"Yaa, ternyata bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Apalagi cowok yang kita suka malah menyukai sahabat kita sendiri." ucap Stella berjalan dengan cepat, namun dikejar oleh Aura.
"Siapa?" tanya Aura berusaha mengiringi langkah Stella di belakang.
"Siapa lagi? Sudah jelas, dia sukanya sama Kamu." Masih berjalan dengan cepat.
"Tapi aku kan udah sering cerita, aku sukanya sama Bang Aksa."
Stella mendadak menghentikan langkahnya. "Oh iya ya?" Aura menabrak Stella yang berhenti secara mendadak.
"Oh iya, Kamu bilang lagi bucin sama Bang A-a ... apa kemarin?"
"Bang Aksa." ulang Aura.
"Nah, iya. Terus sekarang gimana? Udah dihubungi?"
"Sudah, tadi malam belajar beberapa hal. Eh, abis tu dia gak ada lagi balas pesanku. Mengsed banget kalau pesan nggak dibalas sampai sekarang." ucap Aura memanyunkan bibirnya.
"Ternyata nasib kita nggak jauh-jauh amat. Mari pelukan ...," Mereka pelukan sambil pura-pura menangis ala-ala anak ababil.
"Dah lah, kita ke ruang kelas dulu. Dari pada kena tendang gara-gara telat." Stella dan Aura dengan langkah cepat menuju ruang kelas.
💖
💖
💖
"Aaaggghhh ...." Reza merasakan sakit kepala yang luar biasa. Mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Saat ini dia sudah berada di atas kasur empuk di kamarnya.
Siapa yang mengantarkanku pulang?
Dia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Terasa hawa dingin AC langsung menerpa tubuhnya. Dia pandangi setiap jengkal kulitnya terpapar jelas di depan mata. Saat ini dia dalam mode polos.
Siapa yang baru saja menggerayangi gue? batinnya panik sendiri.
Dengan segera dia menuju kamar mandi. Kepalanya masih terasa pusing. Perutnya terasa sangat tidak nyaman. Napasnya tersengal-sengal.
Jantungku ... hah ... hah ...
Napasnya tersengal-sengal, tangannya menekan dada dimana jantung berada. Hal ini ulah minuman beralkohol yang dia konsumsi tadi malam. Dia terduduk di bawah siraman shower di kamar mandi, mencoba menenangkan debaran jantung yang berdetak sangat cepat.
💖
💖
💖
Saat tengah serius menerima materi perkuliahan, sebuah pesan masuk. Pesan tersebut datang dari sistem kekayaan hacker.
*Selamat siang Nona Aurora Safitri. Hari ini sistem akan memberikan misi kedua pada level pertama Anda.
Level pertama pada setiap misi yang Anda lakukan, harganya akan kami tingkatkan. Jika misi pertama Anda seharga lima juta rupiah, maka pada misi kedua harganya akan kami tingkatkan menjadi Rp7.000.000,-
Hal itu berlaku pada setiap keberhasilan dalam melaksanakan misi. Setiap harinya, harga misi Anda akan kami tingkatkan sebanyak dua juta rupiah. Namun, jika Anda gagal dalam menjalankan misi, DANA Anda akan kami tarik sebesar Rp5.000.000,-
Misi level pertama masih sama seperti sebelumnya. Yakni hacking data pada perusahaan menengah sedang*.
Membaca perintah dari sistem, membuat Aura tergidik dan merasa terintimidasi. Akhirnya dia memilih untuk diam. Namun hal itu membuat dia tidak bisa berkonsentrasi dalam menerima perkuliahan.
Apakah jalan ini harus aku lanjutkan atau aku tinggalkan ya? Jujur aku sendiri merasa takut dan ragu bila masuk semakin dalam. Memiliki dua benda ini saja sudah lebih dari cukup bagiku. Hemmm ... jika uangku ditambah dua juta setiap harinya, hari terakhir menjadi dua puluh lima juta kalau misi berhasil ya? Bagaimana jika misinya gagal? Berapa dana yang sudah jadi milikku yang akan diambilnya? Sementara resiko yang aku miliki sangat lah tinggi. Bisa-bisa aku ditangkap oleh aparat.
Saat istirahat siang, Stella memperhatikan Aura yang tampak begitu lesu. Aura hanya mengetuk-ngetuk ponsel barunya dengan tak jelas.
"Kamu kenapa? Pesan kamu belum dibalas sama Babang ya?"
Aura seketika gelagapan. "Oh ... ehh ... i-iya. Pesanku belum juga dibalasnya. Aku rasa dia benar-benar tidak menyukaiku. Aku harus segera melupakannya." ucap Aura kembali menjadi lesu.
"Hay cewek." Suara Arga membuyarkan obrolan para ladies ini. Stella menatap kehadiran Arga, cowok yang sudah ditaksirnya semenjak menjadi mahasiswa baru ini hanya dengan hambar.
"Kenapa kemari lagi? Udah kayak jaelangkung aja?" celetuknya pedas.
"Diiihh ... kamu kenapa La? Tumben jutek begini?" Arga menatap Stella sejenak, lalu melirik Aura yang terlihat lesu memainkan ponselnya. Arga terfokus pada benda digital di tangan Aura.
"Wah, udah punya hape baru nih? Berarti udah bisa chatting dong ya?" Arga langsung mengeluarkan ponselnya. Mencoba mengetik di laman chat, lalu mengirimny pada Aura.
"Save kontakku yah!"
Aura menerima pesan baru, langsung menyimpan kontak temannya ini. Gadis itu melirik sahabatnya Stella, merasa tidak enak pada teman dekatnya ini. Aura berusaha menghindari ajakan obrolan Arga, dan selalu memasukan Stella pada obrolan mereka.
Stella yang merasa jengah, bergerak hendak beranjak. Aura juga menyusul, Arga malah ikut menyusul juga.
"Kamu gak boleh ikut!" bentak Aura yang hampir ditinggal oleh Stella.
"Aku mau ikut kalian!" pinta Arga.
"TIDAK BOLEH!!!" ucap Aura dan Stella serempak.
Langkah Aura langsung terhenti. Dia mematung melihat dua orang yang kemarin baru terasa cukup dekat. Sekarang, malah menjauh lagi.
Apa salah gue ya?
Aura terus mengejar Stella. Stella menuju parkiran, lalu naik ke mobilnya. Aura ikut masuk, karena dia memang biasa ikut kemana pun Stella pergi.
"Kita pergi makan siang dulu!" ucap Stella. Mereka menuju kafe tempat Stella biasa nongkrong. Itu artinya di Harmoni Cafe.
Dengan langkah ragu, Aura memasuki kafe yang akan dia lamar ini. Dia takut, isi dompetnya akan langsung terkuras habis bila makan di tempat ini. Sepanjang memilih lokasi tempat mereka duduk, Aura langsung memikirkan kira-kira harus membeli makanan apa yang harganya paling murah.
Akhirnya Stella menemukan meja yang menurutnya pas. Dia langsung duduk di bangku tersebut, Aura juga mengikutinya meski hatinya sudah tak karuan memikirkan keuangan.
Pramusaji datang, dan menyerahkan menu yang bisa mereka pilih. Aura sibuk membolak-balik mencari makanan dan minuman dengan harga paling murah.
"Hmmm ... Aura? Kamu Aura kan?" Suara pria tiba-tiba mengagetkan dia yang tengah sibuk memilih menu paling murah.
Aura langsung menegakan kepala melihat siapa yang tiba-tiba datang memanggil namanya. "Bang Jay?"
"Beneran Aura ya?" tanya laki-laki itu.
Sementara Stella fokus melihat pria yang tengah menyapa teman baiknya itu. Dia melihat pria itu tampak lebih tampan dibanding Arga.
Sugar daddy ... batinnya yang terus memperhatikan pria itu.
"Iya Bang. Kali ini aku mau makan di sini dulu." ucap Aura dengan ragu.
"Ooh, gitu. Bagaimana dengan CV kamu? Apa kamu sudah mantap untuk bekerja di sini?"
"Ra ... kamu mau kerja part time di sini?" tanya Stella bersemangat.
"Rencana awal sih. Tapi melihat jadwal malamnya membuat aku agak ragu siiih." Aura menggaruk pelipisnya.
"Kamu merasa kurang cocok sama waktu kerjanya?" tanya Jay memastikan kembali.
"E-eiya Bang."
"Kamu segera masukan CV! Nanti jadwal kerjanya sebisa kamu juga boleh." jelas Jay lagi.
Mata Aura membulat. Memastikan apa yang baru saja dia dengar tidak salah. "Apa benar Bang? Jadwalnya mengikuti waktu yang aku bisa?"
"Iya Bener. Kamu sudah dipastikan di-ACC sama CEO kita. Jadi, jika kamu sudah memasukan CV, maka dapat dipastikan kamu langsung diterima bekerja di sini."
"Beneran Bang?" Aura refleks berdiri. "Boleh tahu gajinya berapa nggak Bang?" tanyanya lagi.
"Nona mie instan? Kau ada di sini?" Sebuah suara seorang yang baru datang mengagetkan Aura.
...*bersambung*...
...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...
...Terima kasih!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 202 Episodes
Comments
Ainun Dunggio
lnjut
2022-09-22
0
Momy Victory 🏆👑🌹
bertepuk sebelah tangan itu tidak enak.....lebih baik mundur pelan2 dan jadi teman aja.
2022-06-02
1
Momy Victory 🏆👑🌹
minum penawar alkohol Reza, sup hangat.... katanya sih
2022-06-02
1