"Hana, apa dia pria yang sedang mendekatimu?" Bisik Anin di telinga Hana sambil menatap pada pria yang kini sedang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum.
Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak. Dia tidak mendekatiku. Kami banya berteman." Balas Hana.
Lidah Amel berdecak. "Sudahlah. Kau tidak perlu bertanya padanya yang hanya membuat emosimu memuncak." Bisik Amel di telinga Anin.
Anin menganggukkan kepalanya. "Kau benar." Balasnya.
"Hai Hana, Amel dan—" Sapaan Hans terhenti saat menatap pada Anin yang untuk pertama kalinya bertemu dengannya.
"Anin." Ucap Anin seraya tersenyum.
Hans mengangguk. "Ya, Anin. Apa kalian sudah lama menunggu?" Tanya Hans.
"Tidak juga. Kami baru saja sampai beberapa menit yang lalu." Balas Hana mewakili kedua sahabatnya.
Hans mengangguk paham. Wajah pria itu nampak biasa-biasa saja saat melihat keberadaan Amel dan Anin yang sebenarnya menjadi pengganggu di acara kencan mereka kali ini.
"Apa kita langsung ke tempat makan saja?" Tanya Hans.
"Ehm, bagaimana kalau nonton lebih dulu. Lagi pula kami baru saja makan di rumah Hana." Balas Amel.
Hana menyikut lengan Amel mendengar ucapan Amel yang terkesan terlalu jujur.
Hans tersenyum tanpa beban. "Ajakan yang menarik. Ayo kita nonton lebih dulu." Balasnya.
"Ayo!" Balas Amel begitu bersemangat.
*
"Apa kau tidak masalah jika kita nonton lebih dulu?" Tanya Hana saat mereka berjalan beriringan menuju tempat bioskop.
Hans menolehkan wajahnya ke samping lalu tersenyum menatap wajah Hana. "Tak masalah. Lagi pula cukup menyenangkan kalau kita nonton lebih dulu." Balas Hans tanpa menyurutkan senyuman manisnya.
Hana dibuat tertegun. Ia benar-benar tidak menyangka jika Hans mau menerima kehadiran kedua sahabatnya tanpanmerasa terganggu.
Dua jam lebih berada di dalam mall pun mereka lewati dengan menonton di bioskop. Selama film ditayangkan, Hana, Amel dan Anin nampak fokus menikmati film yang mereka tonton. Sedangkan Hans, pria itu tidak terlalu memperdulikan film yang sedang tayang di depannya dan lebih memilih menatap wajah serius Hana yang sedang menonton secara diam-diam.
*
"Kita akan makan dimana?" Tanya Hans saat mereka sudah keluar dari dalam ruangan bioskop.
"Bagaimana kalau kita makan di restoran langganan kami saja yang ada di mall ini? Di sana makanannya sangat enak." Tawar Amel.
"Tapi jika kau memiliki pendapat tempat makan yang lain tak masalah." Tambah Hana.
Hans menggeleng. "Aku tidak memiliki pendapat. Kita makan di restauran langganan kalian saja." Balas Hans.
"Kalau begitu ayo!" Ajak Amel begitu bersemangat.
Hana, Anin dan Hans pun mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Amel yang sudah lebih dulu berjalan di depan mereka.
Saat masuk ke dalam restauran yang nampak ramai malam itu, langkah Amel pun terhenti sehingga langkah Hana, Anin dan Hans pun turut terhenti.
"Kau lihat itu Hana? Kating kita sedang makan di sini juga dengan seorang pangeran." Ucap Amel sambil menatap pada dua orang pria yang sedang berbicara tak jauh dari posisi mereka.
Hana mengikuti arah pandangan Amel. Dan betul saja jika di salah satu meja, Dika dan seorang teman prianya nampak sedang berbicang satu sama lain.
"Oh astaga... sungguh kebetulan sekali." Ucap Amel kegirangan. "Ayo kita duduk di sana saja!" Ajak Amel sambil menunjuk meja yang masih kosong berada tak jauh dari posisi Dika dan temannya berada.
***
Hai teman-teman semua. Mohon berikan dukungan untuk karya baru aku dengancara vote, komen dan likenya dulu yuk sebelum lanjut ke bab berikutnya. Terimakasih😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sabar
2023-04-25
0
Sulastrie Herlina
aku belom ngerti cerita nya ini mengarah kmna,
2023-03-12
0
Siti Sarfiah
saat d mall amel g sengaja melihat ada dika d sana , kebetulan d sebelah bangku dika dan teman kosong jadi hana hans dan temannya duduk bersebelahan
2023-02-07
0