Aqila tengah keluar apartemennya, dia ingin mencari susu hamil untuk dirinya. Semenjak dirinya hamil, Aqila belum membeli susu hamil karena belum sempat.
Aqila telah sampai di supermarket, dia segera masuk dan berjalan ke rak susu.
"Susu hamil yang bagus yang mana yah." gumam Aqila sambil mengetuk dagunya.
Tatapan Aqila tertuju pada susu hamil rasa coklat, dengan senang hati dia mengambil susu kotak tersebut sampai beberapa.
"Rasa lain juga gak yah?" gumam Aqila.
Saat Aqila akan menyentuh susu dengan rasa pisang namun seseorang menyenggolnya yang mana membuat semua kotak susu yang ada di pegangannya terjatuh.
BRUGH!
Aqila menatap kotak susu tersebut, dia akan mengambilnya tapi terlebih dahulu di dahulukan oleh remaja yang menabraknya
"E-eh ... maaf-maaf, saya gak sengaja." ujarnya sambil memungut kotak tersebut.
Remaja itu kembali berdiri, dia memberikan susu kotak itu dan menatap Aqila tersebut dengan senyum manisnya.
Aqila tersentak kaget ketika melihat bahwa remaja tersebut adalah Aurora. Dia segera menerima kotak susu tersebut dan akan beranjak pergi.
"Gak papa kok, kalau begitu saya permisi," ujar Aqila dan pergi dari sana.
Aqila buru-buri ke kasir sambil sesekali melihat ke belakang. Dirinya takut Aurora mengejarnya.
"Udah bu ini aja?" tanya sang kasir.
"Iya." ujar Aqila sambil memberikan kartunya.
Setelah selesai membayar, Aqila pun langsung kembali ke apartemennya. Walau jarak antara apartemennya dan supermarket dekat tapi dirinya sudah merasa lelah mungkin akibat kehamilannya.
Aqila telah sampai di unit apartemennya, dia segera masuk dengan membawa belanjaan tersebut. Saat masuk dia langsung di sambut oleh pembantu nya yang dirinya sewa kemarin.
"Sini non belanjaannya biar bibi bawa ke dapur," ujar pembantu tersebut.
Aqila lun menyerahkan belanjaannya, dia berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum.
"Tadi Aurora kan? apa dia ingat aku? dia curiga gak yah," lirih Aqila.
Aqila pun menepis pikirannya, dia menuangkan air di dalam gelas dan meneguknya.
"Ah, seger banget. Rasanya haus banget yah," gumam Aqila setelah minum.
"Memang non orang hamil itu pasti akan selalu merasa haus, bibi juga dulu gitu," sahut sang pembantu.
Aqila tersenyum, dia mengelus perutnya yang terlihat masih datar.
"Bi, apakah orang hamil harus minum obat penguat janin?" tanya Aqila sambil menatap maid tersebut.
"Tidak, tidak harus. Hanya saja jika saran dokter perlu ya kau harus meminumnya. Apa dokter tak memberitahumu?" tanya maid tersebut.
"Tidak, dia hanya berkata janinku sehat udah itu saja," ujar Aqila.
"Bagus itu, berarti bayi mu sehat." ucap Maid itu seraya tersenyum
Aqila mengangguk dan tersenyum, dia senang jika kandungannya sehat. BErdamai dengan keadaannya itu adalah pilihan terbaik dari pada dia tak menerimanya dan malah menyakiti nyawa yang tak bersalah.
"Yaudah bi kalau gitu saya ke kamar dulu," pamit Aqila.
Maid tersebut mengangguk, dia melihat punggung Aqila yang menjauh dari dapur. Tak lama telpon maid tersebut berdering, dia pun mengambilnya dan melihat nama yang tertera di kontak tersebut.
"Tuan?" gumamnya.
Maid tersebut mengangkatnya, "Halo tuan?"
"Hm, apa yang dia lakukan hari ini?"
"Nona pergi ke supermarket untuk belanja susu hamil, setelah itu nona pulang dan kini dia sedang istirahat di kamarnya," terang sang maid.
Tuan yang di maksud maid tersebut tampak diam, sedangkan maid itu justru bingung dengan tuannya itu.
"Merek apa yang dia beli? dan berapa harganya?"
Maid tersebut memeriksa kotak susu tersebut, dia membaca merek yang ada di kardus susu tersebut.
"Pregnantxx, harganya kisaran 89.000," ujar maid tersebut.
"Buang!" titahnya.
Maid tersebut melongo, apakah tuannya itu baru saja menyuruhnya membuang susu sang nona?
"Tapi tuan Frans kenapa harus ...,"
"BU-ANG, AKU YANG MEMBAYARMU JADI BUANG SEKARANG!" sentak Frans.
Frans dia telah membayar maid bernama Rani itu untuk mengawasi Aqila dan memantau pergerakannya entah apa yang ada di pikiran pria itu hingga berbuat seperti itu.
"Tapi tuan susu hamil bagus untuk janin," bujuk Rani.
"Ck, apa namamu itu akan meminum susu dengan harga murah? susu itu juga akan memberi nutrisi untuk anakku bukan? ayolah ... keturunan Gevonac tak bisa mendapat nutrisi dari susu murah," decak Frans.
Rani membulatkan matanya, dia menatap nanar kotak susu tersebut.
"Menurutku ini sudah harga mahal dengan berat 200 gr. Apa yang membuat tuan mengatakan murah? apa tuan ingin nona Aqila meminum susu buaya miliknya?hm" gumam maid tersebut.
"HEI KAU DENGAR AKU?!" sentak Frans.
"E-eh, dengar tuan. Baik saya akan membuangnya," ujar maid itu dengan pasrah.
Sambungan telpon pun langsung Frans matikan, sedangkan maid itu menghela nafasnya pelan dan menatap kasihan susu tersebut.
***
"Lavin! kok buahna gak di habic kan? tadikan mommy culuh kita habisin buahna!" sentak Cia sambil membawa piring buah ke hadapan Ravin yanga sik menonton.
"LAVIN DENGEL CIA GAK SIH?!" sentak Cia karena merasa Ravin tak menggubrisnya.
Cia mengambil Ipad Ravin, dia membantingnya dan menatap Ravin tajam.
"Tonge telingana huh?!" kesal Cia.
"APAAN CIH! TADI LAVIN CUDAH MAKAN, CEKALANG WAKTUNA MINUM CUCU TAPI MOMMY BELUM KACIH!" sentak Ravin.
"Ya makana buahna di makan dulu," ujar Cia dengan sabar.
Ravin tak menggubris Cia, dia beranjak meninggalkan Cia dengan tangan yang saling menggenggam di belakang tubuhnya.
"MOMMY! CUCU!" teriak Ravin sambil mencari sang mommy.
Ravin celingak celinguk, netranya menatap botol susu yang ada di meja dapur.
"Waahhh, cucu ...," gumam Ravin.
Ravin mengambil kursi, dia menaikinya dan mengambil susu tersebut.
Setelah mendapatkan apa yang dia maksud, Ravin segera keluar menuju ruang keluarga. Dengan keadaan hati gembira Ravin bersenandung.
"Halta yang paling belhalga adalah cucu mommy,"
Para bodyguard yang berjaga tertawa melihat tingkah Ravin yang begitu menggemaskan. Mereka terpesona dengan wajah tampan Ravin bak pangeran.
Langkah Ravin terhenti, dia menatap seseorang yang berdiri di hadapannya. Seketika dirinya mendongak dan menatap pria sebut.
"Om capa?" tanya Ravin.
Pria tersebut hanya menatap Ravin dengan datar, dia mensejajarkan wajahnya pada wajah Ravin dan mencubit hidung anak itu dengan keras.
"AWWWW CAKIIITTT HUAAAA!"
Teriakan Ravin mengundang Aurora, Laksar Amora dan Alden buru-buru melihat Ravin.
"Ravin kenapa sayang?" panik AMora.
Ravin menunjuk pria yang mencubitnya, seketika tatapan Amora terjatuh pada sosok pria tersebut yang tak lain adalah Erwin.
"Anak kalian sangat lucu, aku jadi gemas," ujar Erwin dengan wajah datar andalannya.
"Boleh gue beli anak lu?" tanya Erwin pada Alden yang menahan kesal.
"BELI AJA, ITUPUN KALAU LU SANGGUP RAWAT BEBAN SUSU SEPERTI DIA," kesal Alden.
Ravin merasa tersinggung, dia menatap Alden dengan tajam.
"Beban begini bica ngacilin duit dali inctaglam TAU!"
Amora tertawa geli sedangkan Alden mendengus kesal dan menatap Erwin yang hanya menatapnya datar.
#Sorry gaes telat up, banyak kerjaan banget ini baru santai🤧🤧🤧.
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Edah J
Suka dengan Novelmnya kan author Ken
2024-10-15
1
Nanik Kusno
Ravin.... gemesin....
2024-10-11
0
Leng Loy
Frans udah mulai kepo
2024-03-20
1