Aqila masuk ke apartemennya, dia terdiam sambil menatap apartemen yang ayah angkatnya berikan padanya.
"Memang pilihan papah Alden terbaik, tau aja kalau aku gak suka keramaian jadi dia memberiku apart yang seperti ini," gumam Aqila.
Tampak Apartemen Aqila sangat damai, hingga kebisingan jalan pun tak terdengar. Aqila pun menaruh kopernya, dia berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa.
"Huh ... rasanya sangat nyaman," lirih Aqila.
Aqila menyandarkan tubuhnya, rasa lelah bercampur letih membuatnya merasa nyaman tertidur di sofa itu.
DERTTT!
DERTTT!
Aqila dengan malas membuka kembali matanya, dia menatap ponselnya yang berada di genggamannya.
"Papah?" gumam Aqila saat melihat kontak siapa yang menelponnya.
Jempolnya segera menggeser tombol hijau, setelah itu dia menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.
"Halo sayang,"
"Halo pah," sahut Aqila dengan ceria.
"Apa kau sudah sampai? mommy dan papah akan ke apartemenmu," ujar Alden.
Aqila berdiri, dia mengelus lengan yang memegang telpon dan berdehem sebentar.
"Kayaknya jangan sekarang deh pah, bagaimana jika besok? sehabis dari kantor Elbert aku akan ke mansion kalian," bujuk Aqila.
"Hm ... baiklah, tampaknya kau sangat lelah," ujar Alden.
Aqila tersenyum, Alden tak tau saja jika dirinya lelah fisik dan hati akibat satu orang pria yang telah merusaknya.
"Baiklah, papah tutup telponnya," ujar Alden.
"Hm ... sampaikan pada mommy jika aku sudah sampai," ucap Aqila.
Sambungan terputus, Aqila menghela nafasnya dan menarik ponselnya kembali. Dia menatap layar ponselnya yang terdapat walpaper dirinya dan Frans.
"Mungkin memang kita tak di takdirkan bersama, semoga kamu mendapat yang lebih baik. Aku lelah ... perjuanganku cukup sampai sini," gumam Aqila.
Aqila mengganti walpapernya dengan yang lain, dia tak ingin bayang-bayang Frans kembali menghiasi hari-harinya.
Air mata Aqila mendadak kembali jatuh, otaknya berputar mengenai kenangan dirinya bersama Frans. Bagaimana Frans menjaganya, bagaimana Frans cuek dengannya namun menunjukkan perhatian yang luar biasa.
"Kenapa cinta sesakit ini," gumam Aqila.
Aqila menghapus kasar air matanya, berjalan menuju gorden besar dan membukanya sehingga tampak lah kota jakarta yang sangat indah.
"Jika kembaliku kesini membawa duka, izinkan ku tetap disini menggapai suka," gumam Aqila.
***
Seorang pria dengan balutan jas biru dongker memasuki sebuah mansion, banyak sekali orang berpakaian hitam memegang senjata yang menyapanya patuh.
"Selamat datang King," ujar seorang pria dengan jaket hitamnya.
Pria itu yang tak lain adalah Steve Frans Gevonac, seorang pemimpin mafia yang bernama Ateez. Julukannya disebut King, pemimpin Ateez yang memiliki sifat wibawa tegas, dan dingin.
Mafia Ateez adalah Mafia yang berada di bawah naungan pemerintahan, tugas mereka adalah melindungi dan pemberantas mafia yang merusak.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Frans dengan dingin.
"Tidak ada king," ujarnya.
Frans mengawasi sekitar, memang tempat tersebut tak ada tanda-tanda sesuatu terjadi. Tapi dia merasakan bahwa ada terjadi sesuatu sebelum dirinya datang.
"Jangan berbohong padaku Kenan!" sentak Frans.
Kenan Kelvin yang merupakan tangan kanan Ateez, dia dipercaya Frans untuk memantaunya kala dirinya tak bisa memantau.
"Hahaha baiklah, penglihatanmu jeli juga. Benar, si reyot itu kesini dan membawa anak buahnya. Tapi anehnya dia tak menyerang dan hanya mencarimu saja," terang Kenan.
"Ck, yang kau bilang reyot itu paman ku bodoh!" kesal Frans.
Lagi-lagi kenan terkekeh, "Dia musuh Ateez bukan? lalu apa salahnya, dan lagi pula dia mengancam nyawamu dan keluargamu. Apakah orang seperti itu pantas dia anggap paman?"
"Ck terserah kau saja, apa saja yang dia bilang?" to the point Frans.
"Oh dia bilang jika kau belum mentandatanganinya juga dia akan mengibarkan bendera perang untuk Ateez," ujar Kenan.
Frans mengangguk singkat, dia berjalan meninggalkan Kenan yang melongo melihatnya.
Sambil menunjuk dirinya sendiri, Kenan berujar. "Gak ada bilang terima kasih gitu, kan udah gue kasih infonya," gumam Kenan.
Sedangkan Frans, dia berjalan ke arah pintu yang memang lebih besar dari yang lain. Dia mengulurkan tangannya dan membuka pintu itu dengan sidik jarinya.
KLEK!
Pintu itu pun terbuka, Frans berjalan masuk kedalam ruangan tersebut. Netranya menelisik ruangan itu dengan waspada.
Setelah di rasa aman, Frans kembali menutup pintu. Dengan gerakan lambat dia berjalan menuju ranjang.
Langkah nya terhenti ketika melihat figura yang berada di meja nakasnya, dia mendekat ke arah nakasnya dan mengambil figura itu.
Terlihat seorang wanita cantik tengah tersenyum sambil memakan es krim. Senyuman nya membuat kedua sudut bibir Frans terangkat. Namun, Frans menyadari jika dirinya tak akan pernah kembali pada wanita itu.
"Kecewa ... itulah yang aku rasakan, kamu menutupi siapa jati diri kamu yang sebenarnya. Mungkin memang kita tidak di takdirkan bersama, keselamatanmu lebih penting. Lebih baik kita berpisah dengan kau membenciku agar nyawamu tak terancam," gumam Frans.
Frans kembali meletakkan foto itu, dia segera merebahkan dirinya karena badannya sangat letih. Di tambah dirinya harus mengurusi masalahnya dengan sang paman.
"Frans apa kau tahu, aku baru saja di terima di universitas yang sama denganmu,"
"Frans! kau mendengarku? selalu saja begitu, apa aku harus membawamu berobat ke dokter agar kau tak terlalu dingin padaku?"
"Frans jangan jual mahal gitu dong, nanti aku cicil loh,"
Ingatan Frans berputar mengenai kenangannya dengan Aqila, bayangan Aqila yang tersenyum lembut menatapnya tak dapat Frans lupakan.
Mata yang kini terpejam akhirnya terbuka kembali, tak ada yang melihat jika pria dingin dan kuat itu tengah menangis.
"Apa begini yah rasanya cinta tapi terhalang karena kondisi, jika dia terus bersamaku maka bisa saja aku akan kehilangan dia selama-lamanya. Lebih baik aku merelakannya bersama yang lain dari pada aku kehilangannya selama-lamanya." lirih Frans.
Tangan Frans terangkat menghapus air matanya yang berada di pelipisnya, dia mendudukkan dirinya dan mengusap kasar wajahnya.
Frans merasa tubuhnya perlu mandi, dia berdiri dan melepas jas beserta dasinya. Setelah itu dia menaruhnya di ranjang dan kembali membuka kemejanya hinga terpampanglah otot kekarnya.
Frans berjalan ke kamar mandi, dia masuk kamar mandi dan melepas pakaian yang tersisa.
Frans menghidupkan shower, dia merasakan sensasi air yang mengguyur tubuhnya. Dirinya merasa lebih segar setelah air tersebut membasahi kepalanya.
"But you have hurt me!"
"But you have hurt me!"
"But you have hurt me!"
"ARGHH!"
Frans sungguh frustasi, ucapan Aqila masih terngiang di pikirannya. Dia telah menyakiti wanita itu, wanita yang telah berada di sampingnya selama bertahun-tahun.
Frans memegang dadanya, rasa sakit membuatnya kesulitan bernafas. Frans memukul dadanya agar rasa sakit itu berkurang.
"Stop! this hurts," lirih Frans.
(Berhenti! ini sungguh menyakitkan,"
Setelah rasa sakitnya berkurang, Frans kembali melanjutkan mandinya.
Frans keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di pinggangnya, dia berjalan menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian nya.
Saat dirinya akan mengambil sebuah kaos hitam, tiba-tiba sebuah suara terngiang di kepalanya.
"Jangan memakai kaos hitam, kau terlihat sangat tampan. Aku tak mau para lebah itu menempel padamu,"
Kedua sudut bibir Frans terangkat, lagi-lagi dia tak bisa melupakan ocehan Aqila mengenai dirinya.
"Hais ... sadarlah, kau harus melupakan nya." ujar Frans sambil memukuli kepalanya.
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Yulia
oh ternyata itu alasan Frans,maaf ya Frans udh salah sangka🙈
2024-11-02
1
Vera Wilda
Apa pun alasan mu tp kau telah menyakiti Aqilla Frans
2025-02-03
0
+62 88
alter pencet! 😆
2025-03-20
0