...Teng … nong...
Nasabah a/n Aurora Safitri dengan nomor reg. 1234xxxxxxxxxxxx dana masuk sebesar Rp5000.000. Terima kasih.
Membaca pesan yang masuk itu, membuat Aura langsung melompat kegirangan. Tanpa pikir panjang, Aura segera mengeceknya ke ATM yang ada di halaman parkiran sebuah Kafe di dekat kampusnya. Nama Kafe tersebut adalah Harmony Cafe.
Dia menatap orang-orang yang mengunjungi kafe ini. Teman-temannya juga sering nongkrong di sini. Dari gosip yang dia dapatkan, usia pemilik kafe ini masih tergolong muda. Memiliki berbagai macam usaha dalam kerajaan bisnis bernama Harmoni Grup.
Apakah tempat ini menerima pekerja part time nggak ya?
Aura bergerak menengok bagian pengumuman pada kafe ini. Mencoba mencari pengumuman yang dia harapkan. Ternyata, di bagian paling pojok papan pengumuman itu, terdapat sesuatu yang dia inginkan.
Tapi bukan kah aku sudah memiliki pekerjaan sebagai hacker? Namun, menjadi hacker itu sangat berbahaya. Aku tidak boleh terlalu sering meretas perusahaan seperti barusan. Makanya aku harus segera mencari pekerjaan yang lain. Orang lain tidak boleh tahu, aku bekerja sebagai hacker.
Aura melangkahkan kakinya memasuki kafe yang tak pernah dia singgahi ini. Karena dia tidak mampu membayar makanan-makanan yang tergolong mewah untuk keuangannya yang sangat minim.
"Kak, saya ingin bekerja sebagai freelancer di sini. Bagaimana caranya ya Kak?" Aura memberanikan diri bertanya pada salah satu pramusaji yang tengah bekerja di sana.
"Oh, ya. Kamu bisa langsung berbicara dengan manajer di sini. Kafe ini sangat terbuka bagi karyawan freelancer." ucapnya ramah.
"Mari saya antar!" ucapnya mengajak Aura. Aura mengikuti dari belakang.
"Kafe ini, salah satu bagian usaha dari Harmoni Grup. Jadi, pimpinankafe ini adalah seorang Manajer. Kami semua biasa memanggilnya Bang Jay."
"Sesekali, CEO dari Harmony Grup datang memantau kafe ini. Tidak ada yang mengetahui identitas CEO kita itu. Aku pun sampai hari ini juga tidak tahu big boss kafe ini."
"Oh ya? Berarti dia menyembunyikan identitas agar diam-diam memantau para karyawan gitu kah?" tanya Aura cukup tertarik.
"Sepertinya begitu. Oh iya, namaku Riska." Dia mengulurkan tangan.
"Aura," dia pun menjabat tangan Riska.
"Sepertinya Bang Jay sedang ada tamu. Kamu duduk di sana dulu hingga urusannya selesai. Aku mau bekerja kembali." menunjuk sebuah bangku di meja kafe yang masih kosong.
"Baik. Terima kasih Kak." Aura duduk menunggu hingga pintu dibuka dari dalam. Terlihat seorang pria rapi keluar dari ruangan itu.
Alangkah terkejutnya dia, melihat tamu dari manajer kafe ini adalah orang aneh yang kakinya diinjak tadi. Aura segera menyembunyikan wajahnya. Tampak pria itu memilih duduk di pojok kafe. Aura pun mengetuk pintu ruang manajer.
...tok...
...tok...
...tok...
"Masuk!" ucap seseorang dari dalam.
Perlahan Aura menarik gagang pintu itu. Lalu masuk dengan hati-hati. Terlihat seorang pria yang cukup muda tengah menulis-nulis sesuatu berupa laporan.
Manajer itu melirik Aura lalu berdiri mengulurkan tangannya dengan ramah. Aura dengan segera menyambut uluran tangan itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Oh begini Pak, saya melihat di bagian informasi, bahwa kafe ini sedang membutuhkan karyawan freelancer sebagai pramusaji."
"Oh iya, benar. Kafe ini menerika freelancer bagi mahasiswa yang membutuhkan tambahan biaya hidup. Jadi, karyawan yang bekerja di sini, rata-rata memang berstatus mahasiswa." jelasnya.
"Apakah saya boleh ikut bekerja di sini sebagai freelancer itu Pak?"
Manajer memperhatikan Aura dari atas hingga ke bawah. "Oh, tentu. Kamu mahasiswa yang membutuhkan biaya juga kan?"
"Benar Pak. Saya sangat membutuhkan dana tambahan. Saya hanya mahasiswa miskin, yang berkuliah dalam jalur beasiswa."
"Oh, begitu. Perkenalkan, nama saya Jay. Kamu jangan memanggil saya 'Pak'! Umur saya masih dua puluh lima tahun." ucapnya sambil terkekeh.
"Kamu boleh mengirimkan CV secepatnya. Agar kita bisa mengurusnya dengan secepatnya. Di sini kita bekerja dalam sift. Waktunya bisa disesuaikan dengan jadwal perkuliahan kamu."
"Jika kamu bekerja pagi sampai siang, berarti boleh masuk untuk bekerja mulai pukul empat belas. Nanti jatah bekerjanya cukup empat jam sehari. Kami tidak akan membebani waktu kalian. Karena kalian juga membutuhkan waktu untuk mengerjakan tugas bukan?" ucap Jay. Aura mengangguk merasa waktu kerjanya cocok, tidak terlalu lama.
"Jika kamu kuliah hingga sore. Kamu bisa bekerja mulai pukul sembilan belas hingga pukul sebelas malam. Kami menyarankan agar kamu menyelesaikan tugas terlebih dahulu sebelum bekerja." jelasnya.
Cukup malam juga, bisa nggak ya?
"Bagaimana Aura? Apa kamu bisa mengikuti jadwal kami? Kami tidak0 memakasa jika kamu tidak sanggup lho?"
"Oh iya Pak."
"Hep, jangan panggil Pak! Saya masih cukup muda. Panggil saja Bang Jay!"
"Baik Pak, eh maksudnya Bang Jay. Sepertinya saya akan mempertimbangkannya terlebih dahulu." Aura menjabat tangan Jay dan pamit untuk pulang.
"Oh, baik lah." jawab Jay menyambut uluran tangan itu.
Aura melangkahkan kakinya dengan segera meninggalkan ruangan Jay. Perlahan mengintip orang yang dilihatnya tadi. Sepertinya dia tengah membaca majalah. Aura dengan langkah cepat melewati pria aneh tadi.
Aura tidak tahu, Reza memiliki mata batin yang sangat tajam. Mendapati gadis muda yang tadi menginjak kakinya tengah berada di daerah kekuasaannya. Mata mereka saling bertemu.
Ssssiiiiaaal .... batin Aura.
Reza langsung berdiri, satu tangan menunjuk ke arah Aura. Satu tangan lagi berada di pinggang. "Eeeh, Nona mie instan?" ucapnya geram dengan gigi tertaut.
Aura setengah berlari meninggalkan tempat itu. Reza melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat. Berhasil menangkap tangan Aura.
"Mau kemana kamu boocaaah?" Dia masih dengan geram.
Aura dulu mengikuti ekstrakurikuller pencak silat pada masa sekolahnya. Dia mencoba mempraktekan ilmu itu kepada laki-laki aneh ini. Pria yang tengah menarik tangannya dipelintir lalu tubuhnya ditumpukan pada perut pria tinggi itu. Aura menarik tangan Reza ke bawah dengan sangat kuat tubuh dibungkukan.
Pria itu terjungkang ke depan. "Aaaarrrhhhghttt!" lenguhnya kesakitan. Dia tak menyangka gadis ini bisa menyerangnya.
Reza pun mencoba bangkit. Melihat gadis mie instan tadi yang sudah berlari kabur meninggalkannya. Beberapa mahasiswa yang datang ke kafe melihat kejadian itu. Reza langsung bangkit berdiri dan menyugar rambutnya kembali ke belakang. Mengedipkan mata menebarkan pesona.
Apa yang dia bicarakan dengan Jay?
Reza bangkit menuju ke ruang Jay. Sementara Aura segera menarik semua uang yang dia dapat untuk membeli laptop dan ponsel pintar. Aura pun segera menuju toko penjualan gadget.
"Lumayan, kerja cuma klik ini klik itu ... masukin rumus, dah ... bisa bawa ini." Dengan ceria Aura segera pulang membawa satu tas yang berisi laptop dan ponsel android.
Sementara Reza menanyakan tengah berbincang dengan Jay.
"Tadi ada cewek masuk ke sini kan? Mau ngapain dia?"
"Oh ... hmmm, dia ... katanya mau lamar jadi freelancer, buat pramusaji."
"Terus udah keterima?" keningnya berkerut.
"Belum, tadi baru menanyakan informasi aja sih. Dia masih mikir kayaknya." ujar Jay, orang yang dipercayakan sepenuhnya untuk mengelola kafe ini.
"Nanti terima aja!"
"Kenapa?" Jay memasang wajah heran.
Gue mau membalas dia ....
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Gila nih CEO gak ada akhlak..masih sempat2 nya Tepe-Tepe..
2024-11-18
0
Qaisaa Nazarudin
Akhirnya ketangkap juga Aura,Hayoo mana mau lari..🤣🤣
2024-11-18
0
Qaisaa Nazarudin
Boss nya rival Aura yg rebutan me instan 🤣🤣😜
2024-11-18
0