Bagaimana nasib saya kedepannya jika saya bergabung dengan kalian? Jujur saya takut tertangkap! Karena misi ini adalah sebuah pekerjaan yang melanggar hukum bidang IT. Apa keamanan saya dijamin oleh pihak Sistem Kekayaan Hacker?
Membaca pesan balasan dari targetnya, membuat Marcell menyunggingkan senyum licik. "Cerdas sekali Kau, Nona." desisnya. Dia mulai mengetik balasan.
Keamanan anggota adalah tanggung jawab sistem. Jika anggota terdaftar terlacak oleh sebuah sistem, maka sistem akan menghapus data yang tertinggal dengan otomatis. Keselamatan anggota, adalah prioritas kami.
"Kita lihat, apakah dia percaya atau tidak." Namun belum ada tanda-tanda pesan dibaca oleh Aura. "Mungkin dia sedang sibuk," desisnya sambil bersiap menuju suatu tempat.
💖
💖
💖
Aura tengah fokus dengan materi yang disampaikan oleh dosen. Duduk di sebelah Stella yang juga fokus memperhatikan dosen. Mereka sedang membahas perkembangan bisnis online yang saat ini tengah membuming. Pada masa ini, segalanya bisa dipermudah dengan penciptaan berbagai macam aplikasi.
Aura memikirkan calon mangsa yang akan diretas malam ini. Lumayan lima belas juta, batinnya. Lalu kembali fokus pada materi kuliahnya. Mendengarkan penjelasan mengenai aplikasi-aplikasi yang tengah naik daun, calon mangsanya.
💖
Usai pembicaraan dengan sang ibu, Reza membaca sebuah pesan yang dikirim oleh Abizar. Dia menyampaikan akan ada rapat dengan perwakilan perusahaan rekan bisnis mereka.
Reza kembali menemui Jay untuk pamit, "Bray, gue ke kantor dulu. Ada panggilan dari Abizar."
"Oh oke Om," ucap Jay sambil terkekeh.
"Sialan lu, ikut-ikutan sama kayak bocah tadi?"
"Gue mikir kalau lu sama Aura ditempatkan pada tempat yang sama, pasti bakalan kocak banget."
"Siapa nama nona mie instan itu?"
"Aura. Nama anak orang cantik-cantik gitu malah dibilang mie instan?" cetus Jay menggelengkan kepalanya.
"Huh, Aura ya?" Berbalik dan meninggalkan ruangan. Reza segera menuju lokasi dia memarkirkan kendaraannya.
Awas kau nona mie instan ... Aura ... gue akan selalu mengingat nama itu!
Melajukan kendaraan sport yang dibawanya.
...ddrrtt...
...ddrrtt...
...ddrrtt...
Beberapa ponsel Reza bergetar dengan serentak. Reza yang membawa kendaraan dengan kecepatan lumayan, mencoba menurunkan laju kecepatannya. Melepas sepatu dan menaikan kaki mengendalikan setir mobil.
Kedua tangannya sibuk merogoh ponsel-ponsel tersebut. Mengeluarkan semua yang dia miliki. "Yang mana tadi ya? Ah ... pusing gue!"
Mencari-cari ponsel tersebut tanpa melihat arah jalan.
...brrruuuaaaakk...
Mobil Reza menabrak mobil yang tepat berhenti di depannya. Ternyata saat ini dia bereda di perempatan jalan utama. Lampu merah tengah menyala. Reza terlempar ke depan. Mukanya tertempel pada kaca depan mobil.
"Siiiaaall!" desisnya memperbaiki posisi. "Gara-gara kalian nih! Daddy jadi nabrak kendaraan orang kan?" omelnya pada semua ponsel miliknya.
Reza mengelus pipinya yang sakit akibat benturan. Lalu membuka pintu mobil untuk mengecek keadaan mobilnya.
...tiiiin ... tiiin ... tiiin .......
Lampu lalu lintas telah berganti menjadi hijau. Reza masuk kembali ke mobil, lalu mengikuti mobil yang ditabraknya tadi untuk menepi. Saat menyadari mobil yang dia tabrak tak kalah mewah dengan yang dimilikinya, membuat mata Reza terbelalak.
Dalam pikirannya seketika menghitung kocek yang harus dikeluarkannya untuk biaya reparasi mobil yang ditabrak serta kendaraannya sendiri. Reza segera keluar dari mobil. Dilihatnya yang mengendarai mobil tersebut seorang pemuda, namun wajahnya terlihat sangat dingin.
"Maaf Mas sudah menabrak kendaraannya. Saya siap untuk mengganti biaya reparasi mobil Anda." ucapnya menyerahkan KTP miliknya meski tak diminta. Pemuda itu tidak keluar dari mobilnya, hanya menurunkan kaca jendela.
"Tidak perlu!" Menolak KTP tersebut. "Saya bisa nemperbaikinya sendiri." ucapnya dingin, kembali melajukan kendaraannya.
"Ck ... ck ... ck." Reza menggelengkan kepalanya. "Sultan memang beda," celetuknya.
Sementara pengendara yang baru saja ditabrak oleh Reza adalah pemuda berusia dua puluh lima tahun. Namanya Marcell, orang yang berada di balik Sistem Kekayaan: Hacker. Hanya menyunggingkan senyum miring melihat reaksi Reza dari spion mobil miliknya. "CEO Harmony Grup." desisnya.
Reza membawa mobilnya yang ringsek menuju kantor. Mobil diparkirkan, dia segera masuk ke kantor. Semua mata memandang heran ke arahnya. Dia tidak sadar pipi sebelah kirinya sudah membiru karena lebam. Kulitnya yang putih pucat, menyemburatkan semua dengan nyata.
Reza mulai merasa heran, kenapa semua orang melihat dia dengan tatapan aneh. Kembali dilirik ke arah belakang, ternyata para karyawan memang tengah membicarakannya. Para karyawan yang melihat sang atasan melirik, segera pura-pura kembali ke aktifitas masing-masing. Reza menunggu lift untuk naik ke lantai atas. Kembali dilirik, para karyawan kembali pura-pura beraktifitas.
Akhirnya pintu lift terbuka, dia masuk dan kembali melihat para karyawan yang tengah memegang pipi, namun pura-pura kembali ke aktifitasnya. Ditekan tombol bernomor lima belas, dimana ruang kerjanya berada. Dia melirik ke sebelah kiri, alangkah terperanjatnya dia saat melihat bayangan di cermin pada lift itu.
Mendekat ke arah cermin, melihat pipinya sudah membiru. Ditekan, ternyata dia meringis kesakitan.
Hadeehh, ini gara-gara kalian nih, anak-anak Daddy yang nakal. Marah sendiri pada pasukan ponselnya.
Kembali memeriksa keadaan wajahnya. "Masih terlihat cukup tampan," ucapnya.
Reza sudah sampai di lantai lima belas. Menutup lebam yang ada di pipi kiri dengan tangan. Semua karyawan menyapanya dengan hormat. Reza hanya melangkah maju, segera masuk ruang kerja.
Di dalam ruang khusus miliknya, dia mencari sesuatu untuk mengobati bekas lebam. Namun, tak satu pun ditemukannya. Menekan panggilan cepat pada telepon yang ada di meja kerja, untuk memanggil Abizar.
"Zar, bawa sesuatu yang bisa mengobati lebam akibat benturan dengan segera!"
"Maksudnya Boss?" suara Abizar terdengar heran.
"Buruan bawa obat-obatan ke sini!" bentaknya.
"Ba-baik Bossss!"
Dengan tergopoh-gopoh Abizar masuk ke ruangan Reza. Membawa kotak P3K yang dimilikinya. Memeriksa keadaan si Boss lalu mencari obat yang dibutuhkan. Dia menemukan jell pereda rasa nyeri dan lebam. Dipasangkan dengan kasar.
"Aaaawwww ... iihh ... bisa pelan-pelan nggak sih?" bentak Reza.
"Maaf Bosss ... ini tangan laki-laki sejati. Ya hasilnya begindang." candanya melambai kayak yang di perempatan.
Reza menepuk tangan Abizar, merebut obat itu lalu memasangnya sendiri.
...tok ......
...tok ......
...tok ......
Abizar membukakan pintu. Ternyata itu adalah klient yang akan bekerja sama dengn mereka.
"Bu Anja, udah datang aja?" ucap Abizar heran. Seorang perempuan muda cantik, dan tentu terlihat sangat hebat. Bisa dilihat sendiri dengan tatapan matanya yang penuh rasa percaya diri.
Reza melihat seorang yang cantik datang ke ruang kerjanya, auto terbang dengan langkah ringan menuju ke hadapan wanita hebat ini.
"Halooo cantik." sapanya seolah melupakan bagaimana keadaan wajahnya saat ini.
"Maaf ... Pak ...," melambaikan tangannya kepada Abizar yang terlihat tampan dan berwibawa.
"Iya Bu, ada yang bisa saya Bantu?" tanya Abizar dengan sopan.
Wajah wanita itu berkerut, melihat perlakuan Abizar yang terlalu ramah sebagai seorang pemimpin. "Bukannya Anda yang bernama Pak Reza sebagai CEO perusahaan ini?" tanyanya pada Abizar.
"Lalu siapa pria yang tak sopan ini?" Melirik laki-laki yang tampak kacau dengan pipi lebam dengan wajah dikernyitkan.
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
Jungkook97
ya harus diingat dong
kn bakalan jadi bini
2022-07-26
1
PONNA
wih, reza memang beda
2022-04-03
2
FieAme
wkwkwkw..reza..tmpangmu.kurang wibawa
2022-03-23
0