"Bos kami telah mengikutinya," ujar seorang pria yang tengah berada di dalam mobil.
"Bagus ... ikuti perempuan itu, dan kau harus dapat! karena perempuan itu bisa menjadi alat kita untuk mengancam Frans,"
Pria tersebut mengangguk, dia mematikan ponselnya dan menatap temannya yang sedang menyetir.
"Jangan sampai kehilangan jejak," ujarnya.
Mereka pun mengikuti mobil yang ada di depannya, terlihat mobil itu adalah mobil Aqila. Mereka pun mengikutinya hingga mobil Aqila terhenti sendiri.
"Mengapa dia berhenti?" tanya pria yang menyetir.
"Itu bagus," ujarnya.
Pria itu keluar dari mobil, dia menyuruh temannya yang menyetir untuk bersiap.
Sedangkan Aqila, dia keluar dari mobilnya. Tiba-tiba saja mobilnya mogok. Dia mengeluarkan ponselnya, tetapi baru saja dirinya akan menghubungi Elbert seseorang membekapnya menggunakan sapu tangan yang sudah di semprotkan obat bius.
"HMPPP! HMMPPP!"
Pria itu terus membekap mulut Aqila hingga tak ada lagi gerakan dari Aqila karena ternyata dirinya pingsan.
Setelah memastikan Aqila pingsan, pria itu langsung membawanya ke mobil temannya yang sudah menghampirinya.
"Kita bawa kemana?" tanya pria yang menyupir.
"Ke hotel xx, karena yang lain sudah mengatur strategi disana!" titah nya.
Pria tersebut akhirnya melajukan mobilnya, sesekali dia melihat spion mobilnya yang mengarah pada Aqila.
"Cantik bro, kita pake aja gimana?" ujarnya.
Pria yang ada di sebelahnya menggeplak kepalanya.
"Yang ada kita mati beg0!" kesalnya.
Pria itu kembali fokus menyetir, walau sesekali dia meringis akibat kepalanya yang di pukul oleh temannya.
Tak lama mereka pun sampai di hotel, salah satu dari mereka mengeluarkan kusi roda yang ada di bagasi. Sedangkan yang lainnya menggendong Aqila keluar.
"Taruh disini biar mereka gak curiga," titahmya.
Pria itu menaruh Aqila di kursi roda, mereka memakaikan kaca mata kepada Aqila dan mendorong kursi roda tersebut masuk.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tajya resepsionis wanita itu pada kedua pria di depannya.
"Ehm ini kami ingin mengantar wanita ini, katanya dia teman dari Frans Gevonac kau kenal bukan? pelanggan hotel VVIP?" tanya pria itu.
Resepsionis tampak mengecek datanya, sedetik kemudian dia mengangguk dan menyerahkan kartu pada pria itu.
"Tadi tuan Frasn juga berpesan jika nanti ada temannya yang kesini, kalau begitu ini kunci nya yang tuan Frans titipkan," ujar resepsionis.
"Makasih mbak kalau gitu kami antar dulu," ujarnya.
Kedua pria itu pergi dari hadapan resepsionis, sedangkan wanita yang menjadi resepsionis itu mengernyit bingung.
"Aneh apa teman tuan Frans sakit? kok sampe pakai kursi roda begitu?" gumamnya.
Dia mengenyahkan pikirannya dan melanjutkan tugasnya. Tak lama ada seorang wanita tua yang menghampirinya, sehingga dia pun tersenyun ramah.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya wanita itu.
"Bisa bantu nenek? nenek lupa kamar nenek," ujarnya.
Wanita itu menoleh kesana dan kemari, dia tak mendapati temannya satu pun. Dirinya akan menelpon temannya tetapi tangannya di hentikan oleh nenek tersebut.
"Tolong cu hanya sebentar saja," ujarnya dengan nada memelas.
Wanita itu tampak kasihan, dia akhirnya mengangguk dan mengantarkan nenek tersebut.
Saat mereka telah pergi, terlihat sebuah mobil berhenti tepat di depan hotel. Pria itu adalah Frans, dia masuk ke dalam hotel dengan sempoyongan.
Penjaga hotel pun berniat akan membantunya, tapi Frans malah menepis tangannya dan berjalan masuk walau sesekali tertabrak.
Setibanya dia di lantai unit hotelnya, Frans sudah tak berdaya. Kedua pria tadi yang membawa Aqila melihatnya dan membantunya masuk.
"Ni orang mabuk? maksudnya gimana sih?" kesal pria itu.
"Mana gue tau, si bos yang ngatur semuanya. Udah kata si bos tadi kita suntikin ini ke leher nya Frans," ujarnya.
Mereka menaruh Frans tidur di sebelah Aqila, salah satu dari mereka mengeluarkan suntikan dan menyuntikannya pada leher Frans.
"Eunghh," lenguh Frans.
"Bangun cok!" seru yang lain.
Plak!
"Eh setan, kalau ngomong di filter dulu!" kesalnya.
"Ashh ... kepala gue perasaan di keplak mulu," ringisnya.
Setelah tugas mereka pastikan selesai, akhirnya mereka keluar dan mengunci pintu tersebut.
DERTT!
DERTT!
"Bentar si bos nelfon," ujarnya.
Pria itu mengangkat telfonnya, dia menjelaskan bahwa dirinya telah melakukan apa yang bosnya itu perintahkan.
"Baik bos, kami akan langsung ke markas," ujarnya.
Pria itu mematikan sambungan telfonnya, dia menatap temannya yang sedari tadi melihat pintu hotel Frans.
"Kenapa lu?" bingungnya.
"Kasihan gue ama tu cewe, padahal masalah si bos ama ponakannya tapi tu cewe malah jadi imbasnya," lirihnya
"Udah lah, kita balik sekarang,"
Mereka pun akhirnya pergi dari hotel menuju kembali ke markas.
***
"Eungh ...,"
Frans terbangun, dia merasakan tubuhnya yang sangat panas. Tak sadar dirinya melepas semua bajunya dia bahkan sudah kepanasan padahal AC telah menyala.
"Panas ...," lirihnya.
Frans menoleh ke samping, pandangannya masih buram sehingga dia tak tau jelas siapa wanita yang ada di depannya ini.
Entah dorongan dari mana, Frans menyentuh wanita itu.
Sehingga terjadilah mimpi buruk bagi Aqila, seorang wanita yang mengharap sebuah kebahagiaan. Namun malang nasibnya yang terjebak kesalahan satu malam dengan pria yang menjadi mantan calon tunangannya.
Pagi mendatang, sinar matahari pun masuk melalui celah jendela. Kedua pasangan itu terbangun akibat terusik oleh kicauan burung dan juga panas matahari.
Pagi harinya, Aqila terbangun dengan tubuh yang tak memakai sehelai benang pun. Dia menangis histeris, tetapi netranya menoleh menatap seorang pria yang masih tertidur dengan keadaan yang juga sama sepertinya.
"FRANS!" teriak Aqila.
Frans terbangun, dia mengerjapkan matanya pelan. Tak lama kemudian kesadarannya pun kembali, dia menduduki dirinya dan menatap Aqila dengan wajah terkejutnya.
"LU NGAPAIN DISINI HAH?! PASTI INI JEBAKAN LU KAN?! DASAR CEWEK MURAHAN! GUE BATALIN PERTUNANGAN KITA DAN LU BUAT NEKAT KAYAK GINI? LU KIRA GUE BAKAL NIKAHIN LU?! GAK! GUE GAK BAKAL NIKAHIN LU! GUE JIJIK SAMA LU! GUE JIJIK!" bentak Frans.
Frans sungguh terkejut dengan keadaan sekitar, dia tak percaya pada Aqila yang ada di kamar hotelnya yang dia pesan untuk meeting bersama temannya.
"KAMU YANG BERBUAT BEGINI SAMA AKU FRANS!"
Frans tak memperdulikan perkataan Aqila, dia bangkit dari ranjang dan memakai bajunya Setelah itu dia menatap Aqila dengan penuh kebencian.
"Gue yakin lu gak lebih dari sekedar j4l4ng! seharusnya dari awal memang kita tidak seharusnya bertemu, bersyukur gue tau sifat lu sebelum kita menikah!" sarkas Frans.
"Hiks ... hiks ... kamu jahat Frans! bagaimana jika aku hamil?" isak Aqila.
"Gugurin! karena gue yakin anak itu bukan anak gue! bisa aja kan lu main di luar sana dan meminta pertanggung jawaban gue?" ujar Frans.
Aqila yang tak tahan segera bangkit dari ranjang, dia memegangi selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
PLAK!
Aqila menampar Frans dengan keras, dia bahkan menatap tajam Frans yang kini wajahnya tertoleh ke samping.
"Iya ... aku yang menjebak kita! AKU YANG MELAKUKAN SEMUANYA!" marah Aqila.
Aqila sungguh marah ketika Frans berkata seperti tadi, sehingga dia berkata jika dirinya lah yang menjebak mereka. Emosi Aqila kini sedang tidak stabil.
"Hahahah ... buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ibumu seorang ja ...,"
"TUTUP MULUTMU FRANS! SEENGGAKNYA AYAHKU TAK SEBEJ4T DIRIMU!" emosi Aqila.
Frans langsung keluar dari hotel, dia bahkan meninggalkan Aqila yang menangis tersedu-sedu.
Aqila terduduk di kasur, dia meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Dirinya kini sudah kotor, mahkota yang dirinya jaga terenggut oleh pria yang menghancurkan hidupnya.
"Aku membencimu Frans!" lirih Aqila dengan matanya menyorot tajam.
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Vera Wilda
Frans jahat mulut spt cabe level 50, tp kenapa Thor nikah tetep sm Frans ?
2025-02-03
0
Edah J
Untuk saat ini karakter Frans dibikin rese dulul😁✌️✌️✌️
yakin selalu dibikin penasaran supaya terus lanjut baca ini mh👍👍👍
2024-10-15
1
Nanik Kusno
Aduh..... kasihan Aqila.... gimana kedepannya....hancur sudah ..😥😥😥
2024-10-10
0