Jelita mendial nomor pada ponsel miliknya, dia berniat menghubungi seseorang, setelahnya menempelkan ponsel itu pada telinga kanannya.
Terdengar suara seseorang yang menerima panggilan teleponnya.
"Bisakah ke kampus sekarang?"
[Apa penyamaran kamu sudah terbongkar?]
"Bukan itu, aku sudah memukuli mahasiswi."
[Oh, astaga!]
"Nggak udah berlagak kaget, Papa."
[Itu memang mengejutkan, padahal baru 2 hari kamu menjadi mahasiswi di kampus Papa. Kenapa kamu sudah membuat onar?]
"Aku mendapatkan perundungan di kampus yang selama ini Papa banggakan. Tentu saja aku melawan jika ada yang berbuat sewenang-wenang padaku."
[Apa! Siapa yang telah merundung putriku kesayanganku?]
"Sudahlah, lebih baik Papa ke sini saja. Tolong selesaikan masalah ini untukku."
[Ya, sayang.]
Jelita langsung memutuskan panggilannya.
Arthur adalah pemilih Universitas dimana Jelita dan Ryo menuntut ilmu. Siapa yang menyangkah jika gadis cupu yang dirundung adalah putri dari keluarga Albirru. Salah satu keluarga konglomerat di kota ini.
Tok... Tok... Tok
Jelita mengetuk pintu ruang Rektor dan segera masuk ke dalam.
Plak
Sebuah tamparan mengenai pipi Jelita, gadis itu merasakan perih dan berdenyut pada pipinya. Dia menatap nyalang si pelaku.
"Gadis jelek kurang ajar! Berani-beraninya kamu melukai anakku, hah!" bentak seorang wanita yang ternyata adalah ibu dari Dhita.
"Aku tidak terima jika Vera mendapatkan perlakuan kasar dari perempuan miskin ini!" seru ibu dari Vera, wanita itu terlihat sangat marah.
"Apa salah Moria sampai kamu berbuat seperti ini, hah? Perut Moria sampai membiru karena perlakuan kamu! Saya meminta pertanggungjawaban akan hal ini!" timpal ibu Moria tidak kalah kencang membentak Jelita.
"Anak kalianlah yang sudah mengganggu aku duluan, mereka memperlakukan aku seperti hewan yang disuruh untuk memakan makanan yang telah dicampur dengan jus jeruk dan air ludah," jelas Jelita dengan ekspresi tenang, tidak ada rasa takut dari dirinya.
"Kami tidak melakukan itu, dialah yang menganggu kami duluan," sangkal Moria dengan memegang perutnya yang masih sakit.
Jelita menatap Moria dingin, "Jangan berbohong."
"Moria tidak pernah berbohong, dia adalah anak yang baik," ucap Ibu dari Moria membela putrinya yang jelas-jelas berbohong.
"Hiks.. Dasar cewek jahat," ucap Vera menangis bombay.
"Aku hampir gegar otak dibuatnya, Mama. Tolong beri pelajaran untuk cewek udik itu," kata Dhita memegang kepalanya yang dibalut perban. Perempuan itu habis mendapatkan perawatan dari petugas kesehatan kampus.
"Bapak Rektor, cepatlah beri dia hukuman! Keluarkan dia dari kampus ini!" seru Ibu Dhita pada Rektor yang sejak tadi diam.
"Suamiku adalah manager di perusahaan Albirru, perusahaan sepeda terbesar di dunia. Entah apa yang akan dia lakukan saat tahu jika Moria terluka seperti ini," kata Ibu Moria dengan membawa status sang suami.
Jelita tersenyum miring mendengar itu. Manager di perusahaan miliknya, eh? Wanita itu tidak tahu jika dia adalah CEO di perusahaan suaminya bekerja.
"Nama kamu Jelita, bukan? Cepat minta maaf, perbuatan kamu itu memang tidak bisa ditolerir lagi," ucap Rektor pada Jelita.
"Bapak hanya mempercayai satu pihak saja? Kenapa tidak percaya denganku? Seluruh orang di kantin pun tahu jika aku adalah korban dari mereka," kata Jelita dengan dingin.
"Jika kalian masih tidak percaya, bukankah kita bisa melihat rekaman CCTV di kantin kampus?" sambung Jelita.
Moria, Vera, dan Dhita menjadi membeku seketika.
"Tidak usah memeriksa CCTV, aku percaya jika kamulah yang salah di sini," kata Rektor mencoba membela pihak yang menurutnya lebih menguntungkan. Bagi dirinya tidak ada untungnya untuk membela Jelita yang terlihat tidak mempunyai kuasa apapun. "Cepatlah minta maaf dan kamu akan saya DO setelah ini."
"Setajam-tajamnya pedang keadilan, dia tidak memenggal kepala orang yang tidak bersalah," ucap Jelita menatap Rektor sinis.
Moria tersenyum dengan kemenangan. Baginya seorang gadis udik seperti Jelita tidak mungkin menang melawan dirinya. Sejak dulu Moria memang suka membully dan dia tidak pernah takut untuk di hukum karena keluarganya selalu melindunginya. Uang memang dapat mengatur segalanya.
"Cepat minta maaf!" bentak Ibu Moria.
"Cih, kalian kira aku sudi melakukan itu?" ucap Jelita yang sudah kehilangan kesabaran, "Aku bahkan bisa membeli harga diri dan hidup kalian jika mau."
"Tidak sopan sekali kamu!" seru Rektor berniat menampar Jelita.
Cklek
Namun, suara pintu terbuka menghentikan tangan Rektor yang ingin menampar Jelita.
Rektor itu terkejut saat tahu siapa yang membuka pintu ruangannya. "Tu-tuan Arthur."
"Apa kamu berniat menampar putriku?" terlihat wajah Arthur yang menunjukkan ekspresi marah.
Rektor itu segera menurunkan tangannya yang masih menggantung di udara, memang terlihat sekali jika dia ingin menampar Jelita. "Putri tuan Arthur?" tanyanya masih tidak mengerti.
"Berlian Jelita Albirru adalah putriku," kata Arthur membuka indentitas Jelita.
Semua orang di ruangan terkejut, kecuali Jelita dan Arthur sendiri. Jelita memutar bola matanya, pada akhirnya indentitas terbongkar. Tapi tidak apa-apa jika Ryo tidak mengetahuinya.
"Maaf, tuan Arthur. Aku tidak tahu soal itu. Aku telah melakukan kesalahan fatal, tolong maafkan aku," kata Rektor dengan menunduk takut.
Yang lain pun berkeringat dingin, siapa yang tidak tahu dengan Arthur Handy Albirru?
"Kenapa berhenti, tuan Rektor? Bukankah tadi kamu ingin menampar aku? Dan ingin mengeluarkan aku dari kampus milik Papaku?" ucap Jelita tersenyum pongah.
"Tidak. aku minta maaf, nona. aku akan mengecek CCTV dengan segera dan membuktikan jika nona tidak bersalah," kata Rektor dengan suara yang bergetar.
"Tidak ada pengecekan CCTV, kamu saya berhentikan menjadi Rektor di kampus ini," kata Arthur dengan tatapan menusuknya.
Rektor itu menjadi lemas seketika.
"Dan ke tiga mahasiswi ini saya keluarkan dari kampus ini. Saya tidak menerima pelajar yang suka melakukan perundungan, dan saya akan membuat semua Universitas untuk tidak menerima kalian bertiga," tambah Arthur. Dia bisa melakukan itu semua dengan menggunakan kekuasaannya.
Arthur terlihat sangat marah karena putri kesayangannya diperlakukan tidak adil di Universitas miliknya ini.
Moria, Vera, dan Dhita bagai tersambar petir seketika, para Ibu mereka pun menjadi pucat pasi.
"Ampuni kami. Maafkan segala perkataan dan perilaku Moria," kata Ibu Moria, wanita itu memberikan kode mata pada Moria. "Cepatlah minta maaf, Moria."
"Maafkan aku," kata Moria menurut pada Ibunya.
"Aku juga minta maaf," ucap Vera.
"Aku juga minta maaf. Kami akan keluar dari kampus ini tapi jangan mem-blacklist nama kami dari semua Universitas di kota ini. Masa depan kami akan hancur karena itu," pinta Ditha dengan syarat permohonan.
"Baru sekarang kalian minta maaf?" tukas Jelita tersenyum miring.
"Untuk apa aku perduli dengan masa depan pembully seperti kalian? Kalian bahkan sudah menghancurkan masa depan orang-orang yang kalian bully sebelumnya, sudah dipastikan kehidupan mereka menjadi sangat buruk, karena semua sumber kehidupannya sudah dilemahkan oleh satu kata dan tindakan kasar yang mampu menyerang secara keseluruhan," sambung Jelita dengan mengepalkan tangannya.
"Jadi jangan harap aku akan memaafkan kalian."
_To Be Continued_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Sandisalbiah
langsung kicep itu para lalat yg suaranya keras mendengung... manusia² sombong yg lupa kalau si atas langit itu masih ada langit
2024-05-11
0
Priskha
bagus jelita kmu hrs bersikap tegas biar pembully tdk bertambah marak di dunia ini
2024-03-26
0
Ibuk'e Denia
aq suka MC nya cewek kuat dan tidak mudah di tindas
2023-11-25
2