Part 3 : Ateez

Aqila masuk ke apartemennya, dia terdiam sambil menatap apartemen yang ayah angkatnya berikan padanya.

"Memang pilihan papah Alden terbaik, tau aja kalau aku gak suka keramaian jadi dia memberiku apart yang seperti ini," gumam Aqila.

Tampak Apartemen Aqila sangat damai, hingga kebisingan jalan pun tak terdengar. Aqila pun menaruh kopernya, dia berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa.

"Huh ... rasanya sangat nyaman," lirih Aqila.

Aqila menyandarkan tubuhnya, rasa lelah bercampur letih membuatnya merasa nyaman tertidur di sofa itu.

DERTTT!

DERTTT!

Aqila dengan malas membuka kembali matanya, dia menatap ponselnya yang berada di genggamannya.

"Papah?" gumam Aqila saat melihat kontak siapa yang menelponnya.

Jempolnya segera menggeser tombol hijau, setelah itu dia menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.

"Halo sayang,"

"Halo pah," sahut Aqila dengan ceria.

"Apa kau sudah sampai? mommy dan papah akan ke apartemenmu," ujar Alden.

Aqila berdiri, dia mengelus lengan yang memegang telpon dan berdehem sebentar.

"Kayaknya jangan sekarang deh pah, bagaimana jika besok? sehabis dari kantor Elbert aku akan ke mansion kalian," bujuk Aqila.

"Hm ... baiklah, tampaknya kau sangat lelah," ujar Alden.

Aqila tersenyum, Alden tak tau saja jika dirinya lelah fisik dan hati akibat satu orang pria yang telah merusaknya.

"Baiklah, papah tutup telponnya," ujar Alden.

"Hm ... sampaikan pada mommy jika aku sudah sampai," ucap Aqila.

Sambungan terputus, Aqila menghela nafasnya dan menarik ponselnya kembali. Dia menatap layar ponselnya yang terdapat walpaper dirinya dan Frans.

"Mungkin memang kita tak di takdirkan bersama, semoga kamu mendapat yang lebih baik. Aku lelah ... perjuanganku cukup sampai sini," gumam Aqila.

Aqila mengganti walpapernya dengan yang lain, dia tak ingin bayang-bayang Frans kembali menghiasi hari-harinya.

Air mata Aqila mendadak kembali jatuh, otaknya berputar mengenai kenangan dirinya bersama Frans. Bagaimana Frans menjaganya, bagaimana Frans cuek dengannya namun menunjukkan perhatian yang luar biasa.

"Kenapa cinta sesakit ini," gumam Aqila.

Aqila menghapus kasar air matanya, berjalan menuju gorden besar dan membukanya sehingga tampak lah kota jakarta yang sangat indah.

"Jika kembaliku kesini membawa duka, izinkan ku tetap disini menggapai suka," gumam Aqila.

***

Seorang pria dengan balutan jas biru dongker memasuki sebuah mansion, banyak sekali orang berpakaian hitam memegang senjata yang menyapanya patuh.

"Selamat datang King," ujar seorang pria dengan jaket hitamnya.

Pria itu yang tak lain adalah Steve Frans Gevonac, seorang pemimpin mafia yang bernama Ateez. Julukannya disebut King, pemimpin Ateez yang memiliki sifat wibawa tegas, dan dingin.

Mafia Ateez adalah Mafia yang berada di bawah naungan pemerintahan, tugas mereka adalah melindungi dan pemberantas mafia yang merusak.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Frans dengan dingin.

"Tidak ada king," ujarnya.

Frans mengawasi sekitar, memang tempat tersebut tak ada tanda-tanda sesuatu terjadi. Tapi dia merasakan bahwa ada terjadi sesuatu sebelum dirinya datang.

"Jangan berbohong padaku Kenan!" sentak Frans.

Kenan Kelvin yang merupakan tangan kanan Ateez, dia dipercaya Frans untuk memantaunya kala dirinya tak bisa memantau.

"Hahaha baiklah, penglihatanmu jeli juga. Benar, si reyot itu kesini dan membawa anak buahnya. Tapi anehnya dia tak menyerang dan hanya mencarimu saja," terang Kenan.

"Ck, yang kau bilang reyot itu paman ku bodoh!" kesal Frans.

Lagi-lagi kenan terkekeh, "Dia musuh Ateez bukan? lalu apa salahnya, dan lagi pula dia mengancam nyawamu dan keluargamu. Apakah orang seperti itu pantas dia anggap paman?"

"Ck terserah kau saja, apa saja yang dia bilang?" to the point Frans.

"Oh dia bilang jika kau belum mentandatanganinya juga dia akan mengibarkan bendera perang untuk Ateez," ujar Kenan.

Frans mengangguk singkat, dia berjalan meninggalkan Kenan yang melongo melihatnya.

Sambil menunjuk dirinya sendiri, Kenan berujar. "Gak ada bilang terima kasih gitu, kan udah gue kasih infonya," gumam Kenan.

Sedangkan Frans, dia berjalan ke arah pintu yang memang lebih besar dari yang lain. Dia mengulurkan tangannya dan membuka pintu itu dengan sidik jarinya.

KLEK!

Pintu itu pun terbuka, Frans berjalan masuk kedalam ruangan tersebut. Netranya menelisik ruangan itu dengan waspada.

Setelah di rasa aman, Frans kembali menutup pintu. Dengan gerakan lambat dia berjalan menuju ranjang.

Langkah nya terhenti ketika melihat figura yang berada di meja nakasnya, dia mendekat ke arah nakasnya dan mengambil figura itu.

Terlihat seorang wanita cantik tengah tersenyum sambil memakan es krim. Senyuman nya membuat kedua sudut bibir Frans terangkat. Namun, Frans menyadari jika dirinya tak akan pernah kembali pada wanita itu.

"Kecewa ... itulah yang aku rasakan, kamu menutupi siapa jati diri kamu yang sebenarnya. Mungkin memang kita tidak di takdirkan bersama, keselamatanmu lebih penting. Lebih baik kita berpisah dengan kau membenciku agar nyawamu tak terancam," gumam Frans.

Frans kembali meletakkan foto itu, dia segera merebahkan dirinya karena badannya sangat letih. Di tambah dirinya harus mengurusi masalahnya dengan sang paman.

"Frans apa kau tahu, aku baru saja di terima di universitas yang sama denganmu,"

"Frans! kau mendengarku? selalu saja begitu, apa aku harus membawamu berobat ke dokter agar kau tak terlalu dingin padaku?"

"Frans jangan jual mahal gitu dong, nanti aku cicil loh,"

Ingatan Frans berputar mengenai kenangannya dengan Aqila, bayangan Aqila yang tersenyum lembut menatapnya tak dapat Frans lupakan.

Mata yang kini terpejam akhirnya terbuka kembali, tak ada yang melihat jika pria dingin dan kuat itu tengah menangis.

"Apa begini yah rasanya cinta tapi terhalang karena kondisi, jika dia terus bersamaku maka bisa saja aku akan kehilangan dia selama-lamanya. Lebih baik aku merelakannya bersama yang lain dari pada aku kehilangannya selama-lamanya." lirih Frans.

Tangan Frans terangkat menghapus air matanya yang berada di pelipisnya, dia mendudukkan dirinya dan mengusap kasar wajahnya.

Frans merasa tubuhnya perlu mandi, dia berdiri dan melepas jas beserta dasinya. Setelah itu dia menaruhnya di ranjang dan kembali membuka kemejanya hinga terpampanglah otot kekarnya.

Frans berjalan ke kamar mandi, dia masuk kamar mandi dan melepas pakaian yang tersisa.

Frans menghidupkan shower, dia merasakan sensasi air yang mengguyur tubuhnya. Dirinya merasa lebih segar setelah air tersebut membasahi kepalanya.

"But you have hurt me!"

"But you have hurt me!"

"But you have hurt me!"

"ARGHH!"

Frans sungguh frustasi, ucapan Aqila masih terngiang di pikirannya. Dia telah menyakiti wanita itu, wanita yang telah berada di sampingnya selama bertahun-tahun.

Frans memegang dadanya, rasa sakit membuatnya kesulitan bernafas. Frans memukul dadanya agar rasa sakit itu berkurang.

"Stop! this hurts," lirih Frans.

(Berhenti! ini sungguh menyakitkan,"

Setelah rasa sakitnya berkurang, Frans kembali melanjutkan mandinya.

Frans keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di pinggangnya, dia berjalan menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian nya.

Saat dirinya akan mengambil sebuah kaos hitam, tiba-tiba sebuah suara terngiang di kepalanya.

"Jangan memakai kaos hitam, kau terlihat sangat tampan. Aku tak mau para lebah itu menempel padamu,"

Kedua sudut bibir Frans terangkat, lagi-lagi dia tak bisa melupakan ocehan Aqila mengenai dirinya.

"Hais ... sadarlah, kau harus melupakan nya." ujar Frans sambil memukuli kepalanya.

**PENCET TOMBOL LIKE !

LIKE !

LIKE !

HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.

VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**

Terpopuler

Comments

Yulia

Yulia

oh ternyata itu alasan Frans,maaf ya Frans udh salah sangka🙈

2024-11-02

1

Vera Wilda

Vera Wilda

Apa pun alasan mu tp kau telah menyakiti Aqilla Frans

2025-02-03

0

+62 88

+62 88

alter pencet! 😆

2025-03-20

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1 : Pulang kembali
2 Part 2 : Menyakitkan
3 Part 3 : Ateez
4 Part 4 : Elbert
5 Part 5 : Keluarga Wesley
6 Part 6 : Kesalahan satu malam
7 Part 7 : pertukaran yang menjanjikan
8 Part 8 : Daniel
9 Part 9 : Hamil
10 Part 10 : Gugurkan!
11 Part 11 : Kecewa
12 Part 12 : Jangan lakukan itu kak!
13 Part 13 : Keanehan Frans
14 Part 14: Perkara susu
15 Part 15 : Susu pemberian calon papa
16 Part 16 : USG
17 Part 17: Kepolosan Frans
18 Part 18: Terbongkar
19 Part 19: Tanggung jawab
20 Part 20: Ikan cupang
21 Part 21: Elvio
22 part 22: Married
23 Part 23: Malam pertama
24 Part 24: Siapa?
25 Part 25: Cleo
26 Part 26: Aku tidak suka
27 Part 27: Curhatan dua suami
28 Part 28: ngidam ala calon bapak
29 Part 29: Nasi goreng buatan Elbert
30 Part 30: Keistimewaan Ravin
31 PERMISI BACA DULU SEBENTAR YAH
32 Part 31: Mateo
33 Part 32: Gangguan Frans
34 Part 33: Kenapa dia disini?
35 Part 34: lagi-lagi ulah Ravin
36 Part 35: Bawahan Daniel
37 Part 36: Konflik pasutri
38 Visual
39 Part 37: Ngidamnya kedua istri sultan
40 Part 38: Kebahagiaan Ane
41 Part 39: Kau kenal Elvio?
42 Part 40: Tentang Cleo
43 Part 41: Flashback Cleo
44 Part 42: Ravin sakit
45 Part 43: Gara-gara rujak
46 Part 44: Mencari bukti 1
47 Part 45: Hukuman Ravin
48 Part 46: Komplotan
49 Part 47: Action
50 Part 48: Frans
51 Part 49: Raffa
52 Part 50: Benda keramat
53 Part 51: Abang mungut ciapa?
54 Part 52: Raffa
55 Part 53: Sampai berapa bulan?
56 Part 54: Drama di rumah sakit
57 Part 55: Frans yang cengeng
58 Part 56: Ravin Keldil
59 Part 57: Dokter Andin
60 Part 58: Hak Frans
61 Part 59: Ada apa dengan Raffa?
62 Part 60: Hot money
63 Part 61: 9 bulan menanti
64 Part 62: Bayiku
65 Part 63: Baby twins Castillo
66 Part 64: Baby Bent
67 Part 65: Audrey
68 Part 66: Zidan dan Kirana
69 Part 67: Reunian trio cadel
70 Part 68: Black
71 Part 69: Sky
72 Part 70: wajan koleksi milik Aqila
73 Part 71: siapa yang membebaskan Daniel?
74 Part 72: Bukan Lavin
75 Part 73: menjemput Sky
76 Part 74: Perdebatan adik kakak
77 Part 75: Tentang Aurora
78 Part 76: Lavin di jahili telus
79 Part 77: Penyerangan
80 Part 78: penyekapan Frans
81 Part 79: Keterkejutan Ica
82 Part 80: Mansion di serang
83 Part 81: kerja sama
84 Part 82: keadaan Frans
85 Part 83
86 Part 84
87 Part 85
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Part 1 : Pulang kembali
2
Part 2 : Menyakitkan
3
Part 3 : Ateez
4
Part 4 : Elbert
5
Part 5 : Keluarga Wesley
6
Part 6 : Kesalahan satu malam
7
Part 7 : pertukaran yang menjanjikan
8
Part 8 : Daniel
9
Part 9 : Hamil
10
Part 10 : Gugurkan!
11
Part 11 : Kecewa
12
Part 12 : Jangan lakukan itu kak!
13
Part 13 : Keanehan Frans
14
Part 14: Perkara susu
15
Part 15 : Susu pemberian calon papa
16
Part 16 : USG
17
Part 17: Kepolosan Frans
18
Part 18: Terbongkar
19
Part 19: Tanggung jawab
20
Part 20: Ikan cupang
21
Part 21: Elvio
22
part 22: Married
23
Part 23: Malam pertama
24
Part 24: Siapa?
25
Part 25: Cleo
26
Part 26: Aku tidak suka
27
Part 27: Curhatan dua suami
28
Part 28: ngidam ala calon bapak
29
Part 29: Nasi goreng buatan Elbert
30
Part 30: Keistimewaan Ravin
31
PERMISI BACA DULU SEBENTAR YAH
32
Part 31: Mateo
33
Part 32: Gangguan Frans
34
Part 33: Kenapa dia disini?
35
Part 34: lagi-lagi ulah Ravin
36
Part 35: Bawahan Daniel
37
Part 36: Konflik pasutri
38
Visual
39
Part 37: Ngidamnya kedua istri sultan
40
Part 38: Kebahagiaan Ane
41
Part 39: Kau kenal Elvio?
42
Part 40: Tentang Cleo
43
Part 41: Flashback Cleo
44
Part 42: Ravin sakit
45
Part 43: Gara-gara rujak
46
Part 44: Mencari bukti 1
47
Part 45: Hukuman Ravin
48
Part 46: Komplotan
49
Part 47: Action
50
Part 48: Frans
51
Part 49: Raffa
52
Part 50: Benda keramat
53
Part 51: Abang mungut ciapa?
54
Part 52: Raffa
55
Part 53: Sampai berapa bulan?
56
Part 54: Drama di rumah sakit
57
Part 55: Frans yang cengeng
58
Part 56: Ravin Keldil
59
Part 57: Dokter Andin
60
Part 58: Hak Frans
61
Part 59: Ada apa dengan Raffa?
62
Part 60: Hot money
63
Part 61: 9 bulan menanti
64
Part 62: Bayiku
65
Part 63: Baby twins Castillo
66
Part 64: Baby Bent
67
Part 65: Audrey
68
Part 66: Zidan dan Kirana
69
Part 67: Reunian trio cadel
70
Part 68: Black
71
Part 69: Sky
72
Part 70: wajan koleksi milik Aqila
73
Part 71: siapa yang membebaskan Daniel?
74
Part 72: Bukan Lavin
75
Part 73: menjemput Sky
76
Part 74: Perdebatan adik kakak
77
Part 75: Tentang Aurora
78
Part 76: Lavin di jahili telus
79
Part 77: Penyerangan
80
Part 78: penyekapan Frans
81
Part 79: Keterkejutan Ica
82
Part 80: Mansion di serang
83
Part 81: kerja sama
84
Part 82: keadaan Frans
85
Part 83
86
Part 84
87
Part 85

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!