"Apa?" tanpa merasa bersalah Hana melototkan matanya pada Dika.
Dika menarik sebelah alis matanya ke atas tanda bingung dengan sikap Hana. "Wanita aneh." Gumamnya sangat pelan hingga tak terdengar oleh Hana. Namun Hana masih dapat mengetahui apa yang diucapkan pria itu dari pergerakan bibirnya.
"Kau!" Hana berkacak pinggang. Menatap sebal pada Dika.
Dika pun tak lagi memperdulikan wanita yang menurutnya aneh itu. Ia pun kembali fokus pada ponsel di tangannya tanpa memperdulikan lagi keberadaan Hana.
Hana mendecakkan lidahnya. Berjalan masuk ke dalam kelas sambil menghentakkan kakinya. Entah mengapa melihat Dika selalu saja membuat emosinya naik. Padahal pria itu tidak melakukan apa pun yang memancing emosinya.
Hana mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk dengan posisi nyaman untuknya dan Amel. Setelah duduk di kursi pilihannya, Hana pun mengeluarkan ponsel di dalam tasnya dan memainkannya sebentar.
Suasana di dalam kelas pagi itu pun terasa hening karena hanya ada Hana dan Dika di dalamnya. Dari tempat duduknya, Hana terus menatap pada pada punggung kokoh Dika lalu menatap rambut Dika yang nampak lebat.
Kulkas dua belas pintu, ternyata kau cukup keren jika dilihat dari belakang. Puji Hana dalam hati tanpa sadar.
Plak
Tiba-tiba saja Hana memukul kedua pipinya saat menyadari dirinya baru memuji Dika.
Hana... Apa yang kau pikirkan! Rutuknya dalam hati pada dirinya sendiri.
Ting
Sebuah notifikasi pesan masuk dari ponselnya membuat Hana langsung membuka aplikasi pesannya. "Nomor siapa ini?" Gumamnya melihat pesan dari nomor yang tidak dikenal. Kebingungan Hana pun langsung terjawab saat pesan baru kembali masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Hana... Ini aku Hans.
"Kak Hans." Ucap Hana lalu membuka pesan masuk dari Hans. Jemari Hana pun mulai berselancar di atas keyboard ponselnya membalas pesan dari Hans. Pria yang ia anggap sebagai teman barunya.
Beberapa menit berlalu. Hana pun berbalas pesan singkat dengan Hans yang cukup membuatnya nyaman dengan gaya bahasa pria itu saat mengirimkan pesan.
Ternyata Kak Hans cukup asik juga dan tidak alay seperti yang lainnya. Batin Hana.
"Hana." Tepukan di bahunya membuat Hana menolehkan wajahnya ke arah samping. "Amel. Kau sudah datang?" Tanya Hana lalu mematikan layar ponselnya.
Amel mengangguk. Lalu menjatuhkan bokongnya di kursi samping Hana.
"Tumben sekali kau lebih dulu datang dari pada aku?" Tanya Amel merasa bingung.
"Ya. Aku memang memilih datang lebih awal. Sekali-kali aku juga ingin menjadi rajin." Seloroh Hana.
"Aku ingin melihat seberapa lama rajin dirimu, Hana." Ucap Amel sambil tertawa.
Hana turut tertawa mendengarnya. "Tentu saja hanya untuk hari ini saja." Selorohnya kemudian.
Amel menepuk pelan pundak sahabatnya. "Kau ini..." Amel menggeleng. Pandangannya pun tiba-tiba tertuju pada ponsel Hana yang tergeletak di atas meja.
"Hana... kau berbalas pesan dengan Kak Hans?" Tanya Amel saat melihat notifikasi pesan masuk dari Hans di layar ponsel Hana.
Hana mengangguk.
"Sejak kapan?" Tanya Amel tak percaya. Karena biasanya Hana sangat enggan membalas pesan dari pria yang mendekatinya.
"Sejak hari ini. Kak Hans meminta nomor ponselku saat kami bertemu di koridor saat aku baru saja sampai di kampus."
"Kau bertemu dengan Kak Hans?" Tanya Amel.
Hana mengangguk. "Tunggu sebentar. Aku ingin membalas pesan dari Kak Hans dulu." Ucap Hana lalu membuka pesan dari Hans.
***
Lanjut?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
Fhebrie
hana itu bukannya benci sm Dika tp dia jatuh cinta semenjak pertama kali bertemu
2023-06-05
1
fifid dwi ariani
trus ceria
2023-04-25
0
Mbah Edhok
....
2023-01-27
0