"Frans, papah gak setuju kamu batal tunangan dengan Aqila," ujar Geo pada anaknya yang kini duduk di hadapannya.
"Iya bener, mamah juga gak setuju," ujar Ane.
"Abang gak bersyukur tuh gitu, udah di kasih yang cantik baik, sopan eh malah memilih jomblo kekal," sindir seorang remaja perempuan yang tak lain adakah Raisa yang merupakan adik dari Frans yang kini berumur 19 tahun.
Sebelumnya Raisa masuk ke akademi militer karena dirinya membantu tugas aparat negara, tapi kini tugas itu sidah selesai sehingga dirinya telah kembali.
Frans menghela nafasnya pelan, dirinya sangat ingin berkata jika dia dan Aqila bahkan sudah berbuat lebih dan kini wanita itu kini telah hamil.
"Pah aku dan Aqila ...,"
" Ekhm, maaf ... bisa minta waktunya sebentar? saya ingin berbicara pada King," ujar Kenan yang baru saja datang.
Frans mendengus kesal, ucapannya terpotong oleh Kenan yang muncul di sebelahnya. Dia meminta izin pada orang tuanya dan membawa Kenan keluar dari ruang keluarga.
"Lu ngapain disini hah? kan gue udah bilang pantau calon bini sama anak gue!" kesal Frans.
Kenan mendelik tajam, jika tidak ada di markas Frans akan memakai bahasa lu-gue. Dan apa ini? bukannya mendengarkan malah memarahinya.
"Bisa dengerin saya dulu King?" ujar KEnan
"Cepet!" sentak Frans.
"Tadi saya mengikuti Aqi ...,"
"NONA! INGAT NONA!" tekan Frans.
Kenan berdecak kesal, padahal Aqila adalah temannya tapi karena Aqila akan menjadi istri dari Kingnya maka dirinya harus menyebut Nona.
"Baiklah, NONA Aqila tak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Namun, pergerakan kita telah tercium oleh Daniel terlebih dirinya tahu jika Aqila sedang hamil dan kau menjaganya dari jauh," terang Kenan.
"Ck, pak tua bau tanah itu ... untuk beberapa hari ke depan tak usah mengikuti Aqila, kita tampak biasa saja agar dia tak mencelakai Aqila," titah Frans.
Kenan mengangguk, kemudian dia kembali teringat sesuatu.
"Oh iya, tadi juga ada seorang pria yang sepertinya kenalan Aqila. Mereka begitu dekat, bahkan Aqila ke dokter kandungan di antar olehnya," ujar Kenan yang mana membuat Frans merasakan panas di dadanya. Dirinya terbakar api cemburu.
"Siapa pria itu?" tanya Frans dengan datar dan dingin bahkan Kenan sampai merinding di buatnya.
"Itu ... itu dia ... Masa gue bilang kalau itu Elvio, nanti perang mansion lagi. Gak deh, gue gak mau kena imbasnya,"
"KENAN!" sentak Frans.
Kenan tersadar dari lamunannya, dia menatap Frans dengan tatapan terkejut sekaligus takut.
"Gak tau, madep belakang soalnya. Yang penting gak kalah ganteng sama situ," ujar Kenan.
Frans melotot terkejut, dia segera pergi dari hadapan kenan yang kini tengah was-was.
"Waduh, si King mau kemana yah," gumam Kenan.
Saat dirinya akan beranjak, sebuah tepukan di bahunya membuatnya menoleh. Dia terkejut mendapati Ane yang menatapnya bingung.
"Tante?"
"Itu si Frans mau kemana? kok buru-buru gitu?" heran Ane.
Kenan menggaruk kepalanya, pertanyaan Ane membuatnya bingung. Bagaimana kah dirinya harus menjawab nya?
"Itu ada keadaan darurat di markas tante, jadinya King langsung kesana," ujar Kenan.
Ane membulatkan mulutnya, Kenan pun tersenyum canggung menatap ibu dari Kingnya tersebut.
"Terus kamu ngapain disini?" tanya Ane.
"Maksudnya tante?" bingung Kenan.
"Ck! kamu ini ajudan apa Ajudin huh? Bos mu mengurus masalah darurat itu dan kau malah diam menjadi patung disini?" kesal Ane.
"Eh, iya tant ... kalau gitu saya pamit dulu!" ujar Kenan dan berlari mengikuti Frans.
Sedangkan Ane hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kenan.
***
Frans sedang dalam perjalanan menuju apartemen Aqila, baru saja dirinya di telpon oleh orang suruhannya yang menjaga Aqila yang tak lain adalah Rani yang berkata jika Aqila sedari tadi tak mau makan.
Mobil Frans telah terparkir rapih di parkiran apartemen. Dengan segera Frans keluar dari mobilnya dan berjalan masuk menuju unit Aqila.
Sesampainya di depan apartemen Aqila, Frans langsung membuka pintunya tanpa mengetuknya.
Netranya melihat Aqila yang sedang tertidur di sofa sambil memeluk bantal. Wajah polosnya tanpa make up membuat Frans tertegun sejenak.
"Tuan telah sampai?" tanya Rani yang haru saja tiba sehabis dari dapur.
Frans tersadar, dia mengangguk singkat dan mendekati Aqila. Dirinya berjongkok di depan Aqila dan membenarkan letak tidur wanita itu.
Namun sayang sekali, Aqila malah terbangun dan membulatkan matanya ketika terkejut melihat Frans.
BRUK!
DUGH!
Aqila tak sengaja menendang wajah Frans sehingga pria itu terjengkang dan tubuhnya terpentuk meja.
"Aws ...," ringis Frans.
"BR3NGS3K GILA! PLAYBOY! CASANOVA KAMPUNGAN! NGAPAIN LO DI APART GUEEEE!!" sentak Aqila.
Frans bangun dari duduknya, dia memegang bahunya yang terasa sakit. Bisa dia pastikan jika bahunya pasti sudah membiru.
"Sakit Love," ringis Frans.
Deghh!!
Aqila mematung, Panggilan itu ... panggilan itu yang Aqila sematkan pada Frans saat mereka kuliah. Mengapa Frans malah memanggilnya seperti itu yang membuat Aqila menjadi teringat kembali kenangan mereka.
"Kau belum makan kan? aku akan memesankan makanan untukmu," ujar Frans dengan lembut.
Aqila tersadar dari lamunannya, dia menatap Frans dengan bingung. Bagaimana pria ini tau jika dirinya belum makan sedari pagi? apakah dia cenayang?
"Dari mana kau tahu huh? kau bukan valak ataupun setan, tapi kau jin yang menjelma sebagai pria yang tak punya hati!" sentak Aqila.
"Baiklah, terserah kau saja Love. AKu hanya ingin memastikan kamu makan, sebab ... kau mengandung anakku," ujar Frans.
"NDASMU!" gerutu Aqila.
Frans mengerutkan keningnya, dia tak mengerti bahasa yang Aqila pakai. Sementara Rani hanya tertawa geli ketika Aqila menggunakan bahasa itu untuk merutuki Frans.
"Apa itu das apa tadi?" heran Frans.
"Ck, itu artinya kau pintar!" ujar Aqila sembari tersenyum miring.
"Oh begitu, kau bilang aku pintar? apa kau memujiku? benar! aku orang yang pintar, aku akan memesankanmu makanan agar kau makan. Sebentar," ujar Frans dan beranjak dari hadapan Aqila dan Rina yang cengo melihatnya.
Sedangkan Frans, dia memesan makanan dengan menu banyak. Setelah itu dirinya menunggu di depan apartemen Aqila.
Seoang setengah jam, makanan sampai. Bahkan butuh beberapa orang yang mengantar nya.
Frans pun menyuruh mereka untuk membawa makanan itu masuk.
"KAU MEMESAN MAKANAN APA MAU NGAJAK TAHLILAN HAH?!" kesal Aqila.
"Kan kamu gak bilang mau makan apa, jadinya aku beli semua menu di resto langganan kamu," enteng Frans.
Aqila tertawa sumbang sembari menepuk keningnya. Dia sudah menahan kesal, bisa-bisa dirinya berada di rumah sakit jiwa akibat ulah Frans.
"Tuan kami sudah menaruhnya," ujar kurir.
"Bagus, Ndas kalian," ujar Frans.
Mereka semua melongo mendengar ucapan Frans, terlebih beberapa kurir itu mengerti arti kata itu.
"Tuan kami ...,"
"Oh iya saya telah memberi kalian tip bukan tadi? sudahkan? kalian keluar sana, istri saya mau kakan kasihan anak kami kelaparan," sela Frans.
Ingin rasanya Aqila memukul Frans dengan panci, bahkan dia telah berancang-ancang untuk memukul kepala Frans dari belakang. Tapi Rina menahannya dengan cara memeluknya.
"Jangan non, nanti tuan marah," peringat Rani.
"Kenapa?" ujar Frans yang bari membalikkan badan dan melihat Aqila yang sedang di tahan oleh Rani.
"Stres gara-gara ada buaya nyasar di mari!" kesal Aqila.
Frans hanya tertawa kecil, dia mendekatkan dirinya dan Aqila hingga jarak dia antara keduanya hanya selisih beberapa cm saja.
"Jangan terlalu membenciku, ku dengar jika seorang wanita hamil membenci seseorang maka bayinya akan sangat mirip dengan orang yang di bencinya," jahil Frans.
"Mau di kuburan apa di kali?" tanya Aqila dengan senyum terpaksa.
Frans mengernyit heran. "Maksudnya?"
"MATINYA!" teriak Aqila di depan wajah Frans hingga pria itu harus memejamkan matanya.
LIKE JANGAN LUPA YAH🤩
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Fareza Gmail.Com
kompori terus sampe meleduk noh 😂😂😂
2024-12-01
0
Zea Rahmat
bhahahahahahahaha ngakakakkkkkkk
2025-02-06
0
Icha Arlita
mulai 🤣
2024-11-22
0