"Ma-maaf Om," ucap Aura gugup.
"Siapa ini? Kamu pencuri ponsel milik Pak Reza ya?" Tanya seseorag di seberang dengan tajam.
"Bu-bukan Om. Ini orang yang punya hape sedang pingsan. Jika Om kenal sama dia, segera ke gedung bioskop 212. Kami menunggu di sini," jelas Aura.
"Kalau begitu saya akan segera ke sana! Kamu jangan bawa kabur semua benda yang dimilikinya."
Aura menutup panggilan itu dengan kesal. "Huuu, udah ditolongin malah diperlakukan begini. Mending kita tinggal aja ni orang!" gerutunya.
"Kenapa Ra?" Stella heran melihat Aura yang merengut.
"Ni, orangnya malah marah-marah nggak jelas."
"Ooh, wajar sih ya? Soalnya sekarang lagi musim penipuan. Bahkan orang-orang bisa tertipu dengan mudah meski belum pernah berjumpa."
Aura hanya mengangguk. Lalu melihat Reza dengan tatapan penuh tanda tanya. "Tadi kayaknya dia pingsan saat lagi adegan yang hantu muncul dari atas plafon itu deh. Kan semua pada teriak. Tiba -tiba dia udah nemplok aja di bahuku. Aku pikir itu kamu."
"Masa seorang Stella pingsan gara-gara nonton film horor? Itu mah makanan sehari-hari aku," celetuk Stella.
Aura kembali melihat Reza yang masih tertidur dengan tenang. "Kalau dia tenang nggak mencak-mencak begini malah terlihat tampan."
"Dia memang ganteng kok orangnya. Tapi rada aneh aku lihat. Masa iya nggak bisa kalem sama cewek?" Stella ikut memperhatikan wajah tenang Reza.
"Iya sih." Aura teringat saat tadi jemarinya digenggam oleh Om Mesum. Tubuhnya bergetar hebat sebelum pingsan.
"Kenapa tanganmu Ra?" tanya Stella.
"Oh, bukan apa-apa," elaknya.
"Kenapa muka kamu bersemu merah?"
"Ah, enggak aah," elaknya lagi. Dia tiba-tiba merasa malu. Membayangkan jika itu dilakukan oleh seseorang yang ada di Bandung, Aksara.
Aura dan Stella mengisi waktu menunggu dengan memainkan gadget mereka. Sesekali Aura menengok Om Mesum berharap segera siuman. Dari jauh terdengar suara hentakan langkah kaki yang cepat. Langkah kaki itu terdengar sangat terburu-buru.
Dari pintu yang terbuka itu, muncul seorang laki-laki tinggi, dada bidang, dan berwibawa. Dia melihat seorang yang belum sadarkan diri sedari tadi.
"Boss, Boss?" Berjalan dengan langkah cepat mendekat dan menepuk-nepuk pipi pria itu.
"Eiy, Om ..., kasian ditepokin kayak gitu ah?" Aura menahan lengan pria itu.
"Oh iya," jawabnya menenangkan diri. "Kenapa dia pingsan di sini?"
"Oh, tadi dia pingsan saat nonton kayaknya Om," jelas Aura. "Tadi dia sama pacarnya nonton film horor yang lagi viral itu kan. Pas adegan menegangkan, orang-orang yang nonton pada teriak-teriak. Eeh, dianya malah pingsan," jelas Aura.
"Terus pacar yang bareng dia tadi ada di mana?" Abizar mengedarkan pandangannya ke sekeliling area tersebut.
"Dianya udah pergi."
Rahang Abizar tampak mengeras. Lalu melakukan panggilan.
"Saya butuh ambulance ke bioskop 212 secepatnya!" Panggilan ditutup, lalu Abizar kembali mengecek keadaan orang yang mempekerjakannya ini.
"Om, teman Om ini kami serahkan pada Om ya?" Lalu mengambil seluruh anak-anak elektronik milik Reza. "Kami menemukan ini. Tenang saja Om, tidak ada yang kami ambil satu pun kok."
Aura mengode Stella untuk segera bangkit. "Kalau begitu kami pulang dulu ya Om. Semoga temannya segera sembuh."
"Terima kasih. Maaf tadi sudah marah-marah saat nelpon tadi."
Aura dan Stella mengangguk lalu meninggalkan Abizar yang tengah panik sendirian. Mereka segera menuju parkiran dan pulang.
💖
💖
💖
Keesokan paginya, Reza terbangun dengan wajah heran. Tubuhnya terpasang peralatan medis yang tersambung pada sebuah monitor yang mengontrol laju pergerakan jantungnya.
"Mas, kamu sudah siuman tah?" Seorang wanita paruh baya berdiri di sebelah ranjangnya dengan wajah khawatir.
"Mama? Kenapa Mama ada di sini?"
"Semalam Mas Abizar menelepon Mama. Katanya kamu itu pingsan saat menonton film horor. Kamu kok ada-ada aja? Udah tau jantungan masih coba lakukan hal yang aneh-aneh?"
Reza mencoba mengangkat tubuhnya. Sang ibu menolong, dan menekan tombol mengubah posisi brangkar, agar Reza bisa duduk menyandar. Reza menekan dadanya yang masih terasa agak perih dan nafasnya sedikit sesak.
"Lain kali kamu nggak usah nonton di bioskop lagi, apalagi nonton film horor." Melihat monitor yang telah menunjukan pergerakan jantung Reza mulai stabil.
Tiba-tiba Reza teringat dengan pacarnya tadi malam. Dia merasa menggenggam tangan Angel. "Ma, mana hape-hape aku?"
"Itu, hape kamu kok banyak sekali? Apa tidak pusing nantinya tu?" Sang ibu mengambilkan dan menyerahkan semuanya pada Reza.
"Jika nanti ada satu orang yang bener-bener bisa meluluhkan hati aku ya Ma, aku janji akan menghibahkan mereka. Kutinggalkan satu saja untuk hal penting masalah keluarga dan pekerjaan."
Reza mencoba menghubungi Klient-25. Namun, panggilannya tak dijawab oleh yang dituju. Reza menelepon hingga tiga kali tetap saja tidak diangkat. Tak lama, terdengar nada pesan masuk pada ponselnya. Sebuah pesan dari Klient-25.
[Jangan hubungi aku lagi! Kita PUTUS!]
^^^[*Lho? Apa salahku?^^^
^^^[Apa aku melakukan hal aneh tadi malam?]^^^
[Aku hanya merasa kita tidak cocok]
[Aku itu butuh dimanja!]
[Bukan dijadikan sebagai pengasuh!]
^^^[Oh, ya udah. Kita putus*]^^^
'Aku juga tidak butuh sama orang yang tidak mau menerima kekuranganku. Namun, tadi malam tangannya itu? Tangannya begitu hangat. Seperti sebuah tangan dari seorang yang aku butuhkan. Menggenggam erat saat aku merasa tidak berdaya,' batin Reza.
"Reza, kamu memikirkan apa?" Sang ibu membuyarkan lamunan Reza.
"Oh, enggak Ma."
"Sementara kamu kembali ke rumah ya? Mama itu kangen sama kamu tau nggak? Rini sudah diboyong suaminya ke Jepang. Rumah kita sudah sangat sepi. Bagai berada di kuburan."
Reza menautkan kedua alisnya. "Bukan kah masih ada Rezi, Ma? Ratu heboh kan masih tetap hidup. Tak mungkin rasanya, bila rumah terasa sepi."
"Adik kamu itu sibuk melulu. Kuliah sejak sebelum subuh, pulang sehabis waktu isya. Mamamu ini kesepian tau nggak? Biasanya ada Rini menitip anak-anaknya selagi mereka bekerja. Sekarang tidak ada lagi suara anak-anak di rumah. Mamamu kesepian. Cepat lah menikah!"
"Aku mandatkan pacar-pacarku datang main le rumah tiap hari gimana? Tapi Mama harus rela menghapal nama-nama mereka. Yang hadir selalu berbeda tiap harinya."
"Kamu mau bikin Mama mati berdiri apa? Nama anak-anak saja Mama sering salah, kamu suruh pacar-pacarmu melapor dengan nama berbeda tiap harinya?"
"Kapan kamu mau berubah? Sudah waktunya serius! Mama tahu sebenarnya kamu itu galau karena tidak kuat menyentuh perempuan kan?" Ibunya kembali memantau pergerakan detak jantung Reza di layar monitor.
"Jangankan membuat anak, menggerayangi perempuan aja kamu tak kuat tah."
Reza mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Melepaskan segala peralatan yang melekat di tubuhnya.
"Eleh, eleh, kamu mau kemana lagi ta Mas? Istirahat dulu! Kamu masih perlu dipantau lagi oleh dokter."
Reza telah menggunakan semua pakaian bersih yang dibawakan sang ibu. "Bukan kah ini terlalu sering terjadi padaku Ma? Sebenarnya aku tak perlu dibawa ke rumah sakit. Aku hanya butuh istirahat aja."
"Tetapi akan ada yang datang sengaja menengok kamu ke sini lho?"
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
Ig : @smiling_srn27 🎀
Jodohin aja si Reza, biar kalem dikit jd cwk
2022-03-21
0
Ig : @smiling_srn27 🎀
Lemah dia Ma 🤭🤭🤭
2022-03-21
1
Ig : @smiling_srn27 🎀
Widihhh udah mulai bertunas keknya nih
2022-03-21
1