Hari silih berganti, kini tepatnya 2 minggu setelah kejadian itu. Aqila pun menjalankan aktifitasnya seperti biasa, walau terkadang traumanya kambuh akibat kesalahan satu malam itu tapi Aqila bisa melewatinya.
"Bu! ibu!"
Aqila tersadar dari lamunannya, dia menatap asistennya yang sedang menatapnya dengan khawatir.
"Ah iya, kenapa?" linglung Aqila.
Mereka yang sedang meeting harus menunda karena Aqila tak juga merespon apa yang mereka bicarakan sehingga Syifa menatap Aqila khawatir.
"Ibu sakit?" tanya Syifa.
Aqila menggeleng. "Gak, saya gak sakit. Tadi pembahasannya sampai mana?" tanya balik Aqila.
Syifa pun menunjukkan apa yang mereka bahas, Aqila pun sesekali menyampaikan usulannya.
Selang setengah jam meeting pun selesai, Aqila Keluar bersama Syifa yang setia di sampingnya. Dapat di lihat bahwa Aqila tengah banyak pikirannya ditambah wajahnya yang terlihat sangat pucat.
"Bu, apa gak sebaiknya ibu pulang saja? saya khawatir ibu sakit," ujar Syifa bermaksud baik.
Aqila menggeleng, senyuman terhias di bibir pucatnya.
"Gak, saya gak papa. Saya hanya kurang minum air putih saja," sela Aqila.
Syifa tak bisa lagi membujuknya, dia hanya bisa memantau Aqila takutnya terjadi sesuatu pada wanita itu.
Sesampainya di ruangan Aqila, wanita itu pun langsung duduk di sofanya dan merebahkan kepalanya. Tangannya pun setia memijit pelipisnya.
Sedangkan sang asisten membawakan air untuknya dan menunggu sang atasan menyadari nya.
"Oh makasih Syifa," ujar Aqila yang kini sudah membuka matanya.
"Sama-sama bu," sahut Syifa.
Aqila menegakkan tubuhnya, tangannya terulur untuk mengambil gelas di meja depannya. Dia meminumnya seketika tenggorokannya berasa hangat akibat air hangat yang Syifa berikan.
"Apa ada kerjaan lagi sehabis ini?" tanya Aqila.
Syifa melihat jadwal mereka di Ipad miliknya, kemudian dia menggelengkan kepalanya menandakan bahwa tak ada lagi jadwal Aqila.
"Baguslah, aku akan ke kafe depan kantor. Aku ingin meminum kopi, apa kau mau ikut." ajak Aqila.
Syifa tampak menimbang, di satu sisi dia sangat malas keluar akibat panasnya matahari yang sangat terik tapi di sisi lain dirinya khawatir kepada bosnya itu.
"Kalau kau tidak mau tak apa, aku bisa sendiri. Lagi pula ini hanya di depan kantor," ujar Aqila.
"Aku ... aku ikut," seru Syifa.
Aqila tersenyum dan mengangguk, dia mengambil tasnya yang ada di meja dan beranjak lebih dulu.
Sementara Syifa, dia segera mengikuti bosnya itu.
Di depan kantor tampak banyaknya mobil dan motor yang berlalu lalang, Aqila dan Syifa pun akan menyebrang tapi kenapa banyak sekali mobil dan motor siang ini?
"Bu apa gak sebaiknya kita pesan online saja?" tanya Syifa.
"Aku ingin sekali minum kopi langsung disana," ujar Aqila.
Tepat saat mereka selesai bicara, keadaan sudah sedikit sepi sehingga mereka bisa menyebrang.
Namun, saat sampai di tengah jalan tiba-tiba Aqila merasa sesak di dadanya dan pandangannya pun memburam. Semuanya terlihat putih dan abu-abu. Bahkan Aqila berusaha menggapai tangan Syifa yang ada di sebelahnya.
Syifa pun memanggil nama bosnya itu tapi mendadak telinga Aqila seperti tak berfungsi, suara Syifa sangat samar dia dengarkan.
Tak lama pandangan Aqila pun menjadi gelap, dia jatuh dan Syifa pun menahan tubuhnya sehingga mereka mengundang orang lain untuk menolong Aqila.
"Aduh kenapa tuh neng?" tanya seorang bapak-bapak.
"Pingsan pak, bisa bantu saya carikan taksi? saya akan membawanya ke rumah sakit," ujar Syifa.
Bapak tersebut mengangguk, dia pergi mencari kan taksi sementara Syifa berusaha untuk membangunkan Aqila.
"Ada apa ini?" suara berat nan tegas itu membuat Syifa mendongak.
Silaunya matahari menghalangi pandangan Syifa sehingga di harus menyipitkan matanya.
"Kenapa dengan dia?" tanya pria itu sambil berjongkok di dekat Syifa.
"Anda gak liat bos saya pingsan?" sinis Syifa.
Pria itu tak menjawab, dia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Aqila. Seketika raut terkejut tercetak jelas di wajah pria itu.
"Aqila?" kejutnya.
"Kok anda bisa tau nama bos saya?" bingung Syifa.
Pria itu tak menjawab, dia segera menyingkirkan Syifa dan menggendong Aqila.
"Bapak mau di bawa kemana bos saya pak!" seru Syifa.
Pria itu tak menjawab, dia hanya menggendong Aqila dan membawa masuk ke mobilnya.
Syifa akan mengejarnya, tapi anak buah pria itu menghalanginya sehingga Syifa harus menatap kepergian mobil yang membawa Aqila.
Dertt!!
Syifa menepi, dia mencari asal suara ponsel dan ternyata itu adalah ponsel Aqila yang ada di tas wanita itu.
Syifa pun membuka tas Aqila dan mengambil ponselnya, terlihat disana kontak bernama Elbert menghubunginya.
"Gue angkat gak yah?" gumam Syifa.
"Angkat enggak angkat enggak? sopan gak sih?" ragu Syifa.
Ponsel itu tak berhenti berdering sehingga terpaksa Syifa mengangkatnya.
"Halo kak, kau kemana saja? aku sungguh khawatir padamu, oh ya apa kau sudah makan siang? ayo kita makan siang aku akan ..."
"Halo maaf tuan, ini Syifa asisten pribadi ibu Aqila," sela Syifa karena sedari tadi Elbert tak berhenti berbicara yang mana membuatnya kesal.
"Apa? apa aku salah menghubungi orang?" gumam Elbert.
"Maaf tuan, anda menghubungi ibu Aqila tapi ponselnya ada di saya sementara ibu Aqila sedang di bawah kerumah sakit,"
"APA? DIMANA RUMAH SAKITNYA AKU AKAN KESANA SEGERA," sentak Elbert.
Syifa tampak berpikir, setahunya rumah sakit terdekat adalah rumah sakit Kasih yang tak jauh dari kantor. Pasti pria tadi membawa Aqila kesana bukan?
"Rumah sakit Kasih, seorang pria membantunya membawanya ke rumah sakit. Kau bisa kesana," ujar Syifa dan mematikan ponselnya.
Syifa pun menaiki taksi yang tadi sempat di hentikan oleh bapak yang hendak menolong Aqila, dia meminta sang supir untuk membawanya ke rumah sakit tujuannya saat ini.
Taksi itu pun membawanya ke rumah sakit tersebut, sesampainya disana Syifa membayar sang supir dan segera turun memasuki rumah sakit tersebut.
"Ruang UGD kan pasti?" gumam Syifa.
Syifa oun beranjak ke ruang UGD dan benar saja disana terdapat pria itu yang tengah menunggu dengan cemas. Jangan lupakan banyaknya orang berpakaian hitam yang menjaga pria tersebut.
"Mana bos gue?" sentak Syifa.
Mereka oun langsung menghadang Syifa, tapi pria itu menghalangi bawahannya untuk menghadang Syifa.
"Dia sedang di periksa, kau tak usah cemas," ujarnya.
"Lu siapa sih? kok seenaknya aja bawa bos gue?" sentak Syifa dengan kilatan kesal.
Pria itu mendekati Syifa, dia menatap Syifa yang mundur akibat takut dengan aura pria tersebut.
"Saya ... saya Steve Frans Gevonac, calon tunangan dari Aqeela Lawrance," ujar pria itu yang tak lain adalah Frans.
Tubuh Syifa menegang sempurna, dia baru saja berbicara kasar pada pimpinan mafia yang terkenal disini. Dia baru saja membentak pria itu, bagaimana jika ini hari terakhir nya?
"Gak usah takut, aku tak akan melukaimu hanya saja ... beri tahu aku mengapa bisa bosmu pingsan seperti tadi?" tanya Frans.
"Itu ... sedari kemarin ibu Aqila tampak kurang sehat, dia terus muntah-muntah dan wajahnya juga sangat pucat ... dia ... dia,"
CKLEK!
Frans dan Syifa merubah atensi mereka menatap sang dokter yang keluar dari ruang UGD.
"Suami pasien?" tanya sang dokter.
"Ehmm maaf dok, saya calon tunangannya," ujar Frans setelah menghampiri dokter itu.
Dokter tersebut tampak mengerutkan keningnya, dia menatap Frans dengan bingung.
"Saya bertanya dimana suami pasien bukan calon tunangannya, saya perlu bicara dengannya mengenai kandungan pasien," ujar sang dokter.
Mendadak tubuh Frans kaku, netranya membulat sempurna bahkan bahunya kini melemas akibat ucapan dari sang dokter.
"Ha ... hamil dok?" gugup Frans.
"Iya, pasien tengah mengandung. Pasien sudah sadar, dan saat saya tanyakan mengenai beberapa hal dapat saya simpulkan. jika memang pasien mengandung dengan usia kandungan 1 bulan, apa anda bukan suaminya?" ujar sang dokter.
Frans tampak menggelengkan kepalanya, dia mengepalkan tangannya seiring langkahnya bergerak mundur.
"Kita lakuin itu dua minggu yang lalu, bagaimana bisa satu bulan usia kandungannya. Apa benar jika Aqila sudah bermain di belakangku?" batin Frans.
"Untuk pemeriksaan selanjutnya kalian bisa membawa pasien ke dokter kandungan agar tahu lebih pasti. Kalau begitu saya permisi," ujar sang dokter dan setelah nya beranjak dari sana.
Setelah kepergian sang dokter Frans mengeraskan rahangnya, dia berjalan cepat menuju ruang UGD dan membuka pintunya dengan keras.
"Eh ... kok ngamuk?" gumam Syifa.
Syifa akan ikut masuk tapi para bawahan Frans menghalanginya karena mereka tau King mereka sedang dalam emosi yang tak stabil.
"Iiihh apaan sih jangan pegang-pegang! gak halal!" sinis Syifa.
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Ririn
bukannya udh mantan
2024-12-08
0
Edah J
Ngitung nya bukan pas ngelakuin bangbanggg🙄🤦🤦🤦
2024-10-15
0
evvylamora
begini deh kl laki2 yg ga bs ngitung HPL
2024-09-03
0