"CUKUP GIO! KAU AKAN MEMBUNUHNYA!" sentak Alden menarik Gio untuk menjauh dari Frans yang tampak tak berdaya.
"Ini gak membayar sedikitpun apa yang putriku alami, dia harus menanggung malu sekaligus kehilangan kehormatannya! sedangkan pria ini, dengan mudahnya dia memutus pertunangan dengan putriku dan malah merebut mahkota putriku!" marah Gio.
Aqila mendekati sang ayah, dia memeluk ayahnya agar tak kembali memukuli Frans.
"Jangan ayah, ayah akan membunuhnya nanti. Ayah bisa masuk penjara, Aqila hanya punya ayah," lirih Aqila.
Gio balik memeluk putrinya, putri tunggalnya yang dia sayangi melebihi nyawanya sendiri. Bahkan dia akan mengorbankan nyawanya hanya untuk sang putri.
Tapi ... begitu mudahnya Frans menghancurkan putri yang selama ini dirinya jaga bagai berlian.
"A-aqila ... sa-saya ma-mau bertanggung jawab ... sa-saya a-akan meni-menikahi kamu," lirih Frans.
Frans berusaha untuk mendekati Aqila di sisa-sisa tenaganya, dia menatap Aqila dengan tulus.
"Demi anak ki-kita ...," lirih Frans.
"Aku ...,"
Aqila menjeda ucapannya, dia menoleh menatap Alden dan Amora yang mengangguk kemudian menatap Gio.
"Baiklah, aku mau menikah denganmu. Tapi ingat satu hal, aku menikah denganmu hanya karena bayi ini, karena perasaanku padamu sudah mati semenjak kau berkata jika aku wanita murahan seperti ibuku," dingin Aqila.
Setelah mengatakan itu Aqila pergi dari sana, Alden dan Amora mengikuti Aqila. Sementara Gio masih menatap Frans yang masih terkejut dengan jawaban Aqila.
"Bersyukurlah kamu karena putriku masih mau menikah denganmu," ujar Gio dengan datar dan pergi dari hadapan Frans yang memaksa senyumnya.
Frans berusaha jalan, mafioso pun yang sedari tadi diam karena di perintah Frans membantunya untuk berjalan.
"Aku sudah berhasil meyakinkan dia untuk menikah denganku, tapi aku gagal mengembalikan hatinya untukku," lirih Frans.
Seorang pria datang, dia adalah Kenan kelvin seorang tangan kanan Frans yang di tugasi oleh Frans untuk membantunya menangani mafianya.
"King, kita ke rumah sakit atau ke mansion?" tanya Kenan.
"Rumah sakit, aku harus memulihkan kesehatanku dan juga lebamku. Beberapa hari ke depan aku akan menikahi Aqila, tidak mungkin keadaanku seperti ini," lirih Frans.
Kenan menutup mulutnya, dia akan tertawa mendengar ucapan Frans yang tampak menyindir dirinya sendiri.
"Kenapa kau tertawa huh?"
"Tidak ada King, saya hanya menertawai penglihatan saya saja," ujar Kenan.
"Yang kau lihat itu aku bodoh!" kesal Frans.
***
Kenan membopong tubuh Frans memasuki mansion, wajah Frans kini sudah tidak jelas lagi karena banyaknya lebam di wajahnya.
"Aduh, itu kenapa Frans kayak gitu Kenan!" histeris Ane ketika dia membuka pintu.
"Itu tant, di gebukin ama pawang calonnya," ujar Kenan.
"Bawa masuk ke kamarnya," titah Ane.
Kenan mengikuti Ane dari belakang sambil menahan tubuh Frans yang mulai hilang kesadarannya.
Ane menunjukkan kamar yang berada di lantai bawah, tidak mungkin dirinya membawa Frans je kamarnya sendiri karena pria itu tengah tak sadarkan diri kasihan juga Kenan yabg membawa tubuh pria itu.
Cklek!
Ane membuka pintu, dia menyuruh Kenan untuk membaringkan Frans di ranjang tersebut.
"Hati-hati," pinta Ane.
Kenan menjatuhkan tubuh Frans dengan sekali hentakan, dia sungguh lelah menahan berat badan Frans yang melebihi dirinya.
"Jangan kayak gitu Kenan, kasihan Frans nya," ringis Ane.
"Gak papa tante, dia gak sadar ini," enteng Kenan.
Ane membenarkan letak tidur Frans dibantu oleh Kenan, setelah selesai Ane menyuruh Kenan untuk menggantikan baju Frans.
"Kok saya tant, kenapa gak tante aja?" heran Kenan.
BUGH!
Ane memukul bahu Kenan dengan kencang, bagaimana pun juga dirinya perempuan.
"Kalau ada laki-laki kenapa harus perempuan huh? sudahlah gantikan dia baju, tante akan menyiapkan air hangat," ujar Ane dan pergi dati kamar meninggalkan Kenan yang meringis kesakitan.
Kenan mendengus kesal, dia mengulurkan tangannya untuk membuka jas Frans. Setelah itu dia beralih membuka kancing kemeja Frans, berlanjut membuka ikat pinggang.
Namun, saat dirinya membuka ikat pinggang Frans. Tiba-tiba saja ikat pinggang itu macet, dia berusaha untuk membukanya tapi malah tangannya yang sakit sehingga Kenan terpaksa menggunakan giginya.
"Kak Kenan tadi kata mamah ka ...,"
PRANG!
"AAAAAAAA!!!!"
Kenan terkejut, dia menoleh menatap Ica yang sedang berdiri di ambang pintu sambil membekap mulutnya sendiri.
"Ica kamu kenapa sih kok teriak gitu?" heran Ane yang baru saja datang.
"Dan apa ini? kenapa baskomnya kamu jatuhkan hah?!" kesal Ane.
Ica menunjuk Kenan dengan tatapan terkejutnya, dia menoleh menatap sang mamah yang mengernyit bingung.
Ica tak menjawab, dia menunjuk Kenan dengan wajah yang gugup sekaligus terkejut.
Sedangkan Kenan dia sudah takut, dia menggelengkan kepalanya berharap Ica tak salah paham.
"DIA MAU NGELECEHIN ABAAAANGGG!" teriak Ica.
"Gak tant salah paham, ini tadi aku ...,"
"Gak mah, tadi dia gitu-gitu," sela Ica.
"Gitu - gitu apa?" heran Ane.
Ica mengambil tangan sang mamah, dia menariknya menuju ranjang sang abang.
"Tadi pria ini, gigit-gigit di celana abang!" sentak Ica sambil menunjuk wajah Kenan yang tampang bersalah.
"Tunggu, ini maksudnya gimana sih?" ujar Ane yang masih bingung.
Ica berdecak sebal, dia menarik bahu KEnan. Secara spontan Kenan menurut, setelah itu dia mengarahkan kepala Kenan membentur perut Frans.
"ARGH!" ringis Kenan.
"Gitu mah," ujar Ica dengan tampang tak bersalahnya.
Ane membulatkan matanya, dia menatap Kenan tak percaya. Sedangkan yang di tatap hanya mengusap keningnya yang terpentuk kepala ikat pinggang Frans.
"Kamu ... kamu doyan laki-laki! pantas yah selama ini kamu gak ada cewek, ternyata ini kelakuan kamu huh?" kaget Ane.
"Gak tant, salah paham. Tadi aku mau buka ikat pinggang Frans, cuman susah jadi bukanya pakai gigi. Eh dia masuk malah nuduh yang enggak-enggak," kesal KEnan.
Ica dan Ane membulatkan mulut mereka, setelah itu mereka pergi dari hadapan Kenan yang melongo melihatnya.
"Udah ... gitu aja? gak ada ucapan maaf gitu? emang dasar perempuan yah gak mau di salahin!" gerutu Kenan.
"Aqila ... aku sayang kamu," lirih Frans.
Kenan menoleh menatap Frans yang melindur, dia segera menepuk pipi Frans dengan kencang. Untuk sejenak dirinya melupakan jika yang dia pukul barusan adalah seorang King Ateez.
"Bangun lu, ganti baju sendiri! gue geli gantiin baju lu, masih waras gue!" sentak Kenan.
Kenan pun berjalan menuju lemari, dia mengambil kaos Frans dan membawanya kembali mendekati Frans.
"Nih pake baju, gue tinggal. Lu bisa kan pakai ni baju?"
Percuma saja Kenan berbicara, Frans tak akan menjawabnya karena pria itu kini tertidur dengan pulas.
"Ah, bangk3 lu mah!" gerutu Kenan.
Kenan pun akhirnya memakaikan Frans baju walau ada sedikit kendala karena sulit memasukkan tangan Frans.
***
"Kamu benar dengan keputusan mu itu sayang? Kamu benar ingin menerima permintaan Frans untuk menikah denganmu?" tanya Gio pada putri semata wayang itu yang kini tengah bersandar pada dada bidangnya.
Saat Frans datang tadi, pria itu habis di pukuli oleg Gio. Saat dirinya sudah tak berdaya, dia meminta agar Aqila mau menikah dengannya. Dan Aqila menyetujui hal itu dan memberi Frans satu kali kesempatan kembali.
"Kalau aku menolak, apakah kita memiliki jalan keluar lain ayah?" tanya Aqila sambil mendongak menatap sang ayah.
Gio terdiam, dia menatap Alden yang duduk di sebrang mereka dengan tatapan meminta jawaban.
"Gak kan? nama keluarga kita juga akan tercemar, terlebih kalian tak pernah lepas dengan awak media. Aku tak apa, aku bisa menjalaninya," ujar Aqila.
Gio menghela nafasnya, dia mencium puncak kepala sang putri beberapa kali. Dirinya tak sanggup melihat penderitaan sang putri, walau begitu Gio tak boleh egois dengan keinginannya sendiri.
"Aqila, papah punya teman ... anaknya seumuran dengan kamu. Jika kamu mau, papah akan memintanya menikahimu. Bagaimana juga keluarganya memiliki hutang budi pada keluarga ini," tawar Alden.
"Terus ... Apakah anakku nantinya harus mengenal ayah yang bukan ayah kandungnya? seperti aku dulu?"
Alden merasa tenggorokannya tercekik, begitu pula dengan Gio yang menatap Aqila dengan tatapan bersalah.
"Aku tak ingin anakku nantinya merasakan hal yang sama, pria itu tak bersalah kenapa harus dia yang bertanggung jawab? ini semua ku lakukan demi masa depan anakku," ujar Aqila.
"Baiklah sayang, kami mengerti. Kami hanya bisa menjagamu dari jauh, jika dia menyakitimu suatu saat nanti ... pulang lah ke rumah ayah, pintu selalu ayah buka lebar untukmu," ujar Gio.
Aqila tersenyum, dia memeluk sang ayah dengan erat. Air matanya jatuh, dia menangis begitu pula dengan Gio. Putri yang telah dia besarkan sebentar lagi akan menikah dan memiliki keluarga sendiri.
"Aku sayang ayah, terima kasih telah menjagaku. Terima kasih untuk tetap di samping Qila, terima kasih tetap sabar," tulus Aqila.
"Tentu saja, kau putri ayah. Apapun akan ayah lakukan demi kebahagiaanmu," ujar Gio.
Alden tersenyum haru, tugasnya menjaga Aqila sebentar lagi usai. Walau dirinya hanya papah angkat, tapi sedari Aqila lahir dirinya lah yang merawatnya.
"MAS! MAS!" teriak Amora memasuki kamar Aqila.
Alden menoleh, dia menatap sang istri yang masuk dengan wajah panik. Dia pun ikut panik karena melihat Amora panik.
"Ada apa sih yang?" panik Alden sambil berdiri.
"Itu ... itu si Ravin ... ikan cup4ng kamu di buat makanan ikan aligator semuaaa!" sentak AMora.
Alden membulatkan matanya, dia segera keluar dari kamar Aqila diikuti oleh sang istri.
Dirinya berlari ke arah kamar koleksi cupangnya, seketika tubuhnya melemas saat melihat bahwa sang anak tengah bahagia mencemplungkan semua cup4ng ke arah akuarium ikan aligatornya.
"Daddy! lihat! tadi ikan buayana nda mau makan ikan yang biaca daddy kacih, telus Lavin kacih ikan cup4ng daddy! pintal kan Lavin?" seru Ravin sambil menatap Alden.
Alden tak menjawab, mulutnya terbuka sangking terkejutnya. Dari mana sang anak mendapatkan cupangnya? bukankah lemari itu tinggi, kenapa sang anak bisa mendapatkannya?
"Ravin di ambilin sama siapa ikan cupangnya?" tanya Alden sambil menatap sang anak.
"Eung ... tadi di kacih cama paman Elwin, katana ikana belkelas jadina halus dapet makanan yang belkelas duga," ujar Ravin yang kini memiringkan kepalanya menatap Alden dengan polos.
Alden meloncat-loncat tak jelas, dia menunjuk Ravin sambil merengek menatap istrinya.
"Kan lihat yang hiks ... tadi kan aku udah bilang suruh sih Erwin balik pulang. Gini kan jadinya, ikan cup4ng seharga BMW aku matiii hiks ... gak mau tau! gak mau tau pokoknya!" rengek Alden sambil mencak-mencak seperti anak kecil.
Amora juga bingung harus apa, dia kahirnya menenangkan Alden dengan cara memeluknya.
"Sudah-sudah, nanti malam jatah sepuasnya mau?" tanya Amora dengan tersenyum lembut menatap Alden yang terdiam.
"Terserah aku berapa nya?" tanya Alden dengan wajah lugunya.
"Iya, sekarang tenang dulu yah. Aku mau ajak Ravin mandi, kasihan bajunya bau ikan," bujuk Amora.
"Tapi nanti malah di ganggu Ravin lagiii hiks!"
Amora menghela nafasnya, dia kembali menangkan Alden yang sudah kesal.
"Nanti Ravin aku suruh tidur di kamar Laskar," ujar Amora.
Seketika senyum Alden mengembang, dia mencium pipi istri bertubi-tubi.
"Kamu yang terbaik," seru Alden.
Amora tersenyum miris, netranya menatap Ravin yang kembali bermain ikan.
"Sabarkan lah aku," lirih Amora.
Jangan lupa like nya okay😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Lina RA
tumbenan mafia mau ke rumah sakit
2024-11-29
0
Icha Arlita
ada ya jatah sepuas nya 🤣
2024-11-22
0
Vera Wilda
Ravin kamu pinter 😁😁😁
2025-02-05
0