"Emh... Kulkas..." Hana terseyum kaku lalu melepaskan tangannya dari lengan Dika.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Dika dengan wajah yang semakin dingin dan tatapan semakin tajam.
"Aku tidak melakukan apa-apa." Balas Hana lalu mengelus lengan Dika. Tatapan Hana pun beralih pada Amel. "Amel... sepertinya berdebat dengan mantan kekasih Kak Hans membuat tenggorokanku kering. Bagaimana kalau kau menemaniku ke kantin sebentar untuk membeli minum." Ucap Hana sambil melototkan kedua matanya pada Amel.
Amel yang mengerti arti kode dari mata Hana pun mengangguk. "Ayo. Kebetulan aku juga haus." Balasnya tanpa menatap wajah Dika yang saat ini sudah sangat menyeramkan.
Hana pun segera menyambar tangan Amel lalu membawanya keluar dari dalam kelas mereka.
"Huh, huh." Nafas Hana terdengar naik turun setelah sampai di kantin dengan berlari.
"Kau sungguh cari mati Hana! bisa-bisanya kau mengakui Dika sebagai kekasihmu!" Cecar Amel setelah mengatur nafasnya.
"Aku hanya refleks saja saat melakukannya. Lagi pula jika aku tidak melakukannya kau pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bukan?" Tanya Hana.
Amel mendengus. "Ini untuk ketiga kalinya kau dilabrak oleh wanita yang diputuskan pria yang tengah mendekatimu." Ucap Amel.
Hana mengangguk membenarkan. "Ini sungguh konyol. Baru saja aku berniat baik menerima tawaran Hans untuk pergi berdua dengannya dan sekarang aku sudah mendapatkan imbasnya!" Rutuk Hana.
Lidah Amel berdecak. "Aku sungguh menyesal menyuruhmu dekat dengannya jika seperti ini kejadiannya." Sesal Amel.
"Sudahlah. Mulai saat ini aku tidak ingin berurusan lagi dengan pria yang berusaha mendekatiku. Aku sungguh muak dan kapok!"
Amel mengelus lengan Hana. "Aku tidak menyangka jika Kak Hans mendekatimu saat dia masih memiliki seorang kekasih."
"Bukankah sudah aku katakan kepadamu sejak awal saat kita berada di mall aku seperti melihatnya bersama seorang wanita? Dan sekarang aku baru ingat jika postur mantan kekasihnya tadi sangat mirip dengan postur tubuh wanita yang aku lihat waktu itu."
"Aku kira Kak Hans itu pria baik-baik dan tidak mungkin mendekatimu jika dia masih memiliki kekasih." Ucap Amel merutuki kebodohannya.
"Sudahlah. Tidak perlu kau pikirkan lagi. Lebih baik kita minum dan segera kembali ke dalam kelas." Ucap Hana yang diangguki oleh Amel.
*
"Kau yakin ingin masuk ke dalam kelas?" Amel nampak ragu saat langkah mereka sudah dekat di depan kelas mereka.
"Sebenarnya aku tidak yakin. Tapi mau bagaimana lagi, jam kuliah kita sudah hampir dimulai dan sebentar lagi dosen pasti akan datang." Balas Hana.
"Apa kau tidak takut jika kebohonganmu akan membuat heboh satu kelas?" Tanya Amel sambil memegang lengan Hana.
"Sudahlah, aku akan memikirkannya nanti." Balas Hana lalu menarik tangan Amel masuk ke dalam kelas mereka.
Kedatangan Hana dan Amel kembali masuk ke dalam kelas membuat teman-teman mereka kini menatap Hana dengan wajah penuh pertanyaan.
"Apa benar jika Hana memiliki hubungan dengan Dika?" Bisik salah satu teman mereka pun terdengar di telinga Hana. Namun Hana berpura-pura menulikan telinganya sambil melihat kursi yang masih kosong untuk mereka duduki.
Agh sial sekali! Kenapa kursi kosongnya hanya berada di belakang Dika! Rutuk Hana dalam hati.
"Bagaimana ini Hana?" tanya Amel yang turut memperhatikan kursi kosong di belakang Dika.
"Sudahlah. Ayo." Balas Hana berusaha memasang wajah tenang walau saat ini detak jantungnya bekerja dengan cepat saat mata elang Dika kini terhunus kepadanya.
Matilah kau Hana... Batin Hana merasa takut karena kini Dika tak melepaskan tatapan tajamnya dari dirinya.
***
Lanjut?
Berikan dukungannya dalam bentuk vote, komen dan likenya dulu yuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
Mbah Edhok
pukulan tatapan menusuk!!! ... 🤭🤭🤣🤣
2023-01-27
1
Erna Yunita
Hana....perempuan yg tangguh
2022-10-11
0
Irfa Idiani
lnjuuut
2022-10-02
0