Aura mengintip, seperti memantau keberadaan orang yang dirindukannya sedari jauh. Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang telah mendarat di bahunya. Aura terkejut dan hampir terjatuh.
Tangan itu menahan tubuh Aura agar tidak sampai mendarat di lantai. "Aura, kenapa kamu sembunyi-sembunyi begitu?"
Mendengar suara 'seseorang' itu, perasaan sang gadis langsung berbunga-bunga. Dia melompat melihat lelaki yang selama ini dirindukannya.
"Bang, maaf ya ... tadi aku lagi ada kuliah. Hape aku ada di dalam tas."
Aksa mengangguk kalem. "Iya, nggak apa. Aku juga salah, tidak mengabari kamu terlebih dahulu saat akan ke sini."
Aura kembali mengedarkan pandangannya. Merasa sedikit was-was jika 'orang itu' juga ada di sini.
Oh iya, dia lagi sakit kayaknya. Mungkin tidak akan ke sini dalam beberapa waktu. Lagian dia aneh banget kayak gak punya kerjaan. Setiap saat nongkrong di sini kayak pengangguran.
"Ra? Aura?" Aksa kembali menyentuh pundak gadis itu. Dia kembali terkejut. "Apa yang kamu pikirkan?"
Aura teringat ada satu sosok yang sedari tadi menunggunya di parkiran. "Tunggu ya Bang. Aku ke sini bareng teman. Aku jemput dia terlebih dahulu yah?" Aksa hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
Dengan langkah ringan, sembari bersenandung kecil, Aura menjemput Stella yang bersandar pada kendaraan roda empat miliknya. Stella berlari kecil mendekat pada temannya.
"Aziiieeehhh .... Kayaknya ada yang lagi seneng?" celetuk Stella.
"Ehehe, iyah. Aku juga nggak nyangka bisa sesenang ini saat ketemu dia. Sudah lama sekali gak lihat dia. Sepertinya dia terlihat semakin tampan saja." Lalu mereka kembali berjalan menuju tempat Aksa tengah berdiri.
"Aaawaaas!" Aksa berteriak memberi aba-aba ada sebuah mobil tengah mendekat.
......tiiin...ceekiiit......
"Aaaagh," pekik Aura. Mereka berdua nyaris tertabrak kendaraan yang hendak diparkir dengan sembrono.
"Boss, apa Anda tidak apa-apa?" tanya Abizar yang duduk di sebelah sang supir.
Reza memaksa mengendarai mobilnya. Namun, tiba-tiba detak jantungnya tiba-tiba berubah tak karuan. Hingga dia memarkirkan kendaraan tidak semulus biasanya. Ditambah lagi melihat gadis yang mengesalkan yang tiba-tiba muncul.
"Seharusnya Anda membiarkan saya yang mengendarai mobil tadi Boss." Ucap Abizar. Reza tidak mengizinkan Abizar mengendarai mobil sport mewah miliknya ini. Seharian kemarin, Abizar menunggu kendaraan ini yang dipaksa harus selesai pada hari yang sama. Jika tidak, Reza mengancam menurunkan gaji Abizar sebesar lima puluh persen.
"Abizar, nanti kamu saja yang nyamar menjadi saya! Sepertinya kondisi saya tidak memungkinkan untuk meeting hari ini," ucapnya. Matanya masih nanar menatap dua gadis yang hampir ditabrak tadi. Fokus pada salah satu orang yang dibencinya.
"Ta-tapi Pak?"
"Laksanakan saja! Saya akan memantau dari jauh. Lagian pakaian kamu lebih formal dibanding saya." Reza membuka pintu kendaraannya. Menengok keadaan dua gadis yang nyaris tertabrak itu.
Setelah itu, Reza memeriksa keadaan mobilnya sembari berkacak pinggang. "Bisa nggak ya, kalau jalan pakai mata?"
"Eeeh, Om penyakitan! Seharusnya kami yang mengatakannya! Bukan Anda! Jika kami keserimpet dikit aja awas yaaa?" Stella ikut berkacak pinggang. Namun, Aura menarik gadis itu untuk meninggalkan sang Tuan Muda.
"Jadi supir aja, belagu sekali Anda Om Mesum." Aura melirik di ujung matanya. Lalu segera meninggalkan tempat itu.
"A-apa? Su-supir?" ulang Reza tak terima. Dia kembali memperhatikan pakaian yang dikenakannya dari atas hingga ke bawah.
Sialan, gue dikatain supir.
Beberapa saat kemudian, Abizar ikut keluar. Merapikan jas kerja dan ikut melihat apa yang tengah terjadi. Tampak olehnya dua gadis yang menolong atasannya tadi malam, berlalu meninggalkan Reza.
Abizar mendekat, melihat Reza dengan wajah panik mode. "Kenapa Boss?"
"Ah, sialan? Masa saya dikatakan supir oleh mereka? Emangnya mobil kayak gini butuh supir apa?" Mereka berdua kembali melihat mobil yang hanya muat dua penumpang itu.
"Pffftt," tawa Abizar hampir meledak. Teringat bermacam profesi sang big boss berubah dalam beberapa waktu terakhir. Sudah dikira sebagai asisten oleh Anja, sekarang malah disangka sebagai supir.
"Tapi Boss, mereka itu anak-anak baik lho? Mereka itu yang--"
"Apa? Anak-anak baik? Para bocah tengil itu?" sela Reza kembali berkacak pinggang melihat dua remaja dewasa tengah bertemu dan bersalaman dengan cowok. Pria itu juga terlihat masih muda.
Reza kembali melihat jam tangannya. "Jam tangan segini mahal, masih aja disangka supir," desisnya masih tak percaya.
"Apa Boss? Coba ulangi?"
"Udah Ah, Kamu duluan saja! Nanti saya nyusul!" Cetusnya, dengan mata yang masih menerawang menuju salah satu dari dua gadis yang terlihat ceria tengah berbicara dengan laki-laki muda yang tampan.
"Oh itu, jadi laki-laki seperti itu kesukaan Nona Mie Instan?" Kembali memperhatikan postur dan pakaiannya sendiri. "Saya tak kalah muda kok." Memperbaiki lipatan kerah p*lo tshirt-nya. Setelah itu melangkah perlahan masuk area kafe.
Aura, Stella, dah Aksa melihat seseorang berpakaian rapi memasuki kafe yang terkesan cozzy itu. "La, bukan kah itu--"
"Iya." Stella menyela ucapan yang belum selesai diucap Aura.
"Hai!" Abizar mengulurkan tangannya dengan ramah. Aura, Stella, dan Aksa menyambut uluran tangan itu. "Terima kasih ya atas bantuan kalian kemarin," tambahnya.
"Sama-sama Om," ucap Stella berbinar-binar.
"Mari masuk. Menikmati makanan di dalam!" ajak Abizar.
"Oh, kami bukan mau makan di sini. Kami hanya bertemu dengan kakak yang datang dari Bandung," terang Aura.
"Dari Bandung? Waah, jangan-jangan kamu dari tim perusahaan rintisan yang mengirim proposal pada Harmony Grup?" tanya Abizar untuk memastikan.
"Benar sekali Pak. Kami datang untuk bertemu dengan pimpinan Harmony Grup. Kami ingin mempresentasikan rencana usaha rintisan yang kami usung."
"Ini kami lakukan untuk memohon bantuan dana dari Harmony Grup. Kami berharap rancangan ini bisa berlanjut dan dapat dibuat menjadi sebuah aplikasi di telepon pintar," jelas Aksa.
"Waaah, sepertinya ini sangat menarik. Ayo masuk dulu ke dalam. Saya ingin melihat kawan-kawan dari Bandung mempresentasikannya dengan segera! Saya merasa sangat penasaran."
Wajah Aksa berbinar, "Apakah Anda pimpinan Harmony Grup?"
Mata Aura yang sedari tadi berbinar memperhatikan penjelasan dari laki-laki ini. Kini beralih kagum pada Om-om tamvan yang ternyata seorang pimpinan perusahaan sebesar Harmony Grup. Stella pun ikut kagum melihat itu semua.
Reza dengan tatapan nanar melewati mereka. Kedua gadis itu tidak menyadari Reza telah lewat di belakang mereka. Reza segera menuju ruang kerja Jay.
'Jadi begitu? Cowok itu salah satu dari mahasiswa itu? Huh, menarik.' Reza melirik mereka dengan ujung matanya. Dia terus berjalan menuju ke tempat Jay yang tengah berjibaku menulis laporan untuknya.
"Bang, kira-kira pukul berapa beres meeting-nya?" tanya Aura.
"Hmmm, kurang tahu juga. Kamu dan Stella masih ada kuliah?"
"Iya nih, abis istirahat siang kami masih ada kuliah," jelas Aura dengan wajah tak rela harus berpisah dengan segera.
"Ya udah, kalian istirahat dan makan siang dulu gih! Bagaimana kalau makan di sini saja, hingga kami selesai?" tanya Aksa.
"Gimana La? Kita makan siang di sini?" Aura memastikan pendapat Stella terlebih dahulu.
"Aku sih oke. Biasanya kamu yang nggak oke," tukas Stella.
"Aku juga oke," ucap Aura. Keuangannya sedang terisi penuh di dalam pundi-pundinya. Saat ini dia merasa lebih percaya diri
Mereka memilih duduk dekat taman sembari menikmati makan siang. Dari posisi itu, mereka juga bisa melihat kelompok kerja Aksa yang tengah meeting bersama pimpinan Harmony Grup.
Aura teringat akan sesuatu. Tadi ada sebuah pesan yang datang dari Sistem. Ternyata ada beberapa pesan yang masuk dari Sistem.
[Selamat pagi Nona Aurora Safitri. Sistem berharap hari ini Anda tidak melupakan misi yang masih berlanjut hingga delapan hari depan.]
[Apakah sudah memilih perusahaan mana yang akan Anda retas untuk hari ini?]
[Sistem harap Anda segera membalas pesan dari kami!]
[Karena Anda tidak membalas pesan dari Sistem, maka Anda kami anggap mangkir!]
Membaca pesan yang sudah banyak itu membuat kening Aura berkerut. Dia melanjutkan membaca pesan berikutnya.
[Anda sudah mengabaikan pesan dari Sistem lebih dari dua jam. Oleh sebab itu, Anda kami kenakan denda pemotongan DANA sebesara Rp2.000.000,-]
"Apa?" rutuk Aura, membuat Stella kaget.
"Ada apa Ra?" tanya Stella.
"Oh, oh, bukan," jawab Aura gugup. Lalu dia melanjutkan untuk membaca pesan dari Sistem.
[Anda masih belum membalas pesan dari Sistem. Setiap satu jam keterlambatan membalas pesan dari Sistem, maka DANA Anda akan kami tarik sebesar Rp1.000.000,-]
"Oooh, Noo!" teriak Aura.
"Kenapa sih?" Stella semakin penasaran.
"Oh, ini. Aku dapat kabar buruk," desisnya.
Lalu dilihat pesan notifikasi dari bank yang dia gunakan.
[Nasabah a/n Aurora Safitri dengan nomor reg. 1234xxxxxxxxxxxx dana keluar sebesar Rp 3.000.000. Terima kasih.]
"...???????..."
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
raziq
d lanjut thor....
2022-03-16
1
Anonymous
aura harus lebih waspada n hati2 ni.....
2022-03-16
1
Anonymous
ok d lanjut 👍
2022-03-16
1