Pagi ini Aqila akan berangkat menuju perusahaan Alden, dirinya memang menjadi direktur di perusahaan DE group.
"Syifa, kau sudah menghubungi perusahaan cabang wesley bukan kalau kita akan kesana?" tanya Aqila pada asistennya yang ada di sebelahnya.
"Sudah bu, mereka berkata jika semuanya sudah siap," ujarnya.
Aqila mengangguk, dia membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada sang ayah. Sementara mobil mereka kini sudah sampai di depan perusahaan Wesley.
"Sudah sampai nyonya," ujar sang supir.
Aqila mengangguk, dia keluar bersamaan dengan sekretarisnya. Aqila memakai kaca matanya, dia masuk dengan diikuti oleh asistennya itu.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" tanya wanita resepsionis.
Aqila membuka kaca matanya, dia mendekati meja resepsionis dan menatapnya dengan senyum ramah.
"Selamat pagi, apa tuan Elbert sudah datang?" tanya Aqila.
"Belum, mungkin sebentar lagi beliau akan datang. Apa ibu sudah memiliki janji sebelumnya?" tanya anita tersebut.
"Sudah, saya perwakilan dari perusahaan DE Group. Kami akan meeting sekitar jam 08.00 nanti," terang Aqila.
Wanita resepsianis itu melihat jadwal, dia mengangguk dan menatap Aqila dengan senyum.
"Baik, silahkan anda langsung naik ke lantai 3. Nanti disana ada meja sekretaris anda bisa memintanya untuk mengantar anda ke ruang meeting," ujarnya.
"Terima kasih," ujar Aqila.
Aqila kembali memakai kaca matanya, dia berjalan menuju lift bersama sekretarisnya. Lift pun membawa mereka ke lantai tiga sesuai yang resepsionis itu katakan.
Tring!
Pintu lift terbuka, segera Aqila keluar dengan asistennya yang mengikutinya.
"Maaf, ruang meeting diaman yah?" tanya Aqila di depan meja sekretaris
Pria yang sedang mengetik sesuatu segera mendongak, dia berdiri dan dengan sopan menunjuk ruangan Elbert.
"Silahkan sebelah sana nyonya," ujarnya.
"Terima kasih," ujar Aqila
Aqila pun oergi menuju ruang meeting, dengan perlahan dia membuka pintu tersebut.
Ruangan yang tampak elegant sangat nyaman menurut Aqila. Jujur, Elbert sangat pandai memimpin kantor, lihat saja para pegawainya yang sangat ramah dan membuat Aqila senang.
"Kita duduk disana," ajak Aqila.
Syifa pun hanya mengikuti atasannya, setelah memastikan sang atasan duduk dengan tenang Syifa pun duduk di sebelah Aqila.
Cklek!
Netra mereka teralih pada seorang pria yang baru saja masuk, seorang pria yang terlihat sanga wibawa dan tampan.
Pria itu membenarkan jasnya sebentar dan melanjutkan langkahnya mendekati Aqila dan Syifa.
"Selamat pagi direktur, maaf saya terlambat," ujar pria itu.
Aqila membuka kaca matanya, dia menatap pria itu dengan ramah.
"Tidak apa tuan Elbert, saya merasa senang karena bisa bekerja sama dengan perusahaan anda yang besar ini." ujarnya sembari tersenyum menatap pria yang bernama Elbert.
Elbert Leon Wesley yang merupakan anak sulung dari Alden Leon Wesley dan Arianha Amora Wesley.
"Baik, maaf sebelumnya. Bisa saya tau siapa nama anda?" tanya Elbert.
"Nama saya ... Aqeela Lawrance atau Aqila Wesley yah?" guraunya.
Terlihat Elbert membulatkan matanya, dia menatap penuh selidik pada wanita di hadapannya. Dia bahkan berdiri dan mendekati Aqila
"Kau! kak Qila? anaknya ayah Gio kan?" seru Elbert.
Aqila terkekeh, apakah adiknya ini lupa dengan wajahnya? bahkan wajahnya tak banyak berubah dari beberapa tahun lalu.
"Apa kabar kak? lama tak jumpa? dan sekarang kau berubah secara drastis!" ujar Elbert sembari terduduk kembali.
"Baik, bagaimana dengan saudaramu yang lain? ku dengar mommy kembali melahirkan 3 tahun lalu benar?" tanya Aqila sembari bersedekap dada.
Elbert mengangguk, jika dia sudah bertemu Aqila dia akan lupa dengan tujuannya yang sebenarnya. Bahkan kini asisten mereka berdua menatap heran para atasannya yang malah reunian itu.
"Benar, hais ... aku heran dengan daddy yang selalu membuat anak, bahkan yang seharusnya dia memiliki cucu malah memiliki anak kembali," jawab Elbert.
"Hahahaha, mungkin daddy merasa jika saudara sedikit akan terasa sepi. Kau tau kan kalau daddy tak memiliki saudara kecuali tante Angel," ujar Aqila.
Elbert mengangguk, mempunyai banyak saudara memang terlihat ramai. Tapi, membuat mansion tak terasa sepi lagi.
"Iya sih, kak ... gimana hubunganmu dengan kak Frans?" tanya Elbert antusias.
Tiba-tiba raut wajah Aqila sendu yang mana membuat Elbert merasa bingung. Dia menyentuh lengan Aqila yang mana membuat Aqila menatapnya.
"Sepertinya hubungan kami tidak bisa berlanjut, dia pria yang tidak bisa memberi kepastian. Selalu saja ada alasan ketika aku berkata kapan dia akan melamarku," ujar Aqila.
Aqila terpaksa bilang begitu, dia juga tak mungkin bilang yang sebenarnya dengan Elbert bahwa Frans memutuskan hubungan mereka karena sang mamah.
"Oh begitu, hm ... aku doakan semoga kakak mendapat yang terbaik," ujar Elbert.
"Lalu, kapan kau akan memiliki pasangan?" tanya Aqila yang mana membuat Elbert tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk! uhuk!"
Aqila puas tertawa, sementara Elbert membuang pandangannya karena dirinya sampai saat ini masih sendiri.
"Kenapa kau betah sekali dengan kejombloanmu itu El? apa kau tak ingin mendapat perhatian wanita?" tanya Aqila.
"Kan aku sudah di perhatikan kakak," ledek Elbert sambil mengedipkan satu matanya.
Aqila mendengus kesal, dia menoleh ketika sang asistennya menarik lengan bajunya.
"Maaf bu, ini reunian apa meeting yah?" tanya Syifa.
Aqila menepuk keningnya, dia lupa jika tujuan mereka untuk meeting. Dia segera membuka lembaran meeting begitu pun dengan Elbert.
"Baik kita mulai meetingnya," tegas Elbert.
***
Selang beberapa jam, mereka telah selesai meeting, Aqila dan Elbert pun kembali mengobrol menceritakan kehidupan mereka selama ini.
"Jadi Ravin sangat mirip denganmu?" tanya Aqila.
"Iya bisa di bilang begitu, mommy berkata dari adik-adikku yang paling mirip denganku adalah Ravin. Dari tingkah nya, lucunya, tampannya semua mengcopy ku," ujar Elbert.
Aqila terkekeh pelan, dia sungguh penasaran seperti apa Ravin. Jika dulu Elbert selalu membuat kelucuan apalagi Ravin diumurnya yang masih 3 tahun.
"Kita ke mansion, biar kau lihat Ravin dengan jelas seperti apa anak itu," ajak Elbert.
"Baiklah, oh iya kudengar si kembar latihan militer?" tanya Aqila.
Elbert mengangguk singkat, dia mengambil gelas kopinya dan meminumnya. Setelah menaruh kembali gelas itu dia menatap Aqila.
"Iya, aku gak tau kenapa Lio ngotot banget minta ke militer itu. Dan mereka pun hanya beberapa bulan saja disana karena Lio harus membantu mengurusi perusahaan opa," jawab Elbert.
"Baguslah, perusahaan keluargamu sangat banyak. Inilah kegunaannya punya anak banyak," ujar Aqila.
Elbert mengangguk. "Benar, tapi daddy tak pernah memaksa kami. Dia memberi pilihan karena baginya anak-anaknya bukan ladang uangnya melainkan sebuah titipan yang harus dia jaga,"
"Benar, Beruntunglah kau memiliki daddy sepertinya," ujar Aqila.
"Kau juga, kau memiliki ayah yang hebat," ujar Elbert.
Mereka sama-sama tertawa, sungguh lucu jika membahas tentang keluarga mereka.
"Sejak kapan dirimu tak cadel lagi?" ledek Aqila.
Elbert memutar bola matanya, dia mendengus kesal karena Aqila selalu saja menanyakan itu.
"Kau bukan tidak tau, tapi kau mengerjaiku!" kesal Elbert.
Aqila tertawa, mengerjai Elbert adalah hobynya sedari duku. Bahkan pas anak itu masih cadel dia mengerjainya dengan terus menyebut kata yang terdapat R.
"Terus ... bagaimana perasaan mu dengan kak Frans? aku tau kau pasti tak semudah itu untuk melepasnya, apalagi selama ini kau hanya mencintainya tanpa mendapat balasan," tanya Elbert.
"Haaah ... entahlah, jangan mencintai sebelum akad. Apalagi cinta bertepuk sebelah tangan, yah ... seperti ini lah jadinya. Ku harap kau simpan cintamu untuk istrimu kelak," ujar Aqila.
**PENCET TOMBOL LIKE !
LIKE !
LIKE !
HADIAH DAN KOMENNYA JANGAN LUPA ... 🥳🥳🥳🥳🥳.
VOTENYA JUGA LOH ... LOVE UNTUK KALIAN😘😘😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Edah J
Albert dan Aqila penuh kehangatan walaupun bukan saudara kandung👍👍👍
2024-10-15
0
Neulis Saja
ehm Aqila right
2024-06-28
0
Rani Ri
Asli ngakak dgn tingkah aqila sama elbert🤭🤣
2024-05-14
1