"Apa? Kak Hans mengajakmu kembali berkencan minggu besok?" Tanya Amel setelah mendengar ucapan Hana pagi itu di kelasnya.
Hana mengangguk membenarkan. "Kau sangat paham bukan bagaimana aku jika dalam keadaan seperti saat ini?" Tanya Hana.
Amel mengangguk mengiyakan. "Tapi tidak ada salahnya Hana jika kau pergi kencan denganya. Mana tau dengan berjalannya waktu kau akan merasa nyaman berada di dekatnya." Saran Amel.
"Ck. Aku sungguh malas untuk melakukannya." Balas Hana dengan cepat.
"Kau selalu saja seperti itu." Kepala Amel menggeleng. "Lagi pula Kak Hans itu pria yang baik dan kau juga mengakui jika kau cukup nyaman saat berbalas pesan dengannya.
"Aku memang nyaman saat berbalas pesan dengannya. Namun tidak saat berada di dekatnya. Apa kau tahu saat aku hendak turun dari dalam mobilnya dia dengan lancang memegang lenganku. Aku sungguh tidak menyukainya." Ucap Hana dengan wajah kesal.
"Astaga, Hana. Dia hanya memegang lenganmu bukan bagian sensitifmu." Decak Amel.
"Amel... Amel... Apa kau tidak bisa berpikir dengan baik, saat ini dia memang hanya memegang lenganku. Namun tidak tahu untuk hari esok hari." Sembur Hana.
Kedatangan Dika masuk ke dalam kelas mereka pagi itu pun memutuskan percakapan diantara mereka. Hana yang masih merasa kesal pada Dika karena kejadian di depan toilet kemarin pun mengalihkan pandangannya dari Dika seolah enggan menatapnya.
*
"Jadi kau berniat menolak ajakan Kak Hans minggu besok?" tanya Amel saat mereka berada di kantin siang itu.
Hana menganggukkan kepalanya. "Selain tidak suka dengan sikapnya, aku juga tidak suka berduaan dengan seorang pria yang tidak aku sukai." Balas Hana.
Amel menggelengkan kepalanya. "Jika kau terus seperti ini, aku yakin tidak akan ada pria yang mau mendekatimu lagi karena akan berujung kesia-siaan."
"Kau jangan sembarangan berbicara." Sembur Hana.
"Lagi pula kau itu terlalu berlebihan sekali, Hana. Bisa saja kan Kak Hans memegang lenganmu hanya karena refleks saja agar kau tidak turun dari dalam mobilnya." Ucap Amel.
Hana terdiam dan berpikir. "Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya untuk saat ini." Balas Hana lalu kembali fokus menikmati makanan di depannya.
*
Hari-hari pun berlalu. Hans pun masih tetap pada pendiriannya untuk mendekati Hana dengan berbagai cara hingga membuat Hana sedikit luluh karena sikapnya.
"Jadi kau menerima ajakanku minggu besok?" Tanya Hans merasa senang atas jawaban dari Hana.
Hana menganggukkan kepalanya walau berat. Dengan banyaknya kebaikan dari Hans tidak mungkin lagi ia menolak ajakan pria itu. Lagi pula Hans terlihat bersungguh-sungguh mendekatinya.
"Baiklah, kalau begitu minggu besok aku akan menjemputmu." Ucap Hans menutup percakapan mereka siang itu di parkiran.
*
Keesokan harinya, Hana yang hendak mengambil dompetnya yang ketinggalan di dalam jok motornya menghentikan langkahnya saat mendengar keributan dari balik pohon yang ada di dekat parkiran.
"Kenapa kau tiba-tiba saja memutuskan hubungan kita? Memangnya apa salahku?" Suara seorang wanita yang terdengar keras itu pun semakin terdengar di telinga Hana.
Mendengar suara keributan itu pun berhasil menarik perhatian Hana untuk mendekat ke sumber suara. Hana pun semakin mendekatkan langkahnya ke sumber suara dengan langkah pelan. Namun langkahnya harus terhenti saat seseorang memukul pundaknya.
"Hana, kenapa kau berjalan mengendap-ngendap?" Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Amel sahabatnya.
"Amel... Kau mengagetkanku saja!" Decak Hana sambil mengelus dadanya.
***
Lanjut? Berikan dukungnnya dalam bentuk vote, komen dan likenya dulu yuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
Irfa Idiani
hans
2022-10-01
0
Irfa Idiani
lnjuuut
2022-10-01
0
Nana
Pasti Hans dan ceweknya. gk suka sm Amel. bukan temen yg baik menurutku
2022-07-08
1