“bro tolong ya antarin ke meja no. 2, ingat itu tamu spesial bos...gue mau kebelet nih!” Ujar Reza pada Rehan yang habis menghantar pesanan.
“Siip, dah sana cepat keluaran yang ada nanti kencing dalam celana Lo”
“Gak gitu juga kali” Reza langsung ngacir ke belakang yaitu toilet. Rehan melanjutkan pekerjaan nya dan menghantarkan pesanan disebut Reza.
Sampai di meja no.2, sesuai perkataan Reza, Rehan menyajikan di atas meja, disana hanya terdapat satu pria berpakaian formal seperti orang kantor.
“Silakan dinikmati tuan, kalo begitu saya permisi” ucap Rehan ramah namun terkesan datar, Rehan memang seperti itu jika tidak kenal dan tidak terlalu dekat dengan orang tersebut, ia akan berubah datar. Tapi jika dalam bekerja ia usahakan sedikit ramah.
Pria hanya diam, tatapan nya terus mengarah pada Rehan, membuat Rehan bingung dan tak nyaman. Tapi entah kenapa saat melihat wajah pria itu ia merasa ada yang janggal. Tatapan itu bukan tatapan tajam namun seperti tatapan penuh kerinduan.
Dengan langkah sedikit cepat ia menjauh, lama-lama risih juga dia.
“Tu orang ada masalah apa sih sama gue, apa kagak pernah liat orang seganteng gue sampai diliat segitunya...” gumam Rehan dengan PDnya.
Reza yang telah kembali, menatap heran, “lo kenapa bro? Kek orang di kejar setan aja!”
“di kejar setan kata Lo, gue tuh habis di tatap makhluk astral... mungkin dia iri liat ke gantengan gue!” sarkas Rehan ngelantur, membuat Reza jengah dan ingin muntah.
“sama aja nyet...gantengan gue juga!” sinis Reza, tapi ia akui Rehan lebih ganteng nya, ck gak asik.
Rehan mencibir, “dih...bilang aja Lo iri”
Reza yang akan melanjutkan ucapannya tidak jadi mendapatkan tatapan melotot dari atasannya.
“jangan ngebacot, lanjut kerja!” ucapnya tanpa suara.
Reza menyenggol lengan Rehan, “lanjut dah, tu ada yang baru datang” bisik Reza. Rehan hanya berdeham males.
...
Di meja no. 2, pria tadi yang menatap Rehan sebelumnya, netranya masih melirik-lirik ke arah Rehan sedang melayani para pengunjung.
“sebenarnya Daddy tak rela kau bekerja seperti ini!” ucapnya pelan. Yap, dia Arya, lebih tepatnya Daddy kandung Rehan. Rehan sendiri sebenarnya bernama lengkap, ATHALLA ALTEONEL ALBERT, putra bungsu Arya.
“Seperti nya Daddy harus segera membawamu kembali. Ingatan mu harus secepatnya pulih” ujarnya lagi, kemudian mengetik sesuatu dan mengirim nya pada seseorang.
🌼🌼
Di sekolah, selesai mengisi perut nya di kantin, Luna mengajak Zoya ke taman belakang. “Emang mau ngomong apaan sih Lun, di kantin aja kan bisa!” dumel Zoya tampak pasrah ditarik sang sahabat.
“ini rahasia banget, gue gak mau anak-anak lain pada dengar”
“apa bedanya coba, di tamankan juga ada anak-anak lain”
“Tapikan gak sebanyak di kantin, udah gak usah banyak alasan nurut aja”
“Iya iya” Zoya mengangguk melas.
Sampai di taman belakang, mereka duduk di salah satu bangku kosong.
“Oke, sekarang Lo mau ngomong apa, gue siap jadi pendengar yang baik”
Luna menarik nafas, lalu membuangnya kembali selama beberapa kali, membuat Zoya ikut jengah.
“Lunaaa...Lo ngapain tarik nafas dan buang nafas terus. Ini kapan mulainya sih? Kesal gue”
Luna malah nyengir kuda, “ehehe... sorry, gue cuman lagi rileks biar bicaranya jadi lebih enak”
“Apaan dah, apa hubungannya coba? Cepatan mulai!” lama-lama ia jadi kesal.
“iya...tapi Lo harus siap ya dengan kenyataan nya”
Zoya semakin bingung tapi mengiyakan saja, dia sudah lelah dari tadi sahabat nya ini belum mulai juga.
“Lo tau Rehan kan?”
“ya tau lah, kan dia sepupu lo, gimana sih? Pakai ditanya segala” pekik Zoya gemes, gemes sama sahabat nya ini.
“bukan, Lo salah...”
“Hah... maksudnya? Ngomong tuh yang jelas dong, jangan setengah-setengah Luna” Zoya jadi geregetan.
“Maksud gue...ingat ya Lo harus terima sesuai kenyataan janji gak marah dan gak jauhin gue!”
“Iya Luna sayang, nyinyir banget sih” Zoya sabar, untung sahabat.
Luna menghela nafas dan melanjutkan penjelasan nya, “Sebenarnya gue sama Rehan itu bukan sepupuan...”
“Hah... maksud Lo!” Zoya langsung memotong pembicaraan Luna, otaknya jadi traveling kemana-mana.
“Dengerin dulu, jangan dipotong” Zoya mengangguk.
Dan Luna melanjutkan penjelasan nya dan di tutupi lagi.
“Rehan itu cowok yang gue selamatin, dia hilang ingatan. Karena kasihan dan gak tega gue ajak tinggal di rumah, maaf ya gue bohongin lo, gue gak bermaksud gitu...”
“Terus...” Zoya tampak syok banget, ia tak percaya dengan kenyataan ini.
Dengan gugup, Luna melanjutkan ceritanya sampai terjadi pernikahan tersebut.
“J-jadi s-sekarang Lo udah nikah dan REHAN SUAMI LO!” Zoya tercekat tanpa sengaja mengeras suaranya di akhir kata. Membuat murid yang berada di sekitar taman ikut menoleh kearah mereka.
“Ih suara lo, jangan keras-keras bego” bisik Luna rada kesal.
“Sorry” Dan Zoya langsung pergi begitu saja. Membuat Luna menjadi panik dan tak karuan.
“Zoy...Zoyaaaa...dengarin gue dulu!” Dengan cepat ia mengejar Zoya. Namun, Zoya tak menghiraukan, Luna terus mengejar Zoya yang ternyata pergi kearah kelas. Tanpa menghiraukan tatapan aneh anak-anak lain.
“Zoy...dengarin gue, Lo jangan marah dong!”
Namun, Zoya menepis tangan Luna yang memegang lengannya. “Gak usah pegang gue!” wajah Zoya sangat datar bahkan suara berubah dingin, membuat Luna semakin panik. Sumpah demi apapun ia gak mau di giniin.
“Zoy...” rengek Luna kesekian kalinya, tapi Zoya hanya cuek tak peduli.
Kring...kring...
“Udah bel masuk, gak usah ganggu gue!” ucap Zoya dingin.
“Tapikan gu...”
“LO GAK DENGAR GUE NGOMONG APA HAH!” bentak Zoya dengan suara naik oktaf. teman-teman kelasnya ikut kaget dan menatap bingung keduanya, setau mereka Zoya dan Luna gak pernah bertengkar separah ini.
“ada gerangan apaan nih, duo sahabat paling lengket bertengkar!”
“Kayaknya masalah nya besar banget dah”
“He’em ... sampai Zoya di buat murka”
Zoya menghiraukan bisikan-bisikan teman-teman sekelasnya dan duduk dengan tenang di bangkunya.
Luna, jangan di tanya, gadis itu telah duduk diam di bangku berada belakang Zoya. Dadanya terasa sesak mendengar bentakan Zoya.
“Segitu marah dan kecewanya Lo sama gue Zoy, sampai Lo tega bentak gue...hiks...jahat tau gak!” Luna menangis dalam diam, ia menatap kosong punggung Zoya.
...
Luna telah menaiki sepedanya berencana akan pulang, sebelum itu ia juga sempatkan memandang Zoya saat memasuki mobil jemputan nya. Sahabatnya benar-benar marah, tapi semua itu bukan keinginan ia juga.
Namun, saat akan mengayuh sepeda tiba-tiba...
“eet...Mau kemana Lo? Telinga lo masih berfungsi kan dengan ucapan gue tadi pagi!” tampak Riya dan Kinan dengan angkuh berjalan pelan menghampiri nya.
Luna sedikit takut, bukannya lupa tapi memang sengaja pura-pura lupa.
“kalo gue gak mau!” tantang Luna mulai berani, entah dari mana ia dapat keberanian nya itu.
“Udah mulai berani Lo ternyata, bagus sih. Tapi kalo gak mau, gue jamin hidup Lo kagak bakal tenang. Lo lupa siapa Friska, Hm” Kinan tersenyum smirk Saat melihat gelengan Luna.
“Ck, gak usah banyak bacot, sekarang ikut kita!” sentak Riya, dan langsung menarik kasar lengan Luna dan mendorong nya masuk ke dalam mobil. Luna hanya meringis dan takut-takut apa yang akan mereka lakukan padanya.
“Ya Allah, semoga aja mereka gak lakuin hal buruk sama gue!” batin Luna.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Eko Nur Yanto
Udah nikah kok masih masuk sekolah ya Aneh pihak sekolah juga ngak tahu
2024-05-29
0
Yulita
kasihan amat nasip Lo lun😔
2022-09-26
3
Mbah Pur Ngronggi
Lanjut
2022-09-20
0