Belum juga usai rasa heranku sekaligus mengagumi rumah yang ada di depanku. Sesekali aku memandangi halaman yang sangat luas di tambah ada pohon asem di tengah tengahnya. Memang cukup seram kalau malam hari tapi Pasti kalo siang teduh banget batinku.
"Mereka ternyata sudah sampai" ujar ayah dengan tatapan yang serius. Ekspresi wajah yang tak pernah kulihat selama ini.
"Siapa mereka yah ?" Tanya ibu.
"Apa nenek sedang punya tamu ?" Duga ibu melanjutkan.
"Mereka saudara saudara ku ?!" Ucap ayah sembari turun dari mobil. Kami semua mengikuti.
Ayah punya saudara?. Seingatku ayah hanya punya satu kakak laki-laki yaitu pakdhe Heri. Apakah ada hal lain yang tak ku ketahui tapi nampaknya ibu juga terlihat terkejut mendengar kata kata ayah. Apa ibu juga tak mengetahui sama sepertiku.
"Assalamualaikum" ucap salam dari ayah masuk ke ruang tamu yang tepat ada di belakang pintu utama.
"Hei itu si Budi, si anak kesayangan simbol" ucap salah satu wanita yang ada di bangku melingkar di ruang tengah itu. Otomatis semua mata menuju ke kami. Ternyata banyak sekali orang dalam rumah ini.
"Diam Kowe (kamu) Tiwi ," jawab ayah ketus mengalihkan pandangannya dari wanita yg kuduga seumuran dengan ibuku itu.
Ku lihat satu satu orang yang ada di ruang tengah rumah tersebut. Semua nampak asing bagiku. Yang ku kenal dan masih kuingat cuma seorang yg sudah memutih rambutnya duduk di bangku paling ujung. Ya dia pakde ku, pakde Heri.
"Oh ini anak istrimu mas Bud," kata seorang wanita yang nampak lebih muda dari yang pertama tadi. Wanita berparas cukup manis dengan rambut panjang dan memakai daster merah bunga bunga itu menatap kami atas sampai bawah.
"Emang ngopo Ning? Iki semua nggak ada urusannya sama kamu" jawab ayah dengan nada yang lumayan tinggi.
"Pantes kamu gak mau dijodohkan sama simbok" ucap wanita yang ternyata bernama ningsih tersebut sinis.
"Sudah! Hentikan, kita ini semua saudara kita sudah lama nggak ketemu! Kalian malah seperti mau menikam satu sama lain?!" Bentak salah satu orang. Ternyata pakdeku mulai angkat bicara.
Aku mulai ingat satu kata 'saudara' ?. Ayah punya saudara sebanyak ini yang bahkan kami sekeluarga tak mengetahui nya. Ku lirik ayah hanya menunduk. Melihat aku dan ibu menatap meminta penjelasan.
"Pak buk permisi kamar bapak ibu sudah saya siapkan" ucap salah seorang wanita gemuk dengan pakaian kemben. Rambutnya diikat mirip sanggul.
"Itu bi sumi yang jaga nenekmu selama ini" kata pakde. Aku hanya mengganguk.
Pakde kemudian merangkul ayah diikuti olehku, ibu dan adik. Sementara yang lain mengekor di belakang. Kami masuk ke dalam meninggalkan ruang tamu. Masuk melewati gorden rajut berwarna hijau tua yang terkesan jadul. Disini semua terkesan gelap.
"Ini ruangan Simbok" ucap pakde menunjukkan bilik kamar dengan pintu berhiaskan ukiran kayu yang indah.
"Ayo kita lihat simbok mbakyu" kata wanita yang tadi judes kepada kami sambil memegang tangan wanita di depannya. Ternyata namanya adalah Ningsih. Kurasa dia adalah adik ayahku yang terakhir.
"Ayo Ning" jawab wanita bernama Tiwi yang ada di depannya.
"Kalo mau jenguk besok saja biar simbok istirahat" lanjut pakde. Kami semua berlalu melewati satu ruangan dengan meja kayu bulat panjang. Terlihat kokoh berdiri di tengah ruangan. Di atasnya tergantung indah lampu kristal yang menambah keanggunan ruangan ini. Kami rombongan yang setelah kuhitung hitung berjumlah 13 orang ini berjalan melewati lorong yang tak terlalu panjang. semua menatap rumah ini keheranan. bagaimana mungkin seorang nenek tua tinggal di sebuah rumah yang demikian indah dengan arsitektur yang rumit.
"Seberapa luaskah bangunan ini" gumamku
Setelah ruang makan kami sampai ke kamar yang berjejer rapi berhadapan. Ruangan yang bisa di bilang sederhana di banding ruangan yang lain. Bi sumi segera membagi kunci kami satu persatu. Kamar Di mulai dari pakde yang paling ujung berhadapan dengan kamar kami.
"Apapun yang kalian dengar disini, jangan takut" ucap bi sumi dengan raut muka datar sembari menyerahkan se Grendel kunci ke ayah. Aku mengacuhkannya karna kupikir tak penting juga.
Segera setelah masuk aku meletakkan tas yang lumayan berat. Aku segera merebahkan tubuhku ke atas ranjang sementara ibu sibuk beres beres. Kami berempat satu kamar namun dengan dua ranjang yang terpisah. Hingga,
Krincing krincing gubrakkkk pyarr
Kudengar ada suara lonceng lumayan keras di ikuti suara benda jatuh dan sepertinya ada yang pecah. Cukup untuk membuat aku dan adikku yang bermain ponsel kaget. Ku dengar penghuni kamar lain juga membuka pintu mereka sepertinya mereka juga penasaran begitupun kami berempat.
Aku keluar dari kamar tepat di depan pintu di belakangku ada ibu dan adikku mengekor. Sementara ayah sepertinya sedang mandi di belakang. Kulihat Bu sumi lari lari kecil kearah sumber suara.
"Apa itu mbok" tanyaku penasaran.
"Itu Simbah, karena Simbah putri sudah nggak bisa ngomong jadi kalo komunikasi pake lonceng den" jawab mbok sumi sambil berlalu cepat melewati kami yang masih di Liputi seribu pertanyaan.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
aini
crita nya seru aku baca novel ini episode 1-3 seru dan ini mau lanjut episode 4
2022-12-01
0
Lili Ana
SE Grendel di sini itu kaya satu ikatan kah ya🤔, atau sa' gendel sama Se Grendel itu beda?
2022-11-06
1
Mia Roses
banyak typonya thor
2022-06-21
1