Aqila pulang ke apartemennya dengan keadaan yang berantakan, bahkan setelah masuk dirinya langsung membuang asal tasnya dan menangis tersedu-sedu di kamarnya.
Dirinya terus bergumam bahwa dirinya kotor, bahkan beberapa kali dia menggaruk tangannya karena merasa jijik dengan dirinya sendiri.
Aqila hanya lah korban, tapi dia membenci dirinya yang merasa kotor. Pria yang dulunya sangat dirinya cintai, bahkan dia selalu berharap bahwa suatu saat dia akan menikah dengan pria itu dan kini ... semua rasa untuk pria itu telah mati.
"Aku kotor hiks ... aku kotor!" isak Aqila.
Wanita itu kini memeluk dirinya sendiri, tak ada teman ataupun seseorang yang menenangkannya. Kesakitan itu dia rasakan sendiri, bahkan tak tau berapa banyak air mata yang keluar dari mata cantik nya.
Aqila pun bangkit menuju kamar mandi, dia membasuh tubuhnya dengan menggosoknya kasar.
Isakan Aqila sungguh menyayat hati, bahkan wanita itu tak henti-hentinya menggosok tubuhnya.
Aqila keluar dari dalam bathtub, dia berjalan menuju kapstok tempat handuknya. Tangan mulus nan putih itu mengambil sebuah bathrobe, dia memakainya dan berjalan menuju westafel.
"Kenapa? kenapa nasibku harus sama seperti mamah hiks ... KENAPA!" isak Aqila.
Aqila melihat pantulan dirinya, banyak sekali bercak merah yang Frans buat di dadanya. Aqila benci dirinya sendiri.
"Apa salahku? Kenapa semuanya tertimpa padaku hiks ... kenapa Frans begitu tega berbuat seperti ini dan malah menuduhku!" isak Aqila.
Tatapan Aqila terjatuh pada sebuah gunting yang berada di dekat samponya. Dengan gelap mata, Aqila mengambilnya dan mengarahkan gunting itu pada pergelangan tangannya.
Saat Aqila akan menggoreskannya, dia teringat akan ayahnya. Sang ayah hanya memiliki dirinya sang penguat satu-satunya.
Bagaimana perasaan Gio jika putrinya bunuh diri? Bagaimana jika sang ayah mengikuti hal sepertinya.
"Gak ... aku gak bodoh!" ujar Aqila dan membuang gunting itu.
Aqila menggelengkan kepalanya, dia keluar dari kamar mandi dan menuju lemari untuk mengambil pakaian nya.
Aqila pun memakai baju rumahan, dia tak ingin berangkat ke kantor hari ini. Dia sungguh lelah karena sehabis menangis.
***
Seorang pria paruh baya sedang tersenyum menatap sebuah foto yang anak buahnya kirimkan. Dia tertawa puas melihat wajah frustasi Frans yang terdapat di foto itu.
"Kau kira aku tak tau siapa wanita itu huh? terlambat ... kau terlambat membatalkan pertunaganmu karena aku telah tau siapa wanita itu untukmu,"
"Wanita itu telah hancur di tanganmu sendiri Frans, wanita yang kau jaga dariku malah hancur di tangan kekasihnya sendiri. Ah ... sungguh malang nasibmu Aqeela Lawrance,"
Pria itu adakah Daniel, dia merupakan paman Frans. Mafianya dan mafia Frans bersaing, terlebih Mafia Frans yang sangat unggul di bandingkan mafianya.
Daniel sangat ingin mafia Ateez, dia akan melakukan banyak cara agar mafia itu dia dapatkan.
"Ini akibatnya jika kau bermain-main denganku, Frans ... kau dan papahmu itu sama saja bodoh, bahkan dia rela kehilangan calon bayinya hanya demi mempertahankan Ateez," ujar Daniel.
Tok!
Tok!
Tok!
Daniel beranjak, dia membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuknya.
"Maaf bos, Ateez menyerang pasukan depan. Mereka telah masuk ke aula mansion," ujarnya.
Daniel mengangkat satu sudut bibirnya, dia beranjak dari sana menemui para Ateez yang berada di aula.
Sesampainya di sana, Daniel melihat Frans yang tengah melawan anak buahnya. Daniel pun bertepuk tangan agar Frans berhenti mengacau di mansionnya.
PROK!
PROK!
PROK!
"Ada apa gerangan seorang King Ateez repot-repot ke mansion black hold yang kecil ini," sindir Daniel.
Frans yang melihat Daniel langsung saja menyerang Daniel, mereka berduel sedangkan yang lain hanya menonton karena mereka belum mendapat perintah dari atasan mereka.
Bugh!
Bugh!
SREK!
Frans langsung menghentikan serangan Daniel dengan pisaunya, dia mengangkat satu sudut bibirnya ketika Daniel tak lagi berkutik sebab pisau tersebut sudah menggores sedikit lehernya.
"Waw, kau semakin lincah anak muda," puji Daniel.
"Dan kau semakin lambat pak tua," ledek Frans.
Mereka saling menatap tajam, bahkan suasana pun semakin dingin akibat aura mereka yang mencekam.
"Katakan padaku, kau yang telah menjebakku dengan wanita itu bukan?" tekan Frans.
"Wanita siapa yang kau maksud?" tanya Daniel dengan wajah di buat bingung.
"Ck, jangan mengelak! kau yang merencanakan ini semua bukan? tapi sayang sekali, wanita itu bukan yang menjadi prioritasku untuk saat ini. Kau salah mengambil tameng tuan!" ujar Frans.
Tampak Daniel sangat kesal, dia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Netranya menatap tajam Frans, apakah dirinya memang salah mengambil tameng?
"Kau?!"
SREK!
Frans kembali menarik pisaunya, dia menatap pisaunya yang terdapat luka goresan Daniel. Dia menempelkan pisau itu pada jaket yang Kenan pakai. Kebetulan pria itu ada di sebelah Frans.
"E-eh," bingung Kenan.
"Kuman," enteng Frans.
Frans kembali memasukkan pisaunya ke dalam jasnya, dia mendekati Daniel yang meringis pelan karena goresan tersebut. Padahal goresan itu seperti cakaran kucing, tapi pria itu sudah meringis.
"Dia ... aku sudah memutuskan pertunangan dengannya, karena apa? karena dia bukan tipeku, wanita yang sama seperti kebanyakan lainnya yaitu mu-ra-han. Jadi ... untuk apa kau jadikan dia tameng? jika pun dia nanti hamil, aku tak yakin jika itu anakku. Bisa saja kan dia bekerja sama denganmu, mainan mu tak jauh dari J4l4ng,"
Ucapan Frans membuat Daniel geram, Frans berhasil memancing emosi pria itu. Dia mengeluarkan pistol dari saku celananya dan mengarahkan nya pada Frans.
Anak buah Frans tak tinggal diam, mereka mengarahkan senjata mereka pada Daniel. Daniel akhirnya menurunkan senjatanya karena dirinya kalah jumlah dan kekuatan dengan pasukan Frans.
"Jika kau ingin menjatuhkan ku, gunakan cara pintar. Kau sudah tua pasti memiliki banyak pengalaman dari pada aku," ujar Frans.
"Eh iya ... aku lupa, kau kan selalu sembunyi ... bagaimana bisa memiliki banyak pengalaman hahahaha," ledek Frans dan beranjak dari hadapan Daniel.
Semua para bawahan Frans mengikuti king mereka, tinggallah Daniel dan para anak buahnya.
"ARGHH!!! KENAPA RENCANAKU SELALU GAGAL!"
Daniel kembali ke ruangannya, sepertinya dia akan melampiaskan amarahnya disana.
Sementara Frans, dia pulang dengan Kenan yang menyupirinya. Wajahnya sudah datar dan dingin kembali seperti asalnya .
"Maaf king, emang bener yah semalem king dan ...," ragu Kenan.
"Yah," singkat Frans.
Kenan menutup mulutnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain masih dirinya gunakan untuk menyetir.
"Oh my good," gumam Kenan.
"Semalam saya tidak tahu mengapa saya mabuk, memang kita meeting di bar ... tapi saya tak memesan voodka atau semacamnya yang membuat mabuk. Kau tau bukan aku telah berhenti minum semenjak ...,"
"Semenjak kau berencana untuk bertunangan bukan? bukankah kau bilang tunanganmu batal, bisa saja kau tak sadar dan meminumnya," ujar Kenan.
Frans menggeleng, dirinya sangat yakin jik adia tak minum. Tapi bisa saja ada yang mengganti minumannya sehingga dirinya mabuk dan ... bagaimana bisa dia ada di kamar hotelnya?
"Tunggu ... seingatku aku sempat terbangun di tempat tidur, hanya saja badanku sangat panas seperti ...," ujar Frans sambil memikirkan ucapan selanjutnya
"Seperti seseorang yang sangat kehausan dan ingin menuntaskan sesuatu, dan saat itu aku tak sadar jika di sampingku adalah Aqila dan kemudian ...
"Kau memperkosanya," sela Kenan.
Frans membulatkan matanya, apakah benar yang Kenan katakan? jika benar ini hanyalah murni jebakan Daniel dan Aqila tak ikut campur dengan masalahnya lalu bagaimana?
"Sebaiknya King selidiki dulu, sebelumnya kau orang yang sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan bukan? jangan menghakimi Aqila seperti ini," usul Kenan.
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Edah J
Kenan bijak👍👍👍
2024-10-15
0
Nanik Kusno
Frans....kau akan menyesal dengan apa yang kau tuduhkan ke Aqila....😠😠😠
2024-10-10
0
Neulis Saja
ehm next
2024-07-02
0