"Kita putus! Gue mengundurkan diri! Dasar laki-laki brengsek!" Rina melempar bungkusan perhiasan yang baru dibelikan oleh pria itu.
Reza menatap kepergian Rina. Matanya berpindah pada sebuah paperbag yang baru saja dilempar oleh Rina. "Lumayan buat dikasih ke yang lain," gumamnya.
Setelah kejadian kena tampar itu, perut Reza merasa lapar. Dengan segera dia bergerak meninggalkan saksi bisu yang menyaksikan tercipta sebuah lukisan lima jari pada wajahnya.
💖
💖
💖
Usai berbicara dengan Ayah, Aura merasa kelaparan yang luar biasa. Dia mengecek isi dompet yang hanya berisi recehan-recehan yang sangat berarti untuknya.
"Aku harus segera mencari pekerjaan paruh waktu," gumamnya. Demi penghematan, Aura membeli dan mengonsumsi mie instan kembali. Ini sudah hampir setiap hari semenjak sebulan terakhir. Dia pun bergerak menuju mini market sejuta umat.
💖
💖
💖
Lidah Reza terbiasa dimanjakan oleh makanan mewah dan mahal. Dia sendiri mendirikan kafe dengan menu yang banyak digandrungi oleh kawula muda. Letaknya dekat sekali dengan kampus Aura. Sebelum singgah ke kafe, dia memilih singgah ke sebuah mini market dekat kampus.
Reza telah merasa bosan dengan menu mewah yang biasa dikonsumsinya. Kali ini dengan langkah ringan, sambil tebar pesona pada pengunjung lain, Reza menuju stand mie instan. Pengunjung lain yang melihat hal aneh di pipi Reza pun terkekeh. Seperti melihat sebuah lukisan aneh pada wajah pria rapi, ganteng, dan tinggi itu.
Matanya tertuju pada satu mie instan cup yang kebetulan hanya tinggal satu varian rasa. Tiba-tiba, salah satu ponselnya bergetar. Tanpa melihat mie instan yang akan dipilih, Reza memeriksa kantong mana yang baru saja menerima pesan. Dia kebingungan sendiri mencari satu di antara sekian.
Tangan yang hendak mengambil mie tadi, ternyata malah meraba benda lain. Matanya segera beralih, mencari tahu kira-kira benda apa dalam genggamannya ini. Matanya membesar, ternyata itu adalah sebuah tangan seorang gadis yang ada di sebelahnya.
Mata Aura membulat, melihat tangannya dalam genggaman lelaki yang tidak dia kenal. Dilirik kembali, ternyata dia adalah seorang lelaki dewasa, berpakaian rapi, tetapi wajahnya terlihat berantakan. Pipi laki-laki itu bewarna merah, ada lukisan lima jari di sana.
"Maaf Om, saya yang lebih dahulu mengambil mie ini." ucap Aura.
Reza tersentak mendengar seseorang menyebutnya dengan 'Om.' Seketika menoleh kepada pemilik suara, sekaligus pemilik tangan. Tampak seorang gadis muda, yang kira-kira seusia dengan adik bungsunya.
"Maaf, coba ulangi! Barusan kamu panggil saya apa?" Terdengar sebuah bentakan dari mulut pria itu.
"Saya bilang, mie ini saya yang duluan, Om …." Aura benar-benar mengulang dengan panggilan yang sama.
Reza kembali melihat ke arah tangannya. Memang benar, mie cup instan yang hanya tinggal satu varian rasa ini sudah dalam genggaman gadis itu. Sementara tangannya tengah menggenggam tangan si gadis.
Reza menyugar rambutnya ke arah belakang. Mencoba menebarkan pesona jantannya kepada gadis yang kira-kira masih delapan belas tahun ini.
"Om …?"
Panggilan itu membuatnya kembali tersentak, menoleh dengan kasar membesarkan matanya. "Om?" tanyanya dengan penuh penekanan.
"Iya, bisa lepaskan tangannya?" Suara gadis itu terdengar sangat dingin.
"Oh, tidak bisa! Ini adalah mie pilihan saya!" tukas Reza.
"Mie ini buat saya! Saya duluan yang mengambilnya!" bentak Aura mulai meninggikan suaranya.
"Oh, no! Cium dulu pipi saya, lalu peluk tubuh saya! Baru, mie ini akan menjadi milikmu! Jika tidak, mie ini tak akan pernah saya serahkan hingga titik darah penghabisan!" tantang pria ganteng itu. Dia juga keukeh mempertahankan mie yang hanya tinggal satu varian rasa ini.
Aura menginjakan kakinya pada sepatu Reza, dengan sekuat tenaga yang dia miliki.
"Dasar Om-Om mesum!" Melangkah dengan cepat meninggalkan pria pesona cassanova yang terlihat aneh ini.
"Aaaaauuuuwww," pekiknya. Jempolnya terasa senat senut luar biasa. Menunjuk kesal ke arah gadis itu, sambil memegang jempol yang telah dilepasnya dari sepatu.
Aura secepatnya membayar mie tersebut pada kasir. Melirik ketakutan bila dikejar oleh pria tadi. Setelah mie dibayar, Aura segera keluar meninggalkan tempat ini.
Reza berjalan cepat mencari gadis tadi. Dia melihat gadis itu setengah berlari meninggalkan tempat ini. Dengan nanar, dia berusaha mengingat wajah gadis yang telah merebut mie dan menginjak kakinya.
Tubuh Aura dipenuhi peluh, usai berlari berusaha kabur dari orang aneh tadi. Dia merasa gerah dan sangat haus. Mengambil air yang ada di dispenser lalu meneguknya hingga tak tersisa. Masih merasa haus, air kembali berpindah ke dalam gelas. Aura meminumnya hingga habis.
Aura segera mengambil panci, memanaskan air di atas kompor. Setelah mendidih, air itu dituangkan masuk ke dalam mie cup instan tadi. Sembari menunggu matang, Aura segera mandi untuk menghilangkan rasa gerah.
💖
Reza masih merasa geram merutuki nasib berasa ditimpa kesialan dua kali. Perutnya menjadi semakin lapar. Melangkah kembali ke tempat mie instan. Mengambil mie cup secara random, yang penting mampu mengganjal perutnya yang mulai bernyayi. Reza langsung menyeduh dengan air panas yang disediakan oleh pihak mini market.
Aura telah selesai mandi. Dia segera mengambil nasi dari penanak yang dia miliki. Lalu mangangkat mie cup yang sudah memenuhi wadah karena mengembang.
Di mini market, Reza membuka tutup wadah mie-nya. Meluruskan garpu yang terbungkus dalam keadaan terbungkuk. Dia memulai menarik mie itu dan memasukannya ke dalam mulut.
"Aaaahh, nikmat banget," gumamnya kembali menyeruput mie itu sendok demi sendok.
Di rumah indekos, Aura menuang mie tersebut ke dalam piring yang telah berisi nasi. Dia mulai memasukan nasi plus mie tersebut ke dalam mulutnya.
"Ya Tuhan, sampai kapan harus begini?" sungutnya. Namun, dia tetap menyuap makanan masuk ke mulut. "Dari pada mati kelaparan." gumamnya.
***
Aura memeriksa materi-materi perkuliahannya. Tiba-tiba hape monophone-nya berdering.
"Halo La."
"Ra, tugas buat besok sudah kamu kerjakan belum?"
"Belum, aku belum sempat ke warnet."
"Hari gini masih ke warnet? Beli laptop dong?" Stela, adalah sahabat di kampusnya, dia menertawakan nasib Aura.
"Kan kamu tahu sendiri aku belum bisa belinya. Jika tidak ada beasiswa ini, mungkin saja aku tidak akan berkuliah. Bahkan hapeku saja tidak berani aku keluarkan. Takut yang lain mengejek, melihat kemiskinanku."
"Yeee, biasa aja kali? Yang penting kamu bukan pencuri kan? Lagian aku bangga punya teman kayak kamu. Pinter banget. Oh iya, kalau ngga pinter, mana bisa menjadi mahasiswa undangan yang mendapat beasiswa ya." tutur Stela dengan santai.
"Ya udah, aku mau ke warnet dulu buat mengerjakan tugas."
"Oke, nanti kabari aku ya?"
"Iya, nanti aku SMS."
Telepon telah ditutup. Aura kembali mengecek isi dompet yang hanya beberapa lembar uang ungu. Diambilnya satu lembar, dan membawa satu buah USB flashdisk untuk penyimpan tugas yang dikerjakan.
Sampai di warnet, Aura memilih komputer secara acak. Dia langsung membuka catatan, materi yang akan dikerjakan. Sambil menunggu, Aura tertarik melihat icon aplikasi yang menurutnya sangat unik.
Namanya: sistem kekayaan: hacker
Meski agak ragu Aura tetap mencoba mengeklik icon aplikasi yang terlihat aneh tersebut.
...*bersambung*...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Mulai nih seru nih alurnya..
2024-11-18
0
Qaisaa Nazarudin
Ciihhj dia pikir semua cewek kayak jalang2 nya di luar sana,bukan begitu Ferguso..🤣🤣
2024-11-18
0
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwk gak terima tuh di panggil Om Om..🤣🤣😜
2024-11-18
0