"Apa maksud bibi?" Tanyaku sedikit geram karena mulai merasa di permainkan.
"Sudahlah biar nanti mereka sendiri yang menjelaskan semuanya padamu nak Mahesa.", Jawaban bi Tutik membuatku semakin kesal dengan pertunjukan drama ini.
"Yakinlah nak Mahesa, ini semua yang terbaik buat kamu,". ucap bi tutik menenangkanku.
"Kamu sebaiknya pulang dulu nak, biar di anterin ayu. Emmm ibu Turut berduka cita atas meninggalnya Simbah ya nak.", lanjut bi Tutik.
"Iya bi makasih." Ucapku agak ketus. Rasanya aku seperti di bodohi oleh mereka semua.
"Bu ayu ikut kak putra ya? Sekalian mau bantu-bantu disana.", Kata ayu.
"Nggak usah yu, aku nggak mau ngrepotin kamu lagi." Kataku menyela.
"Apa nggak apa-apa kalau kamu kesana lagi?.", Tanya bi Tutik.
"Nggak apa-apa Bu, ayu pengen nemenin aja. Boleh kan?" Jawab ayu sembari menyenggol bahuku.
"Yaudah kalo itu mau kamu, ibu nitip ayu ya nak Mahesa. Tolong di jaga kalo nakal tinggal jewer aja nggak papa.", Ucap bi Tutik di barengi Tawa renyah sambil menggoda anak gadisnya.
"Apasih ibu hehehehe.", Jawab ayu dengan cengengesannya.
Melihat mereka berdua bercanda, sedikit membuatku kangen pada ibuku. Apa mereka sudah tahu kalau nenek sudah meninggal? Entahlah. Mungkin nanti ku kabari setelah aku berada di rumah.
"Ayo yu, Bi saya pamit dulu ya assalamualaikum" ucapku sembari mengajak ayu untuk bersegera.
Langit senja berwarna jingga menjadi saksi perjalanan kami. Di temani suara tonggeret yang bersahut-sahutan di sisi kanan dan kiri membuat simphoni alam nan menakjubkan. Pikiranku sedang dalam kekalutan. Semua ini seperti sandiwara yang membingungkan.
Tentu aku tak bisa percaya pada bi Tutik seratus persen. Bagaimana mungkin Simbah Tari masih hanya punya satu anak saja karena dua anak yang lain telah menjadi korban Nyai Dasimah. Lalu, siapa orang-orang itu? Apa hubungannya dengan Nenek? Atau Apakah ayu juga termasuk dalam pemain sandiwara mereka? Ah Kenapa masalah ini semakin rumit saja.
"Ayu," panggilku pada ayu yang sedang membonceng di belakangku.
Kulihat dari kaca spion wajahnya yang tenggelam di belakang bahuku nampak pucat. Apakah karena dia masih ketakutan di rumah itu? Aku jadi merasa sedikit bersalah mengijinkan dia ikut denganku.
"Sebentar-sebentar yu,". Kataku sambil menepikan motor mencari tempat yang pas untuk berhenti. lagi-lagi ayu hanya diam dan sesekali mengangguk pelan. entah kali ini dia benar-benar hemat dalam berbicara tak seperti biasanya.
Terlihat ayu hanya menunduk diam saja melihatku berhenti. Segera aku berjongkok di depan dan belakang motor untuk memeriksa ban karena entah mengapa sepertinya aku merasa sedikit berat. Kupikir ban motornya bocor, ternyata aku salah. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja.
"Kamu nggak papa kan yu,?". Tanyaku yang khawatir melihat ayu pucat seperti itu.
"Nggak apa-apa". Jawabnya singkat. Bahkan dia mengalihkan pandangan ketika aku memperhatikan wajahnya.
"Yaudah kita lanjut,". Ucapku.
Setelah beberapa menit berjalan. Senja pun mulai berubah menjadi gelap. Sekilas aku teringat kejadian waktu awal berada di rumah itu. Hiii membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Amit-amit jangan sampai ketemu begituan lagi, pikirku.
Drrrrrttt drrrrrttt
"Siapa sih yang telfon berkali-kali kaya gini. Apa sepenting itu? Ganggu orang lagi bawa kendaraan aja.", Gumamku.
Terpaksa Kembali aku menepikan motorku lagi. Kemudian ku raih HP di kantung celanaku. Hmmm Ku lihat nomor baru menelpon ku sampai 18X. Ini nggak mungkin orang iseng, pikirku. Apa ini nomor pakdhe ya. Entahlah aku nggak tau. Daripada penasaran Akhirnya aku putuskan untuk menelpon balik nomor baru tersebut. Dengan alasan tak mungkin orang iseng menelpon sampai sebanyak itu. Aku berjalan beberapa meter dari motor ayu, kulihat sekilas walaupun gelap ayu masih duduk manis di jok belakang.
Tuuttt tuuttt tutttt ckkkk
"Halo.." ucapku.
"Putra kamu gimana sih, aku kan bilang mau ikut. Kamu di suruh nunggu sebentar nggak mau! Padahal kan aku cuma ngambil jaket. Huh kamu bikin ayu kesel aja, padahal harusnya bilang kalo ayu nggak boleh ikut bukan asal ninggalin gitu aja!," Suara yang tak asing di seberang telpon.
Suara yang familiar untukku terdengar dari balik telpon. Seketika bulu kudukku meremang. Dingin mulai menjalari tubuhku. Keringat sebesar biji jagung mulai menghiasi dahiku. Nggak salah lagi itu suara ayu!! Lantas siapa yang kubonceng dan ku ajak ngobrol dari tadi. Seketika aku menengok ke arah motor ayu dan. Hilang!
Aku seperti kehilangan tenagaku. Lututku terasa lemas seperti lepas dari persendian. Suasana yang beranjak gelap menambah kesan mencekam. Aku menengok kanan kiri semua gelap dan sunyi. Yang terlihat hanya bayangan deretan pohon kopi yang berangsur hilang di telan kegelapan malam.
"Halo, put putra? Halo? Kenapa nggak di jawab?,". Suara ayu di seberang telpon akhirnya membuatku sedikit tersadar.
Aku mencoba setenang mungkin kali ini. Aku perlahan berjalan ke arah motor sembari membaca semua doa yang aku bisa. Hingga...
"Hihihihi"
"Mm-mau Kke-Mana ss-ayang ? Aku M-mau i-ikut, hihihihi"
Sebuah suara diiringi tawa melengking kembali membuat nyaliku yang tadi mulai berani kini menjadi ciut lagi. Kini mataku mengawasi setiap inci kegelapan di depanku. Dengan doa-doa sebisaku berharap gangguan ini cepat berlalu seperti biasanya. Dan malah sebuah pemandangan yang tak kuharapkan muncul di depan mataku..
Sesosok makhluk sedang duduk di atas dahan pohon kopi, dengan memakai kebaya berwarna merah dan jarik yang sudah compang-camping dia terus tertawa dengan suara yang melengking memekakkan telinga, dia menyembunyikan wajahnya di balik rambut yang terurai. Aku coba untuk mengabaikannya, aku memalingkan pandanganku namun, suaranya malah semakin nyaring berbunyi.
Karena merasa sudah melakukan semua usaha yang aku bisa namun, hasilnya nihil. Tanpa pikir panjang lagi kemudian aku berusaha menyalakan motor namun sialnya kenapa sekarang motornya malah mogok! Di situasi genting seperti ini pula.
"Anj*Ng, motor sialan", umpatku setelah sesaat menyadari bahwa yang di depanku itu bukan hanya ingin mengangguku saja namun, ingin mengincar nyawaku. Itu yang sedari tadi di bicarakan bi Tutik. Nyai Dasimah!!
Sadar aku tak bisa berlama-lama disini. Semua doa rasanya sudah aku lafalkan. Namun tawa melengking itu seakan-akan masih mengitariku. Dan..
"Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhh" teriakku sekencang-kencangnya.
Bagaimana tidak berteriak, Sebuah wajah hitam di hiasi kulit yang nampak gosong dengan mata memerah tepat di hadapanku. Dari mulutnya keluar cairan hitam pekat berbau busuk. Yang bercampur aroma macam-macam bunga dan bau asap seperti kabel yang terbakar. Ya seingatku seperti itu baunya. Sungguh membuatku mual di buatnya. Wajah itu hanya berada dalam jarak satu jengkal saja dari wajahku. Aku tak mampu bergerak ataupun berteriak. Terasa keringatku sudah membasahi seluruh tubuhku, perasaanku saat ini rasanya tubuh ini benar-benar menggigil. Wajah itu terus terbang mendekatiku. wajahnya berhenti tepat satu centi dariku. Mulutnya kemudian mengangga lebar, Sangat lebar hingga aku bisa mendengar suara tulang rahangnya patah. Apa ini sudah saatnya akhir dari hidupku?
Setelah itu aku merasakan gelap pengap dan perasaan kelam yang teramat sangat. Aku coba meraba-raba apapun di depanku, namun sia-sia tak ada apa-apa, disini nampaknya yang ada hanya keputusasaan. Entahlah apa sekarang ini aku sudah mati?
Hingga samar samar ada suara terdengar lirih namun jelas di telingaku..
Manungso iku amung ngunduh wohing Pakarti!
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
apa artinya thor🤔🤔
2023-09-06
1
Isnaaja
thor kalau bisa yang bahasa jawa nya dikasih artinya,,ora ngerti saya
2022-11-06
1
estycatwoman
*Translte kalimat trkhr #Manusia itu hnya menanen kebaikan* bner gk ya mklum jwa halusku ambayr 😁
2022-08-05
4