasih tadi makan siangnya. Kami pamit dulu." Ucap bi Tutik sembari menunduk memberi hormat pada laki-laki di depannya.
"Nak Mahesa (panggilan masa kecilku) besok ibu undang gantian ya makan malam di rumah ibu, sama mas Heri juga. Sekalian silaturahmi. Sama biar tahu rumah calon istrimu" sambung bi Tutik sembari menepuk pundakku. Terlihat tertawa kecil di sudut bibirnya.
"Ibuuuuu" pekik ayu malu dengan ucapan ibunya. Jangankan ayu, aku pun malu juga sebenarnya.
Tak lama Terlihat mereka sudah pergi meninggalkan aku dan pakdheku berdua. Mengendarai sebuah motor matic mereka berlalu pergi. Sekilas kulihat punggung keduanya sambil mencubit tanganku. Apakah ini mimpi? Tidak tenyata aku merasakan ini bukan mimpi. Apa yang terjadi hari ini sungguh membuatku bahagia tak terkira.
******
"Ganteng juga ya nak Mahesa badannya juga gagah, pantes kamu yang tadinya menolak keras jadi mau di jodohkan." Lirih bi Tutik sambil tertawa kecil.
"Kamu udah suka ya sama nak Mahesa?" Sambung bi Tutik melihat anaknya dari kaca spion.
"Ah ibuuu udah ah jangan di bahas, ayu malu hehehe." Jawab ayu dengan senyum yang merona tersungging manis sepanjang jalan pulang. entah apa yang ada di hatinya kali ini dia pun tak pasti dengan perasaanya.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
biarin aja put prempuan ga jelas bukannya ngasih nasehat kok malah marah ga jelas, blm jd bini aja udh ribet keluarga febby yg punya hutang kenapa km yg harus ribet put
2022-12-27
0
🍷
itu mantra apa sebenarnya yang di berikan oleh Pakde nya Putra 😶😶
2022-11-21
0
alena
lanjut
2022-09-24
0