"Hana... siapa wanita yang tidak memilih Dika? Dia itu bodoh sekali ya?" Bisik Amel sambil mendengarkan kelanjutan ucapan pembawa acara tanpa memperdulikan wajah Hana yang nampak sebal karena ucapannya.
"Ck. Yang bodoh itu kalian karena memilih hanya karena ketampanannya saja!" Sungut Hana.
"Hana... apa kau sedang berbicara?" Tanya Amel sebab kini teman-temannya tengah bersorak karena hasil voting menunjukkan keunggulan pada tim Dika.
"Tidak." Ketus Hana menatap sebal pada wajah sahabatnya.
Amel yang tidak menyadari kekesalan Hana pun turut bersorak dan bertepuk tangan atas keunggulan voting untuk Dika.
Selamat datang di angkatan kulkas dua belas pintu beserta anak-anak es batunya. Batin Hana.
Rapat hari itu pun terus berlanjut dengan keputusan hasil rapat jika Dika adalah ketua tingkat terpilih di angkatan mereka. Banyak dari kaum hawa yang nampak senang dengan hasil rapat hari itu. Karena dengan terpilihnya Dika sebagai ketua angkatan, maka mereka memiliki kesempatan untuk banyak berbicara dengan Dika dengan alasan jurusan. Namun tidak dengan Hana. Wanita itu hanya bisa menatap malas pada sahabat dan teman-temannya.
"Kau ingin kemana?" Tanya Hana saat Amel hendak berjalan meninggalkannya.
"Aku ingin menemui Dika untuk memberikan selamat untuknya." Balas Amel.
"Ck. Dia hanya terpilih sebagai ketua tingkat, Amel. Kau ini berlebihan sekali!"
"Sudahlah, Hana... aku ingin menemui Dika dulu." Tanpa memperdulikan Hana, Amel pun terus berjalan menuju Dika yang saat ini tengah dikerubungi oleh teman-teman wanita mereka.
"Ini sungguh gila!" Gerutu Hana.
*
Semenjak terpilihnya Dika menjadi ketua angkatan di jurusan mereka, banyak teman-teman wanita di angkatan Hana yang mencari kesempatan untuk mendekati Dika dengan alasan masalah jurusan dan perkuliahan. Hal itu benar-benar membuat Hana semakin tak habis pikir dengan jalan pemikiran teman-temannya bahkan sahabatnya yang terus saja berjuang mendekati Dika yang jelas-jelas tidak merespon mereka.
Kedatangan Amel siang itu masuk ke dalam kelas dengan langkah tergesa-gesa mengalihkan pandangan Hana dari ponselnya.
"Hana... kau lihat ini." Amel menunjukkan dua buah batang coklat di tangannya ke depan wajah Hana.
"Coklat. Kau mendapatkannya dari mana?" Tanya Hana dengan kening mengkerut.
"Aku mendapatkannya dari Kak Hans. Dan dia memberikan ini untukmu." Ucap Amel lalu menyerahkan dua batang coklat itu ke tangan Hana.
"Untukku?" Hana merasa bingung.
"Ya. Kau ingat bukan dengan Kak Hans? Pria yang menolongmu kemarin sore." Jelas Amel.
"Aku mengingatnya. Tapi kenapa dia memberikan coklat untukku? Tidak masuk akal sekali." Ucap Hana.
"Entahlah. Katanya sih sebagai tanda pertemanan darinya untukmu." Balas Amel.
Hana terdiam. Memperhatikan dua batang coklat di tangannya yang nampak menggiurkan.
"Walau pun aku tidak mengerti maksudnya. Namun aku menerima coklat darinya. Sepertinya coklat ini sangat enak." Ucap Hana dengan tersenyum senang.
"Ck. Jika dengan makanan saja kau baru menerima pertemanan seorang pria." Decak Amel.
Hana tertawa. "Kau tahu jelas bukan jika aku sangat menyukai ini?" Balasnya sambil mengangkat dua buah coklat yang sudah berpindah tangan padanya.
"Ya, ya. Tapi kau jangan lupa untuk memberikannya juga untukku."
"Kau tenang saja. Ini untukku, dan ini untukmu." Hana memberikan satu batang coklat ke tangan Amel.
"Terimakasih, Hana." Ucap Amel yang diangguki oleh Hana.
Amel dan Hana pun mulai membuka coklat di tangan mereka lalu memakannya.
"Coklatnya enak sekali." Puji Hana dengan mata terpejam. Menikmati manisnya rasa coklat yang kini sedang ia kunyah di dalam mulutnya.
"Kau benar. Ini sungguh enak." Timpal Amel.
Hana dan Amel pun terus melanjutkan memakan coklat mereka sambil menunggu jam perkuliahan mereka akan dimulai.
Saat sedang menikmati nikmatnya coklat di tangannya, Hana menghentikan kunyahannya saat Dika masuk ke dalam kelas dan melewati kursi mereka.
Langkah Dika terhenti lalu membalikkan tubuhnya ke arah Hana.
"Selain ceroboh ternyata kau tidak bisa memakan makanan dengan benar." Ucap Dika menatap banyaknya coklat yang menempel di pipi Hana lalu kembali berjalan menuju kursinya.
***
Lanjut?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus berkarya
2023-04-25
0
yayah juairiyah
kulkasnya penuh bumbu
2023-03-11
0
yayah juairiyah
angkatan dingin dong raaa coklat
2023-03-11
1