Part 16 : USG

ini adalah hari weekend, seperti biasa Aqila akan olahraga pagi di taman kota untuk menjaga kesehatan tubuhnya.

Hanya sekedar berlari kecil karena dirinya mengerti saat ini sedang hamil muda.

Aqila menyeka keringatnya, dia merasa sangat haus. Akhirnya dia memutuskan untuk mampir di penjual minuman.

"Pak airnya satu yah," pinta Aqila.

Setelah mendapat airnya, Aqila meminumnya baru setelah itu dia melanjutkan lari kecilnya.

Brugh!

Aqila menoleh, dia menatap seorang pria yang menyenggol pundaknya.

"Bisa hati-hati gak mas? kalau saya jatuh gimana hah?!" kesal Aqila.

Pria itu menatap Aqila garang, dia menunjuk tepat di depan wajah Aqila.

"Kamu yang gak lihat jalan, orang saya udah bener kok!" sentaknya.

Aqila menepisnya, dia menatap pria itu tajam. Pria tersebut semakin marah, dia mengeraskan rahangnya.

"Beraninya kamu!"

Saat Aqila akan menjawab, ada seorang pria berdiri di depannya. Tubuh tegapnya menutupi tubuh Aqila sehingga membuat Aqila bingung siapa pria di depannya ini.

"Maaf, wanita ini benar dan anda yang sengaja menabraknya tuan," ujarnya.

"Mau jadi pahlawan kesiangan kamu? minggir! biar saya yang bicara pada wanita itu, lebay sekali padahal hanya di senggol sedikit," kesal pria yang menabrak Aqila.

Pria yang ada di depan Aqila membalikkan badan, seketika raut wajah Aqila berubah menjadi terkejut. Pria itu adalah Elvio Keanu, pria yang dia temui di pesawat.

"Elvio?" ragu Aqila.

"Hm, lu minggir dulu," ujar ELvio.

Aqila menurut, Elvio kembali beradu argumen pada pria arogan itu. Tak lama pria tersebut pergi, sehingga Elvio mendekati Aqila yang berdiri tak jauh darinya.

"Lu gak papa?" tanya Aqila.

"Seharusnya gue yang tanya, lu gak papa?" tanya ELvio balik.

Aqila tersenyum tipis, dia mengangguk menandakan bahwa dirinya baik-baik saja.

"Syukur deh," ujar Elvio.

"Oh iya btw, lu ngapain ada disini?" heran Aqila.

"Masak," datar Elvio.

Aqila mengernyit heran, dia akan protes. Namun, Elvio sidah lebih dulu meninggalkannya.

"Dasar tuh cowok yah, aneh!" gerutu Aqila.

Aqila memutuskan untuk pulang, di tambah hari yabg sepertinya semakin siang.

Sesampainya di apartemen, Aqila teringat jika hari ini adalah jadwal dirinya kontrol kandungan. Dengan segera ia bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit memeriksa kandungannya.

Lumayan lama waktu berselang, Aqila sudah siap dengan tasnya, dia akan berangkat ke rumah sakit mengecek kandungannya.

"Bi, Aqila ke rumah sakit dulu yah mau cek kandungan," ujar Aqila.

Rina mengangguk, dia tahu jika hari ini jadwal kontrol nyonya nya itu.

Aqila pun berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan taksi, entah mengapa dirinya sangat malas menyetir sehingga menggunakan taksi.

"Macet banget ya pak?" tanya Aqila sambil melihat jalanan yang padat akan kendaraan.

Sang supir pun menoleh, dia mengangguk dan menyuruh Aqila untuk bersabar.

Aqila melihat jam yang melingkar di tangan kanannya, dia takut jika sampai terlalu siang dan membuat sang dokter lama menunggu apalagi dirinya sudah membuat janji.

"Pak saya turun disini aja deh." ujar Aqila sambil mengambil uangnya di dompet dan menyerahkannya pada supir tersebut.

Aqila keluar dari taksi, dia berjalan dan entah sampai mana dirinya harus berjalan.

TIN!

TIN!

Aqila menoleh, dia menatap sebuah motor yang berhenti di sebelahnya. Keningnya mengerut ketika orang tersebut membuka kaca helmnya.

"Elvio?" gumam Aqila.

"Lu mau kemana?" tanya Elvio.

"Oh, itu ... gue mau ke rumah sakit," ujar Aqila.

Elvio terdiam, dia menatap Aqila sekilas dan mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang macet.

"Rumah sakit Kasih?" tanya Elvio.

Aqila mengangguk pelan, sedangkan Elvio turun dari motornya dan mengambil helm yang dia gantung di jok belakang.

"Nih, pake!" titahnya sambil menyerahkan helm tersebut pada Aqila.

Aqila bingung, tapi Elvio sudah lebih dulu memakaikannya dan hal tersebut membuat Aqila merasa tak enak.

"Gu-gue bisa sendiri," gugup Aqila.

Aqila pun memakai helmnya, sementara Elvio menaiki motornya kembali dan menunggu Aqila naik.

"Tas lu taruh di tengah, terus jangan pegang pundak gue," ujar Elvio.

Aqila di buat tambah bingung dengan Elvio, bisa-bisanya pria ini menyamakannya dengan kuman.

"Jangan salah paham, gue anti sama wanita," ujarnya.

Aqila berdecak sebal, itu tandanya Elvio juga anti padanya. Dengan perlahan Aqila naik ke motor gede Elvio. Walau susah tetapi wanita itu tetap menaikinya dari pada dirinya berjalan kaki.

Elvio melajukan motornya, dia tak melewati jalan besar melainkan ke gang kecil untuk mempersingkat waktu apalagi jalanan sangat padat.

Beberapa kali Elvio melewati jalanan rusak dan polisi tidur. Aqila khawatir dengan keadaan kandungannya, apalagi dirinya selalu terguncang.

"Elvio!" panggil Aqila.

"Apa?!" seru Elvio.

"Bisa gak lu hindarin lubang, perut gue nyeri," ujar Aqila.

Elvio awalnya bingung, tapi dia hanya menurut perkataan Aqila dan berusaha semaksimal mungkin menghindari lubang.

Tak lama mereka pun sampai ke rumah sakit, Aqila segera turun dan membuka helmnya.

"Makasih yah lu udah nganterin gue." ujar Aqila sambil menyerahkan helm tersebut.

Elvio mengangguk, dia menaruh helm yang Aqila pakai ke tempatnya semula.

"Kalau gitu gue duluan," ujar Aqila.

Elvio hanya menatap kepergian Aqila, tak lama dirinya mengikuti kemana aja wanita itu pergi.

Saat berjalan, entah mengapa Elvio semakin dibuat penasaran kala melihat Aqila yang sedang masuk ke dokter kandungan.

"Itu kan ruangan dokter Resti? dokter kandungan," gumam Elvio.

"Apa dia udah nikah? mungkin aja kali, secara cantik begitu ... eh,"

Elvio terkejut sendiri akibat ucapannya, dia merutuki dirinya yang telah memuji perempuan yang dia kira sudah menikah itu.

"Maaf dok, pasien atas nama abi tengah menunggu anda," ujar seorang suster yang baru tiba di hadapan Elvio.

"Baik, saya akan segera kesana." ujar Elvio dan segera beranjak dari sana.

Sementara itu, kini Aqila tengah melakukan USG. Dokter pun sedang menggerakkan alat tersebut di atas perut Aqila.

"Nah, ini janinnya bu," unjuk sang dokter pada sebuah titik.

Aqila tersenyum melihat itu, tapi tiba-tiba saja dirinya berubah sendu saat mengingat kembali jika Frans tak mungkin bisa melihat perkembangan anak mereka apalagi pria itu tak mengakuinya.

"Oh iya, dimana suami ibu? dukungan dari suami itu penting loh," ujar dokter tersebut.

Aqila terdiam, dirinya bingung bagaimana cara mengatakannya.

"Eh itu dok, suami ... suami saya sedang di luar kota," alasan Aqila.

"Oh gitu, pasti dia sangat senang sekali melihat foto janinnya nanti," ujar sang dokter.

Aqila hanya tersenyum paksa, andai yang dokter katakan itu benar pasti dirinya akan sangat bahagia. Berandai, hanya akan membuat dirinya sakit.

Setelah selesai pemeriksaan, Aqila pun pamit pulang tapi sebelum itu dirinya harus menebus obat vitamin untuk kandungannya.

"Ehm, saya ingin memberi resep obat yabg dokter kasih," ujar Aqila pada apoteker itu.

"Baik, silahkan tunggu," ujarnya.

Tak berselang lama, apoteker itu kembali dan menyerahkan beberapa jenis obat.

Aqila lun menerimanya dan berniat akan segera pulang, tapi karena kecerobohannya dirinya menjatuhkan obat tersebut saat akan memasukkannya ke dalam tas

"Pake segala jatuh lagi!" gerutu Aqila.

Saat ia akan mengambilnya, sebuah tangan besar terlebih dahulu mengambilnya. Aqila sontak saja terkejut dan menatap pria yang memakai jas dokter yang ternyata adalah Elvio. Pria itu kini sedang melihat obatnya dengan keningnya yang mengerut

"Penguat janin? wah, selamat!" seru Elvio sembari tersenyum tipis.

"Iya, siniin obatnya," ujar Aqila.

Elvio memberikan obat tersebut, Aqila pun mengambilnya dan menaruhnya di dalam tasnya.

"Pantas aja lu nyuruh gue untuk hindari lubang di jalan, ternyata karena ini. Eh, gue baru sadar ... suami lu mana? kok gak ngecek kandungan bareng dia?" tanya Elvio.

Aqila bingung harus jawab apa, dirinya menatap Elvio yang kini tengah bersedekap dada.

"Suami gue lakik sejati gak mungkin dia hamil terus periksa kandungan bareng gue, udah ah ... gue mau pulang!" sinis Aqila dan beranjak dari hadapan Elvio yang terlihat bingung.

"Susunan kata gue emangnya ada yang salah yah?" gumam Elvio.

Nt lagi kenapa yah? perasaan kalau review lama terus bahkan kemarin sore baru ke up siang ini😩😩😩.

Maaf gaes, belum bisa up banyak karena belakangan itu pekerjaan author numpuk terus. Tapi aku usahain buat up setiap hari untuk mengibur hari kalian🥳🥳🥳🥳.

Kalau Author senggang, aku bakal crazy up😉

**PENCET TOMBOL LIKE !

LIKE !

LIKE !

HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.

VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**

Terpopuler

Comments

KaylaKesya

KaylaKesya

hahahahahaha🤣 kepintaran elvio teruji

2024-12-22

1

Leng Loy

Leng Loy

Semangat Aqila

2024-03-20

0

Wardatus

Wardatus

jujur Thor aku masih bingung sama ayah Aqila yang kandungan yang mana ayah gio apa Alden??

2023-12-19

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 : Pulang kembali
2 Part 2 : Menyakitkan
3 Part 3 : Ateez
4 Part 4 : Elbert
5 Part 5 : Keluarga Wesley
6 Part 6 : Kesalahan satu malam
7 Part 7 : pertukaran yang menjanjikan
8 Part 8 : Daniel
9 Part 9 : Hamil
10 Part 10 : Gugurkan!
11 Part 11 : Kecewa
12 Part 12 : Jangan lakukan itu kak!
13 Part 13 : Keanehan Frans
14 Part 14: Perkara susu
15 Part 15 : Susu pemberian calon papa
16 Part 16 : USG
17 Part 17: Kepolosan Frans
18 Part 18: Terbongkar
19 Part 19: Tanggung jawab
20 Part 20: Ikan cupang
21 Part 21: Elvio
22 part 22: Married
23 Part 23: Malam pertama
24 Part 24: Siapa?
25 Part 25: Cleo
26 Part 26: Aku tidak suka
27 Part 27: Curhatan dua suami
28 Part 28: ngidam ala calon bapak
29 Part 29: Nasi goreng buatan Elbert
30 Part 30: Keistimewaan Ravin
31 PERMISI BACA DULU SEBENTAR YAH
32 Part 31: Mateo
33 Part 32: Gangguan Frans
34 Part 33: Kenapa dia disini?
35 Part 34: lagi-lagi ulah Ravin
36 Part 35: Bawahan Daniel
37 Part 36: Konflik pasutri
38 Visual
39 Part 37: Ngidamnya kedua istri sultan
40 Part 38: Kebahagiaan Ane
41 Part 39: Kau kenal Elvio?
42 Part 40: Tentang Cleo
43 Part 41: Flashback Cleo
44 Part 42: Ravin sakit
45 Part 43: Gara-gara rujak
46 Part 44: Mencari bukti 1
47 Part 45: Hukuman Ravin
48 Part 46: Komplotan
49 Part 47: Action
50 Part 48: Frans
51 Part 49: Raffa
52 Part 50: Benda keramat
53 Part 51: Abang mungut ciapa?
54 Part 52: Raffa
55 Part 53: Sampai berapa bulan?
56 Part 54: Drama di rumah sakit
57 Part 55: Frans yang cengeng
58 Part 56: Ravin Keldil
59 Part 57: Dokter Andin
60 Part 58: Hak Frans
61 Part 59: Ada apa dengan Raffa?
62 Part 60: Hot money
63 Part 61: 9 bulan menanti
64 Part 62: Bayiku
65 Part 63: Baby twins Castillo
66 Part 64: Baby Bent
67 Part 65: Audrey
68 Part 66: Zidan dan Kirana
69 Part 67: Reunian trio cadel
70 Part 68: Black
71 Part 69: Sky
72 Part 70: wajan koleksi milik Aqila
73 Part 71: siapa yang membebaskan Daniel?
74 Part 72: Bukan Lavin
75 Part 73: menjemput Sky
76 Part 74: Perdebatan adik kakak
77 Part 75: Tentang Aurora
78 Part 76: Lavin di jahili telus
79 Part 77: Penyerangan
80 Part 78: penyekapan Frans
81 Part 79: Keterkejutan Ica
82 Part 80: Mansion di serang
83 Part 81: kerja sama
84 Part 82: keadaan Frans
85 Part 83
86 Part 84
87 Part 85
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Part 1 : Pulang kembali
2
Part 2 : Menyakitkan
3
Part 3 : Ateez
4
Part 4 : Elbert
5
Part 5 : Keluarga Wesley
6
Part 6 : Kesalahan satu malam
7
Part 7 : pertukaran yang menjanjikan
8
Part 8 : Daniel
9
Part 9 : Hamil
10
Part 10 : Gugurkan!
11
Part 11 : Kecewa
12
Part 12 : Jangan lakukan itu kak!
13
Part 13 : Keanehan Frans
14
Part 14: Perkara susu
15
Part 15 : Susu pemberian calon papa
16
Part 16 : USG
17
Part 17: Kepolosan Frans
18
Part 18: Terbongkar
19
Part 19: Tanggung jawab
20
Part 20: Ikan cupang
21
Part 21: Elvio
22
part 22: Married
23
Part 23: Malam pertama
24
Part 24: Siapa?
25
Part 25: Cleo
26
Part 26: Aku tidak suka
27
Part 27: Curhatan dua suami
28
Part 28: ngidam ala calon bapak
29
Part 29: Nasi goreng buatan Elbert
30
Part 30: Keistimewaan Ravin
31
PERMISI BACA DULU SEBENTAR YAH
32
Part 31: Mateo
33
Part 32: Gangguan Frans
34
Part 33: Kenapa dia disini?
35
Part 34: lagi-lagi ulah Ravin
36
Part 35: Bawahan Daniel
37
Part 36: Konflik pasutri
38
Visual
39
Part 37: Ngidamnya kedua istri sultan
40
Part 38: Kebahagiaan Ane
41
Part 39: Kau kenal Elvio?
42
Part 40: Tentang Cleo
43
Part 41: Flashback Cleo
44
Part 42: Ravin sakit
45
Part 43: Gara-gara rujak
46
Part 44: Mencari bukti 1
47
Part 45: Hukuman Ravin
48
Part 46: Komplotan
49
Part 47: Action
50
Part 48: Frans
51
Part 49: Raffa
52
Part 50: Benda keramat
53
Part 51: Abang mungut ciapa?
54
Part 52: Raffa
55
Part 53: Sampai berapa bulan?
56
Part 54: Drama di rumah sakit
57
Part 55: Frans yang cengeng
58
Part 56: Ravin Keldil
59
Part 57: Dokter Andin
60
Part 58: Hak Frans
61
Part 59: Ada apa dengan Raffa?
62
Part 60: Hot money
63
Part 61: 9 bulan menanti
64
Part 62: Bayiku
65
Part 63: Baby twins Castillo
66
Part 64: Baby Bent
67
Part 65: Audrey
68
Part 66: Zidan dan Kirana
69
Part 67: Reunian trio cadel
70
Part 68: Black
71
Part 69: Sky
72
Part 70: wajan koleksi milik Aqila
73
Part 71: siapa yang membebaskan Daniel?
74
Part 72: Bukan Lavin
75
Part 73: menjemput Sky
76
Part 74: Perdebatan adik kakak
77
Part 75: Tentang Aurora
78
Part 76: Lavin di jahili telus
79
Part 77: Penyerangan
80
Part 78: penyekapan Frans
81
Part 79: Keterkejutan Ica
82
Part 80: Mansion di serang
83
Part 81: kerja sama
84
Part 82: keadaan Frans
85
Part 83
86
Part 84
87
Part 85

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!