"Pria gila?" Kening Anin mengkerut. "Memangnya ada pria gila di dalam mall ini?" Tanya Anin dengan polosnya.
Mendengarkan pertanyaan Anin membuat Hana mendengus. "Tentu saja ada. Jika tidak ada mana mungkin aku mengatakannya." Ucap Hana dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Di mejanya, Dika yang mendengarkan ucapan Hana lebih memilih menulikan telinganya dan melanjutkan pembicaraannya dan Gerry yang sempat tertunda.
"Apa kau mendengar sesuatu Dika?" Tanya Gerry yang dapat menangkap ucapan Hana tertuju pada Dika.
Dika mengangkat kedua bahunya acuh. Melihat respon Dika membuat Gerry melipat bibirnya agar tidak tertawa. Karena untuk pertama kalinya ada wanita yang berani menyindir Dika secara halus.
"Jadi bagaimana? Apa kau yakin jika kita akan melanjutkan pembangunan perumahan itu?" Tanya Dika mengalihkan ucapan Gerry dengan membahas bisnis mereka. Mendengar pertanyaan Dika, Gerry pun kembali fokus pada pembahasan bisnis mereka dan tak lagi memperhatikan Hana yang kini tengah menggerutu karena sikap sahabatnya.
*
"Hana... bagaimana kalau aku mengantarkanmu pulang ke rumahmu?" Tawar Hans saat mereka sudah keluar dari dalam mall.
Mendengar tawaran Hans, Amel pun sontak menyenggol lengan Hana seolah memberi kode.
Hana terdiam beberapa saat sambil berpikir.
Bagaimana ini? Aku tidak enak jika menolak tawarannya.
"Baiklah. Aku akan pulang bersama Kakak." Balas Hana pada akhirnya.
Hans melebarkan senyumannya. Merasa puas dengan jawaban Hana yang sesuai dengan keinginannya.
"Kak Hans, terimakasih untuk traktirannya hari ini. Aku sungguh tidak enak sekali." Ucap Hana merasa sungkan saat mobil Hans sudah melaju di jalan raya.
"Sama-sama. Tidak perlu sungkan begitu. Lagi pula aku senang melakukannya." Balas Hans seraya tersenyum.
Hana pun turut tersenyum. Suasana di dalam mobil Hans pun terasa canggung setelah percakapan mereka terhenti. Karena untuk pertama kalinya Hana mau menerima ajakan seorang pria yang ingin mengantarkannya untuk pulang.
"Hana... bagaimana kalau minggu besok kita kembali pergi namun hanya berdua?" Tanya Hans sambil menatap wajah Hana dengan intens.
Hana tak langsung menjawab pertanyaan Hans, ia lebih memilih menatap wajah Hans yang sudah kembali menatap lurus ke depan.
"Sebenarnya aku tidak terbiasa bepergian dengan seorang pria seperti saat ini, Kak." Ucap Hana dengan jujur. Ia sungguh tidak ingin memberikan harapan pada pria itu.
"Apa kau belum pernah berpacaran sebelumnya?" Tanya Hans yang sedikit terkejut mendengar ucapan Hana.
Hana mengangguk membenarkan. "Bahkan aku tidak pernah dekat dengan seorang pria sampai berada berdua di dalam mobil seperti saat ini." Balasnya.
Hans melebarkan senyumannya. "Beruntung sekali aku menjadi pria pertama yang bisa pergi bersamamu." Ucapnya lalu tertawa.
Hana pun turut tertawa palsu.
Ingatlah, aku hanya terpaksa melakukannya. Batin Hana tak ingin lagi membalas ucapan Hans.
Mobil pun terus melaju membelah keramaian di malam hari. Selama dalam perjalanan Hana lebih memilih mengalihkan pembicaraan mereka agar Hans tak mempertanyakan kembali tawarannya untuk mengajaknya pergi berdua minggu besok.
Tiga puluh menit berlalu, mobil Hans pun telah sampai di depan rumah orang tua Hana.
"Terimakasih telah mengantarkan aku pulang, Kak." Ucap Hana.
"Sama-sama." Balas Hans tersenyum.
Hana yang hendak membuka pintu mobil menghentikan niatnya saat pergelangan tangannya dipegang oleh Hans.
"Hana, bagaimana dengan tawaranku tadi?" Tanya Hans.
Hana menghela nafasnya lalu menurunkan tangan Hans yang masih memegang lengannya.
"Akan aku pikirkan nanti, Kak." Balas Hana lalu turun dari dalam mobil setelah Hans menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Berani sekali dia menyentuhku. Gerutu Hana dalam hati sambil menatap mobil Hans yang mulai melaju meninggalkan rumah orang tuanya.
***
Lanjut lagi?
Banyakin komen, like dan votenya dulu yuk untuk mendukung karya author ya baru🤍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sejahtera
2023-04-25
0
Mbah Edhok
memaksa diri ...
2023-01-27
0
Irfa Idiani
mulai berani
2022-10-01
0