"Kita lihat, apa pilihan yang akan diambil oleh Nona cerdas ini?" Ucap Marcell, orang yang berada di balik Sistem Kekayaan: Hacker. Dia tersenyum dengan licik.
Dia memaksaku untuk mengambil keputusan ini. Oh Tuhan, seharusnya sedari awal aku tidak mencobanya sama sekali.
Aura membalas pesan dari Sistem.
^^^[Kau memberikan pilihan yang sulit wahai Sistem Durjana! Awas saja bila data saya tersebar luas! Saya terima tawaran kali ini! Saya tunggu DANA yang kau maksudkan detik ini juga! Cepat kirim!]^^^
teng ... nong ...
[Anda pemarah sekali Nona Aurora Safitri. Beberapa detik lagi akan ada notifikasi DANA masuk pada perangkat Anda. Terima kasih karena telah memilih dengan bijak. Kita akan bekerja sama dengan baik ke depannya!]
'Kerja sama dengan baik apanya sompreet? Ini namanya pemaksaan. Seandainya ada pengacara online juga aaah, ini sudah termasuk dalam tindakan pemerasan. Hiks, pada siapa harus mengadu?'
Aura hanya bisa merutuki pilihan salah yang telah diambilnya ini. Namun, dengan terpaksa dia harus menjalani agar tetap merasa aman.
teng ... nong ... kembali masuk pesan dari Sistem.
[Kirim jadwal sibuk Anda, agar Sistem tidak mengirim pesan pada waktu tersebut!]
"Hei, kenapa? Kok serius amat?" Tiba-tiba saja Aksara datang membuat kedua gadis belia ini menoleh ke arahnya dengan serempak.
"Udah beres meeting-nya Bang? Gimana hasilnya?" Tiba-tiba perasaan marah Aura meluap menjadi bunga-bunga yang bersemi di dalam hatinya.
"Sudah." Pandangan Aksa lurus melihat ke arah Stella, yang kembali sibuk dengan ponselnya. "Nama kamu Stella kan?" tanya Aksa.
Stella refleks melihat ke arah Aksa. "Iya Kak. Kenapa Kak?"
"Boleh minta kontaknya?"
Stella dan Aura saling berpandangan. Lalu menatap Aksa dengan penuh tanda tanya. Lalu Aura memilih untuk kembali memainkan ponselnya.
'Ternyata Bang Aksa sukanya sama Stella,' batinnya sedih.
"Buat apa Kak?" Stella melirik Aura yang rautnya jelas terlihat berubah dengan seketika.
"Ya, buat nanti bila perlu."
Stella kembali melirik Aura. Mencolek Aura, dan gadis itu hanya mengedikan bahu. "Yakin mau kontak saya Kak?" tanyanya lagi. Aksa mengangguk. Stella menyebutkan nomor-nomor kontaknya. Langsung disimpan oleh pria muda itu.
"Ra, kenapa wajahnya ditekuk kayak gitu?" Tanya Aksa. Aura hanya mengeleng, tidak sanggup mengangkat wajahnya. Dia merasa cemburu. Namun tak bisa diungkapkan.
"Stella, Auranya boleh saya bawa dulu?" Tanya Aksa kembali.
"Oh, oh-oooh, tapi Kak, bukannya ada--" Stella melirik ke arah anggota yang tengah meeting bersama Aksa tadi. Namun, tak satu pun yang terlihat. "Mana kawan-kawannya tadi Bang?" tanya Stella kembali.
"Oh, mereka udah balik lagi ke Bandung. Saya mau di sini dulu, buat main sama Aura." Aura refleks menegakan kepalanya. Menatap Aksa lalu menunjuk dirinya. "Iya, ayo kita jalan dulu. Kemana kek?" Ucap Aksa.
"Tadi kan sudah aku bilang Bang, ada kuliah lagi usai ini."
"Oh iya, aku lupa," ucapnya kecewa.
"Kalau begitu aku bolos saja," ucapnya dengan enteng. "Sesekali bolos gak apa kan? Jarang ketemu juga ini kan?"
Stella membesarkan matanya, tidak menyangka Aura segitu bucin pada Aksa. Hingga rela meninggalkan kuliah dengan jadwal dosen killer hari ini. "Yakin kamu Ra?" tanya Stella.
Aura mengangguk, "Iya, yakin dong."
"Jangan! Kamu jangan begitu. Aku akan merasa bersalah jika kamu meninggalkan kuliah gara-gara aku. Biar aku menunggumu hingga perkuliahan usai. Kuliahnya selesai pukul berapa?" Aksa mencegah rencana bolos gadis itu.
"Kuliahnya tiga SKS sih Bang. Jadi beresnya lama. Kuliahnya hingga pukul enam belas kurang dikit," jelas Aura.
"Nah, mata kuliah bobot tiga SKS lagi, bakalan kacau jika nilainya jatuh. Namun, nunggunya sampai jam segitu lama juga ya? Apa boleh aku ikutan masuk? Aku ingin lihat bagaimana perkuliahan anak akuntansi saja." Aksara menggaruk pelipisnya kikuk.
Stella dan Aura saling berpandangan. Ini belum pernah ditemukan sebelumnya. Akan tetapi perkuliahan kali ini terdapat banyak mahasiswa senior yang mengulang. Jadi siapa tau dosennya bisa dikelabui.
"Ayok!" Aura dan Stella segera bangkit dari posisinya. Mereka segera masuk ke dalam mobil milik Stella, menuju kampus untuk perkuliahan berikutnya.
Aura membalas pesan Sistem terlebih dahulu. Menginformasikan bahwa dia tidak bisa diganggu hingga malam hari. Mata Aura berbinar saat melihat saldo yang dijanjikan oleh Sistem benar-benar sudah masuk ke dalam akun bank miliknya. Saat ini dia merasa menjadi orang yang paling kaya di dunia. Dia belum pernah memiliki uang sebanyak itu. Seketika melupakan ketakutan pada masalah yang akan terjadi ke depannya.
Reza keluar dari ruang kerja Jay. Abizar menginformasikan bahwa sebentar lagi akan ada meeting dengan perwakilan perusahaan multinasional. Perusahaan tersebut tertarik dengan bisnis tradding online-nya yang masih sanggup bertahan di tengan anjloknya kepercayaan masyarakat dengan bisnis yang sama.
Dia mengusung lisensi internasional untuk menjamin bahwa bisnis miliknya ini bukan sekedar permainan saja. Dia menjamin nama perusahaanya sebagai bukti keseriusan dalam bisnis tradding ini. Perusahaannya mengampu bermacam jenis bisnis online lainnya yang sudah dipercaya oleh masyarakat.
Dengan refleks mata Reza melihat ke arah dua gadis tadi duduk. Dia terus berjalan lurus, diikuti oleh Abizar di belakang. Mata Reza masih memandang meja tersebut.
"Awaas Bo--"
......bruuughh......
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
FieAme
terpaksa apa dengan senang hati Ra?
2022-03-23
0
Ryoka2
Santai ya ngomongnya😂
2022-03-18
0
Ryoka2
Mengsedih 😌
2022-03-18
0