Berawal dari saling berbalas pesan, hubungan Hana dan Hans pun terjalin semakin dekat. Hana yang biasanya mengabaikan pesan dari pria yang mendekatinya kini justru sebaliknya.
"Kau terlihat semakin dekat saja dengan Kak Hans, Hana." Ucap Amel saat mereka sedang berada di kamar Hana siang itu. Karena hari ini adalah hari libur, Amel pun bermain di rumah Hana.
"Tidak terlalu dekat. Biasa aja kok." Balas Hana dengan santai.
"Ck. Kau itu masih saja mengelak. Jelas-jelas kau sering berbalas pesan dengannya akhir-akhir ini."
"Ya. Kau benar, Amel. Tapi hanya sekedar berbalas pesan saja. Dia orang yang cukup asik dan tidak berlebihan dalam mengirim pesan. Dan yang penting dia tidak memamerkan harta kekayaannya walau pun aku lihat dia bukan pria sembarangan." Jelas Hana. Karena biasanya Hana cukup risih dengan banyak pria yang mendekatinya dengan membawa-bawa harta kekayaan yang ia punya.
Amel mengangguk paham. "Apa kau suka padanya?" Tanya Amel.
Hana nampak berpikir. "Suka." balasnya kemudian.
"Apa?" Amel terbelalak. Bagaimana tidak. Untuk pertama kalinya sahabatnya itu mengakui suka pada seorang pria. "Kau serius?" Tanya Amel lagi memastikan.
Hana mengangguk. "Aku suka dengan coklat yang dia berikan." Ucap Hana lalu tertawa.
"Kau..." Amel memukul tubuh Hana dengan bantal di tangannya. "Aku tidak sedang bercanda!" Gerutunya kemudian.
"Hahaha. Kau terlalu serius sekali. Aku membalas pesannya bukan berarti aku menyukainya. Rasa sukaku tidak semudah itu. Lagi pula aku belum memastikan apakah dia benar-benar single atau tidak." Jelas Hana pada akhirnya.
"Sepertinya Kak Hans itu single, lagi pula tidak mungkin dia mendekatimu jika dia sudah memiliki kekasih." Ucap Amel.
"Bisa saja. Banyak buaya yang berkedok pria baik-baik saat ini, Amel. Dan aku tidak ingin seperti Mutia waktu itu." Ucap Hana mengingat salah satu teman baiknya di sekolah yang pernah dilabrak oleh kekasih dari pria yang mendekatinya.
"Kau benar juga. Lalu bagaimana dengan tawaran Kak Hans yang mengajakmu makan nanti sore?" Tanya Amel.
"Aku menerima tawarannya asal kau dan Anin ikut bersamaku."
"Apa? Kau yang benar saja, Hana! Kau mengajak kami berdua sebagai nyamuk!"
Hana tertawa. "Sudahlah. Lagi pula nanti kau akan dapat makan gratis dari Kak Hans."
"Jadi Kak Hans mau menerima kau mengajak kami?" Tanya Amel yang diangguki oleh Hana. "Yang benar saja. Kencan pertama kalian harus terganggu dengan kehadiran aku dan Anin." Amel menggeleng tak habis pikir.
*
Sore harinya, mobil Anin nampak sudah terparkir di depan rumah kedua orang tua Hana.
"Anin... kau sudah datang?" Tanya Amel saat Anin baru saja masuk ke dalam rumah Hana.
"Belum. Aku masih berada di rumah." Balas Anin.
Lidah Amel berdecak. "Kau menyebalkan sekali!"
"Lagi pula pertanyaanmu itu tidak berbobot sekali. Aku sudah berada di depanmu berarti aku sudah sampai." Balas Anin lalu tertawa.
Hana yang sedang berbalas pesan dengan Hans pun tertawa mendengar ucapan Anin.
"Untung saja kau membawa mobil Kakakmu hari ini, jadi kita tidak perlu membawa kendaraan banyak." Ucap Amel.
"Ya. Semua ini aku lakukan untuk kencan pertama sahabat kita. Aku sampai rela mengemis pada Kakakku untuk dipinjamkan mobil." Seloroh Anin.
Hana melempar bantal sofa di tangannya ke arah Anin. "Kau memang terlalu berlebihan jika berbicara! Sudah aku katakan aku tidak pergi berkencan." Gerutu Hana merasa malas dengan ucapan sahabatnya yang sebenarnya benar adanya.
***
Lanjut?
Mohon beri dukungan untuk karya baru aku ya teman-teman, dengan cara like, komen dan votenya. Terimakasih😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus bahagia
2023-04-25
1
Mbah Edhok
...
2023-01-27
0
Novi liana
kembali inget masa masa kuliah
2022-11-02
0