Keesokan harinya, karena hari libur, ia tidak sekolah tapi tetap bekerja. Namun, sebelum berangkat kerja ia teringat pemuda semalam dan pergi kerumah sakit lebih dulu.
Di sana Luna langsung memasuki ruangan rawat no 033. Dia melihat pemuda itu masih tutup mata yang artinya masih belum sadarkan diri.
“Apa luka parah banget hingga masih tak sadar sampai sekarang!”
“Mendingan gue kerja aja deh” Namun, saat akan berbalik keluar ia mendengar lenguhan pelan, Ia segara berbalik dan mendekati brankar, ternyata pemuda itu sudah sadar.
“Shht...” Luna masih menatap pemuda tersebut hingga lupa memanggil dokter.
Saat itu juga bola mata pemuda itu menatap ke arahnya, Luna terbengong apalagi melihat raut wajah dia seperti sedang berpikir.
“Ehem... syukurlah anda sudah sadar” ucap Luna sedikit gugup karena ditatap terus oleh dia.
“Anda siapa?”
Hahh
Luna tersadar dengan sedikit tersenyum ia menjawab,
“saya Luna, saya yang menyelamatkan anda kemarin malam. Oh...apa bisa beri nomor ponsel keluarga anda biar saya dapat mengabarkan keadaan anda, takutnya nanti mereka mengkhawatirkan anda!”
1 detik
2 detik
3 detik...
Masih belum dijawab, Luna menjadi bingung dan kembali bertanya, “Uhm...kenapa? apa ada masalah!”
“Kenapa nih orang? Ditanya malah diam aja, tinggal jawab aja susah amat sih! Gak mungkin amnesia kan” Luna membatin.
“keluarga, siapa keluarga saya? Dan siapa saya?!”
!!
Luna terbengong, “maksud nya apa sih? Apa dia benaran lupa ingatan!”
Karena bingung Luna memanggil dokter. Berselang lama dokter tersebut masuk, Luna dengan cepat mengatakannya, kemudian dokter itu memeriksanya.
“Bagaimana dok?”
Dokter itu menghela nafas, “sesuai pemeriksaan saya pasien mengalami lupa ingatan, kemungkinan dia hanya ingat kejadian terakhir kali sebelum tak sadarkan diri” jelas dokter tersebut.
Luna melirik pemuda itu rumit, pemuda itu sendiri cukup kaget mendengar penjelasan dokter,
“Apa saya benar-benar hilang ingatan dok!” dia bertanya sambil memegang kepalanya.
Dokter mengangguk, “benar, tapi anda tenang saja lama-lama ingatan itu perlahan akan kembali seperti semula”
Mendengar ucapan dokter dia sedikit lega.
“Baik, kalo begitu saya permisi. Nanti jika ada keluhan lagi saya akan kembali” Luna mengangguk, setelah dokter itu keluar. Luna melihat pemuda itu terus memegang kepala mencoba mengingat.
“jangan dipaksakan, nanti yang ada kepalamu sakit”
Pemuda itu berhenti dan menatap Luna.
“sekarang harus bagaimana? Gue aja gak tau dia siapa, liat aja baru kali ini!” Mencoba berpikir, lalu ia mendapat ide cemerlang.
“Aha...lapor polisi aja” Luna mengeluarkan ponselnya dari tas.
Pemuda itu hanya diam dengan mata terus mengarah pada Luna, saat ia mendengar akan mengabarkan polisi ia tiba-tiba mengingat sesuatu.
“Jangan!”
Luna cukup kaget, “eh kenapa?
“Kenapa saya harus dilaporkan? Saya bukan orang jahat. Saya juga tidak ingin bertemu mereka!”
Luna terbengong, dan bertanya,
“Kenapa? Bukannya anda tidak mengingat apapun! Jika tidak saya laporkan harus bagaimana lagi. Apa jangan-jangan anda berpura-pura hilang ingatan? Dan siapa mereka yang anda maksud?!” Luna menjadi curiga, tapi mengingat perkataan dokter ia menggeleng,
“Eh, tapi mana mungkin dokter berbohong”
Pemuda itu menggeleng polos, dan berkata, “saya juga tidak tau, tapi yang saya ingat hanya kejadian saat saya dikejar beberapa orang berpakaian hitam. Mereka mengatakan ingin membunuh saya. lalu saya berusaha melarikan diri”
Luna tercengang dan terkaget, pantasan saat bertemu dia sedang terluka mungkin saja kepala itu habis dipukul benda keras.
“Hm...lalu?”
Pemuda itu menggeleng lemah. Luna cukup kasihan.
“Jadi sekarang harus gimana? Anda melarang saya menelepon polisi”
Pemuda itu kembali menggeleng, membuat Luna pusing, ditambah lagi ia juga harus berangkat kerja.
“Oiya...gue harus panggil siapa? Gak mungkin anda terus kan aneh” pikir Luna, lalu mencoba memikirkan nama yang cocok.
“Karna situ gak ingat, bagaimana mulai sekarang pakai nama Rehan aja sampai ingat kembali”
Pemuda itu berpikir, kemudian mengangguk.
“Oke, sekarang nama Lo Rehan” Luna juga mengubah cara bicaranya seperti biasa biar tidak terlalu formal. Lagian ia lihat dia hanya tuaan sekitar dua atau tiga tahunan darinya.
“nanti kalo perlu apa-apa panggil suster aja, gue mau kerja dulu” karena sudah hampir masuk jam kerja.
Rehan tampak seperti ingin berbicara tapi pada akhirnya hanya mengangguk saja.
Melihat itu, Luna bergegas berangkat kerja.
Sepeninggal Luna, Rehan kembali termenung, ia mencoba mengingat tapi hanya ingatan dikejar orang-orang itu saja yang terlihat.
“sebenarnya mereka siapa? Kenapa ingin membunuh ku”
“Dan siapa aku sebenarnya?” Rehan terus bertanya pada dirinya.
***
Di tempat kerja, Luna sebenarnya ingin menceritakan pada ibu Kina tapi ia urungkan saat mengingat larangan Rehan. Dia mulai berpikir jika Rehan itu bukan orang biasa. Mungkin lebih baik untuk sekarang ia rahasiakan saja.
Tapi satu yang ia pikirkan, kemana ia harus membawa Rehan, tidak mungkin ke rumahnya.
“Aduh...ayo berpikir!”
“Lagian kenapa harus gue yang susah sih”
Kina melihat kegelisahan Luna bertanya, “kamu kenapa Luna? Apa terjadi sesuatu?”
Luna tersadar dan dengan cepat menggeleng, “enggak kok Bu, aku cuman lagi mikirin ulangan besok” jawab Luna berbohong.
“O gitu, ibu pikir ada masalah besar”
Luna hanya tersenyum tipis dan melanjutkan kegiatannya.
***
Sepulang bekerja Luna kembali ke rumah sakit, ia juga sudah memikirkan tentang Rehan nantinya.
Disana, Luna berencana akan menjelaskan tapi sebelum itu ia bertanya terlebih dulu.
“Rehan, keluar dari rumah ini apa rencana Lo! Gak mungkin kan lo bakal disini terus”
Mendengar pertanyaan Luna, Rehan mencoba berpikir, sekarang ia tidak tau harus kemana, uang saja tidak punya.
Melihat Rehan tidak menjawab akhirnya Luna mengajukan pendapat nya,
“Bagaimana kalo Lo cari kosan aja atau tinggal dirumah gue. Tapi dengan syarat Lo harus bantu-bantu gue bersih in rumah dan memasak” sambil menaik-turunkan alisnya.
“Ehehe...dari pada gue kesepian dirumah. Nanti pulang kerja gue gak perlu beresin rumah lagi dan memasak. Biarlah gue dibilang mencari keuntungan, Kira-kira dia mau gak ya” Luna terkikik dalam hatinya, lagian gak berat juga.
Rehan cukup kaget, tapi saat mengingat Luna yang menyelamatkannya, ia setuju. Walaupun sedikit aneh tinggal serumah dengan seorang gadis penyelamat nya, tapi mau gimana lagi dengan keadaan dia yang sekarang.
“Oke. Tapi apa tidak apa-apa”
Luna cukup senang dan mengibaskan tangannya santai.
“Tidak apa. Pokoknya aman deh”
“Apa saya sudah boleh pulang sekarang!” aju Rehan bersemangat karena merasa kurang nyaman berada lama-lama dirumah sakit, padahal baru semalam.
Luna terheran, “eh, apa udah gak sakit lagi?” Rehan menggeleng cepat.
“Ya udah nanti gue tanya ama dokter dulu. Oiya... ngomongnya santai aja gak perlu formal lagi anggap aja gue adik Lo” ucap Luna sebelum melangkah keluar.
Rehan cukup kagum dengan sifat Luna, bahkan ia tidak mengenal dirinya tapi malah berbaik hati membantu dan mengajak tinggal serumah.
Rehan tersenyum kecil, “dia seperti nya memang gadis yang baik. Aku harus ber terimakasih padanya dan membalas kebaikan hatinya”
Kemudian, ia kembali rebahan sambil menunggu Luna kembali.
BERSAMBUNG...
***
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Tinny Kecil
keliatanya seru critanya
2023-06-09
3
Sumaningsih nano
lnjuuut
2022-10-10
0
Sumaningsih nano
mantaff
2022-10-10
0