Arya pulang lebih awal. Tanpa meminta izin, Pak Kenan sudah menyuruhnya pulang terlebih dulu untuk menyiapkan sagala hal untuk malam nanti. Walau acaranya akan di adakan di kediaman keluarga Wijaya, Arya masih harus bersiap sebelum pergi menghadirinya.
Sebelum pulang ke rumah, dia sudah mampir di butik memilih baju untuk di kenakan Tiara nanti. Memilih yang terbaik agar kesan pertama Tiara tidak mengecewakan walau dia hanya seorang gadis desa yang selalu hidup dalam kesederhanaan.
"Yah, bahkan Ayah hanya membelikan baju untuk Tiara saja dan tidak untuk ku." Shasa merajuk, dia tidak bisa ikut pertemuan malam ini karena tidak bisa membawa pasangan. Lantas Arya pun tidak membelikan baju untuk nya. Dia benar benar merasa terasingkan.
"Maaf, Nak. Ayah tadi buru-buru. Jangan cemberut seperti itu. Akhir pekan nanti kau dan Ibu bisa belanja sesuka kalian." Arya bicara dengan penuh senyuman. Bukan hanya karena kasihan, itu juga sebagai permintaan maaf nya karena malam ini dia tidak bisa mengajak istri dan putrinya.
"Apa aku benar benar tidak bisa ikut, Yah? Aku kan juga penasaran seperti apa putra Pak Kenan." Shasa kembali bicara, sudah penasaran sejak lama tapi tidak bisa ikut di pertemuan pertama.
"Sha, Ayah yang akan malu jika kamu juga ikut tapi tidak bisa membawa pasangan. Bu Zepania pasti akan kecewa kalau sampai tahu penolakan mu itu sebenarnya karena mendengar rumor jelek tentang putranya."
Arya berusaha memberi alasan, putrinya sendiri yang menolak di jodohkan dan dia tidak perlu mengharapkan apa-apa jika sudah mengetahui kenyataan nya.
"Mas, kamu terus berhati hati agar tidak mengecewakan mereka, tapi bagaimana dengan Tiara? Gadis itu bahkan berani mendekati laki-laki lain di sekolah, padahal sudah tahu mau di jodohkan." Widia menimpali seolah memperkeruh suasana. Berusaha memberi tahu kalau Tiara tidak sebaik perkiraannya.
"Tiara tidak mungkin mengecewakan, Bu."
Arya mengelak, walau baru beberapa hari tinggal bersama, Arya sudah tahu seperti apa Tiara.
"Kalau Ayah tidak percaya lihat saja, bahkan dia sampai membawa pakaian laki-laki ke rumah. Kalau Tiara wanita baik baik pasti tidak akan melakukan hal sejauh itu kan." Shasa ikut menegaskan, Arya sampai terpancing dan bergegas pergi menemui Tiara untuk meyakinkan nya.
"Tiara, buka pintu nya, Nak! Paman ingin bicara." Arya cukup keras mengetuk pintu kamar Tiara.
Tiara yang ada di dalam merasa terkejut bergegas membukanya. "Iya, paman."
Tiara membuka pintu lebar-lebar, Arya pun langsung masuk dan memastikan. Benar saja, matanya langsung melebar saat melihat sebuah switer yang jelas pasti itu milik laki-laki menggantung di kamar Tiara.
"Tiara, jika kamu memang tidak sanggup menerima perjodohan ini kenapa tidak bilang dari sebelumnya. Jangan membuat paman malu." Tanpa bertanya Arya sudah menyimpulkan semuanya, mengungkit perjodohan tanpa di mengerti Tiara.
"Paman, kenapa tiba-tiba seperti ini?" Tiara begitu kaget dengan tingkah Arya yang tiba-tiba. Bahkan Arya sampai terduduk lemas di kursi kamarnya.
"Itu! Apa kamu mempunyai hubungan dengan laki-laki lain." Arya menunjuk switer itu, menatapnya dengan penuh kekecewaan. Bagaimana tidak, dia sudah terlanjur berharap banyak pada Tiara. Tapi kelakuan Tiara malah perlahan mengikis kepercayaannya.
"Akh. Karena itu lagi. Memang pembawa sial tu switer, gara-gara kemarin pulang kemalaman aku baru bisa mencucinya hari ini."
Tiara langsung mengambil switer itu, memasukkan nya ke dalam paper bag, dan menjelaskan apa yang terjadi pada pamannya.
"Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan siapapun, paman. Ini milik teman sekelas ku. Aku tidak sengaja mengotorinya dan harus bertanggung jawab untuk membersihkannya. Paman tidak perlu khawatir. Besok aku akan mengembalikannya." Iya, itulah kenyataannya, Tiara tidak terima jika sang paman pun malah tidak mempercayainya.
"Tiara, pertemuan nya malam ini. Paman harap kamu sudah siap, dan mengakhiri apapun hubungan mu dengan laki-laki lain di luar sana." Arya bicara dengan begitu dingin. Dia sampai tidak menghiraukan penjelasan Tiara sedikitpun.
"Aku sudah siap untuk perjodohan ini. Aku tidak akan mengecewakan, Paman." Tiara menahan sesak di dada. Belum juga menjalani pertunangan seutuhnya. Sudah banyak peraturan yang menghadangnya. Walau begitu dia sudah bertekad menjalani semua itu dengan baik agar dia bisa fokus dengan pendidikan dan tidak terus tertekan karena hanya di anggap beban.
...***...
Di kediaman keluarga Wijaya. Kenan dan Ze sudah siap menyambut kedatangan Arya. Mereka terus berbincang sambil menunggu Kenzo turun bergabung bersama
"Ken, cepat turun sayang! Pak Arya sudah datang, Nak."
Belum juga Kenzo turun dari kamar keluarga Arya sudah tiba. Ze, Kenan dan beberapa pelayan langsung menuju ke depan, tanpa menunggu putranya. Bergegas menghampiri Arya sudah tidak sabar ingin melihat wanita yang akan di pasangkan dengan putranya.
"Mas." Ze, memanggil. Kenapa malah hatinya yang berdebar. Dia begitu penasaran dengan wanita yang masih mau di jodohkan dengan putra nya setelah rumor yang beredar.
"Iya, tenanglah. Kita akan segera melihat nya." Kenan langsung merangkul pundak sang istri. Mendekap erat tubuhnya agar bisa lebih santai menyambut Arya yang kini sudah ada di depan mata.
"Malam Pak, Bu!" Arya yang terlebih dulu menyapa, menghalangi sosok Tiara yang masih malu-malu dan berdiri di belakangnya.
"Malam, Pak Arya. Terima kasih atas kedatangannya." Kenan yang menimpali, menggerakkan kepalanya melihat kebelakang Arya seolah ingin segera berkenalan dengan calon mantunya.
"Akh, maaf Pak. Perkenalkan ini Tiara." Arya menggeser kan tubuhnya. Langsung terlihat jelas wajah Tiara yang sudah tersenyum menyapa sepasang suami istri di depannya.
"Malam Pak, Bu. Saya Tiara." Tiara memperkenalkan diri, berbungkuk sambil menyalami tangan keduanya satu persatu.
"Akh, gadis ini." Ze terkejut, kalau bukan karena kesopanan Tiara, hampir saja dia tidak mengenalinya karena gadis ini sekarang terlihat lebih cantik tidak seperti saat di sekolah.
"Kenapa, sayang?" Kenan langsung berbisik. Melihat reaksi Ze membuat ia ingin bertanya.
"Mas, ini gadis yang aku ceritakan kemarin, teman sekolah Kenzo yang mengambilkan switer itu."
Ze dan Kenan hampir tidak percaya. Jadi ini wanita yang akan di jodohkan dengan putranya?
"Pak Arya, jadi ini gadis yang anda maksud?" Kenan bertanya untuk memastikan, langsung di balas Arya oleh anggukkan.
"Iya, Pak. Dia Tiara yang sudah saya anggap seperti putri saya sendiri."
Arya kembali meyakinkan. Dan itu membuat Kenan dan Ze tersenyum kegirangan. Bersyukur karena Tiara penuh dengan kesopanan dan berharap besar kalau dia pun bisa menerima Kenzo dengan apa adanya.
"Nama yang cantik seperti orangnya." Kini Ze yang menimpali. Sesuai namanya, Tiara bagaikan mutiara yang selalu menarik perhatian siapapun orang yang pertama kali melihatnya. Ze saja bisa langsung menyukainya.
"Terima kasih, Bu." Tiara kembali tersenyum malu. Penyambutan mereka memberikan kehangatan yang sudah lama tidak di rasakan nya.
"Jangan terlalu formal, panggil saja Tante. Panggil Mommy juga tidak apa-apa. Ayo sini sayang, kita masuk ke dalam." Gemas melihat senyuman Tiara, Ze langsung menggandeng tangan gadis itu langsung melangkah mengajaknya masuk ke dalam. Dia benar benar memperlakukan Tiara seperti putrinya.
"Mereka sungguh baik." Tiara hampir meneteskan air mata, sudah lama ia tidak merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu ia rindukan.
"Sayang, kau bahkan langsung mengabaikan suami mu ini." Kenan tersenyum dengan canda. Kagum pada sang istri yang bergerak cepat berusaha lebih dekat dengan Tiara sebelum mendekatkan wanita itu dengan putra mereka.
"Duh, Mas. Mas bicarakan saja tentang perjodohan ini dengan Tuan Arya. Biar aku yang memperkenalkan Tiara dengan putra kita." Ze bicara dengan penuh semangat. Dia bahkan punya rencana sendiri untuk mendekatkan dua pasangan muda ini tanpa di ganggu oleh para orang tua.
"Baiklah, mari Pak Arya! Jangan sungkan, kita akan menjadi keluarga sekarang."
Semua orang masuk. Arya dan Kenan duduk di ruangan tamu bagian depan. Sedangkan Ze membawa Tiara lebih masuk ke dalam menuju sebuah ruangan yang selalu di pakai istirahat bersama persis di bawah tangga.
"Ayo duduk, sayang!"
Ze membawa Tiara duduk. Matanya celingukan melihat ke arah tangga mencari keberadaan Kenzo yang masih juga belum terlihat batang hidungnya.
"Jangan sungkan, anggap saja ini rumah sendiri. Kau mau sesuatu, biar pelayanan membawakan nya."
Ze kembali bersuara, Tiara sampai malu harus bertingkah seperti apa.
"Terima kasih, Tante. Aku tidak menginginkan apa-apa, tidak perlu merepotkan." Tiara benar benar canggung. Bukan hanya karena terpisah dengan Arya. Tapi dia sedang beradaptasi dengan keadaan di sana yang di penuhi dengan kemewahan. Dia sudah terbiasa dengan kemewahan rumah Arya, tapi rumah ini lebih mewah tiga kali lipat dari rumah pamannya.
"Bagaimana kalau aku sampai menjatuhkan sesuatu karena gugup. Paman pasti akan kecewa pada ku." Belum apa-apa, Tiara sudah nervous tidak karuan. Dia sampai terus menundukkan kepala sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Bi, tolong panggilkan Kenzo!" Karena putranya belum juga turun, Ze pun menyuruh pelayan untuk memanggilnya.
Deg...
"Kenzo?" Tiara sampai terkejut, mendengar nama Kenzo dia langsung teringat si switer sang brandal sekolah.
"Tidak usah di panggil, aku sudah di sini, Mom." Belum juga pelayan itu beranjak pergi suara Kenzo sudah terdengar dengan begitu jelas, lelaki itu sudah terlihat menuruni tangga berjalan dengan perlahan sampai kini makin dekat ke arah Mommy nya.
Glekk....
Tiara sampai menelan saliva dengan begitu kasar, lelaki yang memanggil Ze dengan panggilan Mommy memang benar Kenzo si brandal sekolah.
"Astaga. tidak mungkin si switer ini adalah putra Pak Kenan."
Kepala Tiara sampai tidak bisa berpikir jernih, tidak habis pikir kenapa rumor yang beredar jauh dari kenyataan. Jika rumor mengatakan bahwa putra Pak Kenan memiliki banyak kekurangan itu sungguh salah besar.
Dia bahkan bisa dengan jelas melihat penampilan Kenzo yang penuh kesempurnaan.
Saat di sekolah selalu terlihat berantakan di tambah dengan switer nya, tapi dia masih terlihat cool dengan ciri khas nya. Sekarang dia terlihat lebih rapih dengan setelan kemeja dan sebuah jas yang terpasang di tubuh kekarnya.
"Cepat duduk, kau tidak lihat sudah ada wanita cantik di sini." Ze dengan cepat menyuruh putranya untuk bergabung bersama. Penasaran akan bereaksi seperti apa putranya itu setelah tahu kalau wanita yang akan di jodohkan dengan nya tidak lain seorang wanita yang sudah di kenal nya.
"Cupu?" Kenzo sesaat menatap Tiara, sedikit terkejut, namun detik selanjutnya dia bersikap seperti biasa, dengan santainya duduk di sofa seolah tidak pernah mengenal wanita yang sedang duduk di depannya.
"Akh, dasar anak ini. Bahkan dia tidak bereaksi seperti apapun setelah melihat calon tunangannya." Ze mengerem dalam hati. Bisa bisanya dia melahirkan seorang putra yang mempunyai sifat dingin sedingin gurun es.
"Sekali menyebalkan dia akan tetap menyebalkan." Tiara kesal sendiri. Bisa-bisanya Kenzo masih memasang wajah datar tanpa ekspresi. Padahal jelas laki-laki itu menyadari keberadaan nya. Dia pun langsung mengendalikan dirinya, berusaha untuk tetap tenang, seolah dia pun tidak pernah mengenal sosok laki-laki di depannya.
"Shasa harus mengetahui fakta ini. Dia pasti malah senang kalau sebenarnya lelaki yang di jodohkan dengannya adalah Kenzo. Haruskah aku bicara pada Tante Ze kalau putri paman yang asli lebih pantas di jodohkan dengan Kenzo. Dari pada dengan aku yang hanya kerabatnya saja."
Hati Tiara mulai goyah. Melihat sikap Kenzo yang acuh tak acuh padanya membuat dia berpikir untuk mundur, toh ada wanita yang lebih baik, dan Kenzo pun sudah lebih dekat dengan Shasa daripada dengan dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
FuryaRa Mawa
hebat Tiara jgn diam j
biar gak terjadi kesalahpahaman
2022-11-09
0
Hanie Hatta
sssttttt.... udah jangan banyak tingkah tiara... ini rezeki mu.. jangan ditolak
2022-10-17
0
Anonymous
wah gimana jadinya ya
2022-08-10
0