Aqila tengah memasang wajah masam akibat Frans yang tiba-tiba ke apartemennya membawa segala jenis makanan.
"Bisakah kau keluar dari apart ku?!" sentak Aqila.
"Tidak sebelum kau makan!" ujar Frans sambil menatap Aqila yang duduk di meja makan.
Aqila mendengus kesal, dia berdiri dan menatap kesal ke arah Frans.
"KELUAR GAK!" teriak Aqila.
"Jangan berteriak, anak kita akan terkejut nanti," ujar Frans yang membuat Aqila semakin tambah marah.
"ANAK KITA JIDATMU! INI HANYA ANAKKU" sentak Aqila.
Aqila menghentakkan kakinya kesal, itu adalah merupakan kebiasaannya jika kesal. Dan kebiasaannya itu membuat Frans khawatir.
"OKE FINE! aku pulang," pasrah Frans.
"Tapi jangan menghentakkan kaki begitu, bayi kita bisa pusing nanti," lanjut Frans.
Aqika memegang kepalanya, rasanya kepalanya ingin pecah melihat tingkah laku Frans.
"Bi, ambil panci bi," pinta Aqila pada maid yang menonton live adegan mereka.
"Buat apa nyonya?" bingungnya.
"Bawa aja napa sih!" kesal Aqila.
Maid tersebut langsung ke dapur dan kembali dengan membawa panci, Aqila langsung mengambilnya dan melempar panci itu ke arah Frans.
DUGH!
KLONTANG!
"Aqila!" kesal Frans.
"APA?! BELUM JUGA PISAU YANG AKU LEMPAR KE KAMU!" teriak Aqila.
Frans mengusap jidatnya yang terasa sakit, bahkan kini benjolan tersebut terbentuk dan dapat di lihat oleh Aqila dan maid itu.
Terpaksa Frans keluar dari apartemen, dia sedikit ngeri dengan perubahan Aqila saat ini
"Aduuh ngeri banget yah," ringis Frans.
"Ini belum seberapa di banding kata-kata kamu!" sentak Aqila dan menutup pintu dengan keras.
BLAM!
Lagi-lagi Frans terkejut, Aqila menjadi galak semenjak wanita itu hamil.
Sementara Aqila tengah mencak-mencak kesal, netranya menatap semua makanan yang ada di meja makan. Begitu banyak makanan dan dirinya tidak mood untuk makan.
"Bi, bibi panggilin deh pak satpam yang jaga di bawah kan ada banyak tuh. Biar mereka yang habisin, aku ngantuk mau tidur," ujar Aqila.
"Tapi non, dari pagi non belum makan loh," ujar maid tersebut.
"Aku gak lapar bi," ujar Aqila.
"Tapi setidaknya untuk bayi non, dia juga pasti laper non,"
Ucapan maid itu membuat Aqila tersentuh, dia memandang perutnya dan mengelusnya perlahan
"Yaudah deh Qila makan," pasrah Aqila.
Aqila berjalan menuju meja makan, dia menatap hidangan yang akan ia makan.
Sedangkan Frans yang kini berada di dalam mobil dan tengah perjalanan pulang ingin rasanya dia kembali, tapi dia juga tak mungkin di lempar panci kembali atau bahkan mungkin pisau.
"Kau, tolong antarkan aku ke pemakaman xx," pinta Frans pada supirnya.
"Baik King,"
Frans menumpu wajahnya dengan tangan kirinya, dia memandang jalanan yang tampak ramai. Dirinya kembali tersenyum membayangkan jika nanti ada yang memanggilnya daddy.
"Apa kau punya anak?" tanya Frans pada supirnya.
"Punya King,"
"Apa kau senang memiliki anak?" tanya Frans kembali.
"Tentu saja, anak adalah sebuah kado terindah yang maha kuasa berikan. Sebuah titipan yang sangat istimewa," ujar supir tersebut.
Frans tersenyum, dia menegakkan tubuhnya dan menatap supir dari spion tengah.
"Kau benar," ucap Frans.
"Apa King akan segera menikah?" tanya sang supir.
"Secepatnya," ujar Frans.
Supir itu pun tertawa, tak banyak yang tahu jika Frans sebetulnya ramah. Hanya saja dirinya harus menjaga imagenya.
Tak lama mobil telah sampai di sebuah pemakaman, Frans segera turun dan memakai kaca mata hitamnya.
Frans mampir ke penjual bunga, dia membeli bunga dan dan menuju sebuah makam.
Tap!
Tap!
Tap!
Langkah Frans terhenti di depan sebuah makam, dia menjongkokkan dirinya dan menaruh bunga tersebut. Tangannya terangkat membuka kaca matanya.
"Aluna ... kau ibu dari Aqila bukan? Tujuanku kesini ingin meminta izinmu, aku berniat melamar Aqila untuk menjadi istriku. Namun aku masih takut pria rakus itu menyakiti Aqila dan anak kami," lirih Frans.
"Kau telah melahirkan wanita yang hebat, wanita yang kuat, walau dirimu bukan wanita baik tapi aku yakin Aqila adalah wanita baik,"
"Tenanglah disana dan restui kami,"
Setelah berbicara, Frans mengelus nisan tersebut. Dia bangkit dari jongkoknya dan memakai kembali kaca matanya. Tapi tiba-tiba dirinya terkejut mendengar sebuah tepukan di bahunya.
"Abang?"
"Raisa?"
***
"Abang bener-bener gila tau gak?! kok bisa abang berbuat seperti itu dengan kak Qila? aku perempuan, mamah juga perempuan bang! kalau abang sakitin perempuan, kita juga termasuk yang abang sakitin!" bentak Ica.
Frans hanya menunduk, ternyata adiknya mengikutinya sehabis dari apart Aqila.
"Maaf,"
"Gak bang, pemintaan maaf itu tidak dibutuhkan oleh kak Qila. TAPI TANGGUNG JAWAB!" kecewa Ica.
"Raisa, abang akan tanggung jawab. Tapi bukan sekarang, tunggu ...,"
"Tunggu apa? tunggu lebaran gajah? iya?" tanya Ica.
Frans terdiam, dia bingung harus menjawab apa.
"Raisa, kau tau paman Daniel akan berbuat apapun demi menghancurkan ku," ujar Frans.
"AKU TAU! SANGAT TAU! APA KAU LEMAH SAMPAI KAU TAK BISA MENJAGA ISTRI MU KELAK HUH? KAU MEMILIKI MAFIA YANG BERADA DI NAUNGAN PARA POLISI DAN PEMERINTAH! TAK MUNGKIN MUDAH BAGI DANIEL KAMPRET ITU UNTUK MENGHANCURKANMU!" bentak Ica dengan nafas memburu.
Frans terdiam, benar apa yang di katakan adiknya. Namun, perasaan takut kehilangan membuatnya banyak berpikir.
"Pikirkan lah bang, lebih baik kau sadari sebelum terpambat. Jika tidak kau akan kehilangan kak Aqila dari hidupmu selama-lamanya. Karena kak Aqila, adalah anak dari keluarga Lawrance yang bersahabat dengan Wesley. Pertarungan antar keluarga bisa terjadi hanya karena dirimu!" ujar Ica
Ica meninggalkan Frans yang terdiam di bangku taman tersebut, dia merenungi ucapan adiknya.
"Benar, aku akan kehilangan Aqila karena keegoisanku," lirih Frans.
Sementara Ica, dia naik motor kembali ke mansionnya. Dirinya sungguh kesal dengan kenyataan barusan.
Saat sampai di mansion, Ica langsung masuk dengan wajah menahan amarah. Dia bahkan tak menghiraukan para maid yang menyapanya.
"Raisa, kau kenapa sayang?" tanya Ane saat melihat putrinya masuk dengan wajah kesal.
"Mamah tanya sama putra kesayangan mamah itu, putra mamah yang sangat mamah manja itu dia menghamili seorang wanita yang tak lain adalah kak Qila!"
JDEERRR.
"Apa maksudnya Raisa?" kaget Ane.
"Abang telah merusak masa depan seorang gadis!"
Ane memegang dadanya, sungguh sesak rasanya mengetahui jika sang putra telah menghamili seorang gadis.
"Jangan bercanda Raisa!" sentak Geo yang baru saja datang dan sepertinya dirinya telah mendengar percakapan mereka.
"Aku tidak bercanda, lebih baik kalian tau dari awal dari pada kalian tahu saat janin itu telah berusia balita!" geram Ica.
Geo mengepalkan tangannya, sementara Ane sudah menangis tersedu-sedu.
"Mana abangmu?" tanya Geo dengan penuh amarah.
"Aku disini papah,"
Netra mereka beralih menatap Frans yang baru saja memasuki ruang tengah. Tanpa aba-aba Geo langsung memukul wajah anaknya dengan brutal.
BUGH!
BUGH!
"BERHENTI PAH HIKS BERHENTI!" sentak Ane sambil menarik lengan suaminya yang akan kembali memukuli Frans.
Frans pun hanya bisa pasrah, dirinya tak mungkin melawan sang papah. Ini salahnya dan dirinya harus menerima semuanya.
"Lepas mah, papah malu punya anak seperti dia. Papah kecewa dengan dia mah!" ujar Geo dengan nafas memburu.
Ica hanya menatap itu dengan tangan di lipat di depan dada. Senyuman nya terangkat, tapi bukan senyuman tulus. Tapi senyuman menyiksa.
"Maafin Frans pah, itu di luar kendali Frans. Frans gak tau jika kami di jebak," lirih Frans karena dirinya tak sanggup lagi berbicara.
"NIKAHI AQILA!" sentak Ane.
Frans menggeleng kecil, air matanya jatuh ketika melihat air mata sang mamah.
"Belum saatnya mah," ujar Frans.
"Kandungan dia akan semakin besar, mau ngomong apa dia sama keluarganya kalau mereka tahu? AQILA AKAN DI EJEK KARENA HAMIL DI LUAR NIKAH FRANS! Dimana otak kamu?" isak Ane.
Frans menunduk lama, hingga ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap sang mamah.
"Urusan mamah dengan keluarga Elvish belum selesai, bagaimana bisa Frans menikahi Aqila yang notabennya adalah putri angkat dari besan Elvish yaitu Alden Leon Wesley?"
Ane sungguh terkejut, begitu pula dengan Geo. Ica? jangan di tanya lagi, dirinya mendadak kaku mendengar nya.
Ane memiliki masa lalu dengan mantan suaminya, dia memiliki sang putra dari mantan suaminya yang bernama Leon yang kini sudah menjadi Ezra Louise Elvish karena kejadian tak terduga.
Sang putra tak tahu jika Ane ternyata masih hidup, yang putranya itu tahu jika Ane meninggal karena melahirkannya.
"Apa hubungannya kakak Qila dengan keluarga Wesley?" heran Ica.
Frans terdiam sejenak, kemudian dia menatap serius mamahnya.
"Mamah belum menyelesaikan masalah dengan Leon, putra kandung mamah. Jika aku menikah dengan Aqila, otomatis keluarga Wesley dan Elvish tahu betul siapa mamah terlebih Amora istri dari Alden adalah sahabat mamah," ujar Frans.
Semuanya terdiam, suasana menjadi hening. Frans pun beranjak dari sana sambil memegangi pipinya. Kini, di ruangan itu hanya tersisa keheningan karena terkejutnya mereka.
"Ba-bagaimana ini? aku ... aku sama sekali tidak tau. Leon belum tau jika ternyata aku masih hidup," lirih Ane.
"Sudah aku bilang bukan, selesaikan masalah mu dengan mantan suamimu itu. Bilang pada putramu jika kamu masih hidup! bagaimana pun juga dia putramu Ane," ujar Geo yang kini telah menatap Ane yang mengusap air katanya yang terus keluar.
Sedangkan Ica berlari ke kamar abangnya, dia sungguh penasaran dengan apa yang terjadi.
CKLEK!
"ABANG!"
Ica memasuki kamar abangnya dengan tidak ada sopannya, dia segera mendekati abangnya yang tengah mengobati lukanya.
"Hm,"
"Emang bener? berarti si Ezra Leon dong? kan besannya Wesley Elvish?" bingung Ica.
Frans menghentikan kegiatannya, dia menatap Ica dengan pandangan bingung.
"Lia siapa?" bingungnya.
"Itu loh, temen aku yang kesini terus pingsan kemarin itu. Abang Liat kan? dia istri dari Ezra, eh ... tapi kok namanya beda?" ujar Ica.
Kerutan tercetak jelas di kening Frans, dia mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi ... kemarin tuh cewe pingsan karena syok ngeliat mamah? atau karena sakit?" tanya Frans.
PLAK!
Ica bertepuk tangan, dia menunjuk Frans dengan spontan
"Nah, bener tuh! sesuai pikiran gue! apa jangan-jangan dia syok gitu kali yah? orang pas ngeliat mamah wajahnya kayak pengen nangis terus pucat gitu kok wajahnya. Di tambah mamah bilang kalau Lia menantunya waktu di rumah sakit," gumam Ica.
Frans terdiam, jika benar maka hubungan keluarga ini hanya ada dua kemungkinan. Berdamai atau berperang. Elvish dan Wesley kini telah bersatu, masalah Ane dan masalah dirinya pada dua keluarga itu. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Lu ... gue jamin lu susah dapet restu," seru Ica.
"Maksudnya?" bingung Frans.
"Lia cerita ama gue tentang Ezra, keluarga Wesley pada posesiv sama Lia bahkan mereka bikin perjanjian sama Ezra. Nah lu, lu ngehamilin anak orang di tambah kabur lagi lu," ancam Ica.
Frans menggedikkan bahunya. "Gue udah nanam saham duluan, mau gak mau mereka harus balikin saham gue,"
"HA-HAH?"
"Sana keluar! gue mau ganti baju!" sentak Frans.
Ica merengut kesal, dia keluar dengan kaki yang dirinya hentakkan. Sementara Frans, pria itu langsung mengubungi Kenan untuk membahas seuatu.
"Halo,"
"Handle kantor untuk sementara, orang tua gue udah tau kalau Aqila tengah hamil. Dan, lu pasti tau apa yang terjadi selanjutnya,"
Setelah mengatakan itu Frans mematikan ponselnya secara sepihak, dia melempar ponselnya pada kasur dan memijat keningnya.
"Bagaimana ini," lirih Frans.
***
"Kalian mau kemana?" tanya Ica ketika melihat orang tuanya sibuk berkemas.
"Ke apartemen Aqila, kau tunggu di sini dan oantau abangmu jangan sampai dia kabur," titah Geo.
Ica hanya mengangguk, orang tuanya pun pergi ke apartemen Aqila meninggalkan dirinya yang tengah mengawasi sang kakak.
Sementara itu, Geo dan Ane kini dalam perjalanan. Ane tak henti-hentinya mengeluarkan air mata, bagaimana pun juga dirinya sudah menganggap Aqila sebagai putrinya sendiri.
"Kamu tenang yah, kita coba buat bujuk Aqila," ujar Geo.
"Si frans hiks ... gak ada hati hiks ... dia sakitin Aqila hiks ... sampe melendung begitu!' isak Ane.
Geo menggaruk pelipisnya yang tak gatal, di kala begini istrinya masih saja membuat dirinya ingij tertawa ataukah harusnya menangis.
Tak berselang lama, mereka pun sampai di apartemen Aqila. Geo dan Ane pun segera masuk, terlebih Ane yang berlari membuat Geo menggelengkan kepalanya.
DUGH!
DUGH!
DUGH!
"Aqila buka sayang, ini mamah!" pinta Ame.
DUGH!
DUGH!
Cklek!
Ane tersenyum ketika melihat pintu itu terbuka, tapi seketika raut wajahnya berubah ketika melihat bahwa bukan Aqila yang membukanya
"Mah, salah kamar!" ujar Geo sambil menatap sang istri.
"Ha-ha .. salah?" bingung Ane sambil menatap pria yang kini tengah menatanya bingung.
"Eh maaf pak, salah kamar," ujar Ane merasa tak enak.
Geo menarik istrinya untuk ke kamar sebelah, dia memencet bell dan tak lama keluarlah Rani yang menatap mereka dengan senyum tipis.
"Aqila nya ada?" tanya Ane.
"Waduh, tadi ada papahnya non Qila kesini. Terus dia bawa non Qila pergi," ujar Rani.
Ane menatap Geo begitu pun sebaliknya, mereka kembali melihat bi Rani yang sedang menatap mereka bingung.
"Papah?" heran Ane.
"Iya, dia CEO perusahaan Wesley Company. Non Qila manggilnya papah tadi," ujar Rani.
Ane tertegun, dia menatap Geo yang sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu akrab sama Lia kan? telpon dia, Lia kan anaknya Alden. Suruh Lia bujuk papahnya itu untuk membuka gerbang buat kita, karena pasti pria itu telah mewanti para bawahannya untuk menjaga gerbang dari kita. Lebih pada kita berperang," pinta Geo.
Pasalnya, Zanna Liana Wesley merupakan istri dari Leon Elvish yang merupakan putra pertama Ane dengan mantan suaminya.
Ane mengangguk, dia menjauh dan menelpon Lia. Geo pun hanya menatap istrinya yang sibuk menelpon menantu mereka itu.
"Gimana?" tahya Geo setelah Ane menelponnya Lia.
"Udah, ayok! kita langsung kesana,"
Geo mengangguk, mereka berjalan keluar dari bangunan apartemen. Namun, saat mereka akan memasuki mobil Ane kembali di telfon oleh Lia sehingga di harus mengangkatnya.
"Halo,"
Tak kunjung mendapat jawaban, Ane kembali berbicara.
"Halo, Lia kamu baik-baik aja nak? kok diam aja sayang?"
Geo menatap istrinya bingung, dia mendekati sang istri yang kini juga tengah kebingungan.
"Mah, apakah Lia telah berbicara pada papahnya?"
"Nanti pah bentar, ini menantu kita telpon sebentar. Mamah takut Lia kenapa-napa,"
"Menantu? mamah?"
Seketika tubuh Ane membeku, netranya membulat sempurna ketika mendengar suara berat dari telponnya.
"Mamah? siapa anda hah? kenapa anda menelpon istri saya?"
"Le ... Leon?" kaget Ane.
**Kita ngulang dulu yah biar gak bingung oke😉, tapi tenang ada sedikit tambahan yang berbeda.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN KAKAK🤩**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
YNa Msa
Mama Ane 😁😁
2024-06-24
0
Astri
aku pusing bacanya mgkin krn gak baca novel yg sebelum ini
2024-06-20
0
Leng Loy
Terbongkar semuanya
2024-03-20
0