Aqila sudah kembali ke apartemennya, setelah perdebatan dengan Elbert dan pria itu pulang dengan kekecewaan terhadap sang kakak.
"Maaf, maaf," begitulah lirihan Aqila.
Wanita yang memakai baju wol itu termenung, dia memeluk dirinya sendiri di ruang tengah. Raut wajahnya terlihat tak hidup seakan-akan dirinya seperti robot yang tak memiliki nyawa.
"Aku kecewa sama kakak,"
Ucapan Elbert terngiang di otaknya, dia semakin menangis dan memeluk dirinya erat.
"Aku hanya mengecewakan kalian hiks ... aku hanya mengecewakan kalian hiks," isak Aqila.
Aqila kembali teringat ucapan sang dokter tadi siang, tangannya menyentuh perutnya yang masih datar. Seketika sudut bibirnya terangkat membuat senyuman, tapi sedetik kemudian dia kembali menangis kala teringat jika dirinya hamil di luar nikah.
"Kenapa kamu datang di saat seperti ini hiks ... kamu datang di waktu yang tidak tepat hiks ...," isak Aqila.
Malam itu, Aqila tertidur dengan hanya memeluk dirinya sendiri bersaman dengan janin yang kini bersemayam di rahimnya.
Janin, calon anak dari sang King Ateez yang tak mengakui nya.
***
"Elbert ada apa denganmu? kenapa kau terlihat murung seperti itu?" tanya Amora pada sang putra yang kini bersandar di pembatas balkon kamarnya.
Elbert menoleh, dia tersenyum menatap Amora yang kini membelai rambutnya.
"Gak mom, cuma masalah kerjaan aja," ujar Elbert.
"Boong itu mommy, pacti ladi meliang dia," ujar Ravin yang baru saja masuk dengan botol susu yang setia di apitan tangannya.
Amora menatap Elbert khawatir, dia mengecek suhu anaknya karena takut sang anak meriang.
"Aduuuhh mommy ngapain sih, Ravin kok di denger," kesal Elbert.
"Kamu beneran sakit?" panik Amora
"Ih! butan cakit lahil mommy tapi cakit batin, meliang dia melindukan kacih cayang. Kacian domblo dali lahil," oceh Ravin.
Elbert menatap kesal ke arah Ravin, sedangkan Amora sudah tertawa hingga dia memegang perutnya karena sakit.
"Kau bocah nakal, kau pun sama jomblo nya!" kesal Elbert.
"Enak aja, Lavin tan punya Cia," bela Ravin.
"Sudah-sudah, ayo makan malam. Ravin segera ke kamar, kau sudah makan tadi kan. Habiskan susumu, jangan kau buang ingat!" titah Amora.
Ravin mengangguk, dia berjalan keluar sambil mengedot botol susunya. Langkahnya terhenti di ruang mainan, dia melangkahkan kaki mungilnya ke ruangan itu.
"Dali pada tidul, mending Lavin main," gumamnya.
Ravin pun memainkan legonya, dia menyusun lego tersebut dengan serius dan tak menyadari Jika seorang anak kecil perempuan tengah menatapnya kesal.
"LAVIIINNN!"
Lego yang Ravin susun sudah hancur karena terkejut, dia menoleh menatap seorang anak perempuan yang seumuran dengannya.
"Cia napa dicini?" heran Ravin.
Gracia seorang anak perempuan berusia 3 tahun yang merupakan anak angkat Alden dan Amora. Mereka mengadopsinya lantaran saat itu Cia telah kehilangan semua keluarganya di medan perang.
"Sehalusna Cia yang tanya, Lavin tenapa di cini. Tadi mommy kan culuh kita tidul, kebulu daddy pulang loh. Lavin mau di tunciin di kandang mbee lagi?" ancam Cia.
Ravin teringat kala Alden menguncinya di kanding kambing fan kambing tersebut malah mengotorinya dengan kotoran kambing yang mana membuat Ravin trauma.
"Iiihhh nggak! Lavin nda mau,"
"Yaudah! ayo tidul, tadi katana mau tidul di kamalna mommy cama daddy. Kalo Lavin nda mau tidul duga yaudah Cia tidul di kamalna kak Lola," ajak Cia.
Ravin menurut, dia kembali memasukkan dot botolnya dan menggandeng lengan Cia ke kamar orang tua mereka.
Sedangkan kini di meja makan tampak Elbert tak bersemangat, dia bingung akan berbicara mengenai Aqila seperti apa dengan sang mommy.
"El kenapa sayang? makanannya gak enak?" khawatir Amora.
ELbert menggeleng, dia menyuapkan nasi tersebut walau seperti enggan menelannya.
"Oh iya tadi kata sekretaris kamu, siang tadi kamu ke kantor Aqila buat ngajak dia makan siang?" tanya Amora di sela makan mereka.
"Iya ... tapi gak jadi, kak Aqila mendadak ada urusan," ujar Elbert.
"Ooh begitu, besok kamu samperin ke apartemennya gih. Belakangan ini perasaan mommy gak enak, kamu cek dia yah disana," pinta Amora.
Elbert mengangguk, perasaan sang mommy pada Aqila memang benar bahwa Aqila kini tak baik-baik aja. Dirinya jadi khawatir pada kakaknya itu, apa yang sedang Aqila buat saat ini?
"Adikmu sudah menikah, lalu kamu kapan El?" tanya Amora.
Lia, adiknya telah menikah dengan seorang jendral beberapa waktu lalu.
"Mom, aku tak ingin membahas itu," ujar Elbert.
"Hahaha, mommy ingin juga cucu darimu El. Umur mommy akan semakin tua kau tau?" ujar Amora.
"Iya benar, tapi ku berharap umur mommy panjang hingga mendapati cucu dan cicit mommy," ujar Elbert.
Amora tersenyum dan mengangguk, itu adalah harapan dia dan suaminya. Dirinya ingin menghadiri semua pernikahan putra-putrinya, dirinya ingin menjadi saksi pernikahan mereka.
"SAYANG! AKU PULAANG!"
Amora langsung berdiri ketika suaminya masuk kedalam ruang makan, dia memeluk suaminya begitu pula dengan Alden.
Sementara para anak-anaknya hanya menatapnya karena hal itu sudah biasa bagi mereka.
BUGH!
"Hai bro, apa masa jomblo mu sudah tuntas?" ledek Alden setelah menepuk punggung ELbert dengan keras.
"Daddy, anaknya lagi makan loh," tegur Amora.
Alden pun hanya cengengesan, dia melepas jasnya dan duduk di bangkunya. Sang istri pun dengan cekatan mengambil suaminya makan.
"Oh iya bagaimana kabar Aqila?" tanya Alden.
"Ck, setiap hari aku kerja dan disini bersama kalian. Bagaimana aku tahu kabarnya," kesal Elbert.
"Santai saja, kau bilang bukan jika kau akan mengajaknya makan siang. Ku kira kau menemuinya," ujar Alden..
Elbert hanya menggeleng, melihat hal itu Alden pun langsung fokus pada makanannya.
"Tumben duo onar udah gak ada suaranya," ujar Alden di sela makannya.
"Udah tidur, tadi aku udah suapin makan berdua sama Cia. Terus aku kasih susu dan mereka ke kamar," terang Amora.
Alden mengangguk, dia kembali melanjutkan makannya. Namun baru beberapa saat Alden kembali membuka suara yang mana membuat yang lain kesal.
"Habis ini telfon Aqila sayang, aku ingin berbicara dengannya,"
"JANGAN!" sentak Elbert.
Tanggapan Elbert membuat mereka semua menatapnya dengan bingung, bahkan kini Elbert merasa jika dirinya salah bicara.
"Apa maksudmu? kenapa kamu malah menghalangi kita untuk menelpon Aqila?" heran Amira.
"Iya abang aneh banget, biasanya juga paling seneng kalo daddy nelpon kak Aqila," ujar Laskar.
Elbert tampak gugup, dia menggaruk leher belakangnya dan mengambil gelasnya.
"Ehm ... El sudah selesai makan, kalian bisa lanjutkan," ujar Elbert.
ELbert keluar dari ruang makan dengan membawa gelasnya meninggalkan semua orang yang menatapnya bingung.
"Kenapa dia?" tanya Alden.
"Aku gak tau, tadi pulang juga udah begitu anehnya," acuh Amora.
Sedangkan Elbert, dia ke dapur untuk mengambil soda. Dirinya sangat tak tenang memikirkan Aqila apalagi dirinya sudah berbicara kasar padanya tadi.
"Kak Aqila gak berbuat nekat kan yah? kalau kak Aqila bunuh ...,".
"Gak! gak! positif thinking El, kak Qila gak mungkin setega itu apalagi darah dagingnya sendiri," tepis Elbert.
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
flowers city
😀😀😀😀😀🤣😄😄bocil sok tau
2024-12-07
1
Nanik Kusno
Aqila sendirian memeluk dukanya....😭😭😭
2024-10-10
1
Leng Loy
Elbert kok malah galakin Aqila, kasian tau Aqila itu korban
2024-03-20
0