"Loh bi, susu hamil aku mana yah? tadi kan aku suruh bibi taruh, terus di taruh mana?" bingung Aqila yang sedang mencari stok susunya di lemari persediaan.
Rani datang dan menatap Aqila dengan tatapan bersalah, ini semua karena Frans yang menyuruhnya untuk membuang susu tersebut.
"Itu non tadi ... tadi ternyata susunya kadaluarsa jadinya bibi buang, iya kadaluarsa," gugup Rani.
Aqilah terheran, apakah susu tersebut kadaluarsa? tapi dirinya juga tak melihat kapan Exp pada susu tersebut.
"Ooh gitu, Aqila emang gak lihat sih kalau itu kadaluarsa. Seharusnya jangan di buang bi, kita tuker aja ke kesana lagi biar gak rugi kalau begini kan jadinya ..."
TOK!
TOK!
TOK!
Ucapan Aqila terhenti karena ketukan pintu, dia segera berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
Cklek!
Kening Aqila mengerut, dia melihat beberapa orang berpakaian hitam sedang membawa sebuah kardus.
" Maaf, kalian siapa yah?" bingung Aqila.
Mereka saling tatap, kemudian salah satu dari mereka mendekat ke arah Aqila dan mengangguk sopan.
"Maaf, kami ingin mengantar kan susu hamil untuk anda," ujarnya.
"Susu hamil?" beo Aqila.
"Oh iya mas masukin aja, iyah," sela Rani ketika mendengar kebingungan Aqila.
Rani meminta Aqila untuk bergeser, dia menyuruh mereka untuk memasukkan kardus tersebut ke dalam.
Aqila pun tak tinggal diam, dia menarik tangan Rani dan mengajaknya menjauh.
"Bi apaan sih kok bibi suruh mereka masuk?" heran Aqila.
"Itu non, tadi bibi sudah kesana dan mereka mengganti nya," ujar Rani mencari alasan.
Aqila tak percaya, dia segera kembali ke dapur dan melihat para pria itu malah memasukkan banyak kotak susu ke dalam lemari.
"Banyak banget, kalian mau ganti apa mau jualan?" kaget Aqila.
Mereka menghadap ke arah Aqila, salah satu dari mereka yang terlihat lebih besar dari yang lainnya mendekati Aqila.
"Maaf, kami hanya menjalankan perintah. Kalau begitu kami permisi," ujarnya.
"Hei gak bisa begitu! hei!" cegat Aqila. Namun, mereka malah pergi dan meninggalkan Aqila yang melongo menatap stok susu tersebut.
***
"Gimana? sudah kalian kirimkan?" tanya Frans pada anak buahnya.
Mereka mengangguk, Frans pun tersenyum senang. Akhirnya dia berhasil membawakan Aqila susu yang sangat mahal untuk wanita itu minum.
"Bagus,"
Frans pun meninggalkan anak buahnya, dia berjalan ke luar ruang kerjanya. Kaki jenjangnya melangkah menuju lift, dia akan berniat pulang karena hari sudah sore.
"Eh tunggu mas!"
Frans tersentak kaget, ada seorang ibu hamil tua yang menahan pintu liftnya. Dia mengerutkan keningnya bingung ketika melihat wanita itu masuk kedalam lift yang dibuatkan khusus untuknya.
"Maaf yah pak, lift lain penuh terus. Saya capek kalau nunggu, jadi boleh yah saya numpang," ujar wanita tersebut.
Frans pun mengangguk, dia juga kasihan dengan wanita tersebut.
"Makasih banyak pak!" serunya.
Lift yang mereka naiki turun, Frans pun hanya diam begitu pula dengan wanita itu. Sesekali Frans melirik wanita tersebut yang tampak kepayahan akibat perutnya yang besar.
"Anak pertama?" tanya Frans.
Ibu tersebut menggeleng, dia mengangkat jarinya dan menunjukkan angka tiga.
"Oh," gumam Frans.
"Apa istri tuan juga sedang hamil?" tanya nya.
Frans terkejut, baru kali ini ada orang yang menanyakan tentang istri karena kebanyakan mereka mengira dia belum menikah sama sekali.
"Aah itu iyah, istri saya sedang hamil," gugup Frans.
"Pasti kau akan menjadi suami yang siaga, menjadi wanita hamil itu tidak mudah sebab dia harus merasakan kepayahan berkali-kali lipat. Beruntung jika wanita hamil tersebut saat dia akan melahirkan dirinya di beri umur panjang," ujarnya.
Taj lama pintu lift terbuka, mereka sampai di lantai bawah. Frans pun hanya diam, dia merenungi apa yang wanita tadi katakan.
"Mari pak," ujar wanita itu dan keluar dari dalam lift.
Frans tersadar, dia segera keluar dari dalam lift menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
Saat dirinya telah sampai di mobil, yang tadinya dia akan membuka pintu seketika terhenti karena ucapan wanita itu teringat kembali olehnya.
"Hm ... kasihan Aqila pasti dia juga kesulitan, gue bakal bicarain tentang ini semua pada mamah dan papah sekarang juga. Untuk hukuman dan segala konsekuensinya gue sudah siap menanggung nya," gumam Frans.
Frans pun memasuki mobilnya, melajukan mobil tersebut menuju mansionnya. Hatinya kini sudah mantap ingin cepat mempertanggung jawabkan semuanya dan akan membantu Aqila menemani masa kehamilannya.
Tak terasa mobil Frans pun sampai di pelataran mansionnya, dia keluar dari mobilnya dan membuka kancing jasnya.
Dia melangkah masuk sambil melepas jasnya, kepalanya menengok untuk mencari dimana keberadaan orang tuanya.
Frans melihat maid mendekatinya, dia menyerahkan jasnya pada maid tersebut dan melangkah menuju lift untuk ke kamar orang tuanya.
Sesampainya di lantai dua, Frans langsung berjalan ke arah sebuah pintu coklat. Saat sampai di depan pintu, Frans mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu tersebut. Namun sebuah isakan tangis memasuki gendang telinganya.
"Kamu harus selesaikan masalah kamu dengan Leon, saat ini Leon telah menikah dengan putri dari Alden Leon Wesley yang merupakan suami dari sahabat mu,"
"Aku tau mas, tapi aku belum siap. Aku belum siap berkata pada mereka jika aku masih hidup terlebih pada Leon dan sahabatku,"
Obrolan orang tuanya tak satu pun absen dari pendengarannya Frans. Dia kembali menarik tangannya dan menatap datar pintu tersebut.
Tanpa sepatah kata pun Frans menjauhi pintu itu dan berjalan menuju kamarnya.
Dengan lesu Frans membuka pintu kamarnya dan bergerak cepat menuju ranjang. Dia menjatuhkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal bagaikan anak kecil yang sedang di marahi oleh sang mamah.
"Huh, gue lupa kalau mamah punya masa lalu dengan Elvish. Tapi gue gak tau kalau ternyata putranya itu malah menikah dengan anak sahabat mamah yang tak lain istri dari Alden. Aqila ... dia anak angkat Alden, aku lupa dengan hal itu. Jika aku menikahi Aqila, pasti mereka akan bertemu dan ... yap, bertengkar karena masa lalu yang gak jelas itu!" gerutu Frans.
Frans menduduki dirinya, dia berdiri untuk melepas rompi nya dan menaruhnya di kasur. Setelah itu dia melepas kemejanya terhingga tampaklah otot kekarnya.
Frans berjalan menuju meja rias setelah menaruh kemejanya tadi, dia melihat pantulan dirinya pada kaca tersebut.
"Mesti gue hapus kayaknya nih tato, Aqila gak pernah suka cowok bertato. Apa gue gosok aja yah buat hilangin ini," gumam Frans.
Tato tersebut bertuliskan nama Ateez di dadanya, dia membuatnya saat dirinya lulus sekolah.
Frans menyudahi kegiatannya, dia berjalan menuju lemari untuk berganti pakaian.
Berbeda dengan Frans, kini Aqila tengah menatap nanar kotak susu yang terlalu banyak tersebut sambil meminum susu yang sudah dirinya seduh.
"Bisa ngadain pesta ibu hamil ini mah," gumam Aqila.
"Sabar non, ini juga pasti habis kok," bujuk Rani.
"Emangnya bibi mau ikut minum?" heran Aqila.
Rani tampak salah tingkah, dia menggaruk belakang lehernya dan tersenyum paksa.
"Ya gak lah non, saya ini udah tua gak minum susu begituan. Lagian itu susu bagus loh non, apalagi susunya paling mahal lagi!" ujar Rani.
Aqila tampak bingung, dia menatap kotak susu tersebut dan mengambilnya.
"Mahal? memangnya berapa harganya?" bingung Aqila.
"Sekitaran satu juta non," ujar Rani.
"Semuanya?" tanya Aqila sambil menatap Rani.
Rani menggeleng. "Gak non, satu kotaknya," ujarnya.
Aqila menjatuhkan rahangnya, dia menatap susu tersebut tak percaya. Mengapa begitu mahal padahal hanya susu.
"Tunggu bi, kok bisa? kenapa mereka gak ganti dengan merek yang sama? bukankah seharusnya di ganti dengan merek yang sama?" heran Aqila.
"Eh?"
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
LENY
Frans sombong tadi nya skrg kena batunya lu
2024-01-22
0
Ciciajadeh Ciciajadeh
keceplosan kan..🤣🤣🤣🤣🤣
2023-12-02
0
Ciciajadeh Ciciajadeh
😂😂😂😂😂
2023-12-02
0