"Tetapi akan ada yang sengaja datang untuk menengokmu di sini lho? Dia adalah anak temen Papa kamu. Bekerja sebagai direktur pemasaran di perusahaan temen papamu."
Reza memandangi wanita yang telah melahirkannya ini. Seorang wanita bersahaja, yang masih memiliki hubungan erat dengan Keraton Surakarta. Wanita anggun yang membawakan adat istiadat Jawa-nya dalam keluarga mereka.
Wanita yang selalu mengedepankan bibit, bebet, dan bobot jika segala sesuatu berhubungan erat dengan pernikahan. Contohnya saja Rini Dwi Adijaya, adik dari pria ini. Sang ibu baru mengikhlaskan Rini menikah dengan pria campuran Indonesia Jepang. Seorang pria dari keluarga kaya raya yang mendirikan agen detektif rahasia.
Dahulu, hubungan Rini dengan pria biasa begitu ditentang oleh wanita yang bernama Kanjeng Kirana Brotoasmoro ini. Rini hampir depresi akibat kerasnya watak sang ibu yang terus menentang hubungannya. Ketika Rini datang memenuhi undangan pesta rekan kerja di Singapura, saat itulah Rini bertemu dengan Yudhit Akira Sato. Kala itu, dia berprofesi sebagai Jaksa hebat di negeri Merlion.
"Ma, aku masih ingat pada kutukan yang Mama berikan padaku. Mengutuk agar musuh berjodoh denganku. Aku akan lebih senang jika itu terjadi. Dibanding Mama jodoh-jodohkan aku dengan orang yang tidak kukenal."
Kening wanita bersahaja ini mengerut, matanya menyipit. "Kamu beneran ada musuh perempuan?"
Reza memutar matanya, "Ada!"
"Siapa?"
"Pokoknya ada. Kalau nanti aku berjodoh dengan dia, Mama jangan sewot. Bisa jadi dia di luar ekspekstasi bibit, bebet, dan bobot yang Mama harapkan."
Sang ibu membulatkan matanya, "Kenapa begitu?"
"Ini kan kutukan dari Mama sendiri. Jadi jangan malah marah-marah jodohku adalah musuhku."
"Terserah kamu lah! Pokoknya kamu harus menunggu orang yang mau Mama kenalin dulu!" Sang ibu terus menahan Reza agar tidak meninggalkan tempat ini.
"Aku ada rapat penting nanti dengan klient Ma. Mama yakin mau di sini? Aku cabut dulu." Reza segera bergerak hendak hendak meninggalkan ruang ini.
"Reza? Kamu mau meninggalkan Mama di sini begitu saja?"
Reza berhenti dan memutar badan menatap sang ibu. "Ma, aku buru-buru." Melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Sementara pukul sebelas siang, akan ada meeting dengan beberapa mahasiswa yang tengah merintis usaha mengikuti bidang yang dia dalami. Dia harus pulang dan membersihkan diri terlebih dahulu.
"Tapi masa kamu tinggalkan Mama sendirian di sini?"
"Kan ada Pak Rahmad Ma. Nanti aku panggil buat bantu beres-beres." Reza membuka pintu, melirik sang ibu lalu pergi.
"REZAAAA!"
Reza menghampiri supir sekaligus asisten pribadi ibunya. Dia tengah duduk menunggu nyonya besar di balik kemudi.
"Pak Rahmad."
Pak Rahmad segera keluar dari kendaraan itu. "Bukannya Tuan Muda tengah dirawat?"
"Aku baik-baik saja Pak. Nanti tolong bantu Mama untuk bereskan barang-barang yang ada di ruang rawat saya ya Pak."
Kening Pak Rahmad berkerut heran. "Tuan Muda mau kemana?"
"Aku harus siap-siap dulu Pak. Nanti siang ada rapat penting. Saya harus datang. Udah ya Pak? Saya mau naik taksi dulu."
"Ta-tapi Tuan Muda ...???"
Reza tidak memedulikan apa yang akan dikatakan oleh Pak Rahmad. Dengan segera, dia menghubungi salah satu armada taksi online yang dia rintis. Supir yang biasa menjadi langganan bila tidak membawa kendaraan sendiri.
Reza menghubungi Abizar, menyuruh untuk menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk rapat nanti. Reza kembali ke rumah 0 istana yang dia miliki. Mansion yang terlalu luas untuk ditempatinya sendirian. Sehingga mempekerjakan lima orang asisten rumah tangga untuk menemaninya tinggal di sana.
"Bi, tolong buatkan aku sereal dari oats seperti biasa," ucapnya sambil berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Usai membersihkan diri, menggunakan pakaian yang agak santai untuk menghadiri meeting dengan anak-anak muda. Dia berencana untuk mentraktir para mahasiswa itu di salah satu kafe miliknya. Dia mendapat informasi bahwa mahasiswa-mahasiswa itu sengaja datang dari jauh untuk bertemu dengannya. Mereka adalah mahasiswa hebat dari kampus ternama di Bandung.
💖
💖
💖
"Sa, gimana dengan proposal yang akan kita layangkan?" Jery membuyarkan lamunan Aksa yang akan bertemu dengan Aura. Dia sama sekali tidak memberitahukan bahwa akan melakukan perjalanan dekat dengan lokasi kampus Aura.
"O-oh, iya. Beres!" Dia kembali melihat pemandangan yang terus berganti dengan cepat, lewat jendela kereta.
"Lagi mikirin apa Bro?"
"Oh, enggak." Dia hanya menyunggingkan senyum kikuk.
"Bagaimana rancangan softe ware yang akan kita tawarkan?" tanya Cakra.
"Udah ready. Tinggal kita aplikasikan saja di hadapan CEO Harmony Grup saat presentasi nanti," jelas Aksa.
"Kamu tahu lokasi meeting kita berada di mana?" Jerry membuka kembali email yang dibalas oleh Admin Harmony Grup. Menghadapkan ke Aksa, dan dibaca kembali oleh Aksa.
Aksa mengangguk pasti. "Ini lokasinya deket banget sama lokasi kampus UA di Depok itu lho?"
Lokasi kampus Aura. Kita akan jumpa lagi Ra, batin pria muda yang terlihat segar itu.
Kereta berhenti di stasiun yang tidak terlalu jauh dari kampus. Jadi mereka hanya berjalan kaki menuju lokasi kafe Harmony. Dari jauh sudah terlihat ciri khas bangunan gedung kampus itu.
Berpatokan kepada Map's, mereka mengikuti arahan suara nona yang keluar dari ponsel. Akhirnya, mereka sampai juga. Mereka telah berada tepat di pelataran parkiran kafe tersebut.
Aksa segera mencoba melakukan panggilan terhadap Aura. Namun, Aura sedang fokus dengan perkuliahan. Ponselnya dalam mode silent, terletak di dalam tas ranselnya. Jadi, dia tidak tahu ada panggilan untuknya.
Beberapa kali panggilan dilakukan oleh Aksa, namun tidak ada jawaban. "ck" Aksa hanya bisa berdecak. "Apa dia sedang kuliah?" Aksa mengirim pesan pada Aura. Memberitahukan bahwa dia sedang berada di kafe Harmony.
Lalu mereka semua masuk ke bagian dalam kafe. Mereka disambut dengan ramah oleh karyawan yang telah dititipkan oleh sang boss. Mereka mendapat kabar bahwa orang yang mereka cari akan datang tepat pukul sebelas nanti. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi.
Usai perkuliahan, Aura mengecek ponselnya. Ternyata terdapat banyak sekali panggilan yang tidak terjawab. Ada pesan yang datang dari sistem, ada juga yang dari Bang Aksa. Aura memilih membuka pesan dari Bang Aksa terlebih dahulu.
[Aura, aku berada di dekat kampusmu]
[Aku ada meeting di Kafe Harmony]
[Jika tidak sibuk, apa boleh ketemu di sini?]
Seketika wajah Aura menjadi sumringah. Hal itu tak luput dari pandangan Stella. "Kenapa Ra? Kok kelihatannya seneng banget?"
"Ini, Bang Aksa ada di kafe langganan kamu itu lho?"
"Waah, benarkah? Aku boleh ikut? Aku juga penasaran kayak apa Babangmu itu?" canda Stella.
"Kalau kamu tidak keberatan sih, kita ke sana sekarang yuk. Berasa sesuatu aja dia tiba-tiba ada di sini tanpa ada informasi terlebih dahulu." Aura melupakan pesan yang datang dari sistem. Mereka segera menuju ke kafe tersebut menggunakan kendaraan milik Stella.
Sampai pelataran parkir, dengan ragu Aura melihat sekeling area kafe tersebut. Seperti maling yang takut tertangkap oleh satpam. Dia mengendap-endap mencoba masuk ke dalam kafe. Padahal dia sudah berjanji di dalam hati untuk tidak akan kembali lagi ke sana. Akan tetapi, demi bertemu yang ada di dalam hatinya, dia rela kembali ke tempat ini.
Aura mengintip, seperti memantau keberadaan orang yang dirindukannya sedari jauh. Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang telah mendarat di bahunya ...
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
AdindaRa
Aku mampir lagi kak 😍😍😍
2022-05-09
1
Ally Shah
Suka sangat jln crita nya biarpun kdg ada bahasa yg tak d fahami🤭🤭
2022-03-23
0
Ig : @smiling_srn27 🎀
Lanjut besok lagiii... semangaaattttt 💪🏻💪🏻💪🏻
2022-03-21
0