Part 9 : Hamil

Hari silih berganti, kini tepatnya 2 minggu setelah kejadian itu. Aqila pun menjalankan aktifitasnya seperti biasa, walau terkadang traumanya kambuh akibat kesalahan satu malam itu tapi Aqila bisa melewatinya.

"Bu! ibu!"

Aqila tersadar dari lamunannya, dia menatap asistennya yang sedang menatapnya dengan khawatir.

"Ah iya, kenapa?" linglung Aqila.

Mereka yang sedang meeting harus menunda karena Aqila tak juga merespon apa yang mereka bicarakan sehingga Syifa menatap Aqila khawatir.

"Ibu sakit?" tanya Syifa.

Aqila menggeleng. "Gak, saya gak sakit. Tadi pembahasannya sampai mana?" tanya balik Aqila.

Syifa pun menunjukkan apa yang mereka bahas, Aqila pun sesekali menyampaikan usulannya.

Selang setengah jam meeting pun selesai, Aqila Keluar bersama Syifa yang setia di sampingnya. Dapat di lihat bahwa Aqila tengah banyak pikirannya ditambah wajahnya yang terlihat sangat pucat.

"Bu, apa gak sebaiknya ibu pulang saja? saya khawatir ibu sakit," ujar Syifa bermaksud baik.

Aqila menggeleng, senyuman terhias di bibir pucatnya.

"Gak, saya gak papa. Saya hanya kurang minum air putih saja," sela Aqila.

Syifa tak bisa lagi membujuknya, dia hanya bisa memantau Aqila takutnya terjadi sesuatu pada wanita itu.

Sesampainya di ruangan Aqila, wanita itu pun langsung duduk di sofanya dan merebahkan kepalanya. Tangannya pun setia memijit pelipisnya.

Sedangkan sang asisten membawakan air untuknya dan menunggu sang atasan menyadari nya.

"Oh makasih Syifa," ujar Aqila yang kini sudah membuka matanya.

"Sama-sama bu," sahut Syifa.

Aqila menegakkan tubuhnya, tangannya terulur untuk mengambil gelas di meja depannya. Dia meminumnya seketika tenggorokannya berasa hangat akibat air hangat yang Syifa berikan.

"Apa ada kerjaan lagi sehabis ini?" tanya Aqila.

Syifa melihat jadwal mereka di Ipad miliknya, kemudian dia menggelengkan kepalanya menandakan bahwa tak ada lagi jadwal Aqila.

"Baguslah, aku akan ke kafe depan kantor. Aku ingin meminum kopi, apa kau mau ikut." ajak Aqila.

Syifa tampak menimbang, di satu sisi dia sangat malas keluar akibat panasnya matahari yang sangat terik tapi di sisi lain dirinya khawatir kepada bosnya itu.

"Kalau kau tidak mau tak apa, aku bisa sendiri. Lagi pula ini hanya di depan kantor," ujar Aqila.

"Aku ... aku ikut," seru Syifa.

Aqila tersenyum dan mengangguk, dia mengambil tasnya yang ada di meja dan beranjak lebih dulu.

Sementara Syifa, dia segera mengikuti bosnya itu.

Di depan kantor tampak banyaknya mobil dan motor yang berlalu lalang, Aqila dan Syifa pun akan menyebrang tapi kenapa banyak sekali mobil dan motor siang ini?

"Bu apa gak sebaiknya kita pesan online saja?" tanya Syifa.

"Aku ingin sekali minum kopi langsung disana," ujar Aqila.

Tepat saat mereka selesai bicara, keadaan sudah sedikit sepi sehingga mereka bisa menyebrang.

Namun, saat sampai di tengah jalan tiba-tiba Aqila merasa sesak di dadanya dan pandangannya pun memburam. Semuanya terlihat putih dan abu-abu. Bahkan Aqila berusaha menggapai tangan Syifa yang ada di sebelahnya.

Syifa pun memanggil nama bosnya itu tapi mendadak telinga Aqila seperti tak berfungsi, suara Syifa sangat samar dia dengarkan.

Tak lama pandangan Aqila pun menjadi gelap, dia jatuh dan Syifa pun menahan tubuhnya sehingga mereka mengundang orang lain untuk menolong Aqila.

"Aduh kenapa tuh neng?" tanya seorang bapak-bapak.

"Pingsan pak, bisa bantu saya carikan taksi? saya akan membawanya ke rumah sakit," ujar Syifa.

Bapak tersebut mengangguk, dia pergi mencari kan taksi sementara Syifa berusaha untuk membangunkan Aqila.

"Ada apa ini?" suara berat nan tegas itu membuat Syifa mendongak.

Silaunya matahari menghalangi pandangan Syifa sehingga di harus menyipitkan matanya.

"Kenapa dengan dia?" tanya pria itu sambil berjongkok di dekat Syifa.

"Anda gak liat bos saya pingsan?" sinis Syifa.

Pria itu tak menjawab, dia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Aqila. Seketika raut terkejut tercetak jelas di wajah pria itu.

"Aqila?" kejutnya.

"Kok anda bisa tau nama bos saya?" bingung Syifa.

Pria itu tak menjawab, dia segera menyingkirkan Syifa dan menggendong Aqila.

"Bapak mau di bawa kemana bos saya pak!" seru Syifa.

Pria itu tak menjawab, dia hanya menggendong Aqila dan membawa masuk ke mobilnya.

Syifa akan mengejarnya, tapi anak buah pria itu menghalanginya sehingga Syifa harus menatap kepergian mobil yang membawa Aqila.

Dertt!!

Syifa menepi, dia mencari asal suara ponsel dan ternyata itu adalah ponsel Aqila yang ada di tas wanita itu.

Syifa pun membuka tas Aqila dan mengambil ponselnya, terlihat disana kontak bernama Elbert menghubunginya.

"Gue angkat gak yah?" gumam Syifa.

"Angkat enggak angkat enggak? sopan gak sih?" ragu Syifa.

Ponsel itu tak berhenti berdering sehingga terpaksa Syifa mengangkatnya.

"Halo kak, kau kemana saja? aku sungguh khawatir padamu, oh ya apa kau sudah makan siang? ayo kita makan siang aku akan ..."

"Halo maaf tuan, ini Syifa asisten pribadi ibu Aqila," sela Syifa karena sedari tadi Elbert tak berhenti berbicara yang mana membuatnya kesal.

"Apa? apa aku salah menghubungi orang?" gumam Elbert.

"Maaf tuan, anda menghubungi ibu Aqila tapi ponselnya ada di saya sementara ibu Aqila sedang di bawah kerumah sakit,"

"APA? DIMANA RUMAH SAKITNYA AKU AKAN KESANA SEGERA," sentak Elbert.

Syifa tampak berpikir, setahunya rumah sakit terdekat adalah rumah sakit Kasih yang tak jauh dari kantor. Pasti pria tadi membawa Aqila kesana bukan?

"Rumah sakit Kasih, seorang pria membantunya membawanya ke rumah sakit. Kau bisa kesana," ujar Syifa dan mematikan ponselnya.

Syifa pun menaiki taksi yang tadi sempat di hentikan oleh bapak yang hendak menolong Aqila, dia meminta sang supir untuk membawanya ke rumah sakit tujuannya saat ini.

Taksi itu pun membawanya ke rumah sakit tersebut, sesampainya disana Syifa membayar sang supir dan segera turun memasuki rumah sakit tersebut.

"Ruang UGD kan pasti?" gumam Syifa.

Syifa oun beranjak ke ruang UGD dan benar saja disana terdapat pria itu yang tengah menunggu dengan cemas. Jangan lupakan banyaknya orang berpakaian hitam yang menjaga pria tersebut.

"Mana bos gue?" sentak Syifa.

Mereka oun langsung menghadang Syifa, tapi pria itu menghalangi bawahannya untuk menghadang Syifa.

"Dia sedang di periksa, kau tak usah cemas," ujarnya.

"Lu siapa sih? kok seenaknya aja bawa bos gue?" sentak Syifa dengan kilatan kesal.

Pria itu mendekati Syifa, dia menatap Syifa yang mundur akibat takut dengan aura pria tersebut.

"Saya ... saya Steve Frans Gevonac, calon tunangan dari Aqeela Lawrance," ujar pria itu yang tak lain adalah Frans.

Tubuh Syifa menegang sempurna, dia baru saja berbicara kasar pada pimpinan mafia yang terkenal disini. Dia baru saja membentak pria itu, bagaimana jika ini hari terakhir nya?

"Gak usah takut, aku tak akan melukaimu hanya saja ... beri tahu aku mengapa bisa bosmu pingsan seperti tadi?" tanya Frans.

"Itu ... sedari kemarin ibu Aqila tampak kurang sehat, dia terus muntah-muntah dan wajahnya juga sangat pucat ... dia ... dia,"

CKLEK!

Frans dan Syifa merubah atensi mereka menatap sang dokter yang keluar dari ruang UGD.

"Suami pasien?" tanya sang dokter.

"Ehmm maaf dok, saya calon tunangannya," ujar Frans setelah menghampiri dokter itu.

Dokter tersebut tampak mengerutkan keningnya, dia menatap Frans dengan bingung.

"Saya bertanya dimana suami pasien bukan calon tunangannya, saya perlu bicara dengannya mengenai kandungan pasien," ujar sang dokter.

Mendadak tubuh Frans kaku, netranya membulat sempurna bahkan bahunya kini melemas akibat ucapan dari sang dokter.

"Ha ... hamil dok?" gugup Frans.

"Iya, pasien tengah mengandung. Pasien sudah sadar, dan saat saya tanyakan mengenai beberapa hal dapat saya simpulkan. jika memang pasien mengandung dengan usia kandungan 1 bulan, apa anda bukan suaminya?" ujar sang dokter.

Frans tampak menggelengkan kepalanya, dia mengepalkan tangannya seiring langkahnya bergerak mundur.

"Kita lakuin itu dua minggu yang lalu, bagaimana bisa satu bulan usia kandungannya. Apa benar jika Aqila sudah bermain di belakangku?" batin Frans.

"Untuk pemeriksaan selanjutnya kalian bisa membawa pasien ke dokter kandungan agar tahu lebih pasti. Kalau begitu saya permisi," ujar sang dokter dan setelah nya beranjak dari sana.

Setelah kepergian sang dokter Frans mengeraskan rahangnya, dia berjalan cepat menuju ruang UGD dan membuka pintunya dengan keras.

"Eh ... kok ngamuk?" gumam Syifa.

Syifa akan ikut masuk tapi para bawahan Frans menghalanginya karena mereka tau King mereka sedang dalam emosi yang tak stabil.

"Iiihh apaan sih jangan pegang-pegang! gak halal!" sinis Syifa.

**PENCET TOMBOL LIKE !

LIKE !

LIKE !

HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.

VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**

Terpopuler

Comments

Ririn

Ririn

bukannya udh mantan

2024-12-08

0

Edah J

Edah J

Ngitung nya bukan pas ngelakuin bangbanggg🙄🤦🤦🤦

2024-10-15

0

evvylamora

evvylamora

begini deh kl laki2 yg ga bs ngitung HPL

2024-09-03

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1 : Pulang kembali
2 Part 2 : Menyakitkan
3 Part 3 : Ateez
4 Part 4 : Elbert
5 Part 5 : Keluarga Wesley
6 Part 6 : Kesalahan satu malam
7 Part 7 : pertukaran yang menjanjikan
8 Part 8 : Daniel
9 Part 9 : Hamil
10 Part 10 : Gugurkan!
11 Part 11 : Kecewa
12 Part 12 : Jangan lakukan itu kak!
13 Part 13 : Keanehan Frans
14 Part 14: Perkara susu
15 Part 15 : Susu pemberian calon papa
16 Part 16 : USG
17 Part 17: Kepolosan Frans
18 Part 18: Terbongkar
19 Part 19: Tanggung jawab
20 Part 20: Ikan cupang
21 Part 21: Elvio
22 part 22: Married
23 Part 23: Malam pertama
24 Part 24: Siapa?
25 Part 25: Cleo
26 Part 26: Aku tidak suka
27 Part 27: Curhatan dua suami
28 Part 28: ngidam ala calon bapak
29 Part 29: Nasi goreng buatan Elbert
30 Part 30: Keistimewaan Ravin
31 PERMISI BACA DULU SEBENTAR YAH
32 Part 31: Mateo
33 Part 32: Gangguan Frans
34 Part 33: Kenapa dia disini?
35 Part 34: lagi-lagi ulah Ravin
36 Part 35: Bawahan Daniel
37 Part 36: Konflik pasutri
38 Visual
39 Part 37: Ngidamnya kedua istri sultan
40 Part 38: Kebahagiaan Ane
41 Part 39: Kau kenal Elvio?
42 Part 40: Tentang Cleo
43 Part 41: Flashback Cleo
44 Part 42: Ravin sakit
45 Part 43: Gara-gara rujak
46 Part 44: Mencari bukti 1
47 Part 45: Hukuman Ravin
48 Part 46: Komplotan
49 Part 47: Action
50 Part 48: Frans
51 Part 49: Raffa
52 Part 50: Benda keramat
53 Part 51: Abang mungut ciapa?
54 Part 52: Raffa
55 Part 53: Sampai berapa bulan?
56 Part 54: Drama di rumah sakit
57 Part 55: Frans yang cengeng
58 Part 56: Ravin Keldil
59 Part 57: Dokter Andin
60 Part 58: Hak Frans
61 Part 59: Ada apa dengan Raffa?
62 Part 60: Hot money
63 Part 61: 9 bulan menanti
64 Part 62: Bayiku
65 Part 63: Baby twins Castillo
66 Part 64: Baby Bent
67 Part 65: Audrey
68 Part 66: Zidan dan Kirana
69 Part 67: Reunian trio cadel
70 Part 68: Black
71 Part 69: Sky
72 Part 70: wajan koleksi milik Aqila
73 Part 71: siapa yang membebaskan Daniel?
74 Part 72: Bukan Lavin
75 Part 73: menjemput Sky
76 Part 74: Perdebatan adik kakak
77 Part 75: Tentang Aurora
78 Part 76: Lavin di jahili telus
79 Part 77: Penyerangan
80 Part 78: penyekapan Frans
81 Part 79: Keterkejutan Ica
82 Part 80: Mansion di serang
83 Part 81: kerja sama
84 Part 82: keadaan Frans
85 Part 83
86 Part 84
87 Part 85
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Part 1 : Pulang kembali
2
Part 2 : Menyakitkan
3
Part 3 : Ateez
4
Part 4 : Elbert
5
Part 5 : Keluarga Wesley
6
Part 6 : Kesalahan satu malam
7
Part 7 : pertukaran yang menjanjikan
8
Part 8 : Daniel
9
Part 9 : Hamil
10
Part 10 : Gugurkan!
11
Part 11 : Kecewa
12
Part 12 : Jangan lakukan itu kak!
13
Part 13 : Keanehan Frans
14
Part 14: Perkara susu
15
Part 15 : Susu pemberian calon papa
16
Part 16 : USG
17
Part 17: Kepolosan Frans
18
Part 18: Terbongkar
19
Part 19: Tanggung jawab
20
Part 20: Ikan cupang
21
Part 21: Elvio
22
part 22: Married
23
Part 23: Malam pertama
24
Part 24: Siapa?
25
Part 25: Cleo
26
Part 26: Aku tidak suka
27
Part 27: Curhatan dua suami
28
Part 28: ngidam ala calon bapak
29
Part 29: Nasi goreng buatan Elbert
30
Part 30: Keistimewaan Ravin
31
PERMISI BACA DULU SEBENTAR YAH
32
Part 31: Mateo
33
Part 32: Gangguan Frans
34
Part 33: Kenapa dia disini?
35
Part 34: lagi-lagi ulah Ravin
36
Part 35: Bawahan Daniel
37
Part 36: Konflik pasutri
38
Visual
39
Part 37: Ngidamnya kedua istri sultan
40
Part 38: Kebahagiaan Ane
41
Part 39: Kau kenal Elvio?
42
Part 40: Tentang Cleo
43
Part 41: Flashback Cleo
44
Part 42: Ravin sakit
45
Part 43: Gara-gara rujak
46
Part 44: Mencari bukti 1
47
Part 45: Hukuman Ravin
48
Part 46: Komplotan
49
Part 47: Action
50
Part 48: Frans
51
Part 49: Raffa
52
Part 50: Benda keramat
53
Part 51: Abang mungut ciapa?
54
Part 52: Raffa
55
Part 53: Sampai berapa bulan?
56
Part 54: Drama di rumah sakit
57
Part 55: Frans yang cengeng
58
Part 56: Ravin Keldil
59
Part 57: Dokter Andin
60
Part 58: Hak Frans
61
Part 59: Ada apa dengan Raffa?
62
Part 60: Hot money
63
Part 61: 9 bulan menanti
64
Part 62: Bayiku
65
Part 63: Baby twins Castillo
66
Part 64: Baby Bent
67
Part 65: Audrey
68
Part 66: Zidan dan Kirana
69
Part 67: Reunian trio cadel
70
Part 68: Black
71
Part 69: Sky
72
Part 70: wajan koleksi milik Aqila
73
Part 71: siapa yang membebaskan Daniel?
74
Part 72: Bukan Lavin
75
Part 73: menjemput Sky
76
Part 74: Perdebatan adik kakak
77
Part 75: Tentang Aurora
78
Part 76: Lavin di jahili telus
79
Part 77: Penyerangan
80
Part 78: penyekapan Frans
81
Part 79: Keterkejutan Ica
82
Part 80: Mansion di serang
83
Part 81: kerja sama
84
Part 82: keadaan Frans
85
Part 83
86
Part 84
87
Part 85

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!