"Nona mie instan? Kau ada di sini?" Sebuah suara seorang yang baru datang, mengagetkan Aura.
"I--ih ada Om-om genit di sini." Aura tergidik. Teringat hampir ditangkap oleh Reza kemarin.
"Hoho, ternyata kamu suka berlangganan di sini juga? Ini adalah tempat favorit saya." ucap pria tinggi bertubuh tegap, wajah ganteng, namun tampangnya slengean.
"Ra, siapa Om-om itu?"
Jay hanya bisa menahan tawa, mendengar saat big boss dipanggil Om-om. Padahal usianya dengan pria itu terpaut tak terlalu jauh. Hanya berkisar dua tahun di atasnya.
Aura mengedikkan bahu. Dia juga tidak kenal siapa orang ini. Pria yang udah kayak jaelangkung ini, selalu datang sesuka hatinya. Namun, begitu susah untuk diusir.
"La, kita pindah aja yuk? Aku males ketemu dia. Dia itu mesum." bisik Aura di telinga Stella.
"Apa? Kamu bilang saya mesum?" Reza menarik kuping Aura.
"A-a--aduh Oom ... sa-sakit Oom!" Aura mengikuti tangan yang menarik kupingnya.
"Sejak kapan saya jadi adik dari ibuk Kamu hah?"
"Le-lepas!" rintihnya.
"Coba lepas sendiri!" gertak pria itu.
Tanpa pikir panjang Aura langsung mengangkat kakinya lalu menendang ke arah pedang sakti milik Reza.
"Aaagghhhh ... pu-pusaka gueh!" Reza menjepit paha. Tangannya terlepas dari telinga Aura menahan rasa sakit yang tak sebanding dengan jeweran telinga yang diberi.
Aura dengan segera memukul kepala Reza dengan tas ransel miliknya. Reza sudah melompat-lompat kayak pocong berpegang pada anu. "Om-om mesuuum ... apa belum kapok juga hah?"
Jay menahan Aura yang terus memukul-mukul Reza. Sementara Stella bersorak melihat aksi heroik yang dilakukan oleh teman dekatnya ini. Merasa mendapat hiburan setelah kecewa pada cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"La, di sini gak aman. Ayo kita cabut aja!" ajak Aura menarik Stella. Tetapi Stella masih asik melihat Jay. Pria yang seketika mampu mengalihkan Arga dari pikirannya.
"Bang Jay ... kayaknya aku belum bisa kerja part time di sini. Apalagi Om-om mesum ini berlangganan sini. Bisa apes tiap ketemu dia." rutuknya sambil melirik Reza yang masih kesakitan karena ulah dirinya.
"Tapi makanan di sini enak Ra. Apalagi pemandangannya." celetuk Stella yang masih asik melihat laki-laki tampan kesakitan karena anu-nya kena terjangan Aura.
"Apa aku boleh ke kosan aja? Aku gak nyaman dengan orang itu." ringis Aura melirik Reza yang masih belum bereaksi karena kesakitan.
"Kau ... Kau ... awas kau bocaah!" Reza sudah mulai ON. Bersiap untuk menangkap gadis itu kembali.
Aura berlari meninggalkan tempat ini, "Sampai jumpa di kampus nanti!" teriaknya sambil berlalu meninggalan Stella.
"Jiaaah ... kok aku ditinggal sendiri?" celetuknya, namun matanya masih fokus menatap Jay.
Sementara Jay masih bengek melihat tingkah Reza. "Kocak banget kalau kalian disatukan begini." ucapnya sambil tertawa.
"Ini lu bilang kocak?" rintih Reza masih berusaha menegarkan alat perangnya yang senat-senut. Reza berjalan sedikit mengengkang, terlihat sangat lucu. Membuat Jay sampai tidak bisa bernafas karena bengek.
"Hey, cewek ...," Reza menyugar kembali rambutnya yang sempat berantakan kebelakang.
Stella hanya meringis melihat Reza. Bener juga kata Aura. Dia ini orang aneh, Stella ikut merinding melihat gayanya ini.
"Kamu tahu siapa nama gadis tadi?" tanyannya kepada Stella.
"Maaf Om, saya ke sini buat makan. Bukan buat ngegibah!"
"Puuufftt ...," Jay terdengar terkekeh. Reza melirik Jay dengan mata mengancam. Jay merasa tercekat. Menahan nafas agar bisa menelan ludah kembali ke dalam.
"Oh, ya udah kalau tidak mau ngasih tau. Nanti saya sendiri yang akan mencari tahu!"
Berani-beraninya dengan lantang dia menolak pekerjaan yang aku beri. Kita lihat! Sehebat apa dia? Akan aku buat kau bertekuk lutut di hadapanku Nona Mie Instaaaaan!
💖
Aura sudah duduk manis di kamar kosannya. "Seharusnya aku mengucapkan terima kasih kepada om-om tadi itu. Dia menyelamatkanku dari pengeluaran berlipat. Sumpah! Mie instan ini terasa lebih enak dibanding makanan yang ada di sana." Dia berbicara sendiri.
Merasa sangat bersyukur karena Reza bisa membuatnya bisa makan dengan menu yang lebih hemat. Aura mulai menyeruput mie instan pakai dobel telor.
...teng ... nong .......
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Aura dengan mulut yang terisi penuh, tersedak saat membaca pesan yang baru saja masuk ... uhuk ....
*Selamat siang Nona Aurora Safitri. Hari ini sistem akan memberikan misi kedua pada level pertama Anda.
*Sepertinya Anda tidak tertarik dengan penawaran yang kami berikan tadi. Kalau begitu, bagaima jika kami tingkatkan harga misi kali ini?
Harga misi kali ini kami tingkatkan menjadi dua kali lipat jika Anda berhasil menyelesaikannya dengan baik. Anda akan mendapatkan DANA sebesar Rp10.000.000,- secara otomatis bila misi yang dilaksanakan dianggap SUKSES. Selamat mencoba!
"Kita lihat, apakah Nona ini tertarik dengan penawaran kali ini?" ucap Marcell di suatu tempat. Orang yang berada di balik Sistem Hacker ini.
"Sepuluh jutaaa?" Mata Aura membesar tak percaya.
Tiba-tiba akal bulusnya mulai berjalan. Bagaimana kalau dibiarin dulu. Jadi harga misinya menjadi berapa kira-kira? Kalau penawarannya menarik, aku akan mengerjakannya. Jika tidak, ya udah ... artinya, aku harus mencari pekerjaan yang baru!
Aura melanjutkan mengonsumsi mie instan tersebut. Setelah merasa cukup, dia kembali beres-beres untuk perkuliahan berikutnya. Gadis itu selalu berjalan kaki menuju kampus. Karena, dia sengaja mencari kosan di lokasi yang tidak terlalu jauh, supaya tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya transportasi.
Bagaimana keadaan Stella ya?
Aura segera mengeluarkan ponselnya. Mencoba menghubungi sahabat yang ditinggalkannya tadi. Nada sambung masuk, dan tak lama orang di seberang menjawab panggilan.
"Halo ...," Suara Stella terdengar sedikit ketus.
"La, udah selesai makannya?"
"Belum."
"Aku tunggu dimana?"
"Terserah! Mau tunggu boleh, mau lanjut juga boleh. Kamu kan memang sesuka hatimu saja?"
"Kamu marah? Gara-gara aku tinggal?"
"Menurutmu?"
"Maaf, aku takut sama Om-Om tadi. Kamu lihat sendiri kelakuannya padaku kan?"
"Hmmm ...."
"Jangan marah dong? Kalau gitu aku susul lagi kamu ke sana."
"Kata aku mah, terserah!"
Panggilan ditutup, Aura melanjutkan langkahnya menuju kafe tadi. Dia merasa tidak enak karena membuat teman baiknya itu marah. Memasuki area itu, dia mulai berjalan dengan was-was. Melirik ke segala sisi dengan wajah siaga.
Dengan langkah cepat, dia menuju tempat temannya duduk. Namun, ternyata mejanya sudah rapi. Semuanya telah kosong.
Iiih, Stella mengerjaiku ... dengusnya di dalam hati.
Tanpa berpikir panjang, dia segera meninggalkan tempat itu. Merogoh ponselnya melakukan panggilan. Tiba-tiba langkahnya tidak bisa dilanjutkan. Ada yang menarik ranselnya dari belakang. Aura melirik, lalu matanya membesar.
"Mau kemana Kamu? Urusan kita belum selesai!"
"Om kenapa sih? Kenapa selalu gangguin aku?" decaknya.
"Soalnya Kamu terlalu berani pada Saya! Saya heran, kenapa ada perempuan yang begitu liar dan tidak patuh sama sekali seperti kamu. Kamu suka mengonsumsi bara api ya?" Tangannya yang satu lagi mengelus dagu, masih asik tebar pesona.
Reza memperhatikan gadis itu lekat-lekat. Hmmm ... ternyata dia lumayan juga.
"Om, lepas! Saya mau berangkat ke kampus!" bentaknya melirik di ujung mata.
"Tempelkan dulu bibirmu itu di sini!" Reza menunjuk pipinya.
...plaaak...
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Cakeeeppp Aura..licik di balas licik..Enak aja kamu yg kerja dia yg kaya raya,Kalo ketangkap dia bisa cuci tangan,yg kenak nya kamu..
2024-11-18
0
Qaisaa Nazarudin
Mampos loe..Aura di lawan...🤣🤣🤣
2024-11-18
0
azka aldric Pratama
sistem beda ya ,kirain sistem tertanam langsung di tubuh si pemakai, 🤔🤔🤔🤔
2023-02-17
2