"Hana... kau lihat itu? Dika memperhatikan kita!" Ucap Amel dengan suara sedikit keras sambil mengarahkan pandangannya pada Dika yang kini sudah tak lagi menatap pada mereka.
Hana menendang kaki Amel dari bawah meja. "Bisakah kau memelankan suaramu?" Decaknya.
Amel tertawa kecil. "Tidak bisa jika tentang Dika." Balasnya.
"Apa kau tidak sadar dia memperhatikan kita karena suaramu dan Anim itu sangat kuat hingga mengganggu pendengarannya."
"Tidak. Aku bahkan sengaja melakukannya." Ucap Amel tanpa rasa bersalah.
Hana mendengus. "Lebih baik aku ke kamar mandi lebih dulu membuang hajatku dari pada mendengar ucapanmu." Hana pun berdiri dari duduknya.
"Kak Hans. Aku ke kamar mandi dulu." Ucap Hana pada Hans.
"Baiklah." Balas Hans sambil tersenyum.
"Hana..." Seru Amel saat Hana sudah berjalan meninggalkan meja mereka.
"Sudahlah. Biarkan saja Hana pergi. Lebih baik sekarang kita mencari tahu akun media sosial Dika dan temannya itu." Ucap Anin.
"Kau benar juga!" Balas Amel sambil tersenyum lebar. Amel pun segera membuka salah satu akun sosial medianya begitu pula dengan Anin.
Hans yang sejak tadi memperhatikan dua orang wanita itu pun menggeleng betapa lucunya kedua teman Hana yang begitu menyukai sosok Dika dan temannya.
*
"Mereka itu sungguh memalukan." Gerutu Hana lalu membasuh wajahnya dengan air. "Bisa-bisanya mereka memperlihatkan ketertarikan mereka pada kulkas dua belas pintu itu. Yang benar saja. Bisa-bisa kulksas itu akan besar kepala karena disukai oleh mereka." Hana tak henti merutuki kedua sahabatnya.
Setelah merasa cukup merutuki kedua sahabatnya di depan cermin, Hana pun keluar dari dalam kamar mandi. Saat baru saja keluar dari dalam kamar mandi, Hana yang sedang melihat pesan masuk di ponselnya tanpa sadar menabrak seseorang hingga ponsel di tangannya jatuh begitu saja di atas lantai.
"Apa kau tidak bisa berjalan dengan benar?! Kau membuat ponselku jatuh!" Amuk Hana sambil mengambil ponselnya yang terjatuh. "Untung saja layarnya tidak retak." Ucap Hana lagi dengan nada judesnya. Hana pun segera berdiri saat memastikan ponselnya baik-baik saja. Saat hendak kembali berbicara pada sosok yang sudah membuat ponselnya terjatuh, Hana dibuat terbelalak siapakah sosok di depannya saat ini.
"Kau!" Pekik Hana. "Kau ternyata yang sudah membuat ponselku jatuh!" Hana mencecar seorang pria di depannya dengan tatapan kesal.
"Bukan aku yang membuat ponselmu jatuh. Kau saja yang terlalu ceroboh dan tidak menggunakan matamu dengan benar saat berjalan." Ucap pria itu dengan nada dinginnya lalu berjalan begitu saja meninggalkan Hana.
"Beraninya kau mengataiku ceroboh untuk kedua kalinya!" Pekik Hana menatap punggung Dika yang sudah hilang dari balik pintu.
Dika menulikan telinga dan tak membalas ucapan Hana yang ia rasa tidak penting.
*
"Hana, ada apa dengan wajahmu?" Hans yang dapat melihat raut kekesalan di wajah Hana pun bertanya.
Hana menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Aku tidak apa-apa, Kak." Balas Hana sambil berusaha untuk tersenyum.
"Tapi kenapa wajahmu nampak kesal?" Tanya Hans tak percaya.
Hana tak langsung menjawab pertanyaan Dika. Ia lebih memilih menatap banyaknya makanan di depannya lalu duduk di kursinya.
"Kak Hans benar. Ada apa dengan wajahmu, Hana? Kenapa kau nampak kesal?" Tanya Anin yang turut memperhatikan wajah Hana.
"Aku memang sedang kesal. Karena saat keluar dari dalam kamar mandi ada pria gila yang menabrakku hingga membuat ponselku terjatuh." Ucap Hana sambil menatap pada Dika yang baru saja kembali ke mejanya.
***
Lanjut lagi?
Banyakin komen, like dan votenya dulu yuk🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
Fhebrie
owalah ini kayaknya ceritanya tante hana dn om Dika yg punya rumah sakit ya Thor... baru ngeh rupanya
2023-06-05
2
fifid dwi ariani
trus sehat
2023-04-25
0
Mbah Edhok
pria gila?!
2023-01-27
0