Aqila terbangun di pagi hari, dia merasakan mual yang sangat hebat. Bahkan rasanya dirinya sangat lemas seakan dirinya akan tumbang.
"Jangan siksa bunda seperti ini nak," gumam Aqila.
Aqila keluar dengan lemas, dia berjalan menuju nakasnya untuk mengambil telponnya.
Setelah mendapati telponnya, Aqila mencari kontak seseorang. Dia menelponnya dan menunggu orang tersebut mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo, maaf Kenan ini aku. Apa kau tau dimana Frans?" tanya Aqila.
Aqila mengigit jarinya, dirinya takut apa yang dikatakan Frans adalah benar jika pria itu pergi ke Belanda. Aqila masih berharap jika pria itu akan kembali padanya dan pertanggung jawabkan semuanya.
"Aqila? oh maaf, Frans telah berangkat ke belanda kemarin sore. Maaf, aku tak bisa menjegahnya,"
Ponsel Aqila terjatuh, dia terduduk dan menangis. Begitu tega kah Frans meninggalkannya seorang diri dalam keadaan hamil muda seperti ini? Apakah Frans benar-benar tak mengakui anaknya?
"Hiks ... ku kira ... ku kira ucapanmu kemarin karena kau emosi dan akan kembali hiks ... ku kira ... hiks ...,"
Aqila menutup wajahnya, dia menangis tersedu-sedu. Bagaimana ini, apa yang harus dirinya lakukan?
"Ji-jika mereka berkata anakku anak haram, apa yang harus ku katakan? hiks ... a-aku ...,"
Aqila menjambak rambutnya, dia memukul kepalanya beberapa kali. Bebannya yang dirinya pikul seorang diri tak berani dia untuk berkata pada keluarganya mengenai hal ini.
Aqila terdiam dengan pandangan kosong, dirinya berdiri dan berjalan menuju balkon kamarnya.
Pandangannya masih kosong, dirinya membawa tubuhnya ke pembatas balkon dan dengan perlahan menaikinya.
Dia duduk di pembatas balkon, dirinya hanya bisa menangis dengan pandangan yang tak terbaca. Tangan kirinya mengelus perutnya yang masih datar.
"Kita mati bersama hm, jika kita mati tak ada yang membicarakanmu anak haram. Bahkan ayahmu tak mengakui dirimu, jadi ... untuk apa kita tetap disini? Kita hanya memberi penderitaan bagi yang lain," lirihan Aqila dengan tatapan kosongnya.
Aqila menunduk, dia melihat jalanan bawa dengan senyum mirisnya. Dirinya memejamkan matanya dan akan melompat.
"KAK QILA! JANGAN GILA KAK! TURUN KAK!" panik Elbert ketika melihat Aqila yang sedang duduk di pagar pembatas sambil menatap lurus ke depan.
Aqila terkejut mendengar suara Elbert, tapi dia tetap tak mengalihkan pandangannya dan hanya terdiam.
"Kak turun yah, kakak lagi mengandung loh. Kakak please ...," bujuk Elbert.
Aqila akhirnya menoleh, dia menatap Elbert dengan air mata yang jatuh ke pipi tirusnya.
"Dia pergi El ... dia beneran pergi ...," lirih Aqila.
"KAK! LUPAIN KAK FRANS! SEENGGAKNYA KINI ADA NYAWA YANG HARUS KAKAK JAGA!" kesal Elbert.
Aqila menggeleng lirih, dia rasa hidupnya sudah cukup hancur saat ini.
"Lebih baik kakak tiada El, biar kami mati bersama," lirih Aqila dan kembali menatap lurus ke depan.
Elbert mengacak rambutnya frustasi, dia bingung dengan cara apa lagi membujuk Aqila.
"Kak ... coba kakak pikirin baik-baik, anak kakak gak salah. Dia berhak lahir ke dunia kak, jika bukan karena keluarga kita ... lakukanlah untuk bayi kakak, dia berhak hidup kak. Dia adalah kunci kebahagiaan kakak," bujuk Elbert dengan lembut.
Aqila kembali mengingat kejadian itu, dia menangis histeris sehingga Elbert menatapnya kasihan.
"Aku di jebak ... aku di culik hiks ... aku bukan wanita seperti itu El," isak Aqila.
"Iya kak, El tau. Sekarang turun yah, terus cerita sama El," bujuk Elbert.
Akhirnya Aqila luluh, dia turun dari pagar pembatas dengan di bantu oleh Elbert.
Elbert segera membawa Aqila menuju kamarnya, dia merebahkan Aqila di kasur dan mengambil minum untuk wanita itu.
Aqila pun hanya menerima apa yang Elbert lakukan, dirinya sungguh lemas dan tak tau harus apa.
"Kakak jangan berbuat nekat kayak tadi, kasihan anak kakak," ujar Elbert ketika Aqila sudah selesai minum.
"Kakak harus gimana El? kakak gak mau kecewain ayah Gio hiks ... apalagi papah Alden hiks ... kakak gak mau mereka kecewa memiliki anak yang ...,"
"Syuut, ini musibah kak. Seharusnya kita lebih menjaga kakak ... sekarang istirahatlah. Aku disini menjaga kakak," sela Elbert.
Elbert menyelimuti Aqila, dia sudah menganggap Aqila seperti saudaranya sendiri. Tak ada rasa apapun untuk wanita itu, menurutnya Aqila sama seperti Amora, Lia dan Aurora. Wanita yang harus dia jaga.
Tak lama Aqila tertidur dengan deru nafas teratur, sehingga Elbert bisa keluar dari kamar Aqila untuk menelpon seseorang.
"Halo,"
"Halo paman Arsel, paman aku ingin kau cari tahu tentang Frans Gevonac dan kemana pria itu pergi." ujar Elbert.
"Untuk apa?" bingung Arsel.
"Aku ada urusan dengannya, masalah yang sangat serius. Untuk itu aku minta paman cari informasinya, kalau perlu jatuhkan dia di dunia bisnisnya," pinta Elbert.
"Oke ... oke, paman akan lihat,"
"Hm ... terima kasih paman,"
Elbert langsung mematikan ponselnya, dia teringat dengan Aqila yang begitu sangat menderita.
"Frans ... lu gak bakal lepas dari keluarga Wesley, camkan itu!" gumam Elbert.
Elbert pun kembali ke kamar Aqila, dia mengambil tasnya yang berada di kasur Aqila.
"Mending kerjaan kantor di urus disini deh sekalian jagain kak Qila," gumam Elbert.
Elbert oun mengeluarkan laptop nya dari tas tersebut, dia berjalan ke arah sofa yang berada di sudut sambil membawa laptopnya.
Pria itu mulai mengerjakan berkas kantornya sambil sesekali melihat ke arah Aqila yang bergerak tak nyaman.
"Hm ... kasihan sekali, seharusnya di masa ini kau bahagia dengan suami yang siap mendampingimu. Tapi sayang kau jatuh hati pada pria br3ngs3k itu," lirih Elbert.
ELbert kembali fokus dengan laptopnya, telinganya beberapa kali mendengar pergerak Aqila dia atas kasur namun dirinya hanya berpikir jika Aqila hanya mencari posisi ternyaman.
HWEK! HWEK!
Elbert terkejut mendengar suara orang mual, dia menatap ranjang Aqila dan ternyata wanita itu sudah tidak ada. Netra Elbert pun melihat ke arah kamar mandi, dengan segera dia menaruh laptopnya dan berlari menuju kamar mandi.
"Sudah?" tanya Elbert sambil mengumpulkan rambut sang kakak untuk memijat tengkuknya.
Aqila hanya mengangguk lesu, dengan segera Elbert menggendong kakaknya menuju ranjang. Setelah itu dia ke dapur untuk mengambil Air hangat.
Tak lama Elbert kembali dengan gelas di tangannya
"Minum dulu kak," pinta Elbert dan memberikan air minum itu pada Aqila.
Aqila meminumnya tetapi hanya sedikit, sungguh perutnya sangat mual hari ini.
"Biasanya seperti ini ya kak?" tanya Elbert sambil menaruh gelas tersebut ke atas nakas.
"Iya," lirih Aqila.
"Kak ... ke mansion daddy aja yuk, disana ada mommy yang bakal rawat kakak. Kalau gini terus aku gak tenang kak," bujuk Elbert.
"Aku gak mau mommy kecewa El, aku telah mengecewakan semua keluarga. Aku malu ... apalagi dengan kejahatan mama dulu," lirih Aqila.
"Gak kak, itu kan bukan salah kakak. Kakak hanya korban, mommy dan daddy pasti ngerti kondisi kakak saat ini," bujuk Elbert.
Aqila tetap menggeleng, dia tidak mau kembali menyusahkan keluarga Wesley.
"Haah ... kak, besok aku akan berangkat ke jepang karena urusan bisnis. Aku takut kakak kenapa-napa disini, aku mohon kak," bujuk Elbert kembali.
Aqila menatap Elbert, senyum tipis terukir di bibir pucatnya.
"Berangkat lah El, kakak gak papa. Besok bakal ada pembantu yang temenin kakak, jadi kamu gak perlu khawatir," lirih Aqila.
Elbert menghela nafasnya kasar, sepertinya Aqila sangat susah di bujuk. Keras kepala Aqila membuat Elbert terpaksa menyetujui keinginan wanita itu.
"Baiklah, jika perlu sesuatu aku harap kakak menghubungiku. Biar aku mengutus anak buah ku untuk menolong kakak," pinta Elbert.
"Baiklah, sekarang pulanglah. Aku takut mereka akan curiga," ujar Aqila.
Elbert mengangguk, dia berpamitan dan keluar dari apartemen Aqila.
Kini, wanita itu tengah menatap sendu langit-langit kamarnya. Cairan bening mengalir dari matanya, hidupnya kini sudah hancur akibat kesalahan satu malam.
"Hiks ... hiks ... apakah ini karma ibuku? kenapa harus aku yang menanggung semuanya?" lirih Aqila.
Tangan Aqila menyentuh perutnya yang masih datar, yang dimana disana tumbuh janinnya. Buah hatinya dengan pria yang membuangnya.
"Frans ... aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengan anakku sekalipun kamu memohon padaku kecuali jika kamu membayar penderitaan yang aku rasakan saat ini!" geram Aqila dengan mata menajam.
Aqila tak meminta harta Frans, dirinya sudah kaya. Tapi, dirinya hanya ingin pertanggung jawaban Frans. Sudah cukup dirinya bertahan di atas tali yang Frans buat, karena sehebat apapun dirinya berjalan diatas tali pasti akan terjatuh juga.
"Kenapa? kenapa kau kau hadir saat ini? apakah kau ingin menjadi penyemangat bundamu hm, baiklah sayang ... mari kita berjuang bersama. Maafkan bunda yang tak bisa membujuk ayahmu untuk bersamamu, tapi bunda janji ... bunda akan menjadi figur seorang ayah untukmu." gumam Aqila sambil mengelus perut datarnya.
Dia akhirnya bisa berdamai dengan dirinya walau bertahap itu merupakan sebuah kemajuan untuk mental Aqila.
Tiba-tiba ponsel Aqila berdering, segera Aqila mengambil ponselnya yang sudah berada di atas nakas. Mungkin tadi Elbert menaruhnya saat pria itu mendapati ponsel Aqila di lantai.
"Ayah? bagaimana ini?" panik Aqila. Apalagi ayahnya itu mem video call dirinya.
Aqila menghela nafasnya pelan, dia menggeser tombol hijau itu dan terlihatlah wajah sang ayah.
"Halo sayang," seru Gio.
"Halo ayah, apa kabar?" tanya Aqila. Tangannya menggenggam selimutnya dengan erat karena takut.
"I'm fine, apa kamu baik-baik saja? perasaan ayah belakangan ini gak enak, ayah khawatir dengan keadaan kamu," ujar Gio.
"Aku baik-baik saja ayah." ujar Aqila sambil mengusap perutnya.
"Benarkah? Kenapa wajahmu sangat pucat? ayah khawatir dengan keadaanmu sayang," panik Gio.
"Aku tidak apa-apa ayah, hanya masuk angin saja," bujuk Aqila.
"Baiklah, kalau begitu. Jadi, kapan kamu akan pulang ke London? atau ayah yang ke Jakarta? lagi pula pertunanganmu sebentar lagi kan?" tanya Gio yang mana membuat Aqila panik.
"Ja-jangan ayah! aku ... aku akan pulang setelah urusanku disini selesai," jawab Aqila.
Gio nampak mengerutkan keningnya, dia merasa ada yang salah dari putrinya.
"Kamu bohong sama ayah? ayah tau gimana gerak-gerikmu ketika kamu bohong, be honest with dad!"
("Jujur pada ayah!")
Aqila tertegun, dia semakin gelisah apalagi sang ayah menatapnya tajam.
"Apa ini ada hubungannya dengan Frans? apa yang pria itu lakukan terhadapmu Aqila? jawab ayah!"
Deghhh!
Aqila tampak terkejut, dia menatap takut Gio yang sedang menatapnya penuh selidik.
"Ga-gak yah, Frans ... Frans ... ha-hanya memutuskan pertunangan kami," cicit Aqila.
"APA?! BAGAIMANA BISA?! AYAH HARUS BICARA INI DENGAN OM GEO!" sentak Gio dan mematikan sambungan video call mereka.
Aqila menghela nafasnya, dia menaruh kembali ponselnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Bukan hanya itu yah, dia telah menghancurkan masa depan putrimu ini. Masa depanku telah rusak hiks ... Qila malu hiks ... untuk itu maafkan Qila belum bisa memberi tahumu, Qila takut ayah akan menanggung malu," isak Aqila.
Perut Aqila terasa sedikit sakit yang mana membuat Aqila sedikit meringis.
"Jangan rewel yah nak, maafin bunda. Bunda gak nangis lagi kok, udah yah sayang," ringis Aqila.
Tak lama perutnya kembali membaik, dia tersenyum dan menghapus air matanya pelan. Biarpun Frans meninggalkannya, setidaknya ada janin yang harus dia perjuangkan.
"Bisa gak nak, mual bunda kasih ke ayahmu aja. Biar seri sayang, bunda gak bisa kerja kalau mual terus. Nanti yang belikan kamu baju, perlengkapan, dan susu siapa sayang?" tanya Aqila sambil mengelus perutnya.
"Kasih ke ayahmu aja yah, biar dia yang merasakannya yah sayang. Kasih ngidamnya juga ke ayah, biar kita gak repot-repot nyari. Ok sayang,"
Aqila tersenyum senang, dia yakin sang anak akan mengikuti keinginannya. Dirinya tak sabar ingin melihat Frans tersiksa seperti dirinya.
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Sita Sit
semangat qila,laki2 kayak gitu buang aja,kamu harus kuat ya,buktikan kamu kuat,kamu gak terpuruk
2024-11-12
0
Edah J
Setuju banget dengan yg dibilang Aqila biar Frans rasakan tuhh ngidam
2024-10-15
0
Leng Loy
Bener banget biar Frans yang merasakan tersiksanya ngidam
2024-03-20
2