Hana pun terus menatap pada kaca mobil sambil berpikir hingga tak menyadari jika kaca mobil yang dilihatnya perlahan terbuka.
Seseorang yang sejak tadi merasa risih diperhatikan oleh Hana pun kini menatap datar pada Hana yang nampak melamun sambil menatap padanya.
Bunyi klakson yang berbunyi pertanda lampu lalu lintas sudah berubah warna menyadarkan lamunan Hana. Hana terbelalak saat menyadari seseorang yang ada di dalam mobil kini tengah menatap datar padanya.
"Kau..." pekik Hana.
Tin
Tin
Mendengar suara klakson mobil yang berada di belakangnya terus berbunyi membuat Hana tak lagi berbicara dan lebih memilih menancap gas motornya.
"Dasar aneh." Gumam seseorang di dalam mobil lalu melajukan mobilnya menyusul motor Hana yang sudah nampak jauh dari pandangannya.
"Agh, sial sekali! Ternyata mobil itu mobil milik Kating salju!" Umpat Hana saat menyadari kebodohan dan kepikunannya. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia melihat mobil baru itu di kampusnya dan kini ia sudah melupakannya. Hana pun semakin menambah laju kecepatan motornya agar benar-benar lenyap dari pandangan Dika dari dalam mobilnya.
"Aku sangat mengutuk hari ini yang sungguh memalukan!" Gerutu Hana saat sudah sampai di depan rumahnya. Melihat belum ada tanda-tanda kedua orangnya sudah kembali dari rumah neneknya membuat Hana langsung memilih masuk ke dalam kamarnya.
*
Satu minggu pun berlalu. Semenjak hari yang sudah ia kutuk karena rasa malunya pada Dika, membuat Hana menjaga jarak agar tidak bertemu lagi dengan Dika. Untung saja jadwal kuliah mereka juga banyak yang berbeda membuat pertemuan diantara mereka terbatas.
"Hana, kau lihat ini? Kak Hans memberikan empat batang coklat untukmu." Ucap Amel begitu senang saat baru saja masuk ke dalam kelas sambil membawa empat batang coklat di tangannya.
"Empat batang coklat? Banyak sekali!" Hana menggeleng tak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Ya. Dan seperti biasanya, dua batang untukmu, dan dua batang lagi untukku." Ucap Amel sambil menyerahkan dua batang coklat ke tangan Hana.
"Kenapa Kak Hans itu baik sekali memberikan coklat untuk kita?" Tanya Hana merasa heran.
"Bukan untuk kita, tapi untukmu saja. Karena aku sudah mendapatkan selain coklat dari Kak Hans." Seloroh Amel.
"Ck. Sama saja. Karena kau juga mengambil bagian coklat darinya." Decak Hana.
Amel tertawa. "Jika kau bertanya kenapa Kak Hans sering memberikanmu coklat, aku rasa jawabannya hanya satu." Amel menggantung ucapannya.
"Apa?" Tanya Hana.
"Aku rasa Kak Hans suka padamu, Hana." Ucap Amel dengan yakin.
"Suka padaku? Atas dasar apa Kak Hans suka padaku?" Hana semakin dibuat bingung.
"Mungkin saja dia jatuh hati pada pandangan pertama padamu sejak dia membantumu waktu itu." Jelas Amel.
"Tidak masuk akal sekali jika karena itu. Lagi pula kenapa tidak dia sendiri saja yang memberikan coklat untukku? Tidak gentelmen sekali." Cibir Hana.
Amel mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, dia hanya berkata jika belum saatnya memberikannya langsung padamu." Balas Amel.
"Amel... apa kau ingat saat kita berada di mall dua hari yang lalu dan aku mengatakan jika aku seperti melihat seseorang?" Tanya Hana.
Amel mengangguk. "Memangnya siapa yang kau lihat waktu itu?" Tanya Amel.
"Aku seperti melihat Kak Hans waktu itu. Dan dia sedang jalan berdua dengan seorang wanita. Tapi aku merasa tak yakin dengan yang aku lihat sebab saat itu dia tiba-tiba hilang begitu saja dari pandanganku." Terang Hana.
***
Lanjut?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sukses
2023-04-25
1
Siti Sarfiah
knapa harus mengutuk dirimu hana, biasa saja
2023-02-07
2
Mbah Edhok
mungkin si Han itu playboy
2023-01-27
1