Segera aku simpan Kembali kertas kecil pemberian pakde setelah ku baca sekilas. Aku sedikit sedikit bisa berbahasa Jawa namun tulisan di kertas ini sepertinya rumit dan bukan bahasa yang biasa di pakai.
Setelah aku kembali ke dalam rumah. Ternyata mereka sudah menungguku di meja makan. Sejurus kemudian bibi Sumi datang membawa baki penuh dengan makanan. Beserta ibu dan Bulik Tiwi yang membantu membawakan nasi dan juga lauk pauk yang lain.
"Silahkan di nikmati pak, buk, den," kata bi Sumi mempersilahkan.
Aku tersadar seharian ini belum melihat bi Sumi. Baru kali ini dia terlihat. Apa aku sedari tadi cuma tidur dan melamun saja hingga tak sadar diri. Rumah ini memang penuh dengan teka teki, seperti yang tinggal di dalamnya sama saja, batinku.
Kembali ke meja makan. Kami begitu lahap menikmati makan malam kali ini. Di selingi candaan kecil antara mereka. Sungguh pemandangan yang membuat hati tentram.
"Emmm, sepertinya aku besok harus pulang ke kota kang." Kata ayah.
"Kenapa buru-buru?" Tanya pakde.
"Aku ada meeting rapat kenaikan jabatan. Dan aku di promosikan kang." Ayah menjelaskan.
Aku yang mendengar berita itu senang bukan kepalang. Akhirnya aku bisa pulang. Hampir dua hari disini aku sudah sedikit gila. Mau beli apa-apa jauh semua, bulikku yang terus mencuri pandang padaku, kejadian aneh yang beberapa kali kutemui. Dan yang paling kubenci ya itu, sinyal jaringan di sini buruk sekali.
"Terus kamu pulang sendiri di ?" Tanya pakde sambil mengambil sepotong mentimun. Dia mengunyah dengan lahap sekali.
"Aku bawa istri sama Hendra saja, putra biar disini menemanimu kang. Istri kamu kan pulang buat ngurusi rumah jadi biar putra disini buat nemenin kang heri" Jawab ayah.
Deggggg
"Mati aku?!", Ucapku dalam batin. Setega itu kah ayah padaku. Kenapa ibu tak membelaku kali ini.
"Sepertinya aku dan istriku juga harus pulang. Aku tak bisa meninggalkan warung makanku lama-lama. Bisa-bisa aku kehilangan para pelangganku" sahut om Tomo yang ternyata pengusaha warung makan kecil-kecilan.
"Yasudah kalo itu keputusan kalian, biar yang ada disini yang gantian jaga Simbah. Kurasa beberapa orang saja cukup. Kan ada bi Sumi juga." Ucap pakdheku sembari menundukkan kepalanya. Sepertinya beliau masih rindu dengan para adik-adiknya. Namun apalah dikata roda ekonomi harus tetap berputar.
"Akan ku hubungi kalian lewat telfon kalo notaris dan agraria sudah datang kemari. Biar semua dapat bagian yang adil." Lanjut pakde menatap adik-adiknya satu persatu. mereka sepertinya nampak paham betul apa yang di maksud oleh pakdheku itu.
Sementara itu Aku tak selera makan malam ini. Ucapan ayah yang ingin meninggalkanku disini seakan membuat hatiku hancur. Ingin ku menolak tapi sepertinya ayah tetap kekeuh dengan pendiriannya. Aku kenal betul siapa ayahku. Dia orang yang tidak mudah merubah keputusannya.
"Aku mau tidur duluan" kataku sembari bangkit. Ada kekecewaan sendiri di hatiku. Meninggalkan meja makan. Aku hanya sempat mengambil sepotong kue kukus. Lumayan buat ganjal lapar.
"Apa-apaan itu, bisa tega gitu ninggalin gue di tempat antah berantah kaya gini." Gerutuku tak jelas karena berjalan sambil menjejalkan kue beraroma pandan de dalam mulut.
Aku tak masuk kamar. Aku malah pergi ke dapur mengambil kursi plastik disana. Mencari minum karena kue yang kumakan tadi seakan berhenti di tengah-tengah tenggorokanku. Aku minum sambil duduk sembari bermain game favoritku. Hingga sebuah tangan meraba pundakku, aku menoleh dengan terkejutnya.
"Bulik ngapain??" Tanyaku sambil menyingkirkan tangannya di pundakku.
"Kamu nggak usah khawatir disini. Kan ada Tante yang nemenin kamu jadi kamu nggak kesepian" kata Bulik Ningsih yang menyebut dirinya Tante.
"Kamu manggilnya Tante aja ya jangan panggil Bulik lagi, Keliatan tua aku nanti." Lanjutnya sambil terus memepetku.
"Iya tantee " jawabku singkat. Wanita ini sungguh mengganguku, pikirku.
"Emmmm kamu, Mau Tante cium lagi ?" Katanya pelan seakan berbisik.
Sebuah kata menohok yang membuatku menoleh kepadanya. Apa yang di katakan wanita aneh ini. Apa dia sangat kesepiannya hingga ponakannya sendiri mau di embat. Aku menggeleng kepala tak menyetujui nya. Tapi apa lah mau di kata. Serangan itu sudah mendarat mulus di pipiku.
Kulihat Tante baruku itu melenggang pergi seperti tanpa dosa. Meninggalkan aku yang masih memegang gameku tanpa menjalankannya sama sekali. Aku harus senang atau harus marah.
Kali ini aku tak terlalu ambil pusing. Aku nggak mau suasana disini makin membuatku jengah. Aku hanya mencoba menikmati liburan disini. Apalagi besok ayah ibu dan Hendra pulang ke rumah nyamanku. Aku mencoba mengambil sisi positif nya saja.
Ting Ding Ting tung Ting Ting tung dung
"Bukannya itu Suara gamelan?! Tapi darimana, apa dari tetangga sebelah" Ucapku tak percaya pada pendengaranku sendiri.
"Seingatku rumah disini jauh semua jaraknya. Kalo pun ada hajatan tak mungkin suaranya sejelas ini, malem-malem lagi." Gumamku sambil memasang telingaku baik-baik.
"Mungkinkah?!" "Di Pendopo!!" Seketika aku meloncat dari kursi plastikku untuk memastikan opini yang ku pikirkan. Dengan perlahan tapi pasti aku mengintip dari celah pintu belakang yang tak rapat. Hal yang ku sesali seumur hidup setelah melihat apa yang ada di depanku.
Lewat celah yang tak lebih besar dari jari kelingking itu. Samar-samar dari jauh kulihat Semua peralatan itu bergoyang-goyang seperti mengikuti irama! Kakiku lemas tak berdaya. Aku tak bisa bergerak. Kegaduhan itu berasal dari suara gamelan tak bertuan itu. Hawa dingin langsung menusuk tengkukku. Jelas alat musik itu bergoyang dan berbunyi tanpa ada yang menyentuhnya. Aku yakin dengan apa yang kulihat saat ini.
Ingin sekali aku lari terbirit-birit kali ini namun tubuhku seakan menolak. Tak kuasa Akhirnya aku ambruk bersimpuh di lantai, lemas dan hampir menangis, sungguh seumur hidup aku tak pernah setakut ini, setelah beberapa saat termenung tak lama kesadaranku memudar dengan pelan tapi pasti. Aku pingsan.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Lina Nur
rumah banyak "penunggunya"
2023-01-18
0
💎hart👑
ehh bulik yang ketagihan jadinya
2022-06-25
0
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
lagian itu ruangan apa sih sebenarnya.. kenapa ada seperangkat gamelan dan manekin yg didandani seperti penari.. apakah dulunya ruangan itu adalah ruangan pertunjukan pentas tari??
2022-05-30
0