Tampak dua sejoli masih tidur dengan nyaman tanpa terusik oleh cahaya matahari melalui celah jendela.
Berselang lama, terlihat salah satu dari mereka menggeliat, “eughhh...” dengan perlahan mata terbuka sambil mengucek pelan.
“Apaan nih kok keras ya” gumamnya masih belum setengah sadar, saat telapak tangannya merasa sesuatu. Karena penasaran ia memicingkan matanya untuk melihat, Dan...
“Kyaaaaa...”
Bruk
Luna, Yap dia Luna dan yang membuat berteriak karena mendapat diri berpelukan dengan Rehan. kan kaget.
“Aduh...sakit pantat gue!” ringis Rehan, yang sudah tergeletak di lantai akibat tendangan maut Luna, emang gak ada akhlak.
“Ngapain sih pagi-pagi teriak, malah tendang gue lagi, jahat banget sih!” ujar Rehan setelah berdiri dengan mata sedikit melek, masih ngantuk.
“Siapa suruh Lo peluk-peluk gue tanpa izin hah...pasti Lo sengaja kan cari kesempatan saat gue tidur, ngaku Lo!” sentak Luna, malah ngegas lagi sambil menunjuk-nunjuk Rehan dengan jari telunjuknya.
Rehan mengernyit, “apa sih, gak jelas banget. Kapan gue peluk lo coba? Atau mungkin refleks kali gue kan lagi tidur mana sadar” ucap Rehan sambil menguap lebar, ia benar-benar tidak sadar, mana tau.
“Ck..” Luna hanya berdecih kesal, dan berlalu ke kamar mandi.
Rehan melirik kearah Luna sebentar, “marah-marah mulu, pms kali ya” gumamnya heran. Soal pelukan suer ia benar-benar tidak tau.
“Hoaam... jam berapa sih!” Rehan menoleh kearah jam yang tergantung sempurna didinding kamar.
“Jam enam lewat, ck...masih terlalu pagi” lalu menjatuhkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu gara-gara tendangan Luna. istri durhaka, masak suami sedang enakan bobok ditendang.
Ceklek
Tampak kepala Luna menyembul di balik pintu, matanya mencari keberadaan Rehan, saat melihat Rehan masih tidur, ia tersenyum lega.
“Aman” dengan langkah pelan-pelan ia berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian dalam dan seragam sekolahnya. Setelah dapat, ia kembali memasuki kamar mandi dan memakai nya. Tidak mungkin kan ia pakai disana, entar tiba-tiba Rehan bangun bisa gawat, kan malu tubuh montok bin mulusnya di lihat.
Selesai, ia keluar. Dan Rehan masih enakan tidur, benar-benar kebo. Dengan kesal ia lemparkan handuk sedikit lembab di kepalanya tepat ke muka Rehan.
“Bangun”
Rehan yang merasakan sesuatu menimpa wajahnya segara mengambilnya.
“Apa sih ah... ganggu orang lagi tidur aja Lo!”
“Tidur mulu Lo, dah pagi bangun, mandi sana”
Rehan mengangguk, dengan sempoyongan beranjak memasuki kamar mandi.
“astaga, gue lupa pakaian Rehan kan masih dikamar sebelah” Luna berdecak sebal dan bergegas keluar.
Dan pergi ke kamar sebelah yang sekarang di huni tante Rini, sebelum itu ia memastikan apa tante nya udah keluar. Ternyata tante Rini lagi memasak di dapur. Dengan cepat Luna mengambil pakaian Rehan.
Setelah itu, Luna balik ke kamar nya membawa beberapa pakaian Rehan, sebab tante Rini tidak tau kapan baliknya, bisa aja besok bahkan dua hari lagi.
Ceklek
Luna yang telah masuk ke kamar, saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Tanpa sengaja pandangan nya juga ikut menoleh kesana.
Deg
Matanya melotot melihat pemandangan di depannya, dengan gelagapan Luna menutup ke-dua matanya.
“Sumpah, gue gak liat...benaran gak liat” dengan tergesa beranjak keluar.
Rehan sendiri tampak bingung, “dia kenapa sih, emang liat apa sih? gak ada yang aneh kok” perlahan Rehan melirik tubuhnya sendiri yang sekarang hanya memakai handuk sebatas pinggang, jangan lupa perut kotak-kotak nya, kulit putih bersih, membuat siapa saja wanita melihat pemandangan itu akan meleleh.
Akhirnya, Rehan mengerti yang di maksud Luna. Ia tersenyum miring, “gitu toh ternyata takut terpesona liat tubuh seksi gue... tenang, nanti bakalan gue liatin tiap hari biar Lo puas he...” Rehan senyum-senyum sendiri seperti orang gila, lalu memakai pakaian nya yang sudah tergeletak di atas tempat tidur.
“semoga aja tante Rini lama-lama nginap nya kalo perlu selamanya deh, biar gue bisa tidur sama Luna teroos” ucapnya tak lupa mengaminkan.
Berbeda dengan Luna, selepas keluar tadi ia segera ke dapur membantu tantenya. lama-lama di kamar bisa pingsan ia nanti.
🌼🌼
“Ya udah tante, aku berangkat ya” ucap Luna usai sarapan. Rini mengangguk, “hati-hati ya, belajar yang benar. Bentar lagi kan mau ujian akhir” sahut Rini.
“Iya tante” angguk Luna, lalu menyalimi tangan tantenya. Rehan melihat itu juga ikut menyodorkan tangan kanannya pada Luna.
Luna masih tak mengerti hanya menatap bingung, melihat reaksi Luna, Rehan dibuat jengah, “salim Lun”
“Gitu toh” cengir Luna, dan segera menyambut nya tak lupa menciumnya sedikit.
Rehan mengulum senyumnya saat merasakan bibir mungil Luna melekat di punggung tangannya, walaupun hanya di tangan.
Pemandangan itu tak lepas dari penglihatan Rini, ia hanya terkekeh kecil melihat ke tidak pekaan Luna.
Luna juga sudah ngacir ke depan, “hufff...malu gue, lagian ngapain pakai cium segala sih” gumamnya sambil mengusap bibirnya malu.
“Ck, udah ah” kemudian mengayuh sepeda beroda duanya menuju sekolah.
Selama perjalanan Luna terlihat berpikir, “apa nanti gue bilang semuanya sama Zoya ya!” menolog nya, karena sampai sekarang ia belum mengatakan tentang kebenaran hubungan nya dengan Rehan. Tapi di satu sisi ia tak tega saat mengingat tatapan berbinar-binar dan penuh cinta Zoya pada Rehan, nanti sahabatnya bakal jadi patah hati dan kecewa, pasti anak itu memarahi nya. Ia kan gak mau gara-gara itu hubungan persahabatan mereka jadi renggang.
“HUWAAA...GIMANA DONG!” pekik Luna membuat para pengendara lain menatapnya aneh.
“Sayang cantik-cantik stress!” kira-kira begitulah pemikiran mereka. Namun, Luna tak terlalu menyadari nya.
30 menit kemudian, ia sampai di sekolah dengan selamat sentosa walaupun ia sempat melamun di tengah jalan. Untung kagak nabrak, kalo terjadi bisa panjang urusannya.
“Lunaaa...” terdengar teriakan seseorang, Ah siapa lagi kalo buka sahabat nya Zoya.
“Baru sampe juga ya” ucapnya saat telah berada dekat Luna.
“Belum”
“Ketus amat neng masih pagi juga” ledek Zoya yang hanya dibalas males oleh Luna.
“Lagian udah tau pake nanya” sewotnya.
“Sewot banget sih, lagi pms ya” Zoya merangkul sahabat nya itu.
Luna hanya mendengus dan berjalan memasuki koridor sekolah dengan Zoya masih merangkul nya. Perlu di ketahui Zoya itu sedikit lebih tinggi dari Luna.
“Eh...babu kita udah datang” mereka terpaksa menghentikan langkahnya mendengar suara familiar itu, khususnya Luna. Bahkan beberapa murid lainnya juga ikut berhenti.
Mereka menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat disana ada Friska dan teman-temannya tersenyum sinis menatap Luna.
“Nanti pulang sekolah Lo harus ikut oke, ada yang mau kita omongin sama lo” ujar Riya salah satu teman Friska diiringi senyuman sok manis, padahal nya mah asli ngejek tuh.
Luna hanya diam, di sebelah nya Zoya sudah misuh-misuh sendiri.
“awas Lo kalo gak datang!” Ancam teman Friska yang bernama Kinan. Friska sendiri hanya diam tapi tatapan selalu memandang rendah ke arah Luna.
Sebenarnya, Luna sedang mengatakan kata-kata laknat untuk mereka, tapi ia tak berani mengatakan secara langsung. Bisa apes dia. Lagian sebentar lagi ia juga bakal angkat kaki dari sekolah dan gak bakal ketemu anak-anak songong itu.
“Ck, ngapain sih dengarin orang gak punya otak macam mereka” dengan kesal Zoya menarik Luna memasuki kelas.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
fatin Rahman
menarik
2023-12-26
0
Hoiriyah
trskn
2022-05-10
2
Antie
lanjut....
2022-05-09
0