Tanpa menunggu jawaban Hana, Anin dan Hans, Amel pun berjalan begitu saja menuju meja yang ia tunjuk.
"Amel itu sungguh kebiasaan!" Decak Hana.
"Sudahlah. Lagi pula pilihan Amel cukup tepat." Balas Anin sambil tersenyum jenaka lalu berjalan mengikuti langkah Amel.
Hana hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap kedua sahabatnya yang tidak ada bedanya.
"Hana, ayo jalan." Ucap Hans yang berdiri di samping Hana sambil menunggu Hana untuk melangkah.
"Huh. Baiklah. Ayo Kak." Balas Hana dan mau tidak mau mengikuti keinginan Amel untuk duduk tak jauh dari Dika dan temannya berada.
Dua orang pria yang sejak tadi menjadi pusat perhatian Amel dan Anin nampak terus berbicara tanpa menyadari jika kini mereka tengah menjadi pusat perhatian.
"Kau lihat itu Anin. Teman Dika tidak kalah tampan dari Dika." Bisik Amel di telinga Anin.
"Kau benar. Mereka berdua benar-benar tampan. Jika begini aku jadi menyesal mengambil jurusan yang berbeda dengan kalian." Seloroh Anin lalu tertawa.
Amel pun turut tertawa mendengarnya.
Kedatangan Hana dan Hans yang sudah turut bergabung bersama mereka tak membuat Amel dan Anin menghentikan pembicaraan mereka.
"Mereka berdua ini memang benar-benar!" Gerutu Hana menatap sebal pada kedua sahabatnya.
"Dia ketua tingkat di angkatan kalian?" Tanya Hans yang turut memperhatikan arah pandangan Amel dan Anin.
Hana mengangguk sebagai jawaban.
"Pantas saja aku sering melihatnya keluar masuk ruangan dosen akhir-akhir ini." Ucap Hans.
"Hana... Kau lihat pria yang sedang bersama Dika? Dia tidak kalah tampan bukan?" Bisik Amel.
Lidah Hana berdecak. "Sudahlah. Kau ini sungguh genit sekali." Balas Hana merasa malas.
Amel mengerucutkan bibirnya. "Berbicara tentang pria pada Hana sungguh tidak asik!" cibir Amel lalu kembali berbicara dengan Anin.
Hans yang melihat Hana seperti tidak tertarik pada Dika membuat senyuman tipis terbit di kedua sudut bibirnya.
*
"Gerry... Dika... kalian di sini juga?" Suara seorang wanita yang terdengar cukup keras membuat perhatian Hana, Amel dan Anin teralihkan ke sumber suara.
"Ternyata temannya Dika bernama Gerry." Bisik Amel di telinga Anin.
Anin menganggukkan kepalanya. "Setelah ini kita harus mencari media sosialnya." Balas Anin dengan semangat yang diangguki oleh Amel.
Beberapa saat berbincang dengan Dika dan Gerry, wanita yang nampak berpenampilan seksi itu pun meninggalkan meja Dika.
Hana yang sedang memperhatikan Dika setelah wanita seksi itu meninggalkan meja Dika dan Gerry dibuat terkejut saat mata tajam Dika tiba-tiba menatap ke arahnya.
Mampuslah aku! Batin Hana merasa malu karena ketahuan memperhatikan Dika. Hana pun buru-buru mengalihkan pandanhannya lalu kembali menyantap makanan di depannya.
"Apa kau merasa jika para wanita yang berada di meja itu sejak tadi memperhatikan kita?" Tanya Gerry sambil menarik tipis sudut bibirnya ke samping.
Dika mengangguk tanpa bersuara. Pandangannya terus tertuju pada Hana hingga membuat Hana semakin tertunduk saat menyadari tatapan Dika kepadanya.
"Sudahlah jangan terus memperhatikannya. Kau membuatnya takut." Cibir Gerry sambil menggeleng.
Dika memutuskan pandangannya dari Hana lalu menatap tajam pada Gerry.
"Diamlah atau aku akan merobek mulutmu." Balas Dika merasa Gerry tengah mengejeknya.
"Kau ini terlalu serius sekali." Kepala Gerry dibuat menggeleng melihat sikap sahabatnya.
Dika tak lagi menanggapi ucapan sahabatnya. Ia lebih memilih menatap kembali pada kedua teman seangkatannya itu dengan tatapan dinginnya.
***
Lanjut lagi? Mohon berikan dukungan dengan cara vote, komen dan likenya dulu🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus ceria
2023-04-25
0
Mbah Edhok
senyum
2023-01-27
0
Irfa Idiani
kulkas 12 pintu
2022-10-01
0