Wajah wanita itu berkerut, melihat perlakuan Abizar yang terlalu ramah sebagai seorang pemimpin. "Bukannya Anda yang bernama Pak Reza sebagai CEO perusahaan ini?" tanyanya pada Abizar.
"Lalu siapa pria yang tak sopan ini?" Melirik laki-laki yang tampak kacau dengan pipi lebam dengan wajah dikernyitkan.
Reza menujuk dirinya dengan wajah bingung. Rekan bisnisnya yang bernama Anja ini menyebut nama Reza pada Abizar.
"Maaf Bu ... saya--" Reza mencegat Abizar untuk menjelaskan siapa dirinya.
"Benar sekali Bu, dia adalah Pak Reza. Kenapa Pak Reza? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Reza sembari membesarkan matanya.
"Kamu ini siapa?" Suara Anja terdengar sedikit tinggi.
Abizar melirik dengan sedikit panik, big boss-nya diperlakukan dengan sebelah mata. "Dia ini ... dia ini yang---"
"Saya Abizar, Bu. Asisten sekaligus sekretaris pribadi dari Pak Reza yang hebat ini." Sembari menyalami Anja.
Anja melirik orang yang mengaku Abizar ini dengan sebelah mata. Sedangkan Freea --Asisten dari Anja-- melihat asisten ini dengan wajah sumringah.
Ganteng juga ni asisten. Jarang-jarang ketemu asisten lakik, batin Freea.
"Pak Reza, kita akan mengadakan rapat dimana?" Membelalakan matanya pada Abizar.
"Oh, eh ... di ruang rapat saja." ucap Abizar sembari melirik Reza yang masih membesarkan matanya.
"Pak Reza, apa Bapak yakin mempekerjakan orang seperti ini sebagai asisten?" tanya Anja yang merasa tidak suka.
"Oh, sebenarnya dia orang yang sangat hebat Bu Anja." Lalu melirik Reza. Reza mengibas-ngibaskan kemejanya, membanggakan diri.
Freea menjadi semakin tertarik melihat Reza yang sedang mengaku sebagai asisten. Sementara Anja masih tetap sama, merasa aneh melihat sang asisten yang kebanyakan gaya.
"Mari Bu Anja dan sekretaris, ikuti saya ke ruang rapat. Kita tunggu Pak Reza untuk menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu." Kembali melirik Abizar. Lalu dia pura-pura sibuk mencari sesuatu.
Reza mengantarkan Anja dan sekretarisnya ke ruang rapat yang hanya berdindingkan kaca. Karyawan yang lain, merasa heran atas perilaku pimpinan tertinggi mereka ini.
Biasanya yang mengantarkan tamu adalah tugas Mas Abizar. Sekarang kenapa Pak Reza sendiri yang mengantar?
Karyawan lain mengintip ke ruang Big Boss. Terlihat Abizar tengah pontang panting mencari bahan-bahan untuk presentasi.
"Ada apa ini? Apa kalian tengah bertukar peran?" Anggap saja namanya Dika.
"Oh, ini saya sedang menyiapkan bahan. Ada apa? Mau cari Pak Reza?" tanya Abizar mengernyitkan dahinya.
"Oh, enggak ... Kami semua hanya lagi heran. Kenapa Pak Reza yang langsung mengantarkan tamu ke ruang rapat?"
Abizar menahan tawanya, "Ooh, itu .... Direktur Pemasaran partner bisnis dari perusahaan rekanan kita terlalu cantik. Biasa lah Big Boss-mu itu."
"Ooh ... begitu. Aku pikir apa alasannya Pak Reza sendiri yang mengantarkan mereka? Ternyata sesuatu yang terlalu mainstream."
"Lanjut kerja sanah! Ini malah kepo pada hal-hal nggak penting?"
"Bukan begitu Mas Abizar. Soalnya mereka semua terheran melihat Pak Reza turun tangan sendiri." Dika menunjuk makhluk-makhluk kepo yang sembunyi di balik pintu. Abizar hanya menggeleng.
💖
💖
💖
"Dah Stella ... makasih udah nganterin aku!" Aura melambaikan tangannya pada Stella yang masih duduk di bangku kemudi.
"Iya, biasa aja keles. Sekalian lewat. Dah aku cabut." Stella melajukan kendaraan roda empatnya. Aura dengan segera melangkahkan kaki masuk gang sempit area rumah indekos yang dia tempati.
Sampai di kamar, dia bersegera membersihkan diri. Lalu menyiapkan diri membuka laptop. Langsung menghubungkan pada jaringan wifi dan berselancar. Mencari informasi sembilan perusahaan targetnya hingga semua misi level satu selesai.
Aura menangkap beberapa jenis bisnis berbeda. Mulai dari peralatan rumah tangga, hingga spare part otomotif. Dimana targetnya masih tetap sama, perusahaan yang baru berkembang.
Namun, untuk meningkatkan rasa percaya dirinya, Aura memilih latihan terlebih dahulu. Karena saat latihan pada tradding online kemarin, tidak ada yang mencoba mengusutnya kembali. Aura membuka website milik Harmony Grup.
Aura melancarkan serangan pada bisnis perusahaan yang baru dibentuk itu. Namun sudah memiliki pangsa pasar yang luas. Apalagi, saat ini masyarakat tengah diresahkan pada bisnis yang sama tengah melakukan pencucian uang. Bagaimana dengan perusahaan ini?
Pada perusahaan Harmony Grup, Reza yang tengah mengaku sebagai asisten, hanya duduk di pojokan memperhatikan rencana kerja sama yang diajukan oleh rekan bisnis mereka. Tiba-tiba bagian IT perusahaan tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang rapat itu.
"Pak ... Pak ...," ucap bagian IT menghadap Reza dengan wajah cemas.
"Ekhem ...," Reza berdehem agar bagian IT bersikap lebih tenang.
Bagian IT mendekat dan membisikan sesuatu kepada Reza. "Pak, ada yang sedang meretas bisnis tradding kita!"
Kening Reza langsung berkerut, "Retas?"
"Grafik fluktuasi tradding kita tiba-tiba anjlok. Pengguna aplikasi tradding kita langsung protes. Apalagi ada aplikasi yang tengah bermasalah saat ini. Sehingga pengguna langsung memberi rating aplikasi kita menjadi satu.
......brak......
Reza langsung berdiri, menuju ke ruangan kerjanya tanpa permisi dengan peserta rapat. Anja semakin terheran melihat asisten yang terlihat sok penting seperti itu.
"Silakan dilanjutkan saja Bu." ucap Abizar. Anja melanjutkan presentasinya.
Reza membuka PC di ruang kerja. Segera mengecek fluktuasi permainan uang yang diusung oleh perusahaannya ini. Reza mencoba mengusut dalang yang menyebabkan turunnya grafik tersebut.
"Oooh, lu nyoba main-main sama gue?" Reza membuka kancing lengan panjang, menariknya hingga melewati siku. Dengan serius, dia mengecek siapa di balik ini semua. Kemampuannya sangat mumpuni dalam bidang ini.
Reza adalah pengusaha yang berjalan di bidang online. Tentu saja dia bisa meretas, seperti apa yang dilakukan oleh pngganggu bisnisnya ini. Dia mencoba mengirim surel berisi virus kepada pihak lawan.
Di tempat lain, Aura terus menggencarkan serangannya membuat grafik itu semakin hancur. "Kenapa aku selalu main-main sama ini ya?" celetuknya terheran sendiri. Aplikasi yang sama selalu mendapat serangan darinya.
System alert memberitahukan bahwa ada serangan balasan dari pihak korban. Terdeteksi sebuah virus ganas tengah disisipkan. Aura segera menggunakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Takut virus itu bisa membuka webcam pada laptopnya sehingga wajahnya bisa dideteksi.
Aura segera menguatkan proteksi pada sistem tersebut. Menyerang virus dengan virus darinya hingga kalah dan terhapus sendiri.
Reza yang mengetahui pihak lawan yang cukup tangguh, semakin bersemangat menggencarkan serangannya. Mengirimkan bermacam virus yang sengaja dia buat, dan beberapa lagi dibeli dari para hacker yang bekerja sama dengan Harmony Grup.
"Lu salah tempat hei pecundang online! Lu lupa ya? Perusahaan gue ini di bidang online? Jangan main-main lu ya?" desisnya dengan senyumam miring, penuh percaya diri.
Seluruh jemari Reza asik mengetuk-ngetuk keypad pada keyboard. Melancarkan balasan beribu-ribu kali lipat. Bibirnya masih tersungging senyuman, dama dia merasa akan menjadi pemenang pada perang virus melawan virus kali ini.
Sistem Aura mengeluarkan peringatan. Banyak serangan balasan yang tengah mencoba menghancurkan barel pertahanannya. Aura menjadi kalut dan panik.
Sistem Kekayaan memberi pesan kepada Aura:
Anda terdeteksi melakukan pekerjaan di luar misi. Oleh karena itu, Anda akan kami denda dengan penarikan DANA sebesar Rp1.000.000,-. Terima kasih.
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
Ainun Dunggio
wah kalah tu
2022-09-22
0
Itarohmawati Rohmawati
sayang tu duitnya
2022-04-08
0
Lee
masih nyicil kak othor
2022-03-24
0