Chapter 02. Lupa Ingatan

Keesokan harinya, karena hari libur, ia tidak sekolah tapi tetap bekerja. Namun, sebelum berangkat kerja ia teringat pemuda semalam dan pergi kerumah sakit lebih dulu.

Di sana Luna langsung memasuki ruangan rawat no 033. Dia melihat pemuda itu masih tutup mata yang artinya masih belum sadarkan diri.

“Apa luka parah banget hingga masih tak sadar sampai sekarang!”

“Mendingan gue kerja aja deh” Namun, saat akan berbalik keluar ia mendengar lenguhan pelan, Ia segara berbalik dan mendekati brankar, ternyata pemuda itu sudah sadar.

“Shht...” Luna masih menatap pemuda tersebut hingga lupa memanggil dokter.

Saat itu juga bola mata pemuda itu menatap ke arahnya, Luna terbengong apalagi melihat raut wajah dia seperti sedang berpikir.

“Ehem... syukurlah anda sudah sadar” ucap Luna sedikit gugup karena ditatap terus oleh dia.

“Anda siapa?”

Hahh

Luna tersadar dengan sedikit tersenyum ia menjawab,

“saya Luna, saya yang menyelamatkan anda kemarin malam. Oh...apa bisa beri nomor ponsel keluarga anda biar saya dapat mengabarkan keadaan anda, takutnya nanti mereka mengkhawatirkan anda!”  

1 detik

2 detik

3 detik...

Masih belum dijawab, Luna menjadi bingung dan kembali bertanya, “Uhm...kenapa? apa ada masalah!”

“Kenapa nih orang? Ditanya malah diam aja, tinggal jawab aja susah amat sih! Gak mungkin amnesia kan” Luna membatin.

“keluarga, siapa keluarga saya? Dan siapa saya?!”

!!

Luna terbengong, “maksud nya apa sih? Apa dia benaran lupa ingatan!”

Karena bingung Luna memanggil dokter. Berselang lama dokter tersebut masuk, Luna dengan cepat mengatakannya, kemudian dokter itu memeriksanya.

“Bagaimana dok?”

Dokter itu menghela nafas, “sesuai pemeriksaan saya pasien mengalami lupa ingatan, kemungkinan dia hanya ingat kejadian terakhir kali sebelum tak sadarkan diri” jelas dokter tersebut.

Luna melirik pemuda itu rumit, pemuda itu sendiri cukup kaget mendengar penjelasan dokter,

“Apa saya benar-benar hilang ingatan dok!” dia bertanya sambil memegang kepalanya.

Dokter mengangguk, “benar, tapi anda tenang saja lama-lama ingatan itu perlahan akan kembali seperti semula”

Mendengar ucapan dokter dia sedikit lega.

“Baik, kalo begitu saya permisi. Nanti jika ada keluhan lagi saya akan kembali” Luna mengangguk, setelah dokter itu keluar. Luna melihat pemuda itu terus memegang kepala mencoba mengingat.

“jangan dipaksakan, nanti yang ada kepalamu sakit”  

Pemuda itu berhenti dan menatap Luna.

“sekarang harus bagaimana? Gue aja gak tau dia siapa, liat aja baru kali ini!” Mencoba berpikir, lalu ia mendapat ide cemerlang.

“Aha...lapor polisi aja” Luna mengeluarkan ponselnya dari tas.

Pemuda itu hanya diam dengan mata terus mengarah pada Luna, saat ia mendengar akan mengabarkan polisi ia tiba-tiba mengingat sesuatu.

“Jangan!”

Luna cukup kaget, “eh kenapa?

“Kenapa saya harus dilaporkan? Saya bukan orang jahat. Saya juga tidak ingin bertemu mereka!”

Luna terbengong, dan bertanya,

“Kenapa? Bukannya anda tidak mengingat apapun! Jika tidak saya laporkan harus bagaimana lagi. Apa jangan-jangan anda berpura-pura hilang ingatan? Dan siapa mereka yang anda maksud?!” Luna menjadi curiga, tapi mengingat perkataan dokter ia menggeleng,

“Eh, tapi mana mungkin dokter berbohong”

Pemuda itu menggeleng polos, dan berkata, “saya juga tidak tau, tapi yang saya ingat hanya kejadian saat saya dikejar beberapa orang berpakaian hitam. Mereka mengatakan ingin membunuh saya. lalu saya berusaha melarikan diri”

Luna tercengang dan terkaget, pantasan saat bertemu dia sedang terluka mungkin saja kepala itu habis dipukul benda keras.

“Hm...lalu?”

Pemuda itu menggeleng lemah. Luna cukup kasihan.

“Jadi sekarang harus gimana? Anda melarang saya menelepon polisi”

Pemuda itu kembali menggeleng, membuat Luna pusing, ditambah lagi ia juga harus berangkat kerja.

“Oiya...gue harus panggil siapa? Gak mungkin anda terus kan aneh” pikir Luna, lalu mencoba memikirkan nama yang cocok.

“Karna situ gak ingat, bagaimana mulai sekarang pakai nama Rehan aja sampai ingat kembali”

Pemuda itu berpikir, kemudian mengangguk.

“Oke, sekarang nama Lo Rehan” Luna juga mengubah cara bicaranya seperti biasa biar tidak terlalu formal. Lagian ia lihat dia hanya tuaan sekitar dua atau tiga tahunan darinya.

“nanti kalo perlu apa-apa panggil suster aja, gue mau kerja dulu” karena sudah hampir masuk jam kerja.

Rehan tampak seperti ingin berbicara tapi pada akhirnya hanya mengangguk saja.

Melihat itu, Luna bergegas berangkat kerja.

 

Sepeninggal Luna, Rehan kembali termenung, ia mencoba mengingat tapi hanya ingatan dikejar orang-orang itu saja yang terlihat.

“sebenarnya mereka siapa? Kenapa ingin membunuh ku”  

“Dan siapa aku sebenarnya?” Rehan terus bertanya pada dirinya.

***

Di tempat kerja, Luna sebenarnya ingin menceritakan pada ibu Kina tapi ia urungkan saat mengingat larangan Rehan. Dia mulai berpikir jika Rehan itu bukan orang biasa. Mungkin lebih baik untuk sekarang ia rahasiakan saja.

Tapi satu yang ia pikirkan, kemana ia harus membawa Rehan, tidak mungkin ke rumahnya.

“Aduh...ayo berpikir!”

“Lagian kenapa harus gue yang susah sih”

Kina melihat kegelisahan Luna bertanya, “kamu kenapa Luna? Apa terjadi sesuatu?”

Luna tersadar dan dengan cepat menggeleng, “enggak kok Bu, aku cuman lagi mikirin ulangan besok” jawab Luna berbohong.

“O gitu, ibu pikir ada masalah besar”

Luna hanya tersenyum tipis dan melanjutkan kegiatannya.

***

Sepulang bekerja Luna kembali ke rumah sakit, ia juga sudah memikirkan tentang Rehan nantinya.

Disana, Luna berencana akan menjelaskan tapi sebelum itu ia bertanya terlebih dulu.

“Rehan, keluar dari rumah ini apa rencana Lo! Gak mungkin kan lo bakal disini terus”

Mendengar pertanyaan Luna, Rehan mencoba berpikir, sekarang ia tidak tau harus kemana, uang saja tidak punya.

Melihat Rehan tidak menjawab akhirnya Luna mengajukan pendapat nya,

“Bagaimana kalo Lo cari kosan aja atau tinggal dirumah gue. Tapi dengan syarat Lo harus bantu-bantu gue bersih in rumah dan memasak”  sambil menaik-turunkan alisnya.

“Ehehe...dari pada gue kesepian dirumah. Nanti pulang kerja gue gak perlu beresin rumah lagi dan memasak. Biarlah gue dibilang mencari keuntungan, Kira-kira dia mau gak ya”  Luna terkikik dalam hatinya, lagian gak berat juga.

Rehan cukup kaget, tapi saat mengingat Luna yang menyelamatkannya, ia setuju. Walaupun sedikit aneh tinggal serumah dengan seorang gadis penyelamat nya, tapi mau gimana lagi dengan keadaan dia yang sekarang.

“Oke. Tapi apa tidak apa-apa”

Luna cukup senang dan mengibaskan tangannya santai.

“Tidak apa. Pokoknya aman deh”

“Apa saya sudah boleh pulang sekarang!” aju Rehan bersemangat karena merasa kurang nyaman berada lama-lama dirumah sakit, padahal baru semalam.

Luna terheran, “eh, apa udah gak sakit lagi?”  Rehan menggeleng cepat.

“Ya udah nanti gue tanya ama dokter dulu. Oiya... ngomongnya santai aja gak perlu formal lagi anggap aja gue adik Lo”  ucap Luna sebelum melangkah keluar.

Rehan cukup kagum dengan sifat Luna, bahkan ia tidak mengenal dirinya tapi malah berbaik hati membantu dan mengajak tinggal serumah.

Rehan tersenyum kecil, “dia seperti nya memang gadis yang baik. Aku harus ber terimakasih padanya dan membalas kebaikan hatinya”

Kemudian, ia kembali rebahan sambil menunggu Luna kembali.

 

BERSAMBUNG...

***

LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT

Terpopuler

Comments

Tinny Kecil

Tinny Kecil

keliatanya seru critanya

2023-06-09

3

Sumaningsih nano

Sumaningsih nano

lnjuuut

2022-10-10

0

Sumaningsih nano

Sumaningsih nano

mantaff

2022-10-10

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 01. Menolong Seorang Pemuda
2 Chapter 02. Lupa Ingatan
3 Chapter 03. Tinggal Seatap
4 Chapter 04. Kekesalan Zoya
5 Chapter 05. Berbohong
6 Chapter 06. Geli
7 Chapter 07. Pembullyan
8 Chapter 08. Mimpi Buruk
9 Chapter 09. Gugup
10 Chapter 10. Menangis
11 Chapter 11. Keluarga Albert
12 Chapter 12. Penolakan Luna
13 Chapter 13. Terpaksa Menikah
14 Chapter 14. Tak Peka
15 Chapter 15. Tidur seranjang
16 Chapter 16. Gara-gara tendangan
17 Chapter 17. Syok dan tak percaya
18 Chapter 18. Jadi Bos baru
19 Chapter 19. Murka Rehan
20 Special Visual Character
21 Chapter 20. Dasar Mesum
22 Chapter 21. Minta penjelasan
23 Chapter 22. minta jatah
24 Chapter 23. Bertemu Daddy Arya
25 Chapter 24. Maafin gue!
26 Chapter 25. Kedatangan bibi Sinta
27 Chapter 26. Ciuman
28 Chapter 27. Keluarga Georgio
29 Chapter 28. Bena-benar Istri durhaka
30 Chapter 29. Menyesal
31 Chapter 30. Fix, panggil kakak
32 Chapter 31. Dokter John
33 Chapter 32. Lingerie
34 Chapter 33. Akhirnya pulih kembali
35 Chapter 34. Rencana busuk Dona
36 Chapter 35. Calon Pelakor
37 Chapter 36. Menggoda Atha
38 Chapter 37. Ketakutan Jessica
39 Chapter 38. Ternyata Hamil
40 Chapter 39. Licik
41 Chapter 40. Adik Laknat!
42 Chapter 41. Max sakit hati
43 Chapter 42. Luna mau Seblak
44 Chapter 43. Kecelakaan
45 Chapter 44. Oh... Ternyata Dia!
46 Chapter 45. Nasib Friska
47 Chapter 46. Alfredo Georgio
48 Chapter 47. Luna Siuman
49 Chapter 48. Kekesalan Mona
50 Chapter 49. Rumah baru
51 Chapter 50. Kehebohan keluarga Wijaya
52 Chapter 51. Kemarahan Alfredo
53 Chapter 52. Merasa malu
54 Chapter 53. Pecat suami
55 Chapter 54. Penyusup
56 Chapter 55. Kekhawatiran Alfredo dan Jeon
57 Chapter 56. Benci
58 Chapter 57. ternyata hamil
59 Chapter 58. Kesalnya Monalisa
60 Chapter 59. Marah
61 Chapter 60. Sudah waktunya mengakhiri semuanya
62 Chapter 61. Keterkejutan Jeon
63 Chapter 62. Atha Merokok
64 Chapter 63. Hukuman Mati
65 Chapter 64. Pernikahan Max & Monalisa
66 Chapter 65. Gara-gara Ketoprak
67 Chapter 66. Malu-maluin
68 Chapter 67. Di jadiin pembantu
69 Chapter 68. Perdebatan ibu dan anak
70 Chapter 69. Anak durhaka
71 Chapter 70. Bodoh
72 Chapter 71. Tuan Muda Kusuma
73 Chapter 72. Tamparan Davin
74 Chapter 73. Kekesalan Atha
75 Chapter 74. Mendatangi kediaman Kusuma
76 Chapter 75. Kekecewaan Renaldy
77 Chapter 76. Manja nya si bayi besar
78 Chapter 77. Gak mau dimadu!
79 Chapter 78. Jangan harap malam ini tidur di kamar!
80 Chapter 79. Kesialan Tio
81 Chapter 80. Marah dan cemburu nya Zoya
82 Chapter 81. Dasar gadis cemburuan!
83 Chapter 82. Keadaan Tirta
84 Chapter 83. Pedas bukan manis
85 Chapter 84. Maafin aku sayang!
86 Chapter 85. Ternyata ada dua
87 Chapter 86. Baby Al & Baby Aurel
88 Chapter 87. Bangunnya Tirta
89 Chapter 88. Wisuda dulu baru nikah!
90 Chapter 89
91 Chapter 90
92 Chapter 91
93 Chapter 92
94 Chapter 93
95 Chapter 94
96 Chapter 95
97 Chapter 96
98 Chapter 97
99 Chapter 98
100 Chapter 99
101 Chapter 100
102 Chapter 101
103 Chapter 102
104 Chapter 103
105 Chapter 104
106 Chapter 105
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Chapter 01. Menolong Seorang Pemuda
2
Chapter 02. Lupa Ingatan
3
Chapter 03. Tinggal Seatap
4
Chapter 04. Kekesalan Zoya
5
Chapter 05. Berbohong
6
Chapter 06. Geli
7
Chapter 07. Pembullyan
8
Chapter 08. Mimpi Buruk
9
Chapter 09. Gugup
10
Chapter 10. Menangis
11
Chapter 11. Keluarga Albert
12
Chapter 12. Penolakan Luna
13
Chapter 13. Terpaksa Menikah
14
Chapter 14. Tak Peka
15
Chapter 15. Tidur seranjang
16
Chapter 16. Gara-gara tendangan
17
Chapter 17. Syok dan tak percaya
18
Chapter 18. Jadi Bos baru
19
Chapter 19. Murka Rehan
20
Special Visual Character
21
Chapter 20. Dasar Mesum
22
Chapter 21. Minta penjelasan
23
Chapter 22. minta jatah
24
Chapter 23. Bertemu Daddy Arya
25
Chapter 24. Maafin gue!
26
Chapter 25. Kedatangan bibi Sinta
27
Chapter 26. Ciuman
28
Chapter 27. Keluarga Georgio
29
Chapter 28. Bena-benar Istri durhaka
30
Chapter 29. Menyesal
31
Chapter 30. Fix, panggil kakak
32
Chapter 31. Dokter John
33
Chapter 32. Lingerie
34
Chapter 33. Akhirnya pulih kembali
35
Chapter 34. Rencana busuk Dona
36
Chapter 35. Calon Pelakor
37
Chapter 36. Menggoda Atha
38
Chapter 37. Ketakutan Jessica
39
Chapter 38. Ternyata Hamil
40
Chapter 39. Licik
41
Chapter 40. Adik Laknat!
42
Chapter 41. Max sakit hati
43
Chapter 42. Luna mau Seblak
44
Chapter 43. Kecelakaan
45
Chapter 44. Oh... Ternyata Dia!
46
Chapter 45. Nasib Friska
47
Chapter 46. Alfredo Georgio
48
Chapter 47. Luna Siuman
49
Chapter 48. Kekesalan Mona
50
Chapter 49. Rumah baru
51
Chapter 50. Kehebohan keluarga Wijaya
52
Chapter 51. Kemarahan Alfredo
53
Chapter 52. Merasa malu
54
Chapter 53. Pecat suami
55
Chapter 54. Penyusup
56
Chapter 55. Kekhawatiran Alfredo dan Jeon
57
Chapter 56. Benci
58
Chapter 57. ternyata hamil
59
Chapter 58. Kesalnya Monalisa
60
Chapter 59. Marah
61
Chapter 60. Sudah waktunya mengakhiri semuanya
62
Chapter 61. Keterkejutan Jeon
63
Chapter 62. Atha Merokok
64
Chapter 63. Hukuman Mati
65
Chapter 64. Pernikahan Max & Monalisa
66
Chapter 65. Gara-gara Ketoprak
67
Chapter 66. Malu-maluin
68
Chapter 67. Di jadiin pembantu
69
Chapter 68. Perdebatan ibu dan anak
70
Chapter 69. Anak durhaka
71
Chapter 70. Bodoh
72
Chapter 71. Tuan Muda Kusuma
73
Chapter 72. Tamparan Davin
74
Chapter 73. Kekesalan Atha
75
Chapter 74. Mendatangi kediaman Kusuma
76
Chapter 75. Kekecewaan Renaldy
77
Chapter 76. Manja nya si bayi besar
78
Chapter 77. Gak mau dimadu!
79
Chapter 78. Jangan harap malam ini tidur di kamar!
80
Chapter 79. Kesialan Tio
81
Chapter 80. Marah dan cemburu nya Zoya
82
Chapter 81. Dasar gadis cemburuan!
83
Chapter 82. Keadaan Tirta
84
Chapter 83. Pedas bukan manis
85
Chapter 84. Maafin aku sayang!
86
Chapter 85. Ternyata ada dua
87
Chapter 86. Baby Al & Baby Aurel
88
Chapter 87. Bangunnya Tirta
89
Chapter 88. Wisuda dulu baru nikah!
90
Chapter 89
91
Chapter 90
92
Chapter 91
93
Chapter 92
94
Chapter 93
95
Chapter 94
96
Chapter 95
97
Chapter 96
98
Chapter 97
99
Chapter 98
100
Chapter 99
101
Chapter 100
102
Chapter 101
103
Chapter 102
104
Chapter 103
105
Chapter 104
106
Chapter 105

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!